
Liam kemudian pergi ke rumahnya, sedangkan Jane membereskan peralatan makan dan mencucinya. Setelah itu Jane melangkahkan kakinya ke kamar untuk bersiap - siap pergi ke supermarket membeli bahan - bahan makanan dan camilan karena kulkas di apartement sudah kosong. Seperti biasa Jane ditemani oleh Pak Kang supir sekaligus bodyguard kesayangannya itu. Sesampainya di supermarket Jane memilih sayur mayur, daging, buah - buahan termasuk buah alpukat jika Liam ingin dibuatkan jus alpukat kesukaannya. Karena Liam juga menyukai oreo jadi Jane memberikan beberapa bungkus oreo rasa vanilla dan red velvet untuknya dan tidak lupa Jane juga membelikan Liam susu cokelat yang manis agar Liam tidak perlu lagi menambahkan gula di dalam susunya tersebut. Rupanya Jane sudah mulai hafal dengan makanan apa saja yang sangat disukai oleh Liam karena mereka berdua semakin dekat walaupun hanya sebagai sahabat. Selesai membeli semua bahan yang berada di dalam daftar Jane kemudian kembali ke apartement dan menata semua bahan makanan tersebut ke dalam kulkas. Setelah itu dia mulai membersihkan wajahnya dan memakai masker wajah agar kulitnya tetap terjaga alias tidak berjerawat. Jane lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya dan kembali teringat akan tawaran bermain sebuah drama yang mengharuskannya kembali ke Korea Selatan secepatnya. Rasanya berat jika jauh dari Liam namun Liam berkata jika kesempatan itu tidak boleh dia sia - siakan agar tidak menyesal di kemudian hari. Sekarang beban fikiran Jane bertambah kembali dan di dalam hatinya tersebut akhirnya Jane memantapkan bahwa dia akan memberikan jawaban atas ajakan Liam waktu itu setelah dia selesai syuting dramanya.
Sedangkan disisi lain Liam kemudian pergi ke kamar Rosie begitu dia sampai di rumahnya. Menurut Liam mengganggu Rosie adalah hal yang paling menyenangkan apalagi jika Rosie sampai marah dan teriak - teriak hingga membuat orang tuanya sampai geleng - geleng kepala setiap melihat tingkah kedua anaknya tersebut. Namun saat masuk ke dalam kamar Rosie, terlihat jika Rosie sedang fokus belajar untuk ujiannya jadi Liam memilih untuk keluar dan pergi ke kamarnya sendiri bermain game. Tiba - tiba saat Liam sedang asyik bermain game Mr Robinson masuk ke dalam kamar Liam dan mengejutkannya. Mr Robinson hanya diam berdiri di samping Liam tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun dan hanya menonton Liam yang sedang asyik bermain game bersama teman - temannya itu. Liam dibuat heran dengan tingkah daddy nya tersebut karena biasanya Mr Robinson selalu memarahi Liam jika dia melihat Liam bermain game. Liam terus melanjutkan bermain game sedangkan Mr Robinson mengelilingi kamar Liam sembari mengamati lukisan - lukisan yang di buat oleh Liam termasuk koleksi action figure miliknya yang dia pajang di lemari kaca. Setelah selesai mengamati kamar anaknya itu Mr Robinson kemudian membuka jendela kamar Liam dan duduk di sofa kamar sembari memperhatikan anaknya yang sedang bermain game. Liam yang mulai menyadari jika Mr Robinson ingin berbicara dengannya, Liam lalu melepas headset dan mematikan komputernya.
Liam kemudian duduk di sebelah Mr Robinson "apa ada yang ingin daddy bicarakan kepada Liam?"
"Tidak, daddy hanya ingin melihat - lihat kamarmu saja dan ternyata kamarmu ini sudah banyak yang berubah."
"Aku sudah dewasa, dan otomatis desain kamarku juga sudah berubah dad."
"Lalu kemana semua mainan yang dulu daddy berikan kepadamu sewaktu kamu kecil?"
"Ada di kardus dan kardusnya aku letakkan di gudang rumah ini, sebagian juga masih aku pajang di lemari itu."
Mr Robinson mengangguk "oh begitu rupanya."
"Memangnya ada apa dad?"
"Tidak ada apa - apa, daddy hanya iseng menanyakannya saja. Oh ya, bagaimana pekerjaanmu di kantor hari ini?"
"Pekerjaanku di kantor cukup banyak dan aku tadi juga sangat sibuk."
