
Liam kembali tertidur sembari memeluk Jane, dan saat siang hari handphone Liam berbunyi. Jane lalu menjawab panggilan tersebut karena Liam masih tertidur pulas di sampingnya, dan setelah menerima panggilan tersebut Jane lalu membangunkan Liam agar segera bersiap - siap untuk pergi ke cafe. Liam langsung terbangun dan pergi ke cafe untuk menemui teman - temannya, sedangkan Jane pergi ke kamar baby Ace untuk memberinya susu karena dia melihat bahwa baby Ace sudah terbangun.
Jane menggendong ke kamarnya dan memberi baby Ace susu sembari dia menonton film. Jane mengusap rambut baby Ace yang lebat itu dan sesekali memperhatikannya saat dia sedang meminum susu. Disisi lain Liam yang telah sampai di cafe langsung menemui teman - temannya yang tengah asyik bermain kartu uno, sedangkan jika Liam ingin ikut bermain maka dia harus menunggu mereka menyelesaikan permainan itu terlebih dahulu. 30 menit kemudian mereka telah menyelesaikan permainan dan sekarang Liam baru bisa ikut bermain bersama mereka.
Namun saat Liam tengah mencoba fokus untuk memainkan kartu miliknya, tiba - tiba saja fokusnya terpecah karena ada wanita yang sangat cantik berjalan melewatinya. Ternyata teman - temannya juga ikut memperhatikan wanita tersebut hingga membuat mereka melupakan permainan yang sedang mereka mainkan. Mungkin wanita itu menyadari bahwa mereka sedang diperhatikan oleh segerombolan pria tampan yang duduk di meja pojok, alhasil dia semakin tebar pesona untuk menarik perhatian mereka.
Segerombolan pria itu terdiri dari negara yang berbeda beda yaitu, Australia, Indonesia, Korea Selatan, dan China. Mungkin menurut wanita tersebut semuanya tampak menggoda sekali serta tercium aroma bahwa mereka berdompet tebal. Tidak lama kemudian wanita itu mendatangi meja mereka sembari membawa minumannya, dan dia langsung duduk di samping Josh. Mereka semua lalu berusaha menarik perhatian wanita tersebut dengan mengajaknya berkenalan serta menceritakan beberapa hal yang mungkin membuat wanita itu menjadi tertarik.
"Hai cantik apakah kamu menyukai pria Aussie?" tanya Liam sembari memperlihatkan senyum manisnya.
"Aku yakin kamu pasti suka dengan oppa - oppa Korea bukan?" tanya Josh.
"Bagaimana dengan pria China? aku mempunyai beberapa toko bangunan yang tersebar di wilayah ini," ucap Chicko.
"Ah aku lebih yakin jika kamu menyukai pria lokal sepertiku hahaha," ucap Dio.
Wanita itu langsung tersenyum.
"Kenapa aku harus memilih satu diantara kalian berlima sedangkan aku lebih menginginkan kalian semua?"
"Hei kamu jangan bersama pria aussie itu karena dia sudah beristri dan istrinya sangat galak sekali."
"Hei Josh, apa kamu lupa jika istriku itu adikmu?"
"Oh ya benar juga, tapi itu memang benar jika Jane sangat galak sekali."
"Pria lokal yang berada di pojok itu juga sudah beristri dan istrinya juga tidak kalah galak dari istri pria aussie itu," ucap Dio menambahkan.
"Bagaimana kalau nanti malam kita berpesat di club langganan kita? kalian tahu kan jika aku memiliki akses masuk VVIP tersendiri di club itu?" tanya Liam menyombongkan diri.
"Boleh saja," ucap mereka semua menyetujui ide Liam.
Saat malam hari mereka semua sudah berada di club itu bersama wanita tadi, dan mereka sedang berbincang santai sembari minum. Namun Dio dan Ricko tidak ikut minum, dan memesan minuman lain.
"Bagaimana? bukankah aku sangat hebat heum?" tanya Liam kembali menyombongkan dirinya sendiri.
"Berapa jumlah uang yang kamu miliki darling?" tanya wanita itu sembari menggoda Liam.
"Lebih banyak dari yang kamu bayangkan hahahaha."
__ADS_1
"Apakah kamu mempunyai lebih dari 1 milliar?"
