
Justru mereka berdua malah semakin hanyut dalam percakapan mereka berdua hingga tidak sadar bahwa mereka berdua sudah berjalan lumayan jauh. Mereka berdua lalu duduk sebentar di sebuah bangku taman sembari melihat suasana sekeliling taman tersebut. Liam lalu melihat bahwa ada pedagang minuman keliling yang sedang berkeliling taman, dan Liam kemudian memanggil pedagang tersebut untuk membeli dagangannya. Liam membeli dua buah teh botol untuk diminum bersama Mr Robinson sembari melanjutkan perbincangan mereka berdua yang semakin menarik.
Awalnya Mr Robinson merasa ragu untuk meminumnya karena dia belum pernah meminum minuman yang seperti itu, apalagi sepertinya kurang higenis namun setelah Liam membujuknya akhirnya Mr Robinson mau meminumnya. Liam kembali melanjutkan perbincangan mengenai bisnis yang akan dijalankannya sendiri, dan juga bisnisnya bersama temannya. Mr Robinson mendengarkan setiap kalimat yang disampaikan oleh Liam dengan sangat serius, dan Mr Robinson merasa bahwa ini baru pertama kalinya dia mendengarkan ucapan putranya itu dengan sangat serius.
Dahulu Mr Robinson sering sekali tidak mendengarkan cerita dari putranya itu, dan alhasil putranya itu enggan untuk menceritakan apapun serta memilih untuk memendamnya sendirian. Mereka berbincang sembari meminum teh botol tersebut, dan ternyata Mr Robinson sangat menyukai teh tersebut sampai dia membelinya untuk kedua kalinya. Melihat hal itu Liam hanya bisa tersenyum karena Mr Robinson belum pernah mencoba jajanan pedagang kaki lima.
Sejak dahulu Mr Robinson memang selalu makan di restaurant ataupun cafe, dan jarang sekali makan jajanan pedagang kaki lima padahal jajanannya sangat lezat. Dahulu Liam juga sama seperti itu apalagi saat dirinya terkena penyakit Thypus, jadinya setelah itu Liam membawa bekal dari rumah saat masih sekolah. Namun karena Liam anaknya bandel, dia justru memberikan bekal tersebut kepada temannya dan memilih untuk jajan di pedagang kaki lima karena Liam hanya bersekolah di sekolahan swasta. Setelah itu Liam mengajak Mr Robinson untuk jajan di tempat lain karena memang di taman itu banyak sekali pedagang kaki lima.
"Ayo jajan yang lain lagi dad."
"Jajan apa? sepertinya semua makanan disini sangat meragukan sekali kebersihannya."
"Halah dad, sudahlah santai saja."
"Heii tunggu aku!!" teriak Lian yang berlari dari kejauhan.
"Ck iya," jawab Liam.
"Kalian disini sedang apa?" tanya Lian.
"Sedang ingin jajan, kamu mau juga?"
"Boleh Liam."
"Wuihh itu ada telur gulung, mari kita mencobanya."
"Boleh ayo Liam."
"Ayo dad, kita jajan telur gulung dan itu sangat enak sekali."
"Jangan kebanyakan jajan sembarangan nanti jika kalian sakit mommy pasti akan memarahi daddy," ucap Mr Robinson memperingatkan.
"Iya dad, santai saja."
"Pak mau telur gulungnya 10 ribu," ucap Lian.
"Baik mas, sebentar."
Bapak penjual telur gulung itu lalu mulai menggorengnya satu persatu dan tidak lama kemudian telur gulung itu sudah jadi.
"Ini sudah jadi."
Mr Robinson lalu memberikan uang kepada pedagang tersebut.
"Ini pak uangnya."
"Waduh tidak ada yang kecil pak uangnya?"
"Wah 50 ribu sudah paling kecil pak, tidak ada yang lainnya lagi."
"Oh sebentar ya pak, saya tukar di pedagang sebelah dulu."
"Iya pak."
__ADS_1
Liam dan Lian lalu mulai memakan telur gulung itu sembari menunggu pedagang tersebut mendapat kembalian.
"Nah kalau yang ini enak, tidak seperti yang waktu itu aku pernah beli."
"Memangnya kenapa Liam?"
"Waktu itu aku pernah beli dapatnya kecil - kecil dan rasanya sangat aneh, akan tetapi ini rasanya enak sekaligus dapatnya besar - besar."
