
Mereka berdua lalu melukis bersama, dengan tangan Liam yang masih menggenggam tangan Jane untuk menuntunnya mewarnai lukisan tersebut. Ternyata semakin lama Jane semakin lihai memainkan kuas lukis tersebut namun karena tidak ingin membuat kesalahan, Jane masih meminta Liam untuk menuntunnya (sekalian modus). Jane juga ikut serta dalam memilih dan mencampurkan warna - warna cat agar tampilan lukisannya semakin menarik. Hal itu membuat rasa sayang Liam semakin besar karena ternyata mereka berdua bisa sefrekuensi juga. Awalnya Liam berfikir jika dia tidak akan pernah bisa sefrekuensi karena pemikiran serta sifat mereka berdua sangat bersebrangan jauh. Namun semakin lama justru perbedaan itulah yang membuat mereka berdua ingin saling lebih mengenal satu sama lain dan saling bertukar pikiran.
Benar yang dikata orang, cinta itu dapat menyatukan dua hal yang berbeda menjadi satu untuk saling melengkapi satu sama lain. Dahulu Liam sangat skeptis mengenai sebuah hubungan dan cinta sejati karena itu hanya terdapat pada adegan film saja. Namun setelah dia menemukan orang yang tepat dan menjadi belahan jiwanya, baru sekarang dia mulai mempercayai bahwa ternyata cinta sejati itu memang ada (ya karena ini masih awal - awal nikah lah bodat, coba setahun atau dua tahun pasti......). Begitu mereka selesai melukis Liam lalu membereskan peralatannya serta memasukkannya ke dalam ranselnya, sedangkan Jane justru berbaring di atas padang rumput yang bewarna hijau. Jane berguling - guling di atas rerumputan hijau itu seperti kelinci. Saat melihat tingkah Jane tersebut Liam berfikir apakah badannya nanti tidak gatal - gatal jika berguling - guling di rerumputan itu? dan apa dia tidak takut jika tiba - tiba ada ular? hih membayangkannya saja sudah ngeri, begitu fikir Liam.
"Hubby kemari!" panggil Jane.
"Iya sebentar."
"Cepat dong."
"Iya sudah ini," ucap Liam duduk di samping Jane.
"Hubby, lihat deh bentuk awannya seperti kura - kura bukan?" tanya Jane sembari menunjuk ke sebuah awan.
Liam lalu melihat ke arah awan yang ditunjuk oleh Jane "mana? tidak ada kok, mungkin kamu hanya berhalusinasi."
"Tidak kok."
"Jane."
"Ya?"
"Kamu percaya bahwa cinta itu ada?" tanya Liam tiba - tiba.
Jane langsung menatap Liam "aku dari dulu percaya kok bahwa cinta itu memang benar - benar ada."
"Oh."
"Kamu percaya juga?"
"Tidak, cinta itu hanyalah omong kosong belaka dan dia membuat kita lemah serta tidak bisa berfikir logis."
Jane tertawa "memang cinta kan seperti itu, dia membuat kita gila sampai tidak bisa berfikir logis karena cinta itu bukan datang dari otak namun dari hati. Semua yang kita lakukan atas dasar cinta itu datangnya dari hati dan bukannya dari otak."
"Oh begitu rupanya."
"Kamu baru mengetahuinya?"
"Iya."
"Pantas saja sikapnya seperti itu karena memang sebenarnya hatinya tidak berfungsi," gerutu Jane.
Liam menatap Jane "kamu bilang apa?"
"Aku tidak bilang apa - apa."
__ADS_1
"Oh."
"Kamu berfikir seperti itu memang karena belum bertemu dengan orang yang tepat saja, jika kamu sudah bertemu dengan orang yang tepat pasti pemikiranmu tidak seperti itu karena cinta itu akan indah jika kamu bersama dengan orang yang tepat namun akan menjadi bencana jika bersama dengan orang yang salah."
"Makanya aku mencobanya denganmu," ucapnya dengan ringan.
Jane memukul paha Liam "dasar tidak sopan sama sekali, memangnya aku ini pakaian yang bisa kamu coba seenaknya ha?"
"Ti-tidak maksudku itu mmmm....." Liam tidak jadi melanjutkan ucapannya.
"Apa ha?"
"Tidak jadi hehe."
Jane menghela nafasnya "tetapi eomma pernah berkata kepadaku, jangan menikah hanya karena cinta karena di kehidupan rumah tanggamu, kamu tidak bisa hidup hanya dengan modal cinta."
