
Jane masih saja bersikukuh untuk tidak memakan hidangan yang telah disiapkan oleh Liam sebagai bentuk protes karena Liam meninggalkan telah mengulangi perbuatannya, yaitu pergi meeting di saat weekend. Jane tidak suka jika Liam pergi seperti itu apalagi tanpa berpamitan terlebih dahulu kepadanya. Padahal Liam bisa memyempatkan waktu untuk berpamitan kepadanya namun mengapa dia tidak melakukannya, hal tersebut membuat Jane merasa tidak senang karena Jane merasa seperti tidak dihargai. Berulang kali Liam membujuk istrinya itu agar dia mau makan serta menyuapinya, akan tetapi Jane selalu menolaknya dan malah memilih pergi ke kolam renang untuk berenang. Liam hanya bisa bersabar menghadapi sifat istrinya yang sedikit kekanakan itu sembari menatap sepiring nasi dan beberapa lauk kesukaannya. Pandangan Liam teralihkan saat melihat jika istrinya itu hanya melamun di tepi kolam renang sembari merendam kakinya ke dalam kolam renang. Liam bertanya - tanya mengapa istrinya itu tidak langsung menceburkan dirinya ke air seperti biasanya dan malah melamun di tepi kolam renang. Liam lalu melangkah mendekati Jane dan duduk disampingnya.
Jane hanya menatap wajah Liam sekilas tanpa sepatah kata apapun, dan setelah itu dia kembali melihat sekeliling sembari bermain air dengan kakinya. Liam mulai membuka pembicaraan dengan Jane dan berharap bahwa kemarahan istrinya itu akan mereda namun ternyata gagal, Jane hanya diam saja tidak menanggapi setiap ucapan Liam. Liam terus mencoba mengajak Jane untuk berbicara namun alih - alih kemarahannya mereda, justru Jane semakin marah kepada Liam karena Jane menyebut bahwa Liam itu pria yang sangat cerewet serta posesif. Karena alasan itulah Jane menjadi tidak suka berenang di kolam renangnya sendiri karena merasa bosan mendengar ucapan Liam yang panjang kali lebar itu. Jane merasa terusik dengan adanya Liam, sehingga dia pindah ke rooftop untuk berendam di jacuzzi saja. Sesampainya di rooftop rumahnya, Jane langsung mengunci pintu dan melepas semua pakaiannya hingga hanya menyisakan pakaian dalamnya saja. Liam menghela nafasnya kasar, lalu dia pergi menghampiri Jane dengan berbekal camilan serta kunci cadangan untuk membuka pintu tersebut.
"Punten paket," ucap Liam sembari meletakkan camilan di meja.
"Berapa kali aku sudah bilang, jangan mengikutiku!!" teriak Jane.
"Aku tidak mengikutimu, aku hanya sedang ingin bersantai di rooftop rumahku saja kok."
"Cari tempat lain saja sana, aku sedang tidak ingin diganggu!"
Liam tidak menggubris ucapan Jane, dan langsung melepas semua pakaiannya.
"Ehem," ucap Liam mengangguk.
"Kamu ingin apa? jangan coba - coba untuk masuk ke dalam jacuzzi ini!!"
"Kenapa memangnya?"
"Ini area ku, pergi saja sana!!! aku malas melihat wajahmu."
"Ini juga milikku, jadi aku berhak untuk menggunakannya juga."
"Tidak bolehh!!"
Liam mulai menceburkan dirinya ke dalam air.
"Pergii!!"
"Ah sangat nyaman sekali."
"Ya sudah kalau begitu biar aku saja yang pergi, dasar keras kepala!" gerutu Jane sembari berdiri dan hendak meninggalkan Liam, tetapi tiba - tiba tangannya ditarik oleh Liam dan langsung mendekapnya.
"Ssstt sudah disini saja, jangan pergi kemana - mana."
"Malas."
"Jangan marah - marah seperti itu nanti cantiknya hilang," ucapnya membujuk Jane.
"Bodo amat, terserah aku ingin bagaimana."
"Kok begitu jawabannya?"
"Iya sama sepertimu, kamu selalu datang dan pergi sesukamu jadi akupun juga akan melakukan hal seperti itu."
"Tadi pagi aku ada meeting dadakan jadi aku lupa untuk berpamitan kepadamu, dan sesampainya di restaurant aku memutuskan untuk mengirimimu pesan agar kamu tidak mencariku saat bangun."
"Siapa juga yang mencarimu dasar kepedean, mulai sekarang terserah sih kamu ingin bagaimana karena aku tidak akan lagi mencarimu."
"Kalau nanti tiba - tiba aku diculik oleh janda sebelah bagaimana?"
