Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #139


__ADS_3

Jane tersenyum, lalu dia mencium pipi Liam dan setelah mendapat ciuman tersebut wajah Liam memerah karena tersipu malu. Liam lalu pergi ke tempat gym pribadinya untuk berolahraga agar badannya tetap sehat dan kekar, sedangkan Jane kembali menonton film. Saat sedang sibuk berolahraga tiba - tiba Liam jatuh terpeleset karena keringatnya yang bercucuran di lantai. Saat di jam dan menit yang sama, Jane yang sedang menonton film merasa terkejut saat mendengar suara seperti benda jatuh dengan keras bahkan suaranya hampir menyerupai meteor yang jatuh menghantam bumi. Badan Liam sangat besar seperti raksasa jadi kalaupun dia jatuh pasti suaranya akan terdengar sangat keras dan jelas, apalagi kamar Liam bersebelahan dengan ruangan gym pribadinya yang terletak di dalam unit apartement miliknya.


"Sepertinya tetangga sebelah sedang sibuk berbenah dan memindahkan barang," ucap Jane sembari mengunyah permen karet dan menekan tombol remote televisi.


Liam kemudian duduk sebentar sembari memperhatikan lantai yang basah terkena keringatnya "******, kenapa lantainya menjadi basah seperti sehabis di pel? apakah sebenarnya unit apartement ini ada hantu pel? ihh kalau begitu sangat berbahaya sekali dan aku akan mencoba melakukan ritual pengusiran setan dengan menggunakan kekuatan dari dalam."


Liam lalu mulai melakukan ritual konyolnya dengan mengangkat kedua tangannya ke atas lalu bertepuk tangan sembari berkata "kekuatan dari dalam" berkali - kali untuk mengusir hantu pel, sedangkan Jane masih menonton film tersebut sampai selesai lalu setelah itu dia menonton berita di saluran televisi Korea. Karena hari mulai siang dan badannya terasa lengket, Jane yang masih menggunakan piyama miliknya lalu pergi ke kamar mandi di kamar Liam untuk mandi agar tubuhnya merasa segar. Sesampainya di dalam kamar mandi Jane langsung menanggalkan semua pakaiannya dan menghidupkan kran shower. Sekitar 20 menit kemudian Jane telah selesai mandi dan sekarang dia sedang memakai bathrobe atau handuk mandi. Tampilan Jane sangat fresh dengan bare face nya dan rambut panjangnya yang masih basah setelah mandi. Jane kemudian berjalan menuju ke dapur untuk membuat teh vanilla, namun saat Jane melewati tempat gym dia merasa heran dengan gerakan yang dilakukan oleh Liam.


"Gerakan apa yang dilakukan oleh anak itu? apakah itu sebuah gerakan baru? dasar pria aneh," ucap Jane sembari menggelengkan kepalanya dan kemudian dia kembali melanjutkan langkahnya menuju ke dapur.


Begitu Jane sampai di dapur kemudian dia mulai menyiapkan cangkir dan bahan - bahan lainnya untuk membuat teh vanilla, tidak lupa dia juga memanggang roti untuk dinikmati bersama dengan teh vanilla yang dibuat olehnya. Setelah selesai membuat semuanya Jane lalu meminum teh vanilla buatannya, tetapi sebelum dia meminumnya dia mencium bau harum teh tersebut terlebih dahulu dan merasakan kenikmatan dari teh vanilla itu. Tidak berselang lama kemudian Liam datang menghampiri Jane dan pergi mengambil air dingin di kulkas. Liam lalu duduk di samping Jane sembari menatap gerak gerik Jane yang sedang meminum teh vanilla. Liam kemudian menyentuh rambut Jane yang masih basah itu, lalu setelah itu dia memainkan rambutnya dan mencium wangi harum rambutnya. Melihat Liam mulai memainkan rambutnya, Jane hanya diam saja dan terus meminum teh vanilla tersebut.


"Rambut kamu sangat harum, dan aku suka."


"Benarkah?"


"Iya, aku jadi ingin terus mencium wangi harumnya."


"Baiklah kalau begitu lakukanlah," ucap Jane sembari mengunyah roti panggangnya.


Liam lalu melirik roti milik Jane "itu apa?"


"Ini batu bata panggang, kamu mau?"


"Itukan roti bukan batu bata."


"Sudah tau ini roti kenapa masih bertanya?"


"Aku boleh mencicipinya sedikit saja?"


"Boleh," ucap Jane saat lalu Liam.


"Nanti kamu ingin pergi keluar tidak?"


