
Mereka berdua saling menatap satu sama lain sehingga nafas mereka berdua saling beradu. Jane masih merasa tidak percaya bahwa dia bisa satu ranjang dengan suaminya itu setelah kecelakaan tunggal waktu itu membuatnya terbaring koma di rumah sakit. Padahal waktu itu Jane hampir kehilangan harapannya untuk bisa bersama dengan Liam, mengingat kondisi kesehatannya yang naik turun tidak menentu ditambah kondisi Liam waktu itu juga sempat kembali kritis sempat membuatnya semakin kehilangan harapan. Namun atas kehendak Tuhan waktu itu Liam sempat seperti diberi kesempatan kedua oleh Tuhan untuk melanjutkan hidupnya bersama orang - orang terkasihnya.
Sehingga secara mengejutkan Liam bisa pulih dengan cepat dan sampai menyusulnya ke Korea Selatan hanya untuk meminta restu kepada kedua orang tua Jane agar Liam bisa menjadikan Jane sebagai istrinya. Mereka berdua tertidur lelap dan keesokan harinya Liam yang bangun lebih awal langsung bergegas untuk mandi, tetapi sebelum pergi ke kamar mandi Liam menyempatkan untuk mencium pipi Jane terlebih dahulu. Tidak lama kemudian Liam yang selesai mandi langsung menghampiri istrinya yang sedang membuatkan kopi untuknya. Liam lalu memeluk Jane dari belakang dan menempelkan rambutnya yang masih basah ke leher Jane. Tangan Liam yang jahil itu masuk ke dalam baju piyama Jane hingga membuat Jane tertawa geli.
"Hmm kebiasaan tangannya pasti travelling kemana - mana," ucap Jane sembari mengaduk kopi.
Liam tersenyum "habisnya kamu sangat lucu."
"Sssttt, ini minum dulu kopinya dan aku akan pergi mandi."
"Iya nanti," ucap Liam yang masih sibuk dengan aktivitasnya.
"Sudah lepaskan hubby! aku ingin mandi."
"Sebentar," ucap Liam yang beralih menciumi pipi serta leher Jane.
"Ihh sakit."
"Maaf," ucap Liam sembari tersenyum.
"Kenapa sekarang kamu bisa bersikap seperti ini? padahal dahulu kamu sangat anti untuk melakukan hal seperti ini kepadaku."
"Dahulu aku kan belum menjadi suamimu, sekarang aku sudah menjadi suamimu jadi bisa bebas melakukan hal seperti ini kepadamu."
"Oh, sudah lepaskan aku ingin mandi karena badanku terasa lengket sekali."
"Iya," ucap Liam melepaskan Jane dari cengkramannya.
*Muach* Jane mencium bibir Liam sekilas, lalu setelah itu dia pergi mandi.
"Hehe ternyata nikmat juga kalau sudah menikah itu. Tau begini dari dulu saja aku menikah dengannya, yah walaupun pengeluaranku jadi membengkak setelah menikah dengannya tapi tidak apa - apa yang penting dia bahagia karena aku juga akan bahagia," gumam Liam.
Liam lalu duduk di tepi ranjang sembari menyeruput kopi yang dibuatkan oleh istrinya namun tiba - tiba," hubby tolong ambilkan handuk milikku!!" teriak Jane dari kamar mandi.
"Bukannya di dalam juga ada?" tanya Liam sembari berjalan menghampiri Jane.
"Ini basah, nanti badanku bisa gatal - gatal."
"Iya deh iya, sebentar."
"Cepat!!"
Liam lalu pergi mengambil handuk baru dan langsung memberikannya kepada Jane "ini handukmu, dasar bawel."
"Hmm terima kasih," ucap Jane mengambil handuk dari tangan Liam.
"Iya sama - sama."
Liam lalu kembali menyeruput kopi sembari menunggu Jane selesai mandi. Jane keluar dari kamar mandi dengan masih memakai handuk dan mencari pakaiannya di dalam koper miliknya. Setelah dia menemukan pakaian yang pas, dia langsung berganti pakaian dan berdandan. Jane tampil dengan riasan flawless dan memakai hiasan yang tidak terlalu mencolok. Selesai berdandan Jane melihat rambut Liam yang masih sedikit kurang rapi, lalu dia menyisir rambut suaminya itu agar terlihat lebih rapi dan tampan. Setelah selesai bersiap - siap mereka berdua lalu pergi berjalan - jalan, dan tujuan mereka adalah pergi ke toko buku karena Liam merasa penasaran dengan toko buku di Paris. Jane menggandeng tangan Liam sembari melihat - lihat buku yang berada di sana.
