
*Nyekk.*
Jane memeluk Liam yang sedang memakai hoddie oversize miliknya, dan seketika dia merasakan kehangatan karena memeluk Liam yang memiliki badan besar. Namun tiba - tiba saja Jane mendengar jika perut Liam berbunyi dikarenakan semua cacingnya demo minta jatah makan. Jane lalu melepaskan pelukan Liam dan pergi menyajikan makanan di atas meja untuk makan siang. Liam terus memeluk Jane dari belakang saat Jane sedang menyajikan makan siang di atas meja.
Setelah itu mereka berdua makan siang bersama sembari membicarakan progess cafe impiannya. Jane merasa sangat exited sekali saat mendengar mengenai perkembangan pembangunan cafe suaminya yang sudah 60%. Jane merasa tidak sabar untuk melihat wujud cafe Liam yang sudah jadi, karena Jane waktu itu pernah melihat gambar design cafe saat Liam berdiskusi dengan Josh. Saat melihatnya untuk pertama kalinya saja Jane sudah menyukainya, maka dari itu dia merasa tidak sabar melihat cafe Liam saat sudah jadi.
Sepertinya Liam juga sudah memilih - milih beberapa lukisan buatannya yang berada di rumah orang tuanya untuk dipajang di cafe, dan Liam juga sudah menggambar secara manual mengenai dekorasi cafe miliknya. Begitu selesai makan siang Liam lalu mencuci piring, sedangkan Jane pergi ke kamar untuk memberi susu baby Ace. Liam kemudian memutar musik dari televisi dapur, dan dia memutar semua lagu milik Frank Sinatra karena menurutnya sepertinya sangat cocok lagu tersebut dimainkan saat hujan.
Liam kemudian menyanyikan lagu tersebut saat dia sedang mencuci piring, dan juga saat sedang bersih - bersih rumah. Entah mengapa saat ini suasana hati Liam sedang baik, oleh karena itu rasanya ingin sekali menyanyikan lagu - lagu jazz romansa. Liam menata semua piring, gelas, sendok, dan garpu ke dalam sebuah rak piring dekat wastafle cuci piring. Setelah itu Liam menyapu lantai, dan tiba - tiba saja televisinya memutar sebuah lagu milik Matt Belsante yang berjudul, when you're smiling.
"But when you're crying, you bring on the rain."
"So stop that sighing, came on and be be happy again."
"Keep on smiling."
"Cause when you're smiling, the whole world smiles with you."
Liam ikut menyanyikan potongan lirik lagu tersebut sembari sesekali dia bersiul. Tidak lama kemudian Jane datang menghampiri Liam dan duduk di sofa.
"Sepertinya sedang bahagia sekali sampai terus bersenandung ria dari tadi," ucap Jane saat memperhatikan Liam yang sedang menyapu.
Liam tersenyum manis hingga memperlihatkan kedua lesung pipinya.
"Ya begitulah."
"Dih kenapa senyam - senyum seperti itu? sedang ada sesuatu yang menggembirakan alias kabar baik?" tanya Jane semakin penasaran.
"Tidak ada kabar baik."
"Lalu?"
"Entah mengapa aku memang sedang senang saja, masa tidak boleh."
"Benar sih. tapi aneh saja."
Liam yang telah selesai menyapu langsung menghampiri Jane.
"Aku sekarang merasa bahwa aku lebih bahagia dari sebelumnya setelah aku mencoba untuk bersyukur atas segala rezeki yang telah dilimpahkan oleh Tuhan."
"Baguslah, sering - seringlah seperti itu dan jika ada kesulitan maupun sedang stress maka jangan sungkan untuk bercerita denganku."
"Iya sayang."
"Aku ini kan istrimu, jadi jangan ragu untuk berbagi keluh kesah serta kesedihanmu kepadaku karena kita dahulu sudah bersumpah untuk tetap bersama saat senang maupun saat susah."
__ADS_1
"Benarkah begitu?" tanya Liam bingung.
"Iya hubby sayang. memangnya kamu lupa mengenai sumpah di pernikahan kita waktu itu?"
"Lupa, aku ingatnya sumpah palapa dan sumpah pemuda hehe."
"Haiss kamu ini, dasar anak sejarah."