"Jangan terlalu memaksakan bekerja terlalu banyak nanti kamu akan sakit jika kamu memaksakannya, dan jangan lupa selalu minum vitaminmu itu."
"Baik dad."
"Daddy tidak percaya jika kamu sudah sebesar ini sekarang," ucap Mr Robinson sembari menepuk punggung Liam.
"Karena aku kan mengalami pertumbuhan dad," ucap Liam bercanda."
Mr Robinson tertawa "ya kamu benar. Ya sudah daddy ingin pergi keluar sebentar, dan kamu jangan mengganggu adikmu itu karena dia sedang belajar untuk ujian."
"Siap bapak Jonathan Robinson."
__ADS_1
Liam kemudian kembali melanjutkan bermain game di komputernya. Beberapa menit kemudian dia mematikan komputernya dan pergi ke kamar Rosie untuk melihatnya. Sesampainya di dalam kamar Rosie masih terlihat fokus belajar untuk ujiannya, dan Liam lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang Rosie sembari memeriksa handphone miliknya. Rosie kemudian memanggil Liam untuk bertanya kepadanya mengenai bahan materi ujian yang tidak dia mengerti. Liam langsung mendekati Rosie dan membantu Rosie belajar untuk ujiannya, dan beberapa saat kemudian Rosie menutup laptop miliknya karena sudah selesai belajar. Liam kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang Rosie, sedangkan Rosie mengambil beberapa camilan untuk dimakan bersama kakaknya itu. Rosie lalu duduk di samping Liam untuk berbincang bersama.
"Tadi daddy sangat aneh sekali."
"Aneh bagaimana?" tanya Rosie sembari memakan camilannya.
Liam meletakkan handphone miliknya "ya aneh saja, tiba - tiba dia masuk ke dalam kamarku saat aku sedang bermain game dan dia hanya diam saja menonton aku yang sedang bermain game."
"Lalu?"
"Lalu dia hanya bertanya tentang hal - hal yang biasa saja seperti kenapa sekarang kamarku berubah dan kemana semua mainan milikku yang pernah daddy berikan kepadaku sewaktu kecil, hanya itu saja."
"Sepertinya daddy ingin bertanya sesuatu hal yang lain kepadamu namun tidak jadi dia tanyakan kepadamu."
"Bisa jadi, tetapi kira - kira apa yang ingin dia tanyakan kepadaku?" tanya Liam mengambil camilan Rosie.
"Aku juga tidak tau."
"Kenapa firasatku menjadi tidak enak jika daddy bertingkah aneh seperti itu, seperti dia akan memarahiku besar - besaran jika sudah seperti itu."
"Sepertinya aku tidak melakukan hal apapun, dan aku sudah berhenti berbuat onar atau membuat masalah yang membuat daddy marah."
Mrs Robinson kemudian masuk kedalam kamar Rosie sembari membawakan segelas susu hangat dan meletakannya dia atas meja "mommy sudah membuatkan susu hangat untukmu sayang."
"Terima kasih mom."
"Aku tidak dibuatkan susu hangat juga mom?" protes Liam kepada Mrs Robinson.
"Aku tidak tau jika kamu sudah pulang Liam, nanti mommy akan buatkan untukmu juga."
"Baik mom."
"Apa kamu sudah selesai belajar?"
__ADS_1
"Sudah mom," ucap Rosie sembari meminum susu hangat buatan mommy nya.
Mrs Robinson lalu mengusap lembut rambut Rosie "baguslah jika begitu, apa ada hal yang tidak kamu mengerti?"
"Ada, tetapi Liam sudah membantuku belajar tadi."
"Mom," panggil Liam.
Mrs Robinson lalu menoleh ke arah Liam "ada apa Liam?"
"Apa daddy akan memarahiku?"
"Memangnya kamu berbuat sesuatu sehingga daddy marah kepadamu?"
Liam menggeleng "Liam rasa tidak."
"Kalau begitu kenapa kamu merasa daddy akan memarahimu?"
"Karena tadi daddy bertingkah aneh saat memasuki kamarku, jadi Liam fikir jika daddy akan memarahiku."
Mrs Robinson tertawa "mungkin daddy hanya ingin bertemu dengan putranya, hanya itu saja."
"Semoga saja iya."
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan Liam hari ini?"
"Sangat sibuk seperti biasanya."
"Sudah makan?"
"Sudah mom."
"Kalau begitu jangan lupa minum vitaminmu dan istirahat yang cukup."
__ADS_1
"Baik mom."