
Mr Robinson kemudian memeluk putranya itu dengan sangat erat serta merasa bangga kepadanya karena telah menjadi seorang pria yang seperti diinginkan olehnya. Seorang pria pekerja keras, penyayang, dan juga seorang pria yang bertanggung jawab kepada keluarganya. Tidak sia - sia perjuangan Mr Robinson mengesampingkan perasaannya untuk mengajari Liam dengan menggunakan cara kekerasan agar Liam kelak menjadi seseorang yang berguna, karena dahulu Liam terkenal sebagai seseorang yang troublemaker dan sering berbuat ulah dimana saja. Sekarang terbukti bahwa putranya itu sudah mulai berubah menjadi lebih baik berkat perjuangannya selama ini.
Tidak terasa sebentar lagi dia akan memiliki seorang cucu dari putranya tersebut, dan dia berharap agar putranya tersebut dapat menjadi seorang ayah yang baik bahkan lebih baik dari dirinya sendiri. Setelah menyampaikan pesan nasehat kepada putranya tersebut Mr Robinson kemudian kembali ke ruangannya dengan mata yang berkaca - kaca. Beberapa jam kemudian saat jam makan siang, Liam pergi makan siang bersama Yunna di sebuah warung makan terdekat. Sering sekali Liam pergi makan siang bersama sekretarisnya di luar untuk mencicipi berbagai macam jenis makanan yang belum pernah mereka coba, dan terkadang mereka berdua juga pergi berwisata kuliner saat jam kantor tidak terlalu sibuk alias saat senggang.
Walaupun begitu Liam telah meminta izin terlebih dahulu kepada Jane dan setelah diizinkan, Liam langsung mengajak Yunna pergi. Biasanya mereka berdua makan siang sembari berbincang mengenai banyak hal dan sangat jarang sekali membicarakan mengenai pekerjaan. Sekarang Liam lebih banyak bercerita kepada Yunna mengenai perkembangan kehamilan Jane. Terlihat dari raut wajah Liam yang terlihat sangat senang sekaligus merasa sangat antusias saat menceritakan mengenai Jane yang sedang mengandung. Yunna merasa sangat bersyukur sekali jika Liam bisa bahagia bersama dengan Jane.
"Jane masih merasa mual - mual saat tengah mengandung?" tanya Yunna sembari menyantap makanannya.
"Terkadang iya dan terkadang tidak. Aku perhatikan sekarang dia sensitif sekali dengan bau, jadi bibi sering sekali mengosongkan tempat sampah walaupun belum terlalu penuh dan juga sekarang aku menjadi lebih rajin mandi."
"Oh begitu rupanya, kalau kondisi janinnya sekarang bagaimana?"
"Semuanya baik, dan sekarang perut Jane semakin membesar."
"Syukurlah jika seperti itu."
"Iya aku juga bersyukur jika semuanya baik, dan aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anakku."
Yunna tersenyum.
"Iya Li."
"Mmm bagaimana dengan adikmu?" tanya Liam secara tiba - tiba.
"Oh katanya waktu itu dia sering bertemu dengan adikmu di sekitar area kampus, akan tetapi dia hanya sekedar mengenalnya dari namanya saja dan tidak mengenal secara personal."
"Oh begitu, mungkin karena jurusannya berbeda jadi mereka tidak saling mengenal satu sama lain."
"Benar, dan adikku hanya mengetahui nama Rosie dari temannya saja."
"Oh."
"Pasti sekarang kamu tidak bisa bekerja lembur karena Jane sedang mengandung bukan?"
"Bukan tidak bisa sih namun lebih tepatnya tidak ingin bekerja lembur karena aku ingin cepat - cepat pulang untuk bertemu dengan Jane, dan aku juga ingin berbincang dengan calon anakku."
"Berbincang dengan calon anakmu?" tanya Yunna merasa bingung.
"Iya, aku sering berbincang dengannya serta bercerita banyak hal dengannya. Aku tahu jika dia tidak akan meresponku sama sekali namun aku mengetahui sesuatu hal bahwa anakku bisa mendengar semua yang aku katakan kepadanya."
__ADS_1
"Benar juga sih, terdengar aneh namun nyata."
"Iyupss."