__ADS_1
"Bodo amat, aku juga sudah malas mengurusmu."
"Eh kok begitu sekarang?" tanya Liam sembari mengusap rambut Jane yang basah.
"Ihh jangan menyentuhku!!" teriak Jane sembari memukul Liam.
"Jangan begitu, aku sakit sayang kalau dipukul seperti itu olehmu."
"Biarin, agar kamu mau pergi."
"Eh daritadi kamu belum makan lho, ayo makan dulu."
"Tidak mau!!"
"Aku suapi, bagaimana?"
Jane menggelengkan kepalanya.
"Nope."
"Kalau begitu kamu sedang ingin makan apa?"
"Tidak mau makan."
"Jika kamu tidak mau makan nanti sakit."
"Biarin."
"Jangan menyentuhku!!"
Setelah mendengar larangan dari Jane tersebut, Liam justru semakin berulah dengan mendekap tubuh mungil Jane serta menciumi lehernya. Jane malah tertawa karena merasa geli hingga membuat Liam semakin menjadi - jadi. Liam semakin ganas menyerang Jane tanpa ampun.
"Sudah cukup, aku merasa geli hubby."
"Jangan marah lagi, ayo makan dulu."
"Tidak mau, aku sedang tidak ingin makan."
"Nanti kamu sakit jika tidak makan, sedikit saja."
Jane menggelengkan kepalanya, dan Liam langsung menggendongnya naik keluar dari air. Setelah itu dia mendudukkan Jane di sofa namun Jane masih saja terus memeluknya dan tidak ingin lepas dari pelukannya. Liam lalu meraih pool towel yang berada di sampingnya untuk menyelimuti tubuh mereka berdua agar tidak merasa kedinginan saat terkena angin. Hari ini kesabaran Liam lumayan diuji karena tingkah Jane yang sangat kekanakan itu, walaupun begitu Liam tetap menyayangi Jane karena dia sudah berjanji kepada appa Jane untuk selalu melindunginya serta menyayanginya. Sejujurnya Jane tidak melarang Liam untuk bekerja, tetapi hanya saja saat weekend Jane lebih menginginkan agar Liam bisa menghabiskan waktu untuknya saja. Saat makan malam Liam memasakkan hidangan special untuk Jane agar istrinya itu mau makan.
"Hubby sedang masak apa?" tanya Jane saat mendekati Liam.
"Aku sedang memasak tumis cumi asin."
Jane lalu melihat ke arah masakan yang masih berada di teflon dan mencium baunya.
"Kelihatannya sangat lezat, aku menjadi tidak sabar untuk memakannya."
"Tunggu sebentar lagi ya."
__ADS_1
"Iya hubby."
................
"Makanan sudah siap, jadi makanlah yang banyak."
"Okay hubby."
Liam lalu mencium pipi Jane dan setelah itu menuangkan masakannya ke dalam piring Jane.
"Terima kasih hubby."
"Sama - sama sayang, makan yang banyak ya."
"Iya. Mmm hubby, setelah ini aku ingin pergi jalan - jalan denganmu."
"Jalan - jalan kemana?"
"Berkeliling kota naik motor."
"Boleh, nanti sekalian beli ice cream mau?"
"Mau."
"Nah sekarang makan dulu, lalu setelah itu kita pergi jalan - jalan."
"Okay."
................
Setelah makan malam mereka berdua lalu bersiap - siap untuk pergi berjalan - jalan dengan menaiki motor vespa yang belum lama ini dibeli oleh Jane untuk suami tercintanya. Saat melewati kedai ice cream, Liam langsung memberhentikan motornya di depan kedai ice cream dan langsung mengajak Jane untuk membelinya.
"Ice cream ini sangat lezat, darimana kamu mengetahui tempat ini?" tanya Jane saat mencicipi ice cream itu.
"Kebetulan orang - orang kantor sering membicarakannya, jadi aku berniat untuk membawamu kemari karena aku tahu bahwa istriku ini sangat menyukai ice cream."
"Oh begitu rupanya."
"Iya."
"Kamu sedang apa?" tanya Jane penasaran.
Liam langsung menunjukkan layar handphone miliknya.
"Memotretmu."
"Kenapa?"
"Karena tadi kamu sangat menggemaskan."
"Oh begitu," ucap Jane tersipu malu.
__ADS_1
Hai Readers kesayanganku (ehem klo misalnya punya readers hehe) saya ingin mencoba update setiap hari dan sehari 2 episode untuk bulan Desember ini sebagai perayaan 2 tahun saya berkarya disini, menurut kalian bagaimana? kalau misalnya keberatan juga tidak apa - apa hehe.