
Liam kemudian meminum segelas air putih yang telah disediakan oleh sekretaris pribadinya. Liam memeriksa beberapa map dokumen yang berisi laporan awal bulan serta beberapa kontrak kerjasama terhadap perusahaan lain, dan yang terakhir dia membaca isi dari pidato yang akan dia sampaikan saat pelantikan resminya menjadi wakil pimpinan perusahaannya. Liam adalah kandidat pertama yang akan mewarisi hampir seluruh perusahaan serta anak perusahaan milik keluarga Robinson, dan grandpa sendiri yang telah menginginkannya sejak lama karena dia orang yang sangat kompeten dalam menjalankan berbagai tugasnya. Saat usianya masih terbilang muda sekitar 23 tahun, Liam bersama tim nya telah berhasil memenangkan tender yang bernilai miliaran. Oleh sebab itu grandpa sangat menginginkan jika Liam yang mengambil alih perusahaan miliknya, sebuah perusahaan utama yang dahulu dia bangun susah payah mulai dari 0.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi dan sudah waktunya Liam bersiap pergi ke ruang meeting untuk morning briefing bersama para dewan direksi sekaligus pelantikan resmi Liam sebagai wakil pimpinan perusahaan. Yunna sekretaris pribadinya menghampiri Liam di ruangan kerjanya, dan dia kemudian merapikan dasi sekaligus jas Liam agar terlihat lebih rapi. Sejujurnya Liam sangat gugup saat dia melangkahkan kakinya menuju ruang meeting bersama dengan Yunna. Saat sebelum masuk ke ruang meeting Liam menarik nafasnya untuk menenangkan dirinya dari rasa gugupnya itu. Mr Robinson kemudian mengumumkan bahwa dia sudah mengangkat Liam sebagai wakil pimpinan perusahaan, dan setelah itu Mr Robinson meminta Liam untuk menyampaikan pidatonya setelah dia resmi menjadi wakil pimpinan perusahaan alias presiden direktur. Morning briefing itu berjalan dengan lancar dan Liam juga mendapat tepuk tangan dari para dewan direksi setelah dia mengakhiri pidatonya. Saat jam makan siang Liam mengajak Yunna untuk makan siang diluar untuk merayakan kenaikan jabatannya.
Liam lalu membuka handphone miliknya begitu dia sampai di restaurant "wow lihat, jumlah gaji yang aku dapatkan."
"Mana?" tanya Yunna penasaran.
Liam lalu memperlihatkan layar handphone miliknya kepada Yunna "ini, bukankah ini sangat besar?"
"Wah keren, selamat untukmu."
"Terima kasih. Mmm mungkin aku akan langsung membeli mobil balap keluaran terbaru untuk balapan bersama teman - temanku."
"Jangan boros, ingat bahwa kamu sekarang sudah mempunyai seorang istri yang harus kamu nafkahi."
"Yah benar juga," ucap Liam lesu.
Yunna memcubit hidung Liam "jangan pelit sama istri, nanti rezekimu akan seret jika kamu pelit dengan istrimu."
"Iya aku tau," ucap Liam memegang hidungnya.
Yunna lalu memperlihatkan layar ponselnya kepada Liam juga "lihatlah, gajiku juga naik berkatmu."
"Kenapa begitu?"
"Karena kamu naik jabatan otomatis jabatanku juga naik sedikit dan itu membuat gajiku juga ikut naik."
"Oh begitu rupanya."
Yunna lalu menyantap makanannya "aku nanti ingin membelikan makanan favorite mami ku serta adikku."
"Jangan boros."
"Aku kan hanya membelikan sebuah makanan untuk mami serta adikku, bukan untuk pribadi dan lagipula dari awal aku bekerja juga untuk mereka berdua."
"Berarti aku juga boleh dong seperti itu, misalnya membeli mobil balap untuk self reward hehe."
__ADS_1
"Tapi itu untuk kepentingan pribadimu dan berbeda denganku, tetapi terserah kamu juga sih jika ingin membeli sebuah mobil balap. Aku rasa itu bukan sebuah kebutuhan yang terlalu penting karena kamu juga sudah mempunyai mobil bagus, dan uangmu itu bisa kamu simpan untuk jangka panjang."
Liam mengangguk setuju "benar juga apa yang kamu katakan."