"Hahaha aku memang sangat suka belajar sejarah serta teori konspirasi dunia, dan dahulu aku sangat ingin menjadi seorang arkeolog."
"Kenapa begitu?"
"Suka saja, ingin menemuka serta menggali sesuatu."
"Bukankah dahulu kamu pernah berkata kepadaku bahwa kamu ingin menjadi seorang pelukis dan juga seorang chef ya?"
"Nah itu juga sih."
"Aku ingin menjadi semuanya, karena aku orangnya mudah sekali merasa bosan."
"Oh begitu, daripada menggali tulang belulang lebih baik menggali kekayaan saja."
"Bukankah aku sudah menggali kekayaan? bahkan sekarang hasilku ini sudah aku berikan hampir sepenuhnya kepadamu, ya sekitar 60 banding 40."
"Kenapa begitu? aku kira 50:50."
"Haiss kamu ini, seharusnya jangan terlalu banyak."
"Kenapa begitu?"
"Karena nanti aku akan boros dan menghabiskan uang tabunganmu."
Liam tertawa.
"Tidak apa - apa sayang, sekarang aku bekerja hanya demi memenuhi kehidupan kalian berdua."
"Memangnya kalau dulu untuk siapa? untuk semua kekasihmu yang ada 1 triliun itu?"
"Populasi manusia di bumi saja hanya ada 8 milliar, masa kamu bilang kekasihku ada 1 triliun dapat dari mana? jin ghaib?"
Jane tertawa.
"Hahaha siapa tahu begitu."
"Ckckck memangnya kamu mau aku punya istri 1 trilliun? aku mau minta nikah lagi saja langsung mengamuk seperti macan betina yang telat dikasih makan."
__ADS_1
"Ya sudah sana nikah lagi."
"Syukurlah jika kamu sudah memberi izin, nanti aku akan menikah dengan Yunna sajalah."
Jane langsung menjewer telinga Liam.
"Aku hanya bercanda, awas saja kalau sampai menikah lagi maka nanti naga mu itu langsung aku sembelih."
"Nanti kalau disembelih, kamu tidak akan merasakan kenikmatan lagi dong."
"Ya masa bodoh, yang penting tidak dipakai orang lain. Aku tidak suka jika milikku dipakai oleh orang lain, rasanya jijik sekali."
"Dih kok kamu begitu?"
"Ya terserah aku," ucap Jane kesal.
Liam kemudian memeluk Jane serta mencium pipi chubbynya itu agar dia tidak semakim marah karena perbincangan tersebut. Setelah itu Liam berbaring di sofa dan Jane langsung masuk ke dalam hoddie Liam untuk mencari kehangatan. Justru Liam merasa bahwa semakin lama tingkah Jane sangat lucu sekali seperti seorang anak kecil, apalagi jika misalnya dirinya sedang sibuk pasti Jane akan mencari cara untuk mendapatkan perhatian. Mungkin Jane sudah benar - benar nyaman bersamanya jadi dia menjadi sangat manja seperti itu, bahkan Liam juga menjadi sangat manja kepada Jane juga.
"Hubby aku disini ya?"
"Iya terserah kamu saja."
"Tumben sekali hubby tidak membaca buku, biasanya selalu membaca buku saat sedang senggang."
"Iya nanti saja, sekarang aku sedang ingin berbincang denganmu."
"Berbincang mengenai hal apa?" tanya Jane penasaran.
"Mengenai banyak hal, dan mulai sekarang aku akan berusaha untuk sedikit terbuka denganmu mengenai beberapa hal."
"Benarkah?"
"Iya sayang," ucap Liam mencubit hidung Jane.
"Ih sakit."
"Sakit?" Liam langsung mencium hidung Jane.
"Kenapa sekarang hubby ingin lebih terbuka denganku?"
"Karena kamu istriku, dan memang seharusnya begitu sih. Mungkin kamu sudah menjadi takdir jodohku, jadi aku harus mulai move on dan memulai hidup yang baru denganmu."
"Terima kasih sudah ingin berubah," ucap Jane tersenyum.
"Iya sama- sama, ayo kita menjadi orang tua yang baik untuk baby Ace."
__ADS_1
"Okay."