__ADS_1
"Kamu ingin membeli buku?" tanya Jane.
"Iya, untuk oleh - oleh dari Paris."
"Oleh - oleh itu seperti makanan atau souvenir hiasan lucu, kamu membawa buku sebagai oleh - oleh."
"Ini kan souvenir untuk diriku sendiri," ucap Liam dengan matanya yang tertuju pada rak buku.
Jane menggelengkan kepalanya "ternyata suamiku ini seorang kutu buku ya?"
"Tidak juga," ucap Liam datar.
"Kamu ingin membeli buku disini memangnya bisa berbahasa Perancis?"
Liam lalu menatap Jane "tidak."
"Kalau kamu tidak berbahasa Perancis, kenapa kamu ingin membeli buku yang menggunakan bahasa Perancis?"
"Bukankah ada googlo translate?"
"Benar juga."
Liam lalu mengambil sebuah buku dengan judul bahasa Perancis dan menunjukkannya kepada Jane "aku akan membeli buku ini."
"Memangnya tau isinya apa?" tanya Jane kembali.
"Kamu ini sangat cerewet sekali."
"Sekarang aku tanya, kamu bisa bahasa Perancis?"
Jane mengangguk "bisa, tapi hanya sedikit karena baru belajar bahasanya."
"Baguslah," ucap Liam sembari menepuk - nepuk kepala Jane pelan.
"Kenapa?"
"Tidak apa - apa, aku hanya menyukai orang yang mau berusaha belajar apa yang belum dia ketahui."
"Oh."
"Kamu tidak ingin membeli buku?"
"Mmm tidak hubby."
"Baiklah."
"Eh kamu tidak memaksaku seperti mengatakan, ayo beli buku ini agar kamu lebih cepat fasih dalam berbahasa Perancis. Kamu tidak seperti itu?"
Liam menggeleng "tidak, aku tidak pernah memaksa orang seperti yang kamu fikirkan itu. Bukankah semua orang memiliki kesadaran atas tanggung jawabnya masing - masing? seperti seseorang yang mengerjakan tugas sekolah tanpa disuruh karena dia sadar memang itu tanggung jawabnya sebagai pelajar."
__ADS_1
"Benar juga."
"Setelah ini aku akan membawamu ke tempat yang pasti kamu sukai."
"Kemana?"
"Rahasia."
Liam kemudian kembali berkeliling mencari buku di rak sebelah sembari membaca beberapa sinopsis buku dari sampul belakang buku, sedangkan Jane justru malah sibuk memotret Liam yang sedang fokus mencari dan membaca buku. Liam sebenarnya fasih beberapa bahasa karena otaknya yang jenius, sehingga dia bisa mempelajari sesuatu hal dengan mudahnya maka tak heran jika dia sering dijuluki sebagai seorang pria yang multitalenta. Setelah ke toko buku Liam lalu mengajak Jane ke sebuah tempat yang dia sukai, yaitu sebuah boutique dengan merk ternama favorite Jane.
"Ini dia tempat yang kamu sukai."
"Boutique?"
"Yups benar, bukankah kamu sangat menyukai berbelanja?"
"Iya sih."
"Ya sudah ayo masuk," ucap Liam sembari menarik tangan Jane.
"Apa aku boleh membeli sesuatu yang aku suka?" tanya Jane ragu - ragu.
Liam tersenyum "tentu saja babe, kamu boleh membeli apapun yang kamu suka dan berapapun harganya yang kamu beli aku tidak masalah."
"Terima kasih," ucap Jane tersenyum sumringah.
"Iya sama - sama, sana pilihlah yang kamu suka dan aku akan menunggunya di sofa itu."
Jane mengangguk "okay."
"Mari nyonya saya temani," ucap karyawan boutique.
"Baik."
Karyawan itu lalu mengambilkan sebuah tas dari dalam rak "tas ini keluaran terbaru dari merk kami, dan ini sangat cocok untuk anda."
"Iya benar sangat bagus, baiklah aku akan mengambilnya."
"Baik nyonya."
Jane lalu kembali melihat - lihat beberapa koleksi baju, dan sekitar 1 jam kemudian Liam memghampiri Jane "sudah?"
Jane mengangguk "sudah."
"Baiklah sebentar." Liam lalu membayar semua belanjaan Jane dan kembali menghampirinya.
"Hubby maaf aku belanja terlalu banyak."
"Tidak masalah, ayo pulang."
__ADS_1
"Okay."