
Saat malam hari Liam sedang menonton film di televisi kamarnya, dan kemudian dia dihampiri oleh Jane yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan nada bicaranya yang manja, Jane meminta Liam untuk mengusap - usap perutnya. Tanpa basa - basi Liam langsung melakukan apa yang diminta oleh Jane walaupun matanya masih fokus tertuju kepada layar televisi. Semakin lama Liam justru malah menepuk - nepuk paha Jane yang membuat Jane membalikkan tubuhnya menghadap Liam untuk memukul perut Liam. Liam hanya menyeringai karena ulah Jane tersebut, dan kemudian dia menarik pinggul Jane agar semakin dekat dengannya. Lalu dia menatap istrinya itu dengan sangat dalam sembari menyelipkan rambut istrinya itu di telinganya, dan tanpa aba - aba Liam langsung menciumi leher serta wajah Jane. Walaupun Jane tidak mengatakan kepada Liam tentang keinginannya dibalik sikap manjanya tersebut namun Liam sudah sangat hapal dengan keinginan istrinya tersebut. Sejak dulu kalau Jane sudah bersikap sangat manja pasti dia hanya ingin mendapatkan perhatian dari Liam serta ingin belaian - belaian kasih sayang darinya, dan jika dia sudah puas pasti dia akan tertidur dengan sendirinya di pelukan Liam.
Setelah Jane tertidur, Liam kemudian kembali menonton film yang sempat dia jeda/pause untuk menuruti keinginan Jane tadi. Liam menonton film sembari menepuk - nepuk pantat Jane agar tidurnya semakin nyenyak, dan tiba - tiba saja ada sebuah telepon masuk di handphone Liam dari nomor yang tidak dikenal. Karena Liam merasa penasaran, akhirnya dia menjawab telepon tersebut untuk mengetahui siapa yang sedang meneleponnya. Ternyata yang menelepon Liam malam - malam adalah Lian yang memintanya untuk datang ke rumah kontrakannya. Liam kemudian bersiap - siap setelah di mendapatkan lokasi rumah kontrakan Lian. Entah apa lagi yang ingin dia bicarakan pada malam - malam begini di rumahnya, begitu kira - kira fikir Liam saat sedang mengenakan jacketnya. Sebelum pergi Liam menyelimuti serta mencium kening Jane terlebih dahulu. Liam kemudian menuju ke garasi basement rumahnya dan mengendarai motornya menuju ke lokasi yang telah dikirim oleh Lian melalui pesan. Saat menuju kontrakan Lian, beberapa kali Liam tersesat karena salah masuk gang dan akhirnya dia telah sampai di depan kontrakan Lian. Liam langsung mengetuk pintu rumah tersebut begitu dia selesai memarkirkan motornya di pinggir jalan.
*Tok tok tok* Liam mengetuk pintu.
"Eh sudah datang," ucap Lian saat membuka pintu.
"Ada apa kamu tiba - tiba menghubungiku? ingin memaki - maki aku lagi dengan tuduhan perebut harta warisan dan anak emas?"
Seketika Lian langsung merasa tidak enak kepada Liam karena kejadian tadi siang di restaurant.
"Mmm mari masuk."
"Okay."
Lian lalu melihat motor Liam yang sedang di parkir di pinggir jalan.
"Eh lebih baik motormu dimasukkan ke dalam halaman saja, sayang motormu mahal kalau sampai hilang."
"Oh iya, sebentar."
Liam lalu berlari untuk memasukkan motornya ke dalam halaman rumah Lian, dan setelah itu dia mengikuti langkah Lian untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Maaf ya rumahku sempit dan tidak seperti milikmu."
"Tidak masalah, santai saja yang penting kan bisa untuk berteduh dan beristirahat."
"Benar. Kamu ingin minum apa?"
"Tidak perlu repot - repot, aku mungkin hanya bisa sebentar saja disini karena nanti kalau dia bangun pasti akan marah - marah jika dia tau aku tidak ada."
"Dia siapa? istrimu?"
"Iya, eh kamu tau darimana jika aku sudah menikah?"
"Dari mommy, dan mommy juga bercerita jika kamu menikah dengan Jane yang dahulu sering sekali kamu jahili."
"Maksudnya?" tanya Liam bingung.
"Jane itu dahulu sering menangis karena kamu selalu mencuri strawberry miliknya saat kita masih kecil."
"Benarkah? aku justru tidak ingat jika kita berdua merupakan teman dari kecil.
Lian tertawa.
