
Liam kemudian pergi meninggalkan Jane dan berjalan ke kamarnya untuk mandi, sedangkan Jane juga pergi ke kamar mandi. Sekitar 15 menit kemudian Liam sudah selesai mandi dan dia lalu mengetuk pintu kamar Jane untuk segera mengajaknya pergi. Tidak lama kemudian Jane berteriak dari dalam kamarnya mempersilahkan Liam untuk masuk karena Jane masih berdandan. Liam kemudian langsung membuka pintu kamar Jane dan duduk di sofa menunggu Jane selesai berdandan. Liam kemudian memainkan game di handphone miliknya walaupun sesekali Liam melirik Jane yang sedang sibuk berdandan. Saat meliriknya, di dalam batin Liam mengatakan jika Jane itu sangat cantik meskipun tanpa polesan make up sekalipun, dia merupakan perwujudan dari wanita imut dan sexy yang mencampur menjadi satu.
Terkadang penampilannya sangat imut seperti anak kecil, namun terkadang penampilannya juga bisa sangat sexy seperti wanita seumurannya. Liam bertanya di dalam hatinya "mengapa Tuhan bisa menciptakan wanita seperti dia yang memiliki paras cantik, sexy, dan imut yang di borong semuanya oleh satu orang yaitu dia?" Liam sering bertemu dengan banyak wanita namun menurutnya hanya Jane lah yang paling menarik di antara semua wanita yang pernah dia temui bahkan dia bisa menghancurkan keinginan Liam untuk melajang seumur hidupnya. Semua perhatian Liam saat ini hanya tertuju kepada Jane yang sedang sibuk berdandan bahkan Liam menjadi tidak fokus dalam bermain game dan memilih untuk memperhatikan Jane.
Dari dulu Liam paling tidak suka jika menunggu wanita untuk berdandan namun tiba - tiba dirinya tertarik untuk memperhatikan Jane saat sedang berdandan. Selesai berdandan, Jane kemudian menoleh ke arah Liam dan menyadari jika Liam sedang melamun sembari tersenyum. Jane lalu menghampiri Liam dan menepuk bahunya untuk membuyarkan lamunan Liam agar tidak kesurupan. Setelah itu mereka berangkat menuju rumah makan yang diinginkan oleh Jane. Tetapi sebelum berangkat Jane memberi makan Kiko terlebih dahulu dan memasangkan helm ke kepala Jane. Sesampainya di depan rumah makan tersebut Liam lalu melepaskan helm dari kepala Jane dan membantu merapikan rambutnya. Setelah itu mereka berdua memesannya dan berbincang sembari menunggu pesanan mereka siap.
"Ternyata kamu hanya ingin memakan seblak, aku kira kamu ingin memakan apa."
"Iya karena saat aku pertama kali mencobanya waktu itu sangat enak sekali," ucap Jane sembari tersenyum.
Liam mengangguk "memangnya nanti kamu tidak sakit perut memilih level 4?"
"Tidak, aku kemarin juga memakan yang level 4 dan perutku tidak sakit."
"Baiklah kalau begitu, tetapi awas saja jika nanti mengeluh perut mu sakit."
"Tidak akan Liam."
"Baiklah terserah. Setelah ini kamu menginginkan apa lagi?"
Jane menggelengkan kepalanya "belum tau."
"Apa perutmu masih sakit heum?"
"Sudah tidak sakit."
"Syukurlah. Bagaimana kalau setelah ini kita jalan - jalan ke Malioboro?"
Jane mengangguk "boleh."
Kemudian waiters datang menyajikan pesanan mereka berdua, lalu mereka langsung menyantapnya. Liam lalu bertanya kepada Jane "kenapa para wanita sangat menyukai makanan ini?"
"Karena lezat," ucap Jane sembari menikmati makanannya.
"Hanya karena itu?"
"Mungkin juga karena rasa pedasnya sangat cocok dimakan saat keadaan seperti ini."
"Sedikit masuk akal."
"Aku boleh mencoba milikmu?"
Liam lalu memajukan mangkuk miliknya ke arah Jane "ini coba saja."
Jane lalu mencobanya "tidak pedas sama sekali."
__ADS_1
"Bagaimana bisa tidak pedas, menurutku ini sudah sangat pedas."
"Kamu coba saja milikku, kamu akan tau mana pedas yang sesungguhnya."
Liam lalu mencoba milik Jane "ah ini sangat pedas sekali."
"Dasar payah, Chicken memang sangat payah."
"Aku hanya tidak terlalu menyukai makanan pedas," ucap Liam sembari meminum es miliknya.
Jane kemudian merebut minuman Liam dan meminumnya "mau tukar, enak milikmu."
"Tidak mau, pesan lagi saja."
