Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #172


__ADS_3

Jane kemudian mencuci wajahnya dan menghapus make up diwajahnya. Jane duduk di depan meja rias lalu bercermin sembari menyisir rambut panjangnya yang samar - samar bewarna cokelat itu. Setelah itu Jane memakai body lotion di tangan dan kakinya sembari menunggu Liam selesai buang air kecil di kamar mandi karena dia juga ingin buang air. Selesai buang air kecil Liam kemudian naik ke atas ranjang dan memainkan handphone miliknya sebentar sembari bersandar di headboard ranjang, sedangkan Jane melihat pemandangan langit malam dari balcony kamar. Awalnya mereka ingin tidur namun tiba - tiba mereka tidak bisa tertidur dan akhirnya mereka sibuk dengan kegiatan masing - masing. Langit malam di Korea Selatan tidak seperti biasanya karena malam itu sangat cerah dengan bertabur banyak bintang yang berkelap - kelip hingga Jane sangat terpukau dengan keindahan langit itu.


Dari atas juga terlihat para tamu undangan yang juga masih berpesta di swimming pool area. Jane sebenarnya masih ingin ikut berpesta namun badannya merasa sudah sangat lelah sekali dan ingin segera tidur, tapi anehnya setelah sampai di atas ranjang malah tidak bisa tertidur. Jane tersenyum sembari menatap betapa indahnya cincin yang kini berada di jari manisnya dan cincin tersebut merupakan cincin pertunangannya dengan kekasih hatinya saat ini. Jane kemudian melirik Liam yang sedang sibuk menatap layar handphone miliknya, dan wajahnya terlihat sangat serius sekali. Jane kembali menatap langit malam dan ingin memotret dengan handphone miliknya. Lalu dia berjalan mengambil handphone di atas meja samping ranjang dan kembali ke balcony.


Jane mulai mengambil beberapa gambar dan tiba - tiba Liam memeluknya dari belakang saat dia sedang sibuk mengambil beberapa gambar langit malam. Rupanya Liam merasa penasaran mengapa calon istrinya itu memutar handphone miliknya serta memiringkan kepalanya itu. mengetahui bahwa Liam menyandarkan kepalanya di bahu Jane, kemudian dia membalikkan kamera menjadi kamera depan dan mengambil foto selfie dirinya dengan Liam. Jane tersenyum melihat wajah Liam yang terlihat sangat kelelahan dan rambutnya yang berubah menjadi berantakan. Jane kemudian mencium pipi Liam dan mengusapnya dengan sangat lembut. Jane membalikkan tubuhnya dan melingkarkan kedua tangannya di leher Liam, sedangkan Liam memeluk pinggul Jane lalu menatap mata Jane dengan sangat dalam dan menatap setiap inchi wajah calon istrinya yang bagaikan dewi Aprhodite.


"Kamu sangat cantik, sampai - sampai langit malam minder melihatmu karena kalah cantik darimu."


Jane tertawa kecil "hmm sekarang kamu pintar sekali merayu ya?"


"Aku dari dulu sudah pintar merayu para wanita dan memiliki banyak mantan pacar, namun..." Liam tidak jadi melanjutkan ucapannya.


"Namun apa?" tanya Jane sembari menaikkan alisnya.


"Namun entah mengapa akhir - akhir ini setiap melihatmu rasanya aku selalu ingin menciumi leher jenjangmu itu."


"Kenapa begitu?"


"Kamu mempunyai bau harum yang khas, yang belum aku temui sebelumnya di wanita manapun."


"Benarkah?"


"Iya Jane."


"Tetapi hidungmu yang mancung itu membuat leherku merasa geli saat kamu menciumi leherku, oleh karena itu aku ingin menarik hidung mancungmu itu saat kamu membuatku kesal."


Liam tertawa "tarik saja jika kamu bisa, aku jamin tanganmu tidak akan mampu meraih hidungku."


"Kenapa begitu?"


"Karena tubuhmu sangat mungil sekali," ucap Liam mengejek Jane.


Jane kemudian memanyunkan bibirnya dan mulai menarik hidung Liam yang mancung seperti Pinocchio dengan sangat keras "rasakan ini!"


"Aduh sakit, kalau sampai lepas bagaimana?"


"Bodo amat."


"Kok kamu seperti itu?" rengek Liam.


"Habisnya kamu membuatku kesal!"


Tiba - tiba saja ada yang membuka pintu kamar Liam dan ternyata yang membukanya adalah grandma "kalian berdua sedang apa?"

