Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #300


__ADS_3

Liam kemudian menciumi perut Jane kembali, dan juga mengajaknya berbicara seperti layaknya janin yang berada di dalam kandungan Jane bisa mendengar semua ucapan Liam. Entah mengapa Liam menjadi tidak sabar menunggu kelahiran calon anaknya tersebut dan hal itu membuatnya ingin hidup lebih lama lagi agar dia bisa bermain bersama dengannya, padahal kandungan Jane belum ada sebulan. Jane merasa bahagia saat melihat Liam terus menerus mengoceh dengan sangat antusias sembari berbaring di pangkuannya, dan juga ingin membuktikan ucapan Josh itu benar atau tidak. Josh pernah berkata jika jangan terlalu lama menunda memiliki seorang anak agar suaminya itu tidak kabur dengan wanita lain, dan jika Jane sudah memiliki seorang anak pasti Liam akan semakin menyayangi Jane (kurang lebih intinya seperti itu).


Liam kemudian pergi ke dapur membuatkan sarapan untuk Jane yaitu salad serta susu ibu hamil, yang biasa Jane minum. Setelah selesai membuat sarapan Liam langsung membereskan dapur serta semua bagian rumah Jane, hingga membuat Jane merasa beruntung memiliki suami seperti Liam walaupun dia sedikit nakal dan kekanakan. Jane merasa bahwa Liam semakin bisa diandalkan untuk membantunya melakukan pekerjaan rumah. Saat Jane ingin pergi ke kamarnya dengan menaiki tangga, dengan cepat Liam langsung menggandeng tangan Jane dan mengantarnya ke kamarnya. Entah mengapa Liam mulai menunjukkan sikap overprotective kepada Jane setelah dia mengandung calon anaknya, walaupun dahulu setelah menikah Liam juga sudah bersikap overprotective kepada Jane.


Setelah sarapan Jane lalu mengajak Liam untuk pergi berjalan - jalan santai di sekitar taman dekat sungai han. Liam lalu langsung menuruti permintaan Jane dan meminta Pak Kang untuk membawa mereka berdua ke sebuah taman yang dimaksud. Sesampainya di sana Jane tertawa melihat suaminya yang seperti ibu - ibu rempong karena dia membawa sebuah tas jinjing yang isinya berbagai macam barang. Di saat mereka berdua berjalan - jalan, Pak Kang juga dibuat tertawa oleh tingkah Liam yang sedikit aneh karena masih saja bersikap overprotective dan juga kerepotan membawa tas jinjing miliknya. Pak Kang lalu berinisiatif menawarkan untuk membawa tas tersebut walau sempat dicegah oleh Jane, dan saat itu juga Liam langsung memberikan tas jinning miliknya kepada Pak Kang.


"Hah untung saja ada Pak Kang hehe, kalau tidak bahuku pasti sudah sangat pegal."


"Habisnya kamu juga sih, kenapa kamu sampai membawa tas seperti itu?"


"Ya tidak apa - apa, aku membawa tas itu untuk menyimpan berbagai macam barang termasuk air mineral ketika kamu sedang haus."


"Tumben sekali kamu bersikap seperti itu," ucap Jane menyindir Liam.


"Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku ini juga merupakan suami siaga yang dapat diandalkan," ucap Liam dengan penuh percaya diri.


"Iya hubby, aku paham namun lain kali jangan dipaksakan jika sekiranya kamu tidak mampu."


"Tidak apa - apa, nanti semakin lama juga sudah menjadi kebiasaan."


Jane menggelengkan kepalanya.


"Kamu ini selalu saja bersikap seperti itu, selalu berusaha sekuat tenaga agar bisa mencapai sesuatu yang diinginkan dan selalu memaksakan keadaan."


Liam lalu membusungkan dadanya.


"Aku memang seperti itu dari dulu, Liam si pantang menyerah serta selalu bekerja keras."


"Iya suamiku ini memang bersikap seperti itu walaupun sangat keras kepala," ucap Jane sembari menepuk - nepuk punggung Liam.


Liam lalu menghentikan langkahnya.


"Haha di tempat inilah aku menciummu untuk yang kedua kalinya, dan aku masih ingat bagaimana kejadian itu saat kita......"


