Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #92


__ADS_3

Selesai berkumpul dan berpesta bersama teman - temannya, Liam kemudian pulang ke apartement miliknya karena ingin menemani Jane di sana. Sebenarnya Liam tidak tega jika meninggalkan Jane sendirian berada di apartement miliknya karena takut jika terjadi hal - hal yang tidak di inginkan apalagi Jane adalah seorang wanita. Sesampainya di depan pintu unit apartement Liam kemudian memasukan kode pin dan langsung membuka pintu apartementnya. Liam lalu berjalan menuju kamar Jane dan mengetuk pintu kamarnya namun tidak ada jawaban dari Jane. Saat Liam ingin membuka pintunya ternyata pintu kamar Jane juga sudah terkunci, Liam mengira jika Jane sudah tertidur nyenyak jadi dia pergi ke dapur untuk meletakkan makanan yang dia beli dari restaurant tadi ke dalam kulkas. Setelah itu Liam masuk ke dalam kamarnya dan mulai tertidur karena dia merasa sangat lelah sekali. Keesokan harinya Jane terbangun dari tidurnya lebih awal karena harus bersiap - siap untuk pergi bekerja di kantor.


Mendengar Kiko menggonggong di pagi hari membuat Jane langsung bergegas menghampiri Kiko di ruang tengah. Jane lalu memberi makan Kiko karena sedari tadi Kiko terus menggonggong meminta makan. Jane kemudian melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengambil air minum namun saat membuka kulkas Jane merasa bingung karena sepertinya dia tidak membeli makanan apapun lalu meletakannya di kulkas, tetapi sekarang di kulkas ada makanan. "Mungkin saja tadi malam Liam pulang ke apartement dan meletakkan makanan ini di dalam kulkas," begitu gumam Jane. Setelah itu Jane mengambil makanan tersebut dan memeriksa makanan tersebut, dan ternyata makanan itu belum basi jadi Jane langsung memanaskannya untuk sarapan. Setelah memanaskan makanan tersebut lalu Jane meletakkan makanan tersebut di atas meja makan dan pergi ke kamar Liam untuk membangunkannya. Karena pintu kamarnya tidak di kunci jadi Jane langsung masuk ke dalam kamar Liam setelah mengetuk pintunya.


Jane langsung menggelengkan kepalanya setelah dia mengetahui jika Liam masih menggunakan sepatunya saat dia tidur. Jane lalu duduk di tepi ranjang Liam dan melepaskan sepatu yang masih Liam pakai semalam. Jane kemudian memandangi wajah Liam yang masih tertidur nyenyak karena merasa kelelahan dan mengusap lembut pipinya. Setelah itu Jane dengan perlahan membangunkan Liam yang masih tertidur nyenyak tersebut. Liam adalah tipe orang yang sangat sulit di bangunkan jika sudah tertidur lelap apalagi jika dalam keadaan sangat lelah, jadi Jane membangunkan Liam berkali - kali sampai Liam benar - benar terbangun dari tidurnya. Beberapa menit kemudian Liam sudah terbangun dari tidurnya dan dia langsung menatap wajah Jane yang polos tanpa make up setelah bangun tidur. Liam kemudian tersenyum tipis karena saat terbangun dia langsung melihat wajah Jane yang tetap cantik dan langsung melingkarkan kedua lengannya ke pinggul Jane hingga membuat Jane seketika terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Liam.


"Good morning my sunshine," ucap Liam dengan mata yang kembali terpejam.


"Good morning Chicken. Ayo bangun! bukankah kamu harus ke kantor hari ini?"


"Aku sedang malas ke kantor, aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersama dirimu saja."


"Kok begitu sih? jangan malas bekerja."


"Hanya sekali tidak apa - apa, aku sepertinya mulai jenuh jika terus bekerja."


"Memangnya dahulu kamu sangat rajin bekerja?"


Liam lalu duduk dan menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang "bukan sangat rajin, tetapi orang - orang berkata sudah dalam tahap gila bekerja."


"Benarkah?"


"Iya benar. Aku terkadang sering bekerja lembur sewaktu tinggal di Australia bahkan hampir setiap hari aku bekerja lembur, dan waktu ke New York kemarin itu liburan pertamaku setelah bertahun - tahun aku tidak pergi untuk liburan diluar dinas kerja."


"Apa ada yang membuatmu menjadi gila bekerja atau hanya karena ambisimu saja?"


