Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #436


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Liam beserta yang lainnya sudah pulang ke Yogyakarta setelah liburan di Bali. Sebuah liburan yang sangat menyenangkan hingga membuat hubungan mereka berdua semakin dekat. Karena itu juga Jane jadi tahu bahwa sebenarnya suaminya belum sepenuhnya move on dari sekretaeis pribadinya. Namun Liam adalah seorang pria yang sangat pintar untuk meyakinkan orang, jadi Jane bisa memaklumi Liam. Saat ini Liam sedang berbaring di atas ranjangnya untuk tidur, sedangkan Jane sedang berada di dapur membuat green tea menggunakan mesin yang belum lama dia beli.


Disamping Liam ada baby Ace yang juga berbaring di atas ranjangnya dan sedang bermain sendiri, karena ayahnya tidur. Jane sekarang menjadi sangat senang membuat minuman green tea setelah dia membeli alat tersebut, dan rasanya pun juga sangat lezat. Jane kemudian mengambil sebuah ikat rambut dan mengikat rambutnya karena merasa sangat gerah. Tidak lama kemudian terdengar suara bel dari pintu utama, dan setelah itu Jane bergegas untuk membukakan pintu.


Ternyata yang datang ke rumahnya malam - malam begini adalah Josh, dan dia membawa 3 bungkus martabak manis serta martabak telor. Jane bertanya - tanya di dalam hatinya, tumben sekali Josh membawa 3 bungkus martabak padahal satu saja sudah bisa untuk mereka bertiga. Jane mempersilahkan kakaknya itu untuk masuk ke dalam, dan dia langsung duduk di sofa. Jane lalu kembali ke dapur untuk melanjutkan membuat minuman green tea. Tidak lama kemudian Josh menghampiri Jane di dapur dan memeluknya dari belakang.


Namun Jane bisa langsung menebak bahwa kali ini kakaknya yang memeluknya, dan bukannya suaminya, sehingga Jane hanya diam saja sembari terus melanjutkan aktivitasnya. Jane bisa mengetahui itu semua karena dia sangat hafal sekali dengan aroma parfume masing - masing. Tiba - tiba saja Josh tidak sengaja melihat sebuah bekas yang bewarna biru keunguan di bagian bahu Jane.


"Apakah saat liburan kemarin kamu digigit oleh vampir juga heum?" tanya Josh menggoda adiknya itu.


"Digigit vampir apanya? aku baik - baik saja kok."


"Maksudku digigit oleh vampir Australia hahaha."


Jane langsung memukul kakaknya.


"Oppa ini apa - apaan sih? jangan begitu, aku kan jadi malu."


Josh tertawa terbahak - bahak.


"Tidak apa - apa santai saja, lagipula kalian berdua juga sudah menikah jadi ya tidak masalah. Jadi bagaimana permainannya, apakah terasa nikmat atau tidak heum?"


"No comment," jawab Jane kesal.


"Dih kamu ini kenapa begitu? sekarang vampir kamu dimana?"


"Dia lagi di kamarnya bersama baby Ace."


"Oh begitu rupanya."


"Ingin kupanggilkan sekarang?"


"Nanti saja."


"Oh ini minuman green teanya," ucap Jane menyajikan minuman itu.


"Terima kasih, eh itu apa?"


"Itu alat pembuat minuman green tea, ya semacam kopi maker."


"Oh begitu, pasti vampir kesayanganmu itukan yang membelikannya?"


"Bukan, aku membelinya sendiri."


"Oh begitu."


"Tapi memakai uang Liam hahaha."


"Dih sama saja dong."

__ADS_1


"Memangnya Liam tidak keberatan kamu membeli alat seperti itu yang harganya sangat lumayan?"


"Tidak, dia justru merasa senang aku membeli alat ini."


"Oh iya juga sih, secara uang 5 jutaan kan seperti uang recehan bagi Liam."


"Sepertinya begitu, Liam uangnya sangat banyak jadi aku bisa membeli apapun yang aku inginkan."


"Bagus itu, kalau perlu habiskan saja uang Liam hahaha."


Tidak lama kemudian terdengar lagi sebuah bel dari pintu utama, dan Jane kembali membuka pintu itu. Ternyata yang datang adalah teman - teman Liam, dan pantas saja Josh membeli 3 bungkus martabak.


