Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #240


__ADS_3

Setelah Lian duduk di sofa, Liam kemudian menurunkan Jane duduk di sofa karena dia hendak pergi ke dapur mengambil minuman dingin dan camilan untuk mereka berdua. Jane terus mengamati Lian dari kepala sampai kakinya saat dia duduk di sampingnya. Menurut Jane Lian sangat mirip sekali dengan suaminya dan bisa dikatakan sebagai kembar identik namun jika saja Lian pergi ke gym pasti bentuk tubuh serta ototnya bisa sama seperti suaminya, akan tetapi menurut Jane masih lebih tampan Liam daripada Lian walaupun wajah mereka berdua mirip karena Liam lebih berkharismatik. Diam - diam Lian juga memperhatikan Jane dan masih merasa tidak percaya jika gadis kecil yang sering dibuat adiknya menangis dahulu, malah sekarang menjadi istrinya. Sungguh aneh tapi nyata, jika ternyata perkataan orang yang mengenai benci menjadi cinta itu benar adanya. Mereka berdua bingung bagaimana ingin memulai pembicaraan karena mereka berdua sama - sama belum terlalu mengenal satu sama lain. Masa iya Lian akan bertanya bahwa apakah mulutnya masih sering penuh dengan strawberry atau tidak? pasti Jane akan merasa aneh dengan dirinya jika dia benar - benar mengatakan hal tersebut.


Liam kemudian datang membawa nampan yang berisi minuman serta camilan ke ruang tengah, dan dia langsung meletakannya di atas meja. Liam berfikir pasti Lian akan mengatainya sebagai pria yang aneh karena datang membawa nampan yang seharusnya itu adalah tugas Jane sebagai istri. Setiap teman - teman yang datang pasti Liam sendiri yang membuatkan minuman serta menyajikan makanan di atas meja, karena Liam masih merasa tidak enak jika dia menyuruh Jane untuk melakukan hal seperti itu apalagi mereka adalah teman - teman Liam. Bahkan Liam juga sering memasak, membersihkan rumah, mencuci piring, maupun mencuci baju karena Liam tidak ingin Jane merasa terbebani saat menjadi istrinya. Jadi tidak aneh jika mendapati Jane sedang bersantai menonton televisi sedangkan Liam memasak di dapur. Liam kemudian menyalakan televisi dan game PS miliknya, lalu setelah itu mereka berdua bermain game sepak bola berdua. Jane hanya memperhatikan saja sembari duduk di pangkuan Liam dan memakan camilan, sebenarnya Jane ingin menata belanjaannya tadi di kulkas namun tiba - tiba dia merasa malas. Semakin lama Jane menjadi mengantuk dan saat dia sedang menguap Liam sesekali malah mengusap rambutnya hingga Jane tertidur di pangkuannya.


"Itu istrimu tertidur," ucap Lian melirik ke arah Jane.


Liam langsung melihat Jane.


"Eh iya, sebentar ya aku bawa dia ke kamar dulu."


"Okay, santai saja Li."


Liam kemudian menggendong Jane ala bridal dan menidurkannya di kamar mereka berdua. Lalu setelah itu Liam kembali turun ke bawah dan melihat bahwa tas belanjaan mereka berdua masih berada di atas meja mini bar.


"Main sendiri dulu saja kamu, aku akan menata belanjaanku di kulkas sebentar."


"Ikut."


"Baiklah."


"Belanjaanmu sangat banyak, untuk berapa bulan ini?" tanya Lian penasaran.


"Mungkin hanya selama seminggu," jawab Liam sembari memasukkan bahan - bahan makanan satu - persatu ke dalam kulkas.


Lian merasa terkejut.


"Whatt, seminggu?"


"Iya."


"Kenapa kamu yang menata semua ini dan bukannya istrimu?"


"Sudahlah hanya begini saja aku juga bisa melakukannya sendiri, dia sedang kelelahan makanya tadi dia bisa langsung tertidur di pangkuanku."


"Dia masih saja terlihat seperti anak manja, kenapa kamu malah menikahi wanita manja seperti itu? nanti semakin lama justru kamu yang merasa lelah karena apa - apa pasti kamu melakukannya sendiri."


Liam tersenyum.


"Tidak kok dia bukan wanita manja, secara tampilan luarnya dia memang terlihat sebagai anak manja namun sebenarnya dia adalah wanita yang mandiri serta berfikiran dewasa."


"Jangan berusaha untuk menutup - nutupi yang sejujurnya Li."