"Oh begitu, aku jarang beli telur gulung karena aku lebih suka jajan cilor."
"Ya sudah nanti beli cilor juga."
"Okay, daddy yang membayarnya."
"Eh kenapa jadi daddy?"
"Kan daddy banyak uang sekaligus daddy kami, jadi daddy yang harus membayar jajanan kita berdua."
"Hufftt baiklah."
"Ini pak kembaliannya, terima kasih."
"Sama - sama pak. Ayo kalian ingin jajan apa lagi?" tanya Mr Robinson menatap kedua putranya yang sedang sibuk makan telur gulung.
"Aku ingin cilor dad," ucap Lian.
"Baiklah mari kita cari pedagang cilor."
"Daddy tidak mau mencicipi telur gulung ini?" tanya Liam.
"Kenapa begitu? ini enak lho," ucap Lian berusaha menggoda Mr Robinson.
"Daddy merasa tidak selera untuk memakannya."
"Coba saja dulu dad pasti dijamin ketagihan."
"Hmm baiklah," ucap Mr Robinson mengambil satu tusuk telur gulung.
"Bagaimana dad rasanya?" tanya Lian.
"Hmm enak juga."
"Nah kan, benar yang Lian katakan bahwa ini sangat enak."
"Benar dad."
Setelah menemukan pedagang cilor, mereka berdua lalu membelinya dan tiba - tiba saja Liam ingin membeli apokat kocok. Liam lalu berlari untuk membelinya, dan setelah itu mereka bertiga duduk di bangku taman untuk memakan jajanan mereka.
"Kalau kalian bercerita kepada adik kalian berdua, pasti dia akan langsung protes kepada daddy."
"Ya sudah besok kapan - kapan kita jajan bersama disini," ucap Liam.
"Benar tuh, kita juga jarang sekali berkumpul serta jajan bersama seperti ini."
__ADS_1
"Iya besok daddy yang akan mengaturnya."
"Daddy ingin mencoba cilornya?" tanya Liam.
"Daddy harus mencobanya karena ini sangat lezat sekali," ucap Lian.
Mereka berdua lalu menyuapi Mr Robinson dengan cilor itu, dan seketika Mr Robinson merasa sedikit terharu karena ternyata dia sudah melewatkan banyak hal. Dahulu dia selalu sibuk bekerja hingga jarang sekali melakukan hal seperti ini bersama anak - anaknya, dan alhasil mereka menjadi sedikit asing satu sama lain.
"Bagaimana dad, lezat bukan?" tanya Liam.
Mr Robinson mengangguk.
"Iya benar, tapi kenapa yang satu pedas dan yang satunya lagi manis?" tanya Mr Robinson merasa aneh.
"Karena aku memilih rasa pedas sedangkan Liam memilih rasa balado," ucap Lian menjelaskan.
"Oh begitu rupanya."
"Aku tidak suka dengan rasa pedas karena pasti aku akan sakit perut dan langsung cegukan."
Lian tertawa.
"Dari dulu kamu sering sekali cegukan."
"Benar aku selalu cegukan saat memakan pedas, serta saat makan terlalu cepat."
"Sepertinya karena suhu tubuhmu belum normal serta kedinginan, maka dari itu kamu selalu cegukan."
"Benarkah begitu dad?" tanya Liam penasaran.
"Dahulu daddy dan mommy pernah pergi ke dokter karena kamu selalu cegukan. Kata dokter karena suhu tubuhnya kurang atau bagaimana gitu."
"Oh aku baru tahu soal itu," jawab Liam.
"Sama aku juga."
"Tapi tidak tahu juga sih, dahulu daddy hanya mendengarkannya secara sekilas saja."
"Apakah dari dulu Liam selalu cegukan dad?" tanya Lian penasaran.
"Benar, maka dari itu daddy dan mommy pergi ke dokter untuk berkonsultasi kepada dokter kenapa adikmu itu selalu cegukan."
"Oh begitu rupanya."
"Sampai sekarang aku juga masih sering cegukan dad."
"Benarkah begitu? coba kamu kembali ke dokter untuk berkonsultasi kepadanya."
"Tidak mau malas."
"Eh kok begitu?"
"Aku tidak mau ke dokter."
__ADS_1
"Ya sudah, besok daddy akan bertanya kepada dokter Ben."
"Baiklah."