Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #375


__ADS_3

Liam kemudian pergi ke kantornya dengan perasaan sedih karena Jane bersikap cuek kepadanya sejak tadi malam. Liam mengendarai mobil miliknya menuju ke kantor sembari memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa membujuk Jane untuk memaafkan dirinya. Liam menjadi merasa menyesal karena dia telah berbicara jujur kepada Jane, dan memang seharusnya dia tidak menuruti saran dari Mrs Robinson agar tidak terjadi seperti ini.


Namun entah mengapa biasanya Liam yang sering sekali tidak mendengarkan saran dari Mrs Robinson, tiba - tiba saja dia mendengarkan sekaligus melakukan saran dari Mrs Robinson meskipun akhirnya akan seperti ini. Liam kemudian menepi sebentar untuk berdiam diri serta bertapa karena dia merasa bingung, takutnya jika diteruskan nanti dia malah kecelakaan seperti dulu.


30 menit kemudian Liam kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke kantor dengan matanya yang sembab, dan sesampainya di kantor justru Liam dimarahi oleh Mr Robinson karena dia telat padahal sebentar lagi dia ada meeting dengan klien. Liam kemudian pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan setelah itu dia kembali bekerja. Yunna semakin bertanya - tanya dengan keadaan Liam apalagi dia datang dengan kondisi matanya yang sembab, dan juga dia tadi datang terlambat.


Liam menarik nafasnya lalu menghembuskannya kembali, dan dia melakukan hal tersebut secara berulang - ulang sampai dia merasa tenang. Setelah itu Liam pergi meeting bersama klien dengan ditemani oleh Yunna. Beberapa jam kemudian saat jam istirahat Liam memilih untuk tidur di ruangannya saja dan tidak pergi untuk makan siang. Yunna yang menyadari bahwa Liam belum maka. siang, dia lalu membawakan makanan kesukaan Liam di ruangannya.


*Krieett*


*Ceklek*


"Liam ayo makan siang dulu, nanti perutmu akan sakit jika kamu tidak makan siang."


"Letakkan saja disana, nanti aku akan memakannya."


Yunna lalu memegang bahu Liam.


"Ayo makan sekarang!!"


Liam lalu duduk di sofa.


"Iya, nih aku makan."


"Sebenarnya kamu ini ada masalah apa sampai kamu bisa telat ke kantor? biasanya kamu tidak pernah telat dan bahkan selalu datang tepat waktu."


"Tidak ada apa - apa kok, aku hanya merasa lelah saja."


Yunna lalu memijat bahu Liam.


"Biar aku pijat bahumu agar kamu tidak merasa lelah," ucap Yunna tersenyum.


"Aku waktu itu pernah mendapat tawaran sebagai model, rasanya aku akan pergi ke New York untuk beralih profesi menjadi seorang model."


"Benarkah? bagus itu, jika kamu ingin beralih profesi maka lakukanlah."


"Yups benar, rasanya aku jenuh sekali dengan kehidupanku sampai - sampai aku ingin sekali untuk melompat ke jembatan."


Yunna lalu menepuk punggung Liam.


"Huss jangan berbicara seperti itu, coba kamu melakukan hal lain saat kamu sedang merasa jenuh."


"Hmm baiklah."


"Come on Li, kamu tidak boleh menyerah begitu saja."


"Iya Yunna, tapi anehnya terkadang suka tiba - tiba muncul keinginan untuk mengakhiri hidup."

__ADS_1


"Jika kamu mulai berfikir seperti itu maka lebih baik untuk mangalihkannya dengan melakukan kegiatan yang kamu sukai."


"Benar, aku terkadang langsung main game atau menggambar jika sudah mulai ada fikiran seperti itu."


"Bagus itu, ayo semangat hidup untuk anak dan istrimu!!"


"Untuk kamu juga," ucap Liam menambahkan.


"Mmm nanti aku izin pergi sebentar ya?"


"Pergi kemana?" tanya Liam penasaran.


"Pergi ke cafe untuk bertemu dengan seseorang."


"Wah ternyata kamu sudah mempunyai pacar ya?"


Yunna langsung menyangkalnya.


"Eh tidak, aku hanya ingin bertemu dengan teman saja kok."


"Oh begitu baiklah, selamat bersenang - senang."


