Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #166


__ADS_3

Setelah dia berhenti menciumi leher Jane, Liam kemudian membaringkan tubuhnya dan kembali tertidur. Melihat Liam tertidur Jane kemudian pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil serta mandi. Selesai buang air kecil Jane lalu menatap wajah Liam yang sedang tertidur pulas, dan dia menjadi teringat oleh seseorang yang berada di masa lalunya. Seorang anak kecil dengan rambut pirang yang selalu mengganggunya bahkan mencuri buah strawberry miliknya. Jane hanya mengingatnya secara samar - samar bagaimana wajah dan perawakannya karena sebagian ingatannya sewaktu dia kecil sudah hilang. Dahulu anak kecil itu selalu datang saat weekend bersama kedua orang tuanya dan kedua saudaranya.


Jane hanya ingat jika anak kecil itu selalu memakai barang - barang maupun pakaian bewarna biru langit, bahkan Jane selalu bosan menatapnya karena selalu menggunakan pakaian dengan warna monoton walaupun terkadang dengan kombinasi warna hitam maupun warna putih. Anak kecil itu sangat usil dan sering kali membuat Jane menangis karena ulahnya. Jika anak kecil itu adalah Liam lantas kemana yang satunya lagi? Jane teringat jika anak kecil yang berada di masa lalunya itu memiliki kembaran yang mirip dengannya dan waktu itu Jane hanya bisa membedakan dari warna pakaiannya dan lesung pipinya karena saking miripnya mereka berdua, yang satu mempunyai lesung pipi sedangkan yang satunya lagi tidak memiliki lesung pipi, yang satu anaknya pendiam dan yang satunya lagi sangat hiperaktif. Bahkan Jane teringat jika dahulu ibunya terlihat sangat kewalahan mengurusi salah satu anak kembarnya itu karena selalu berlarian kesana - kemari dan ingin tau berbagai banyak hal hingga sering kali melontarkan sebuah pertanyaan mengenai hal - hal yang berada di sekitarnya.


Jika anak kecil itu benar Liam, lalu kemana kembarannya sekarang? dan jika sebenarnya Liam mempunyai kembaran lalu mengapa Mr Robinson selalu berkata bahwa dia hanya memiliki dua orang anak yaitu Liam dan Rosie? saat ini kepala Jane penuh dengan pertanyaan apakah benar Liam merupakan anak kecil yang berada di masa lalunya itu dan sebenarnya apakah ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh keluarga calon suaminya tersebut. Untuk memastikannya kembali Jane kemudian memperhatikan wajah Liam secara saksama untuk memastikan bahwa anak kecil yang dia maksud itu adalah Liam atau tidak. Namun Liam terlanjur terbangun dari tidurnya dan merasa terkejut karena Jane mendekatkan wajahnya di wajah Liam.


"Ada apa Jane?" tanya Liam dengan suara parau karena bangun tidur.


"Tidak ada apa - apa."


"Ayo katakanlah!"


"Jika aku mempunyai strawberry apakah kamu akan mencurinya dariku?"


Liam merasa bingung dengan pertanyaan Jane "maksudnya?"


"Iya, misalnya aku mempunyai satu keranjang strawberry apakah kamu akan mencuri strawberry milikku?"


Liam tertawa "itu sangat konyol, mana mungkin aku mencuri strawberry, bahkan aku saja tidak menyukainya?"


"Lalu seberapa suka kamu dengan warna biru?"


"Seribu persen aku menyukai warna biru, terutama warna biru langit."


Jane menaikkan alisnya "kenapa kamu sangat suka sekali dengan warna biru?"


"Karena namaku L-I-A-M sangat cocok jika ditulis dengan warna biru."


"Oh begitu rupanya."


"Kenapa sih memangnya? kamu sangat aneh sekali menanyakan hal - hal yang aneh sejak tadi."


"Memangnya tidak boleh?"


"Bukannya tidak boleh, tetapi pertanyaanmu itu sangat konyol!!!"


"Kok kamu marah sih?"


"Aku bukan marah, tetapi hanya...." Liam tidak jadi melanjutkan ucapannya karena melihat raut wajah Jane yang seperti ingin menangis.


Liam kemudian duduk dan memeluk Jane "maaf aku sudah membentakmu, habisnya kamu membuatku kesal."

__ADS_1


Jane kemudian melepaskan pelukan Liam "iya," jawab Jane singkat.


"Jangan marah."