__ADS_1


"Aku tidak menutup - nutupi karena dia memang wanita yang seperti itu Lian."


"Aku merasa skeptis dengan pernyataanmu itu."


"Kamu merasa skeptis karena kamu belum terlalu mengenalnya, coba kalau kamu sudah sangat mengenalnya pasti kamu akan merasa malu dengan ucapanmu itu."


"Kita lihat saja di masa depan akan seperti apa."


Liam tertawa sembari masih menata bahan - bahan makanan.


"Kalau dia memang wanita yang tidak baik untukku mana mungkin mommy akan sangat setuju sampai memberi restu kita berdua untuk menikah, dan bahkan mommy sendiri yang sangat menginginkan aku untuk menikah dengannya. Bukankah kamu tau jika mommy itu orangnya sangat selektif apalagi mengenai pasangan hidup anak - anaknya?"


"Iya aku tau, mommy itu orangnya sangat ketat sekali mengenai hal tersebut."


Liam menjentikkan jarinya.


"Nah jika dipikir secara logika Jane sudah lolos bukan? apalagi aku bisa langsung dengan mudah meminta izin untuk melakukan semua acara pernikahan di Korea Selatan seperti permintaan eomma nya Jane."


"Wait, apa? ternyata acara pernikahanmu semuanya dilakukan di Korea Selatan dan bukannya di Australia ataupun Indonesia?"


"Iya."


"Karena permintaan pihak wanita alias eomma nya Jane?"


"Tepat sekali."


"Kamu ini sebenarnya terlalu polos atau terlalu lembek sih?"


"Sudahlah tidak perlu dibahas lagi, sekarang aku akan memasak karena hari sudah mulai sore."


"Sumpah Li, aku tidak habis fikir dengan jalan fikiranmu."


"Ssssttt, diamlah!"


Liam kemudian memakai celemek di badannya dan mulai memasak, sedangkan Lian hanya memperhatikan Liam saat sedang memasak. Pada hari itu Liam memasak menu ayam lada hitam karena dia sedang menginginkannya dan kebetulan sedang ada bahannya. Liam sangat lihai dalam urusan memasak karena dahulu Liam sering belajar memasak dari para chef di restaurant maupun di hotelnya. Sekitar 45 menit kemudian Liam telah selesai memasak, dan tiba - tiba Jane menghampirinya saat sedang menyajikan makanannya di meja makan.


"Eh kebetulan kamu sudah bangun, mari kita makan bersama karena aku baru saja selesai memasak."


"Iya hubby," ucap Jane duduk di kursi.


"Ternyata masakan Liam sangat lezat," ucap Lian saat mencicipi masakan yang dibuat oleh adiknya itu.

__ADS_1


"Masakan Jane juga sangat lezat bahkan lebih lezat dari masakanku," ucap Liam memuji Jane.


"Benarkah? aku kira Jane tidak bisa memasak."


"Aku sedang belajar memasak kok hehe," ucap Jane sedikit merasa tersinggung.


Melihat perubahan ekspresi istrinya itu Liam kemudian berusaha menghiburnya.


"Justru Jane lebih pandai memasak daripada aku, oleh sebab itu mengapa aku menikahinya."


"Oh."


"Habiskan saja makananya karena aku susah kenyang," ucap Liam bangkit dari kursinya.


"Bukankah ini tugasmu untuk mencuci piring Jane? Liam tadi sudah memasak serta membereskan tas belanjaanmu, masa kamu ingin duduk - duduk saja?"


Jane lalu ikut bangkit dari tempat duduknya.


"Oh iya, aku akan membereskannya."


"Tidak perlu sayang, biar aku saja yang mencucinya."


"Tidak apa - apa hubby, ini kan memang sudah tugasku sebagai istrimu."


"Ayo Li, kita main PS saja."


"Tapi aku ingin membantu Jane."


"Sudah, hubby main PS saja dan biar aku yang mencuci piring."


"Baiklah."


2 jam kemudian Lian telah pulang ke rumah dan Liam langsung menghampiri Jane.


"Maaf atas ucapan Lian tadi."


"Justru aku yang meminta maaf kepadamu karena aku tidak memberikan kesan baik kepada kakakmu."


"Ti-tidak kok, dia saja mulutnya yang kurangajar."


"Heh jangan berbicara seperti itu kepada kakakmu."

__ADS_1


"Karena menghindari hal seperti inilah aku memilih mengajakmu untuk tinggal di rumah sendiri."


"Oh begitu."


__ADS_2