Liam kemudian mengeluarkan blackcard miliknya dan menunjukkannya kepada wanita tersebut.
"Ya begitulah hahaha," ucap Liam sembari merangkul wanita tersebut.
"Bagaimana denganmu oppa?"
Josh lalu mengeluarkan blackcard miliknya juga.
"Lebih dari yang kamu bayangkan sayang," ucap Josh menirukan ucapan Liam.
"Bawa aku pulang bersama kalian berdua!"
"Aku tidak akan membawamu pulang ke rumah namun mungkin aku akan langsung membelikanmu sebuah rumah ataupun apartement."
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"Ikut denganku saja, aku akan membawamu untuk tinggal ke Korea Selatan."
Liam yang hendak mencium wanita tersebut tiba - tiba saja dicegah oleh Ricko yang menyadari bahwa Liam mulai semakin keterlaluan karena dia sudah mabuk. Ricko kemudian membawa Liam pulang ke rumah agar temannya itu tidak semakin menjadi - jadi, mengingat bahwa kondisinya sedang tidak terlalu baik. Ricko memapah Liam menuju ke mobilnya dan langsung mengantarkan Liam pulang ke rumah. Beruntung Liam tidak pernah berani membangkang dengan Ricko bahkan saat dirinya sedang mabuk berat.
"Kenapa kamu membawaku pulang Ric?" tanya Liam.
"Ini sudah larut malam dan tadi kamu sudah hampir diluar batasmu!" ucap Ricko memperingatkan Liam sembari menyetir mobil.
"Aku tadi hanya ingin menciumnya saja dan tidak berbuat lebih kepadanya, lagipula aku dahulu juga biasa seperti itu karena memang hanya cium pipi saja."
"Tetapi sekarang kamu tidak boleh melakukannya!"
"Kenapa? apa karena aku sudah mempunyai seirang istri ha?"
"Yups begitulah, tolong jaga sikapmu karena kamu sudah menikah."
"Come on Ric, Jane tidak tahu jadi tidak masalah."
"Tetapi disana ada Josh."
__ADS_1
"Josh tidak akan memberitahu Jane mengenai hal itu," ucap Liam membuat alasan.
"Ssttt diam Li, apakah kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Josh ketika melihat suami adiknya berkelakuan seperti itu di belakangnya? tolonglah berubah Li."
Liam langsung terdiam setelah mendengar ucapan Ricko dan begitu sesampainya di rumah Liam, Ricko memapah Liam dan membawanya masuk ke dalam rumahnya.
"Pasti mabuk lagi?" tanya Jane kepada Ricko.
"Ya begitulah Jane, maaf aku tidak bisa mencegahnya."
"Tidak apa - apa Ric, aku justru berterima kasih kepadamu karena kamu selalu bersedia untuk mengantarkannya pulang saat dalam keadaan mabuk."
"Sama - sama Jane, mmm kalau begitu aku pulang."
"Okay hati - hati dijalan."
Satu minggu kemudian Liam yang sedang mengetik sesuatu di laptop miliknya. Tidak lama kemudian Yunna menghampiri Liam sembari membawa beberapa berkas dokumen, dan setelah itu dia kembali ke ruangannya. Tidak berselang lama Mr Robinson juga memasuki ruangan Liam.
"Daddy dengar kamu sedang ingin mendirikan cafe ya?" tanya Mr Robinson yang duduk di sofa.
Liam kemudian menghampiri Mr Robinson dan duduk di sebelahnya.
"Ya begitulah dad."
"Apa alasanmu ingin mendirikan sebuah cafe?" tanya Mr Robinson menyilangkan kedua kakinya.
"Aku ingin mencoba hal baru serta membantu teman - temanku yang belum mempunyai pekerjaan," jawab Liam dengan penuh percaya diri.
"Bagus itu. Nanti kamu hitung saja dulu berapa jumlah uang yang dibutuhkan sebagai modal mendirikan cafe dan segera ajukan kepada daddy, lalu daddy akan langsung mengirimkannya ke rekeningmu."
"Tapi dad..."
"Ssttt daddy tidak suka penolakan," ucap Mr Robinson menyela ucapan Liam.
"Baik dad, aku akan segera menghitung semuanya."
"Iya, tidak perlu terburu - buru."
"Okay dad."
__ADS_1