"Maunya tukar dengan milikmu," ucap Jane sembari memanyunkan bibirnya.
Liam lalu memberikan minumannya "baiklah, ini ambillah."
Jane menjadi tersenyum "terima kasih Li."
"Ya." Jawabnya singkat.
Selesai memakan makanan yang di inginkan oleh Jane, mereka berdua lalu melanjutkan berkeliling kota dengan mengendarai motor dan mereka berdua juga menikmati suasana kota di sore hari. Perasaan Jane sangat bahagia karena dapat berkeliling kota bersama Liam walaupun masih ada sedikit kegundahan hatinya. Jane memeluk Liam dengan sangat erat saat dibonceng oleh Liam menggunakan motornya berkeliling kota. Sesampainya di Malioboro Liam lalu memarkirkan motornya dan langsung menggandeng tangan Jane dengan sangat erat agar Jane tidak hilang, maklum Jane memiliki tubuh yang mungil dan menggemaskan sehingga Liam selalu menggandeng tangannya. Mereka berdua lalu berjalan - jalan di sekitar area Malioboro sembari bercengkrama dan bercanda bersama. Liam sudah merasa sangat sayang kepada Jane sehingga Liam selalu menuruti permintaan Jane. Setiap makanan atau minuman yang Jane tunjuk Liam langsung membelikannya. Menurutnya itu lebih menyenangkan ketika Jane banyak jajan makanan atau minuman daripada Jane sedikit makan karena diet. Liam merasa sangat khawatir ketika Jane sedikit makan karena diet, bukan hanya Jane saja tetapi jika itu Mrs Robinson atau Rosie pasti Liam juga akan sangat khawatir. Liam hanya takut saja jika para wanita yang disayanginya itu sakit karena melakukan diet demi menjaga bentuk tubuhnya.
"Liam itu apa?" tanya Jane sembari menunjuk ke arah pedagang makanan yang berada di depannya.
Jane mengangguk "mau coba."
"Baiklah tunggu di sini, aku akan membelikannya untukmu."
"Mau ikut."
Liam lalu kembali menggandeng tangan Jane dan pergi untuk membeli gulali. "Ini gulali yang kamu minta," ucap Liam sembari memberikan gulali tersebut.
Jane tersenyum "terima kasih."
"Iya sama - sama. Bagaimana, lezat bukan?"
"Iya lezat. Kenapa kamu tidak membelinya juga?"
"Aku baru tidak ingin memakannya."
Jane lalu menatap wajah Liam "bukankah hari ini aku banyak makan dan sudah menghabiskan uangmu dengan sangat banyak?"
"Tidak kok, aku justru merasa senang jika kamu banyak makan dan jajan daripada berdiet."
"Kenapa begitu?"
__ADS_1
"Aku hanya tidak terlalu menyukainya saja."
"Bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?"
Liam mengangguk "silahkan."
"Apa kamu serius mengenai ajakanmu untuk menikah?"
"Aku benar - benar serius untuk yang satu itu Jane."
"Aku kira jika kamu sedang bercanda denganku," ucap Jane sembari masih menjilati gulalinya.
"Aku tidak mungkin bercanda mengenai hal tersebut, lagipula aku juga tau jika menikah itu bukan hal yang bisa dibuat main - main."
"Tetapi maaf aku belum bisa menjawab ajakanmu itu, dan aku masih membutuhkan waktu untuk memikirkannya."
Liam tersenyum "tidak apa - apa, tenang saja aku akan menunggu jawabanmu."
"Terima kasih sudah mau memahamiku."
"Iya." Liam lalu menarik tangan Jane yang sedang membawa gulali, lalu Liam menggigit gulali milik Jane.
"Kenapa kamu menggigitnya?"
"Memangnya kenapa?"
"Tetapi itukan...."
"Tidak masalah. Kamu mau apa lagi atau mau jalan - jalan kemana lagi?" tanya Liam.
"Itu apa yang beruap dan berbunyi ngung?"
"Oh itu kue putu."
"Kue putu?"
"Ya, itu terbuat dari berasa ketan putih dan dicampur dengan parutan gula merah, lalu disajikan dengan toping parutan kelapa."
"Oh begitu, lalu uap itu?"
"Itu untuk memasak kuenya, mau coba?"
"Boleh."
Liam lalu membeli kue putu tersebut, sedangkan Jane sangat memperhatikan bapak penjualnya dengan serius karena merasa penasaran. Setelah selesai lalu Liam mengajak Jane untuk duduk memakan kue putu itu, dan Liam kemudian menyuapi kue tersebut. "Ini juga lezat bukan?"
"Iya. Setelah ini kita pulang ya?"
__ADS_1
"Baiklah."