Tangan Jane langsung menutup mulut Liam serta memperhatikan keadaan sekitarnya.

__ADS_1


"Sstt kamu ini sangat spontan sekali jika berbicara tanpa memperhatikan keadaan sekitar."


"Mmhhh mhhh."


"Kamu ini bicara apa?" tanya Jane masih membungkam mulut Liam.


Liam langsung menyingkirkan tangan Jane dari mulutnya.


"Hih terserah aku dong, lagipula sepertinya orang lain juga tidak akan mendengarnya karena terlalu sibuk dengan urusannya masing - masing."


"Benar juga."


"Coba kalau di Indo pasti sudah sampai kemana - mana beritanya, belum lagi di setiap tempat ada saja ibu - ibu rumpi yang berubah menjadi CCTV berjalan."


"Benarkah seperti itu?"


"Iya sayang, setiap ada sesuatu yang terjadi pasti beritanya langsung menyebar dengan cepat wus wus."


Jane tertawa.


"Maka dari itu kamu harus menguatkan mental untuk tinggal di Indo hahaha."


Setelah itu Liam kembali melanjutkan berjalan - jalan di sekitar sungai han dengan tangannya yang terus menggandeng Jane. Liam berjalan - jalan sembari menghirup udara segar serta menenangkan fikirannya yang selalu overthinking mengenai kehamilan Jane, dan dia sangat takut jika dia gagal menjaga Jane serta janin yang sedang di kandung oleh Jane. Sesekali Liam mengusap perut Jane yang masih rata dan belum terlalu menunjukkan jika dia sedang mengandung. Mereka bertiga lalu berhenti sebentar dan duduk di sebuah kursi untuk beristirahat sebentar. Liam kemudian mengambil botol air minum dan memberikannya kepada Jane.


"Istirahat dulu Pak Kang."


"Baik tuan."


Tiba - tiba saja handphone Liam berbunyi, dan Liam langsung menjawab panggilan telepon tersebut. Setelah menyelesaikan pembicaraannya, Liam kembali berbincang santai dengan Jane.


"Siapa yang menghubungimu, hubby?" tanya Jane menatap Liam.


"Mommy, katanya sudah sampai di Villa dan sedang beristirahat sebentar lalu setelah itu mereka semua akan mengunjungi kita."


"Mmm kalau begitu nanti setelah ini kita membeli beberapa makanan serta camilan untuk mereka, bagaimana?"

__ADS_1


"Iya Jane, tetapi kamu harus berjanji kepadaku terlebih dahulu."


"Berjanji untuk apa hubby?"


"Kamu duduk diam saja dan jangan sampai kelelahan karena melayani mereka semua saat datang. Biar aku saja yang melakukannya semuanya."


Jane tersenyum.


"Iya hubby sayang, kamu sangat khawatir sekali sejak kemarin."


"Iya karena aku tidak ingin hal buruk menimpamu apalagi ini pertama kalinya kamu mengandung."


Jane mengusap pipi Liam.


"Iya aku berjanji, lagipula sekarang aku baik - baik saja kok dan semoga saja selalu baik sampai melahirkan."


"Semoga saja begitu, aku merasa penasaran apakah anak kita laki - laki ataukah perempuan ya?" tanya Liam sembari mengusap perut Jane.


"Kamu inginnya anak laki - laki atau perempuan?"


"Terserah yang ngasih mau anak perempuan atau laki - laki sama saja sih menurutku karena yang terpenting bagiku adalah kamu dan anak kita bisa selamat saat melahirkan tanpa kekurangan sesuatu apapun."


"Iya hubby."


Setelah itu mereka bertiga kembali berjalan - jalan sebentar lalu setelah itu mereka pulang ke rumah, akan tetapi saat di perjalanan pulang Jane meminta Pak Kang untuk berhenti di sebuah toko kue karena dia ingin membeli camilan jika keluarga Liam datang nanti. Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di rumah dan Jane langsung bersantai di ruang tengah sembari mengusap - usap perutnya.


"Aku letakkan kue nya di atas meja saja ya Jane?"


"Iya hubby."


"Kamu ingin memakannya?"


"Boleh."


"Ini ambillah dan jika butuh sesuatu panggil saja aku."

__ADS_1


"Okay sayang."


__ADS_2