"Iya terima kasih, lagipula nanti jadwal kamu juga kosong kok tidak ada janji temu juga."


"Benarkah?"


"Tumben sekali, biasanya jadwalku selalu padat."


"Aku sengaja mengosongkannya agar kamu dapat beristirahat serta menikmati hidupmu."


Liam langsung tersenyum.


"Terima kasih Yun."


"Sama - sama, ya sudah dihabiskan makanannya."


"Okay."


Liam kemudian menghabiskan makan siangnya sembari berbincang santai dengan Yunna, sekalian untuk menghibur hati Liam yang sedang kacau. 1 jam kemudian Yunna langsung bersiap - siap pergi ke sebuah cafe untuk menemui seseorang, sedangkan Liam melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit. Sesampainya di sebuah cafe, Yunna lalu menuju ke sebuah meja saat orang yang dari meja tersebut melambaikan tangannya kepada Yunna.


"Ada apa anda ingin menemui saya?" tanya Yunna sembari duduk di kursi.


"To the point saja sih, sebenarnya kalian berdua sudah berapa lama menjalin sebuah hubungan?"


"Kami berdua tidak menjalin hubungan yang lebih, dan hubungan kami berdua hanyalah sebatas partner kerja saja kok."


"Benarkah? rasanya pernyataan kamu ini seperti sangat meragukan sekali."

__ADS_1


"Benar Jane, aku berani sumpah bahwa hubungan kami berdua hanyalah sebatas partner kerja saja dan tidak lebih."


"Aku merasa heran apakah ada hal lain yang membuat Liam sangat menyukaimu?"


"Maksudnya?" tanya Yunna bingung.


"Apa jangan - jangan kamu telah menggoda Liam ha?" tanya Jane yang sudah mulai emosi.


"Aku berani sumpah bahwa aku tidak pernah sekalipun menggoda Liam ataupun melakukan semua hal yang telah kamu tuduhkan kepadaku itu."


"Lalu kenapa Liam bisa sangat menyukaimu daripada aku yang telah memberikannya keturunan untuknya?"


"Aku fikir sepertinya kamu harus mulai intropeksi diri kamu sendiri terlebih dahulu, serta membicarakannya kepada Liam secara baik - baik agar lebih enak. Aku tahu bagaimana perasaanmu sebagai sesama wanita dan sejujurnya aku ingin yang terbaik untuk rumah tangga kalian berdua."


Jane menghela nafasnya kasar.


"Liam semalam mengatakan bahwa dia merasa sangat nyaman saat sedang berbicara denganmu karena kalian berdua sefrekuensi."


"Menurutku mungkin yang dimaksud Liam itu adalah seseorang yang bisa diajak berbincang tanpa adanya perdebatan, karena dia selalu mengatakan jika dia merasa lelah berbicara kepada seseorang yang selalu membuatnya memulai perdebatan."


"Oh begitu."


"Aku kasihan dengan Liam karena katanya dia selalu mempunyai fikiran untuk mengakhiri hidupnya, dan aku sangat mengandalkan kamu untuk selalu menemani Liam agar dia tidak mempunyai fikiran seperti itu lagi. Tadi pagi dia datang terlambat dengan matanya yang sembab dan belum lagi dia langsung dimarahi oleh Mr Robinson karena hal itu."


Jane merasa terkejut dengan ucapan Yunna.


"Benarkah? aku rasa tadi dia berangkat seperti biasanya kok."


"Oh begitu, mungkin dia tadi sempat mampir ke suatu tempat sebelum dia berangkat ke kantor."


"Mungkin saja begitu."


2 jam kemudian Yunna langsung kembali ke kantor setelah dia menyelesaikan pembicaraannya kepada Jane. Namun saat berada di tengah - tengah perjalanan dia membeli sebuah kue cokelat kesukaan Liam untuk diberikan kepadanya sebagai ucapan semangat. Begitu sesampainya di kantor, Yunna langsung meletakkan tasnya di kursinya dan pergi menemui Liam di ruangannya.


"Hai Liam, ini kue cokelat kesukaanmu."


"Eh kenapa tiba - tiba kamu memberiku kue cokelat?"


"Ini sebagai ucapan semangat untukmu."


Liam tersenyum tipis.


"Terima kasih Yunna."


"Iya sama - sama Li, semangat ya?"


"Siap boss."

__ADS_1


__ADS_2