Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #284


__ADS_3

Jane lalu memukul - mukul pergelangan tangan Liam, sedangkan Liam hanya tertawa saja karena pukulan Jane tidak terlalu keras sehingga dia malah merasa geli. Setelah lelah memukul pergelangan tangan Liam, Jane lalu memeluk Liam dan tertidur dengan sangat pulas. Saat tengah malam dada sampai perut Liam merasa berat serta sesak sekali dan karena hal itu dia mengira jika dia sedang ketindihan oleh makhluk halus, sehingga membuatnya tidak berani untuk membuka mata. Semakin lama dia merasakan sangat sesak sekali dan mulai kesulitan bernafas. Liam kemudian membaca doa - doa sesuai kepercayaan yang dia anut dan berharap setan tersebut pergi meninggalkannya. Karena masih saja tidak berkurang Liam lalu memberanikan diri untuk membuka matanya, dan ternyata yang membuat dadanya merasa sesak adalah istrinya sendiri yang sedang tertidur pulas di atas tubuhnya.


Liam kemudian menyingkirkan tubuh istrinya dari atas tubuhnya secara perlahan agar dia tidak terbangun. Liam kemudian kembali tertidur dengan posisi membelakangi Jane agar tidak diganggu olehnya lagi saat tengah bermimpi indah, dan keesokan harinya setelah selesai makan siang Liam langsung bergegas untuk menyelesaikan pekerjaannya agar dia bisa pulang lebih awal. Saat jam 2 siang dia langsung membereskan semua barang - barangnya dan meminta izin untuk pulang lebih awal kepada Mr Robinson. Sesampainya dirumah semua perlengkapan Liam mulai dari pakaian, sepatu, dan lain - lain sudah disediakan oleh Jane sejak Liam berangkat ke kantor. Selesai mandi Liam langsung bersiap - siap dengan dibantu oleh Jane agar penampilan suaminya rapi.


"Kamu ini mendandaniku dengan sangat rapi dan wangi malah terlihat seperti aku yang akan melamar Gita."


Jane tertawa kecil.


"Aku melakukan hal seperti ini agar kalian berdua memiliki kesan yang baik dengan ayah Gita untuk pertama kalinya. Nanti jika dilihat oleh ayahnya Gita pasti dia akan berfikir jika wah ternyata calon menantunya memiliki seorang teman yang terlihat sangat baik dan pastinya Ricko juga akan dipandang dengan sangat baik juga."


"Memangnya seperti itu juga akan berpengaruh?"


"Tentu saja berpengaruh, rata - rata para orang tua akan terlebih dahulu menilai bagaimana lingkungan pergaulannya si calon untuk menentukan bagaimana kelanjutannya. Misal dia memiliki lingkungan pergaulan yang buruk pasti si orang tua juga akan kembali berfikir - fikir terlebih dahulu untuk memutuskan bagaimana kelanjutannya, dan bisa saja dia tidak akan diterima."


"Eh kenapa begitu? misalnya dia memiliki lingkungan yang pergaulannya sangat buruk tetapi bukankah bisa saja dia tidak ikut menjadi buruk seperti teman - temannya yang lain."


Jane lalu mengancingkan kemeja Liam.


"Iya benar, tetapi terkadang pandangan orang itu berbeda dengan yang kita harapkan dan bisa saja mereka akan berfikir jika semakin lama orang tersebut juga akan bisa terpengaruh dengan lingkungannya. Jadi itulah gunanya memilih teman namun dalam artian pilihlah yang mempunyai kepribadian baik agar dia bisa menularkan kebaikan juga untuk kita, dan bukannya memilih karena dia mempunyai status sosial yang berbeda ataupun karena dia orang yang bukan dari golongan kita karena semua manusia itu sejatinya sama dimata Tuhan."


"Benar, yang membedakan hanyalah amal ibadahnya saja."


"Makanya cari teman yang mempunyai sikap serta kepribadian yang baik," ucap Jane mencubit hidung Liam.


"Semua temanku itu baik karena akulah yang menjadi pengaruh buruknya hehe."


"Jangan nakal nanti tidak punya teman kalau kamu nakal! peringat Jane.


"Iya sayang, aku janji tidak akan nakal lagi."


"Sepertinya aku mengalami deja vu karena aku juga pernah mendengar kalimat igu sebelumnya."


"Benarkah?"


