
Liam kemudian berlari ke kamar mandi karena takut dipukul oleh istrinya itu dengan menggunakan sapu, dan setelah selesai mandi dia tidak melihat lagi keberadaan istrinya di kamar tersebut. Entah pergi menghindar kemana lagi istrinya itu saat dirinya baru ingin dimanjakan olehnya. Liam lalu mengamati meja rias di kamarnya tersebut yang sangat berbeda dengan miliknya dirumah orang tuanya. Dahulu pasti hanya terdapat sisir, satu botol parfume, pomade, dan deodoran di atas meja riasnya namun sekarang sudah terdapat bermacam - macam barang bahkan hampir memenuhi meja tersebut karena istrinya yang gemar memakai riasan di wajahnya. Liam lalu mengambil sebuah botol yang bertuliskan daycream namun di botol yang sama bertuliskan nightcream, hal itu membuat Liam menjadi bingung karena semua botol itu memiliki bentuk yang sama tapi tulisannya berbeda - beda.
Pandangan Liam lalu beralih kesebuah wadah yang berisi berbagai macam kuas serta pensil, dan Liam kemudian mengambil sebuah kuas yang tangkainya berbentuk seperti tanduk unicorn. Dia langsung mencobanya di tangannya dan rasanya sangat lembut sekali, pasti kalau untuk melukis hasilnya akan sangat bagus. Liam mengambil kuas tersebut serta pensil itu dan menyimpannya di saku celananya. Tanpa dosa dia juga mengambil sebuah sticker yang aneh karena teksture sticker tersebut sangat kenyal, dan dia kemudian menempelkannya di pipinya. Dia kembali mengamati lagi benda - benda yang berada di atas meja dan lagi - lagi dia menemukan sebuah barang yang menurutnya sangat unik. Karena saking uniknya dia sampai tertawa saat melihat bentuk barang tersebut namun tiba - tiba saja Jane masuk ke dalam kamarnya, dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat suaminya menempelkan sticker yang seharusnya tidak dia tempelkan di sana.
"Hubby!!!" teriak Jane.
Liam terkejut dengan teriakan Jane.
"Anjir, eh ada apa Jane?"
"Apa yang kamu lakukan dengan barang - barang pribadiku?"
"A-aku hanya mengamatinya saja karena merasa penasaran."
"Liam, ah apa yang kamu tempelkan di pipimu itu?" tanya Jane berusaha sabar.
"Oh ini sticker pipi, aku menemukannya di sini dan aku menempelkannya di pipiku," ucap Liam polos.
"Itu bukan sticker pipi sayangku cintaku," ucapnya menghela nafasnya.
"Lalu ini apa kalau bukan sticker untuk pipi?"
Jane melepas sticker itu dari Liam dan menempelkannya di dada Liam.
"Paham kan sekarang?"
"Oh iya, kenapa kamu memakai ini?"
"Terkadang ada gaun yang membuatku sedikit tidak nyaman jika menggunakan bra, jadi aku memakai ini."
"Oh seperti itu. Aneh sekali, kenapa kamu sangat suka memakai pakaian sexy?"
"Ya terserah aku."
Liam lalu mengambil sebuah benda dari atas meja.
"Kalau ini apa? kenapa bentuknya seperti ini hahaha?"
Jane langsung merebut benda tersebut dan menggosoknya di leher Liam.
"Ini alat untuk pijat, pasti fikiranmu sudah sampai kemana - mana."
"Aduh sakit, kamu menggosoknya terlalu keras."
Jane justru malah semakin keras menggosoknya.
"Agar lebih rileks maka aku harus menggunakannya seperti ini."
"Sudah hentikan!!! sakit sekali, apa kamu ingin membunuhku ha?"
__ADS_1
"Antara iya dan tidak."
"Menyebalkan."
"Eh kamu menangis? dasar cengeng sekali."
"Si-siapa yang cengeng? aku tidak cengeng, kamu sangat menyebalkan dan aku tidak ingin dekat denganmu lagi!!" Liam langsung pergi meninggalkan Jane.
"Li? Liam, ck dasar seperti anak kecil saja," ucap Jane bergumam.