"Bisa dibilang dua - duanya. Aku menjadi orang yang gila bekerja hanya untuk melupakan traumaku pasca kejadian yang dahulu aku alami atau mungkin lebih tepatnya aku menjadi takut untuk tertidur setelah kejadian yang menimpaku dahulu, dan aku juga mempunyai ambisi untuk hidup mandiri."


"Kenapa kamu takut untuk tidur?"

__ADS_1


"Aku takut jika harus bermimpi buruk saat tidur karena trauma ku itu, bahkan aku juga mengalami insomnia hingga sekarang."


"Bukankah kata orang - orang mimpi hanya bunga tidur saja?"


"Awalnya aku juga berfikir begitu, tetapi aku semakin sering mengalami mimpi buruk jadi aku mulai berfikir jika mimpi bukanlah hanya sekedar bunga tidur saja."


"Tetapi aku lihat tadi tidurmu sangat nyenyak sekali, bahkan saat kamu tidur di sampingku waktu itu."


"Kalau tadi malam aku bisa tidur nyenyak karena aku merasa sangat kelelahan, sedangkan waktu aku tidur bersamamu waktu itu tiba - tiba saja aku tidak mengalami mimpi buruk dan merasa sangat damai jika tidur bersamamu."


"Kenapa bisa begitu?"


"Aku juga tidak tau, mungkin saja kamu memiliki kekuatan untuk menangkal mimpi buruk."


Jane tertawa "mana ada orang yang memiliki kekuatan seperti itu dan itu hanyalah sebuah cerita fiksi belaka."


"Lalu kamu biasanya tidur berapa jam?"


"Paling lama sekitar 5 jam dan terkadang aku hanya tidur selama 3 jam," ucap Liam sembari menyandarkan kepalanya di bahu Jane.


"Lalu bagaimana dengan ambisimu untuk hidup mandiri?"


"Maksudnya aku ingin jika kelak suatu saat aku berumah tangga lalu mempunyai istri, aku bisa mencukupi kebutuhannya dengan kerja kerasku sendiri dan tidak membutuhkan bantuan orang tuaku."


"Oh begitu."


"Iya. Jadi aku ingin mewujudkan keinginan istriku dengan uangku sendiri, dan bukannya dengan meminta uang kepada orang tuaku."


"Ah begitu rupanya."

__ADS_1


"Waktu aku sudah menikah kan kepala rumah tangganya aku, jadi yang bekerja mencari nafkah pastinya juga aku dong apalagi jika punya istri yang suka belanja barang - barang mewah ehem." Liam langsung berdehem sembari tersenyum berusaha untuk menyindir Jane.


"Maka dari itu carilah istri yang tidak suka belanja barang - barang mewah."


"Nanti kalau begitu uangku tidak akan habis - habis," ucapnya sembari tertawa.


Jane lalu terdiam sejenak, begitu juga dengan Liam. Tidak lama kemudian Jane mengambil tangan kanan Liam dan melihatnya "aku tidak menyangka jika kamu masih mau memakai gelangnya, padahal dulu kamu sempat menolak memakainya."


Liam lalu menatap wajah Jane dan mencubit pipinya itu "nanti kalau aku tidak memakainya kamu akan marah kepadaku dan membuang semua gelangnya."


"Ih sakit! aku tidak akan marah, lagipula aku ini juga siapamu sampai harus segitunya?"


Liam tersenyum nakal "calon menantunya daddy dan mommy."


Jane memanyunkan bibirnya dengan disertai senyuman yang tipis hingga membuat wajahnya semakin imut "hehe dari mana kamu tau jika aku akan membuang semua gelangnya?"


"Dahulu waktu masih di pantai kamu sudah melemparkan semua gelangnya di pasir gara - gara aku menolak untuk memakai gelang ini."


"Iya juga ya."


"Dasar pelupa. Aku ingin desain cincin nikah kita ada ukiran inisial nama kita dan ukiran bulan matahari."


"Masih lama Chicken, lagipula kita juga tidak tau apakah kita akan menikah atau tidak karena bisa saja aku lebih tertarik kepada pria lain."


"Ah kamu ini. Pokoknya aku maunya seperti itu, cincin yang ada ukiran mataharinya untuk kamu sedangkan yang bulan untuk aku."


"Kamu ini memang keras kepala sekali, menyebalkan."


"Bodo amat wlee," ucap Liam menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


__ADS_2