Setelah itu mereka berdua kembali ke kantor, dan saat jam menunjukkan pukul 4 sore Liam langsung membereskan barang - barangnya karena dia ingin bergegas untuk pulang bertemu dengan istrinya. Saat di tengah perjalanan pulang Liam menyempatkan dirinya untuk mampir sebentar di sebuah toko bunga. Liam membelikan Jane bunga kesukaannya, yaitu bunga daisy. Tidak lupa Liam juga mampir ke mini market dan juga ke warung soto karena Jane menginginkan soto daging sapi. Sesampainya di rumah Liam langsung berlari menghampiri Jane dan memeluknya. Liam lalu memberikan se bouquet bunga daisy, beberapa camilan, dan juga seporsi soto yang seperti diinginkan oleh Jane kemarin.
"Kamu membelikan semua ini untukku?" tanya Jane dengan tersenyum manis memperlihatkan gummy smilenya.
"Tentu saja sayang, mana mungkin aku membelikan ini semua untuk orang lain."
"Siapa tahu begitu."
"Tidak, aku membelikan semua ini hanya untuk istriku yang paling cantik dan menggemaskan sedunia hahaha."
Jane memukul pelan pergelangan tangan Liam.
"Ihh kamu ini."
"Tidak apa - apa sesekali aku ingin membahagiakan istriku yang sedang mengandung anakku."
"Kamu ingin minum teh?"
"Okay hubby."
Tidak lama kemudian Liam telah selesai mandi, dan sekarang dia menemui Jane yang sedang menyusun bunga daisy pemberian Liam ke dalam vas bunga yang telah diisi oleh air.
"Wah bunganya semakin cantik setelah kamu susun di vas bunga," ucap Liam memuji Jane.
Mendengar pujian dari Liam, Jane langsung memperlihatkan senyum manisnya.
"Iya hubby, kalau bunganya semakin cantik kan lebih enak dipandang bukan?"
"Tentu saja, dan membuat ruang tamu ini juga kelihatan semakin cantik."
"Benar."
"Eh kenapa kamu membaginya menjadi dua?" tanya Liam penasaran.
"Aku ingin meletakannya di meja ruang tamu serta di meja rias yang berada di kamar kita."
__ADS_1
"Oh begitu rupanya."
"Iya."
"Tadi kamu makan siang dimana saat bersama dengan Yunna?" tanya Jane sembari menyusun bunga - bunga itu di dalam vas.
"Aku hanya makan siang di cafe dekat kantor karena baru buka seminggu yang lalu."
"Semua menunya terlihat sangat lezat tidak?"
"Iya, menunya sangat lezat dan kamu pasti sangat menyukainya."
"Kalau begitu kapan - kapan kamu harus membawaku kesana untuk mencicipinya, bagaimana?"
"Boleh, besok kita akan pergi saat malam."
"Okay. Eh tehnya diminum dulu nanti keburu dingin hubby."
"Eh iya aku sampai lupa jika kamu sudah membuatkan aku teh hangat dari tadi."
"Dasar pelupa."
Liam kemudian memeluk Jane dari samping hingga membuat aktivitasnya seketika berhenti. Liam mengusap perut buncit Jane sembari menciumi lehernya. Tidak lama kemudian Rosie datang ke rumah Liam dan langsung menuju ke dapur untuk mengambil camilan di kulkas. Liam dan Jane hanya menatapnya sebentar dan kembali melanjutkan aktivitasnya masing - masing. Mereka berdua memang membiarkan Rosie bersikap seperti itu karena mereka sudah sangat menyayangi Rosie, sehingga Rosie menganggap rumah Liam adalah rumah keduanya.
"Wah eonni, di dalam kulkasmu terdapat banyak sekali makanan serta minuman."
"Ambillah sesukamu jika kamu menginginkannya Rosie," jawab Jane.
"Okay eonni."
"Hei tetapi jangan menghabiskannya karena aku membeli itu semua untuk Jane."
"Tidak apa - apa hubby," ucap Jane sembari mengusap rambut Liam.
Rosie lalu menghampiri Jane sembari mengunyah makanannya.
"Wah eonni perutmu semakin membesar saja, apakah kamu akan mempunyai anak kembar?"
"Tidak Rosie, aku hanya mengandung satu anak saja."
__ADS_1
"Oh begitu."