
Liam lalu berbalik dan memeluk Jane dengan aangat erat. Liam membisikkan beberapa kata - kata yang manis di telinga Jane, serta kata penyemangat agar Jane bisa segera menyelesaikan pelajaran parentingnya sehingga dia bisa cepat mengandung calon anaknya. Liam merasa tidak sabar segera ingin menggendong anaknya yang mungil dan mungkin saja sebesar pergelangan tangannya seperti cerita daddy nya jika dahulu saat masih bayi, tubuhnya sangat mungil hingga terkadang membuat daddy nya sangat takut untuk menggendongnya karena takut jika dia nanti justru akan melukainya. Mungkin karena Mrs Robinson melahirkan anak kembar jadi ukurannya sedikit lebih kecil dari bayi pada umumnya, akan tetapi ada juga bayi yang ukurannya lebih besar walaupun mereka terlahir kembar.
Namun jangan salah bahwa bayi yang ukurannya kecil nanti dikira tubuhnya akan selalu kecil, padahal itu tergantung bagaimana pertumbuhannya serta gizinya tercukupi atau tidak. Buktinya dahulu ayah author selalu bercerita jika dahulu saat bayi ukurannya hanya sebesar pergelangan tangan saja, tetapi sekarang badannya malah besar dan melebar hufftt. Liam lalu tersenyum dengan manis hingga memperlihatkan lesung pipinya saat memandangi wajah Jane yang sangat cantik. Mata Jane berkaca - kaca setelah mendengar kata penyemangat dari suaminya, karena bagaimanapun Liam sudah berusaha untuk belajar menjadi suami yang baik serta mempersiapkan semuanya saat akan menjadi seorang ayah. Jane memgetahui bahwa sebenarnya secara diam - diam Liam juga memperlajari bagaimana caranya menjadi orang tua yang baik dan bahkan lebih baik dari kedua orang tuanya.
"Kamu ini tidak terlihat seperti seseorang yang sedang sakit," ucap Jane mengalihkan perhatiannya sendiri agar tidak menangis secara tiba - tiba.
"Aku memang selalu seperti ini agar sakitku ini tidak semakin parah."
"Bagaimana bisa?" tanya Jane keheranan.
"Jika aku hanya berbaring di atas ranjang serta memikirkan tentang penyakitku ini pasti sembuhnya akan lama, sedangkan jika saat aku sedang sakit dan memilih untuk berkumpul bersama teman - teman justru aku akan lebih cepat sembuh karena fikiranku selalu bahagia."
"Menarik juga teorimu."
"Jadi kamu justru malah menyibukkan dirimu sendiri saat sedang sakit agar capat sembuh, begitu?"
"Tepat sekali."
"Jadi oleh sebab itu kamu pergi ke cafe?"
"Benar, dan aku dapat uang jajan saat berada di cafe."
"Dari siapa?" tanya Jane penasaran.
"Daddy, dia memberiku 3 juta dan menurutku itu sudah lumayan."
"Kamu bertemu dengan daddy di cafe, memangnya tidak dimarahi karena kamu izin sakit dan justru malah pergi ke cafe?"
Liam menggelengkan kepalanya.
"Entah mengapa setelah aku menikah denganmu, dia menjadi sangat lembek sekali denganku dan oleh sebab itu dia tidak memarahiku lagi serta bisa berbuat apapun yang aku inginkan."
"Aneh juga ya daddy."
"Iya mungkin dahulu sebelum aku menikah denganmu, dia selalu khawatir jika aku salah pergaulan serta melakukan **** bebas karena aku terlihat sangat nakal dan urakan. Namun setelah aku menikah denganmu, dia menjadi sedikit lega karena aku sudah ada pawangnya sehingga tidak mungkin aku terjerumus ke dalam **** bebas."
"Bisa saja begitu, lagipula sangat mengerikan sekali jika sudah terjerumus ke dalam pergaulan bebas apalagi **** bebas karena penyakitnya juga tidak main - main. Memang awalnya saja menyenangkan namun setelah mengalami penyakit seperti HIV atau AIDS pasti akan sangat menyesal telah melakukan hal seperti itu walaupun tidak sepenuhnya penyakit tersebut karena **** bebas."
__ADS_1
"Kamu benar."
"Kamu tidak begitu kan?" tanya Jane curiga.