"Hai Jane maaf mengganggu, kami boleh main ke rumah kan?" tanya Dio.


"Boleh, silahkan masuk."


"Oh ternyata kalian sudah datang rupanya," ucap Josh yang menghampiri mereka semua.


"Yoii, kan kita akan main game bersama disini."


"Benar, ayo masuk."


"Dih yang tuan rumahnya siapa yang tamunya siapa," gerutu Jane.


"Wuihh mantap nih ada martabak," ucap Chicko saat duduk di sofa.


"Liam saja tidak pernah menyuruhku seperti ini, eh dia malah seenaknya memerintahku dasar kakak durhaka."


"Jane kenapa masih berdiri disitu? ayo cepat buatkan!"


"I-iya tuan muda Josh," ucapnya yang langsung melenggang pergi ke dapur.


"Dih parah sih kamu bisa - bisanya menyuruh Jane seperti itu padahal Liam saja tidak pernah sampai seperti itu," ucap Ricko.


"Haiss tidak apa - apa santai saja, lagipula Liam kan memang takut dengan Jane."


"Silahkan diminum," ucap Jane menyajikan 3 gelas minuman green tea di atas meja.


"Terima kasih Jane," ucap mereka serempak.


"Sama - sama."


"Liam kemana Jane?" tanya Chicko.


"Dia sedang ada di kamarnya, mau aku panggilkan?"


"Tidak perlu, biar kami saja yang kesana sembari melihat baby Ace."


"Oh begitu, silahkan saja."

__ADS_1


"Okay."


Mereka semua, kecuali Ricko langsung bergegas menuju ke kamar Liam untuk menghampiri Liam dan juga melihat keimutan baby Ace. Jane


"Bagaimana liburannya Jane, sangat menyenangkan tidak?" tanya Ricko membuka perbincangan.


Jane mengangguk.


"Iya Ric sangat menyenangkan, dan kami berempat bermain - main di pantai serta berjalan - jalan bersama."


"Oh begitu."


"Eh Gita dan Ibra tidak ikut?"


"Tidak, mereka berdua sedang berada di rumah kakeknya."


"Oh."


Disisi lain, mereka semua yang sampai di kamar utama langsung berdecak sembari menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Liam yang diminta untuk menjaga anaknya.


"Dasar, diminta untuk menjaga baby Ace malah ditinggal tidur!" ucap Josh kesal.


"Benar, bisa - bisanya seperti itu."


"Hei bangun Li!!" teriak Josh sembari menepuk - nepuk bahu Liam.


"Nggh apa?" tanya Liam yang masih mengantuk.


"Kamu ini bagaimana? diminta untuk menjaga baby Ace malah tidur, untung tidak jatuh!"


"Hoamm maaf Josh, aku sangat mengantuk dan lelah sekali jadi aku ketiduran. Lagipula kasurku sebesar dan seluas harapan orang tua, jadi aman lah."


"Hmm ya sudah terserah sih, nanti kalau terjadi hal yang tidak diinginkan maka siap - siap dimarahi oleh Jane."


"Iya."


Mereka semua berbincang sebentar di kamar Liam sembari bermain dengan baby Ace, lalu setelah itu mereka turun ke bawah untuk melanjutkan perbincangan di ruang tengah. Liam menggendong baby Ace ke bawah dan memberikannya kepada Jane. Sebelum kembali ke kamarnya, Jane menyempatkan untuk berbincang sebentar dengan teman - teman Liam. Semenjak menikah dengan Liam, Jane menganggap mereka semua juga temannya apalagi setelah Liam bercerita bahwa mereka semua lebih dari seorang teman melainkan sebuah rumah untuknya.


"Baby Ace dan Ibra sangat lucu sekali," ucap Chicko merasa gemas.


"Benar, saat menikah nanti aku juga ingin anakku seperti mereka berdua."


"Hmm kalau menikah dengan anime tidak akan bisa Dio, nanti anaknya mau di download?"


"Dih apa - apaan sih? aku kan juga ingin menikah dengan manusia asli namun belum menemukannya."


"Iya yang sabar ya Dio hahaha," ucap Ricko menepuk - nepuk pundaknya.


"Iya Ric."

__ADS_1


__ADS_2