"Jadi eomma meminta kamu untuk menikah dengan pria kaya?"
"Bukan kaya sih tapi lebih tepatnya dengan pria mapan dan pekerja keras. Aku sih berfikir realistis saja, memang uang tidak bisa membeli kebahagiaan tapi segalanya butuh uang buktinya dengan menikah denganmu aku justru bisa pergi kemanapun dengan gratis hahaha."
"Ya karena aku yang mensponsori kegiatan travellingmu ini."
Jane tertawa "kamu baik deh hubby, tetapi jika kamu pelit aku tidak mau denganmu."
"Kenapa?"
Liam mencubit pipi Jane "kamu ini pintar sekali kalau berbicara mengenai uang."
"Sakit hubby. Aku kan hanya berbicara apa adanya, sama seperti ucapanmu tadi."
Liam lalu memeluk Jane "iya deh iya, yang penting kamu bisa tersenyum bahagia aku juga ikut bahagia."
"Hubby cinta tidak denganku?"
"Mmmm aku belum bisa memastikannya."
"hubby jahat sekali."
Liam tertawa "kapan - kapan kalau aku cinta kepadamu, aku akan langsung mengatakannya."
"Iya hubby," ucap Jane malas.
Mrs Robinson sedang sibuk berkebun di taman depan rumah pada sore itu. Mrs Robinson sangat menyukai bunga apalagi jika diminta untuk berkebun, karena dahulu sebelum menikah dengan Mr Robinson, dia bekerja di toko bunga. Karena tadi merasa bosan jika hanya duduk diam saja di rumah, Mrs Robinson memutuskan untuk berkebun saja sembari menunggu suaminya itu pulang ke rumah. Setengah jam kemudian Mr Robinson yang baru saja pulang ke rumah lalu pergi ke taman belakang rumanhnya untuk menemui istrinya itu. Namun tiba - tiba saja handphone milik istrinya berbunyi, Mr Robinson lalu mengambil handphone tersebut dan berniat ingin memberikannya kepada istrinya itu. Beberapa menit setelah menerima telepon, Mrs Robinson langsung mencuci tangannya dan bergegas pergi ke sebuah cafe yang tidak jauh dari rumahnya tanpa suaminya.
"Sayang, mommy rindu denganmu karena kita sudah lama tidak bertemu bukan?" tanya Mrs Robinson menghampiri sebuah meja yang berada di pojok.
__ADS_1
"Aku juga rindu dengan mommy," ucapnya sembari memeluk Mrs Robinson.
Mrs Robinson lalu mengusap pipinya "kamu kok kurusan? apa kamu jarang makan heum?"
"Iya mom, aku terlalu sibuk bekerja."
"Jangan terlalu overwork, sempatkan waktu untuk makan ya?"
"Iya mom. Mmmm mommy apa kabar?"
"Mommy, daddy, Liam, dan Rosie semuanya baik sayang."
"Oh syukurlah kalau begitu."
"Adikmu sudah menikah sekarang, dan memilih untuk hidup mandiri dirumahnya yang dia bangun sendiri."
"Benarkah? aku tidak menyangka jika dia sudah dewasa, padahal dahulu dia sangat nakal dan kekanakan."
"Iya, banyak hal yang terjadi hingga membuatnya berubah."
"Oh. Mmmm siapa wanita yanh dinikahi oleh Liam?"
"Dia menikah dengan Jane, putrinya om Andrew Kim."
"Oh si anak perempuan yang suka menangis karena dahulu sering dijahili oleh Liam itu?"
Mrs Robinson tertawa "iya sayang, kamu benar."
"Sekarang dia masih sering menangis tidak?"
"Tidak, tetapi gantinya sering ribut dengan Liam."
Dia tertawa "hahaha mereka berdua itu selalu saja begitu dari dulu."
"Iya. Ayo pulanglah ke rumah, sayang."
"Tidak mom, daddy pasti akan selalu memarahiku lagi jika aku pulang ke rumah."
"Mommy jamin daddy tidak akan melakukan hal seperti itu lagi."
"Benarkah mom?" tanyanya ragu.
"Benar sayang," ucap Mrs Robinson sembari mengusap pipinya.
"Akan aku fikirkan terlebih dahulu."
__ADS_1
"Iya sayang, mommy tunggu."