Jane menghela nafasnya "lebih baik kamu mandi saja sana! aku akan memesan makanan secara online untuk makan malam kita berdua."


"Okay."


Jane kemudian turun ke bawah dan sedang menunggu makanannya datang, sedangkan Liam sedang mandi. Selesai mandi Liam kemudian memakai parfume dan menyisir rambutnya agar terlihat lebih rapi. Liam kemudian duduk di tepi ranjang sembari melihat ke layar handphone miliknya untuk menjawab pesan dari teman - temannya. Setelah itu dia turun ke bawah untuk makan malam dan dari kejauhan dia melihat Jane sedang sibuk menyiapkan makan malam. Liam kemudian menghampiri Jane dan memeluknya dari belakang sembari mencium lehernya.


Jane menghela nafasnya "sepertinya aku harus membiasakan hal seperti ini mulai besok."


"Pastinya," ucap Liam tersenyum.


"Ayo duduk dan makanlah yang banyak!" perintah Jane.


Beberapa menit kemudian mereka berdua telah selesai makan malam dan sekarang mereka sedang mencuci piring bersama. Karena mereka berdua bosan Jane kemudian mengajak Liam untuk berjalan - jalan sebentar di taman sembari menghirup udara segar. Liam langsung setuju dengan saran Jane, dan dia langsung menggandeng tangan Jane untuk pergi berjalan - jalan di taman namun Jane pergi ke atas untuk mengambil tas serta dompet miliknya dan milik Liam.


"Kenapa kota ini sangat indah seperti di film - film drama yang ditonton oleh Rosie?" tanya Liam merasa terheran.


"Entahlah."


"Aku hanya sedang malas menjawab pertanyaanmu itu."


Liam kemudian mengedarkan matanya dan melihat - lihat lingkungan sekitar "kenapa...." belum menyelesaikan ucapannya, mulut Liam langsung dibungkam oleh Jane agar dia tidak kembali bertanya.


"Sssttt, jangan banyak bertanya!"


"Kamu ini sangat menyebalkan sekali."


"Kamu yang menyebalkan."


"Aku lelah, ayo kita pulang."


"Baiklah."


Sesampainya di dalam kamar Liam kemudian tidur untuk kesekian kalinya, dia juga memeluk Jane agar dia bisa tertidur dengan tenang.


"Aku sayang sekali denganmu."


"Kenapa kamu bisa sayang kepadaku?" tanya Jane menatap mata Liam.

__ADS_1


"Karena kamu sangat sexy dan aku suka bibirmu yang rasanya seperti strawberry itu."


"Kok bisa jawabnnya terlalu jujur begini," gumam Jane.


Liam kemudian mendekatkan wajahnya dan ******* bibir Jane dengan ritme yang lembut. Jane yang awalnya merasa terkejut, lambat laun dia mulai menikmati permainan Liam. Semakin lama Liam merasakan hawanya semakin panas dan dia memutuskan untuk mengakhirinya.


Liam bernafas dengan cepat "sudah cukup untuk malam ini."


Jane lalu menarik kerah baju Liam untuk mendekat kepadanya "kamu tidak bisa seenaknya mengakhiri permainan seperti ini."


"Jadi bagaimana?" tanya Liam menelan ludahnya.


"Aku yang akan mengakhirinya."


Jane kemudian menyambar bibir Liam dan tanpa tersadar kukunya yang panjang itu menggores leher Liam yang membuat dia mendesis karena merasa perih.


"Sakit," ucap Liam sembari memegang lehernya.


"Ah maaf, aku tidak sengaja."


"It's okay."


"Mari kita tidur," ucap Jane menarik selimutnya.


"Kemarin kamu berkata akan menceritakan perasaanmu yang mengganjal kepadaku."


"Oh itu, baiklah. Bagaimana menurutmu jika saat sudah menikah nanti Pak Kang ikut dengan kita dan tetap menjadi bodyguardku?"


"Tidak masalah."


"Tetapi waktu Irene berkata jika..." Jane tidak melanjutkan ucapannya.


"Jika Pak Kang menyukaimu? benar begitu bukan?"


"Darimana kamu mengetahuinya?"


"Aku selalu memperhatikannya dan aku lihat memang ada sesuatu yang berbeda saat dia menatapmu."


"Oh begitu."


"Tidak apa - apa, wajar saja jika begitu karena kamu terlihat sangat sempurna dimata para pria."

__ADS_1


__ADS_2