Jane hanya menggelengkan kepalanya karena tidak habis fikir dengan tingkah Liam yang kekanakan itu. Dia kemudian duduk di atas ranjangnya dan memainkan handphone miliknya. Disisi lain Ricko sedang berbincang dengan Dio dirumahnya dengan ditemani oleh kopi dan gorengan. Mereka berdua sedang membicarakan masalah rencana pertandingan futsal yang melawan geng sebelah, yang merupakan teman mereka berdua saat masih SMA. Akhir - akhir ini mereka kembali menyukai olahraga futsal karena merasa bosan dengan bermain game, padahal dahulu mereka juga sangat sering bermain futsal saat SMA namun setelah mengenal game mereka malah memutuskan untuk vacum dari dunia futsal.
"Jadi kita kembali memakai formasi seperti biasanya saja?" tanya Ricko sembari mengunyah gorengannya.
"Iyalah main aman saja, lagipula team kita juga sangat kuat karena ada Liam dengan Josh."
"Benar juga, kalau misalnya ketambahan kakaknya Liam pasti team kita akan lebih kuat."
"Eh benar juga, bagaimana ya kabarnya sekarang? aku sudah sangat lama tidak melihatnya ataupun mendengar kabarnya."
"Sudahlah jangan dibahas kasihan Liam jika dibahas lagi," ucap Ricko menegurnya.
Dio lalu menepuk paha Ricko.
"Eh sepertinya aku kenal suara motor ini deh."
"Ahh sialan!!"
"Sudah kuduga," ucap Dio sembari tertawa.
"Kenapa tiba - tiba kamu mengumpat seperti itu Li?" tanya Ricko penasaran.
Liam lalu menenteng helm dan meminum kopi milik Ricko.
"Dasar wanita sialan itu, selalu saja membuatku merasa kesal."
"Eh kopiku."
Liam meletakkan gelas kosong di atas meja.
"Sudah buat lagi sana, sekalian buatkan untukku juga."
"Siapa? istrimu?" tanya Dio menebak.
"Tentu saja, haiss dari dulu dia selalu saja membuatku merasa kesal."
"Kalau dari dulu seperti itu mengapa kamu menikahinya?" tanya Ricko sembari beranjak pergi.
"Masalahnya dia sangat sexy dan kaya seperti tipe idamanku."
__ADS_1
Dio tertawa.
"Bukankah kamu juga kaya? untuk apa kamu mencari wanita kaya?"
"Ya agar dia tidak selalu meminta uang kepadaku dan aku bisa masih terus lancar membeli vidio game serta buku komik."
"Aneh."
Tidak lama kemudian Ricko datang sembari membawa dua gelas kopi dan dia tertawa mendengar cerita Liam.
"Ini kopinya, awas panas."
"Kenapa kamu terus saja tertawa bodat?"
"Eh santai, tidak perlu marah - marah."
Liam lalu meminum kopinya namun langsung disembur.
"Ihh panas anjir."
"Bukankah tadi aku sudah bilang jika masih panas? makanya dinginkan kepalamu dan jangan terus marah - marah seperti itu."
Dio ikut tertawa.
"Memangnya kamu diapakan olehnya sampai merasa kesal seperti ini?"
Liam lalu menceritakan penyebab mengapa dia merasa kesal kepada Jane sembari memakan gorengan, sedangkan Ricko dan Dio hanya mendengarkan saja sembari berbarinh di atas sofa. Malam sudah mulai larut dan Liam masih saja bercerita ngalor ngidul hingga membuat mereka berdua mulai mengantuk karena seperti sedang diceritakan dongeng oleh Liam. Bahkan Chicko yang baru saja datang ke rumah Ricko langsung ikut mendengarkan Liam yang sedang menyampaikan uneg - unegnya kepada mereka semua. Bukan hanya bercerita saja namun Liam juga terkadang menunjukkan gesture untuk mewakili perasaannya.
"Sudah minum dulu kopimu nanti dehidrasi karena terlalu banyak bercerita," ucap Ricko sembari menyodorkan segelas kopi untuknya.
"Sudahlah Li jangan dibawa pusing tapi dibawa santai saja," ucap Dio menyarankan.
Chicko mengunyah gorengannya.
"Benar, namanya juga wanita pasti ada saja tingkahnya yang membuat kita merasa kesal."
"Ah dasar wanita sialan itu," ucap Liam menggerutu.
Ricko menepuk punggung Liam.
"Sudah jangan begitu dengannya, nanti dia juga yang akan mengandung keturunanmu hahaha."
"Iya juga sih."
"Lalu kapan rencana kalian akan mempunyai anak?" tanya Chicko penasaran.
"Setahun lagi, Jane ingin menundanya."
"Oh begitu rupanya."
__ADS_1