__ADS_1


Sontak mereka berdua sedang terkejut. Jane kemudian melepaskan tangannya dari hidung Liam dan meninggalkan bekas bewarna merag di hidungnya.


"Anu grandma, kami tidak sedang melakukan apapun kok," ucap Liam merasa deg-degan.


"Iya grandma, kami hanya sedang bercanda saja."


"Oh begitu, kok rasanya seperti ribut sekali dari kamar sebelah."


"Memangnya kamar grandma ada di sebelah kamar Liam?" tanya Liam.


"Iya kamar grandma tepat di sebelah kamarmu, jadi kalau misalnya aku mendengar suara - suara mencurigakan maka aku akan langsung meminta bodyguard untuk mendobrak kamar kalian."


Liam lalu menggaruk rambutnya "tenang saja grandma, Liam tidak akan macam - macam dengan Jane kok hehe."


"Lalu kenapa hidungmu bewarna merah?" tanya grandma merasa curiga.


"Tadi Jane menarik hidungku dengan sangat keras sehingga membekas."


"Aku kira karena warna lipstick," ucap grandma menggoda Liam.


"Masa begini karena warna lipstick," ucap Liam merasa terheran.


Grandma tertawa "maaf, pandangan mata grandma sudah tidak sebaik dulu."


"Kan tadi grandma ingin tampil terlihat cantik, jadinya tidak memakai kacamata."


"Iya sih, tapi kan kalau grandma sampai mencebur ke kolam renang karena grandma tidak memakai kacamata kan tidak lucu."


Grandma lalu menjewer telinga Liam "dasar kamu ini, mau jadi cucu yang durhaka?"


"A-ampun grandma, Liam kan hanya berbicara fakta."


Grandma lalu melepaskan tangannya dari telinga Liam "ya sudah grandma ingin tidur, jangan lupa kunci pintunya."


"Baik grandma."


Liam kemudian menutup pintu dan menguncinya setelah grandma pergi meninggalkan mereka berdua. Karena Liam sudah mulai mengantuk akhirnya dia berbaring di atas ranjangnya dan menarik selimut, sedangkan Jane masih asyik melihat layar handphone miliknya karena melihat foto - foto mereka berdua. Setelah puas melihatnya Jane kemudian meletakkan handphone miliknya dan menyibakkan rambutnya hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang itu. Dengan sigap Liam langsung menarik Jane kepelukannya dan menenggelamkan wajahnya ke leher Jane. Jane lalu mematikan lampu dan mulai tertidur sembari memeluk Liam. Keesokan harinya Jane bangun lebih awal dari Liam, dan melihat Liam masih tertidur dengan lelap. Jane kemudian bangkit dari ranjangnya dan menguncir rambutnya. Setelah itu pergi ke kamar mandi dan selesai bersiap dia kemudian pergi ke restaurant hotel untuk breakfast.


"Pagi sayang," ucap Mrs Kim sembari mengusap rambut Jane.


"Pagi eomma."


"Liam belum bangun?"

__ADS_1


"Belum, dia sepertinya sangat kelelahan sekali sampai aku tidak tega untuk membangunkannya apalagi tidurnya sangat nyenyak sekali."


"Oh begitu, berarti nanti kamu bawakan sarapan untuknya ke kamar."


"Baik eomma."


Selesai sarapan bersama teman - teman Liam pergi ke kamar Liam untuk mengganggunya tidur.


"Bagun!!!" ucap Ricko sembari menepuk - nepuk tubuh Liam.


"Nggg."


"Eh kenapa ada barang - barang wanita di kamar ini?" tanya Dio polos.


"Tidak mungkin kamu tidak tau," ucap Ricko.


Dio terkejut "oh jadi..."


Ricko mengangguk "iya."


"Kalian ini ada apa ribut - ribut di kamarku?" tanya Liam membuka matanya.


"Hei kamu tidak sarapan?" tanya Ricko.


"Nanti sajalah."


"Kalian berdua semalam sudah tidur bersama?" tanya Dio secara spontan.


Ricko langsung menepuk pundak Dio "sstt."


"Iya, memangnya kenapa?"


"Tidak apa - apa, keren sih."


Jane kemudian membuka pintu kamar Liam "eh sudah bangun?"


"Maaf Jane hehe, kami hanya membangunkan Liam saja kok," ucap Ricko.


"Santai saja, Liam ayo sarapan dulu."


"Okay, eh mana morning kiss ku?"


"Tidak ah."

__ADS_1


__ADS_2