"Tidak mungkin aku seperti itu, bukankah dahulu sebelum kita menikah ada semacam test kesehatan serta vaksin ya? kamu pasti juga sudah melihat hasilnya jika aku negatif."
"Benar juga sih."
"Pasti kamu yang justru melakukan hal seperti itu dengan mantanmu itu? secara kalian berdua sudah bersama kurang lebih selama 2 tahunan, dan tidak mungkin jika tidak melakukan hal semacam itu hahaha."
"Sembarangan, aku tidak pernah melakukan hal semacam itu kami berdua berpacaran hanya sekedar jalan - jalan, nonton, gandengan tangan saja kok."
"Berciuman pernah tidak?"
"Pernah tapi hanya sebatas di pipi atau kening saja."
"Oh aku kira kamu begitu soalnya kamu seperti soang, suka menyosor sana menyosor sini."
Jane memukul Liam.
"Sembarangan, aku tidak pernah seperti itu dan aku baru bersikap seperti itu saat denganmu saja."
"Cih bullshit, kata - kata playgirl ya seperti itu."
"Ihhh aku bukan playgirl dan ini memang pertama kalinya untukku, bahkan saat kita berciuman di karmarku itu memang yang pertama kalinya untukku."
"Benarkah? jadi waktu malam itu first kiss mu?"
"Iya hubby, jangan - jangan kamu yang menuduhku seperti itu justru kamu sendiri yang sering begitu dengan Nat?"
"Tidak, ciuman bibir itu aku melakukannya pertama kali denganmu jadi itu first kissku juga."
Jane tertawa.
"Wah kita berdua ini sangat nakal, harusnya kita menyimpannya untuk acara pernikahan eh malah kita lakukan sebelum acara pernikahan dan dengan rentang waktu yang lama."
"Benar juga hahaha, tapi ya sudah sih sama saja."
__ADS_1
Setelah perbincangan itu mereka berdua lalu pergi ke ruang makan untuk menyantap hidangan makan malam, tetapi sebelum itu Liam menutup pintu yang menuju ke balcony kamarnya terlebih dahulu. Jane kemudian menyendokkan nasi serta tumis cumi - cumi yang tadi dibuat olehnya ke piring Liam. Saat makan sesekali Jane memperhatikan Liam yang kurang merasa nyaman dengan hidungnya karena walaupun badan Liam sudah mulai enakan namun hidungnya masih pilek, dan terkadang kepalanya juga pusing. Selesai makan malam Jane lalu ke kamarnya untuk beres - beres kamar sebelum tidur, sedangkan Liam mengunci pintu serta memastikan bahwa rumahnya sudah aman. Tidak lupa Liam juga mematikan semua lampu yang berada di setiap ruangan yang berada di rumahnya, dan setelah itu dia pergi ke kamar menemui Jane. Liam lalu mencium pipi Jane.
"Ayo tidur hubby, aku ingin kamu tidur lebih awal malam ini agar tubuhmu kembali bugar."
"Tetapi aku ingin main game."
"Tidak boleh, sekarang istirahat saja dan tidak ada game karena badanmu sedang sakit hubby."
"A-aku sudah sembuh kok."
"Nope, sekarang tidur!!"
"Ya sudah iya, aku pipis dulu."
"Okay "
5 menit kemudian Liam telah selesai buang air kecil, dan sekarang dia sedang bersiap untuk tidur. Namun sebelum itu Liam sekarang sedang mengamati foto pernikahannya dengan Jane saat mereka berdua sedang berciuman, dan sekarang terpajang tepat di atas ranjang mereka.
"Aku merasa aneh dengan foto itu."
"Aneh kenapa hubby?"
"Kenapa kamu memajangnya disana? udah gitu dicetak dengan ukuran yang lumayan besar."
Jane lalu melihat ke arah foto tersebut.
"Ya tidak apa - apa karena aku menyukainya, apa kamu tidak menyukainya?"
"Bukan itu maksudku, apa tidak lebih baik jika kita menyimpannya di dalam laci saja dan menggantinya dengan yang lain?"
"Eh kenapa?"
"Aku malu."
Jane tertawa.
"Tidak perlu malu, lagipula aku memajangnya kan di area pribadi kita alias kamar kita."
__ADS_1
"Oh benar juga."