"Sepertinya tidak, memangnya kenapa?"


"Oh begitu," ucap Liam meminum teh vanilla milik Jane.


Jane lalu memukul bahu Liam "kenapa kamu meminum teh milikku?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin mencicipinya saja."


"Bukan mencicipi namanya kalau kamu menghabiskannya," ucap Jane sembari melihat cangkirnya.


"Kalau begitu kamu buat lagi saja tehnya, kalau habis nanti aku belikan teh seperti itu bahkan kalau perlu dengan perusahaannya sekalian agar kamu puas meminum teh itu sampai diare."


"Dasar sombong, mentang - mentang orang kaya."


"Kamu kan juga orang kaya."


"Tetapi kamu lebih kaya daripada aku."


"Penghasilanmu sangat tinggi hanya dengan sekali posting iklan di instamili, bahkan aku dengar - dengar bisa mencapai 5 milliar."


"Itu hanya sebuah rumor saja."


"Dih bohongnya kelihatan."


"Aku tidak berbohong."


"Iya deh iya."


"Oh ya kalau sebelum kita menikah nanti kita membuat perjanjian pranikah, bagaimana?"


"Kenapa? padahal itu sangat penting karena untuk melindungi harta milikmu yang jumlahnya lebih banyak daripada milikku."


"Pokoknya aku tidak setuju! kalaupun kamu memberikan aku surat tersebut aku tidak akan menandatanganinya, bahkan nanti akan aku sobek kertasnya."


"Hei dengarkan aku terlebih dahulu, kalau misalnya terjadi apa - apa di kemudian hari maka..." ucapan Jane terpotong.


"Kok kamu malah seperti mendoakan bahwa hubungan kita tidak akan baik - baik saja?"


"Tidak, bukan seperti itu maksudku."


Liam menggebrak meja "sudahlah jangan membicarakan hal itu, membuat badmood saja."


Liam lalu pergi keluar meninggalkan Jane sendirian di dalam unit apartement miliknya hingga membuat Jane menghela nafasnya dengan kasar melihat perlakuan Liam yang seperti itu. Jane kemudian membereskan meja makan dan setelah itu dia pergi ke kamarnya untuk berganti baju. Jane tidak habis fikir dengan sikap Liam yang seperti itu padahal dia sudah mencoba berfikir dengan keras bagaimana caranya agar dia bisa membicarakan mengenai hal tersebut tanpa membuat Liam merasa tersinggung dengan topik pembicaraan tersebut, namun ternyata gagal dan sekarang malah membuat Liam marah besar kepadanya sampai dia menggebrak meja dengan kencang. Disisi lain Liam memilih untuk pulang ke rumah utamanya dengan perasaan marah sekaligus merasa tersinggung karena ucapan Jane tadi. Liam kemudian memilih untuk berada di depan layar komputernya dan bermain game online bersama teman - temannya.


"Aku lagi sedikit stress," ucap Liam.

__ADS_1


"Tumben stress nya sedikit biasanya stress nya banyak," ucap Dio.


"******," ucap Liam mengumpat.


"Kalau baru stress mending merokok atau minum yang banyak."


"Dasar teman sesat."


"Bukankah biasanya kamu seperti itu sampai kamu mabuk berat?"


"Malas pergi ke club malam, lagipula mommy juga sudah melarangku untuk terlalu banyak minum."


"Karena kamu kalau sudah mabuk berat suka nyusahin."


"B*jing*n."


"Kalem boss."


"Sudahlah jangan memancing - mancing Liam untuk berbuat dosa," ucap Ricko berusaha menengahi mereka berdua.


"Iya maaf hehe."


"Eh aku ingin bertanya."


"Kamu ingin bertanya apa?" tanya Dio.


"Memangnya kalau hendak menikah perlu perjanjian pranikah ya?"


"Wah kalau tentang hal seperti itu mari kita tayakan saja kepada Bapak Ricko Ibrahim," ucap Dio bercanda.


"Kalau tentang itu menurutku sesuai kesepakatan antara kedua belah pihak, kalau misalnya kamu dan calon istrimu ingin membuat perjanjian seperti itu ya tidak apa - apa dan kalau tidak ingin juga tidak apa - apa."


"Kalau salah satunya tidak bagaimana?"


"Ya itu harus diperbincangkan lagi secara baik - baik inginnya bagaimana."


"Oh begitu."


"Sudah siap nikah kah Li?" tanya Dio bercanda.

__ADS_1


"Belum, hanya ingin bertanya saja."


"Oh."


__ADS_2