"Iya, lalu setelah orang tersebut berbicara seperti itu eh keesokan harinya berulah lagi dan berjanji lagi, lalu sampai seterusnya selalu saja begitu."


"Kamu ini sedang menyindirku ya rupanya?"


Jane tertawa.

__ADS_1


"Syukurlah jika kamu langsung sadar diri."


"Hufftt menyebalkan sekali."


"Sudah sana cepat berangkat nanti takutnya kemalaman kan jadi tidak enak dengan keluarga Gita."


"Iya Jane, doakan ya mudah - mudahan semuanya lancar."


"Aminn, good luck."


Liam lalu mencium bibir Jane sekilas.


"Bye, aku pergi dulu."


"Iya hati - hati di jalan."


"Siap bu boss," ucap Liam sembari melakukan gerakan hormat.


Liam kemudian mengendarai mobilnya menuju ke rumah Ricko untuk menjemputnya, dan untung saja jalanan tidak terlalu macet saat di persimpangan dekat rumahnya jadi bisa dipastikan bahwa waktunya tidak akan banyak terbuang. Sesampainya di rumah Ricko, Liam lalu masuk ke dalam dan menyempatkan untuk bersalaman dengan mama Ricko seperti yang biasa dia lakukan sejak dulu. Setelah itu mereka berdua langsung bergegas menuju ke rumah Gita yang berada di Klaten untuk menemui orang tua Gita.


Liam dapat merasakan jika sahabat baiknya itu sedang merasa sangat gugup sekali melalui tingkah lakunya yang tidak bisa tenang. Liam juga dahulu pernah merasa seperti itu saat perjalanan dari Indonesia menuju ke Korea Selatan untuk pergi ke rumah orang tua Jane, dan sekaligus meminta izin kepada orang tua Jane untuk meminang Jane menjadi istrinya. Perjalanan mereka dari Jogja ke Klaten memakan waktu sekitar 1 jam lebih dan begitu sampai di rumah Gita, mereka berdua langsung disambut oleh Gita serta ibunya Gita.


"Bu, mereka berdua yang Gita ceritakan kemarin jika mereka berdua akan datang kemari untuk menemui ayah," jawab Gita.


"Oh begitu rupanya, mari silahkan masuk nak."


"Baik bu," ucap Liam dan Ricko dengan serempak.


Mereka berdua melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah Gita, dan Ricko lalu menyalami ibu Gita.


"Ini namanya siapa?" tanya ibu Gita.


"Saya Ricko, bu."


"Kalau ini?" tanyanya beralih menyalami Liam.


"Saya Liam temannya Ricko dan Gita, bu."


"Oh begitu, saya panggilkan ayah Gita sebentar."

__ADS_1


"Baik bu."


Tidak lama kemudian ayah Gita datang ke ruang tamu untuk menemui mereka berdua, dan setelah itu mereka berdua menyalami ayah Gita.


"Silahkan duduk, jadi apa tujuan kalian berdua jauh - jauh datang kemari?"


Liam langsung menyenggol lengan Ricko.


"Jadi saya datang kemari dengan niatan untuk melamar Gita agar menjadi istri saya, pak."


"Anda kerja dimana mas?" tanya ayah Gita tiba - tiba.


"Saya kerja di PT B sebagai direktur keuangan pak."


"Oh. Apakah anda benar - benar berniat untuk meminang putri sulung saya Gita?"


"Saya bersungguh - sungguh pak, bahkan saya sangat bersungguh - sungguh untuk menjadikan putri sulung bapak sebagai istri saja."


Ayah Gita lalu berfikir sejenak sembari mengusap kumisnya yang tebal seperti milik mas Adam.


"Hmmm baiklah jika kamu memang bersungguh - sungguh untuk meminang putri saya, maka besok saat hari Minggu kembalilah kesini bersama keluargamu sebagai pendekatan kedua belah pihak."


"Ba-baik pak, terima kasih."


"Ya, dan kalau kamu kenapa? Apa juga ingin meminang putri saya?"


Liam tersenyum.


"Tidak pak, saya hanya menemani teman saya saja kok hehe lagipula saya juga sudah mempunyai seorang istri."


"Oh sudah punya istri toh ternyata saya kira belum, karena kamu terlihat sangat muda."


"Iya pak."


"Dia masih termasuk pengantin baru yah," ucap Gita.


"Oh begitu, silahkan dinikmati hidangannya."


"Baik pak."

__ADS_1


__ADS_2