__ADS_1
"Bukan teman namun musuh, Jane selalu mengganggapmu sebagai musuhnya dan selalu menghindar saat kita bermain ke rumahnya."
"Sampai sekarang kita juga masih sering bertengkar seperti seorang musuh."
"Benarkah? wah kamu jangan selalu bertengkar dengannya."
"Iya, sekarang aku sudah tidak mencari masalah dengannya karena dia sangat galak sekali."
"Yang akur ya kalian berdua."
"Okay. Baiklah, katakan apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku!!"
"Sejujurnya aku sangat ingin pulang namun aku takut, dan setelah aku fikir - fikir rasanya hampa sekali hidup sendiri tanpa keluarga karena aku seperti orang yang kehilangan arah. Aku salah telah membuat mommy sedih karena kepergianku, dan aku merasa tidak enak kepada mommy karena setelah bertahun - tahun aku meninggalkannya tiba - tiba saja mommy datang untuk membujukku pulang."
Liam menepuk - nepuk punggung Lian.
"Saranku lebih baik kamu pulang saja ke rumah karena terkadang mommy selalu memandangi pintu dengan harapan kamu akan membuka pintu tersebut sembari berteriak memanggilnya."
"Tetapi daddy?"
"Daddy sudah memaafkanmu karena mommy sudah berbicara kepada daddy agar menugaskan seseorang untuk menemukanmu."
"Benarkah begitu?" tanya Lian ragu.
"Tentu saja, kita semua berharap agar kamu bisa pulang dan kembali menjadi bagian keluarga. Bukankah tidak enak saat kamu tinggal sendiri dan tidak ada seseorang yang diajak berbicara serta bertukar rahasia?"
"Pulanglah kapanpun kamu siap, karena pintu rumah itu akan selalu terbuka untukmu."
Lian mengangguk.
"Siap. Kamu tinggal dirumah itu kan?"
"Tidak, aku memilih untuk tinggal berdua dengan Jane saja karena ingin hidup mandiri. Aku merasa bahwa kita berdua pasti tidak akan leluasa untuk melakukan kegiatan berdua jika kita tinggal bersama orang tuaku."
"Benar sekali, takutnya juga akan ada cekcok jika kamu tinggal bersama daddy."
"Nah itu."
"Bagaimana? apa kamu sudah melakukan ehem dan program untuk mempunyai anak?"
"Skip dulu, kami berdua telah sepakat bahwa kami ingin menunda selama setahun."
"Oh begitu, baiklah jika itu keputusan yang baik menurut kalian berdua."
Lian kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan Liam teh hangat serta mengambil camilan agar mereka lebih nyaman berbincang. Mereka berdua lalu berbincang mengenai pengalaman - pengalaman yang terjadi di kehidupan mereka termasuk pengalaman Liam pertama kali saat menikah. Terkadang mereka berdua juga saling melontarkan candaan satu sama lain untuk mencairkan suasana. Disisi lain Jane yang terbangun dari tidurnya langsung memanggil - manggil nama Liam namun dia tidak mendapatkan jawaban dari Liam. Jane kemudian mencari ke kamar mandi tapi ternyata Liam tidak ada, dan akhirnya Jane berkeliling di sekitar rumah untuk mencari Liam. Jane mengambil handphone miliknya dan langsung menghubungi Liam untuk menanyakan keberadaannya.
__ADS_1
"Iya sebentar lagi aku pulang," ucap Liam melalui sambungan telepon.
Liam kemudian menutup teleponnya.
"Siapa? istrimu?" tanya Lian.
"Iya, siapa lagi kalau bukan Jane."
"Ya sudah cepatlah pulang, nanti istrimu marah."
"Kamu ini sedang mengusirku ya?"
"Tidak, aku hanya tidak ingin jika adikku ini dimarahi oleh istrinya saja kok hahaha."
"Baiklah aku pulang."
"Okay hati - hati."
Liam kemudian mengendarai motornya untuk pulang, dan sekitar 45 menit kemudian Liam telah sampai di rumah.
"Darimana lagi sih hubby?" tanya Jane khawatir.
"Aku tadi habis dari rumahnya kakak."
"Oh."
Liam kemudian menggendong Jane ke kamarnya, dan sesampainya di kamar Jane langsung pergi ke kamar mandi.
"Hubby," panggil Jane.
"Kenapa sayang?"
"Aku sedang datang bulan."
"Oh pantas saja kamu sangat manja."
"Ihhh."
Liam lalu mengusap - ngusap perut Jane.
"Butuh sesuatu?"
"Tidak."
"Ya sudah tidur saja ya?"
__ADS_1
"Iya hubby."