"Kamu kan sudah berkeluarga jadi pasti kamu akan lebih banyak membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan belum lagi jika kamu sudah memiliki seorang anak, pasti pengeluaran akan meningkat juga apalagi biaya sekolah sekarang juga lumayan mahal juga."
"Iya kamu benar sih dan sepertinya aku akan mulai berhemat serta tidak terlalu boros," ucap Liam menyeruput ice tea.
"Boleh berhemat asalkan jangan pelit apalagi dengan istri, aku hanya menyarankan saja dan jika tidak ingin mendengar ya sudah tidak apa - apa."
"Iya aku akan mendengarkan kamu karena sepertinya ucapanmu itu ada benarnya juga."
"Baguslah."
"Eh nanti setelah ini jika kamu tidak keberatan tolong antarkan aku ke sebuah toko perhiasan untuk membelikan sebuah kado kecil."
Yunna mengangguk "tentu saja aku tidak keberatan."
Setelah selesai makan siang, Liam lalu mengajak Yunna pergi ke toko perhiasan untuk membelikan Jane sebuah kado kecil. Sesampainya di sebuah toko tersebut Liam lalu melihat - lihat beberapa model perhiasan yang terpajang di etalase toko, dan karena terlalu banyak modelnya Liam menjadi bingung ingin membeli yang mana.
"Aku bingung," ucap Liam berbisik kepada Yunna.
Kemudian Liam memilih sebuah kalung, anting, serta gelang yang menurut Liam akan sangat indah jika dipakai oleh Jane. Tidak lupa Liam juga membelikan Yunna sebuah kalung yang dipilih oleh Yunna sendiri. Awalnya Yunna menolak pemberian Liam tersebut, tapi karena Liam orang yang tidak suka jika ditolak akhirnya Yunna mengiyakan saja. Mereka berdua lalu kembali ke kantor, dan setelah 3 jam kemudian tiba saatnya jam pulang kantor. Sebenarnya Liam ingin bekerja lembur namun karena dia ingat bahwa sekarang sudah ada seseorang yang menunggunya dirumah, jadi dia memutuskan untuk pulang saja dan memberitahu kabar bahagia ini. Benar saja, saat sesampainya dirumah ternyata Jane sudah menunggu Liam di depan pintu.
"Hubbyy," ucap Jane tersenyum manis.
Liam lalu memeluk Jane dan mencium pipinya "sudah mandi?"
"Sudah, kamu ingin minum apa?"
"Teh hangat saja."
"Sebentar, aku buatkan terlebih dahulu."
"Iya sayang." Liam lalu duduk di sofa dan melepas dasinya.
Tidak lama kemudian Jane datang dan meletakkan secangkir teh di atas meja "silahkan diminum."
__ADS_1
"Terima kasih."
Jane lalu melepas jas Liam dan memijit bahunya "sepertinya kamu sangat lelah sekali, apa sedang ada banyak kerjaan di kantor?"
"Iya dan ini untukmu," ucap Liam memberikan sebuah paperbag untuk Jane.
"Apa ini?"
"Buka saja."
"Wah perhiasan?"
"Iya, dan kabar baiknya adalah aku telah naik jabatan menjadi presiden direktur."
Jane terkejut "benarkah hubby?"
"Iya sayang."
Jane langsung memeluk Liam "selamat hubby, kamu pantas mendapatkannya."
"Oh ya minta nomor rekeningmu."
Jane lalu memberitahu nomor rekeningnya "untuk apa?"
"Sebentar."
Tiba - tiba sebuah pesan muncul di handphone Jane, dan betapa terkejutnya Jane ketika mendapat transfean uang dari Liam sebanyak itu "apa kamu tidak salah memberikan aku uang sebanyak ini?"
"Aku tidak salah kok, itu gaji pertamaku sebagai presiden direktur sekaligus nafkah yang aku berikan pertama kali kepadamu sebagai suamimu."
"Terima kasih hubby."
"Sama - sama, pokoknya itu terserah kamu ingin bagaimana mengaturnya antara uang belanja bulanan, uang jajan dan uang untuk menggaji bibi serta yang lainnya. Jangan sungkan meminta lagi kepadaku jika uang yang aku berikan kurang."
"Tidak hubby, ini lebih dari cukup."
"Aku dari dulu selalu memberi Rosie uang jajan, apa kamu tidak keberatan jika aku akan tetap memberinya setelah menikah denganmu?"
__ADS_1
Jane tersenyum "tentu tidak hubby."
"Baguslah."