
Jane langsung menelan ludahnya setelah mendengar semua yang diceritakan oleh Liam, dan dia masih merasa sedikit tidak percaya bahwa Liam bukanlah orang yang seperti dugaannya selama ini. Mereka berdua lalu kembali menikmati mie instan yang sudah mulai sedikit dingin karena terkena udara dingin. Sedari tadi diluar terus menerus hujan hingga membuat udara menjadi semakin dingin, dan udara bertambah dingin saat malam sudah mulai semakin larut. Begitu mereka berdua selesai makan mie instan, Liam lalu mencuci semua peralatan makan yang tadi dia pakai dan dia tidak mengizinkan Jane untuk membantunya karena dia tidak ingin Jane kedinginan.
Jadi Jane hanya duduk sembari mengamati Liam yang sedang sibuk mencuci piring. Jane kemudian membuat dua gelas teh hangat untuknya dan juga untuk Liam. Mungkin setelah ini mereka berdua bisa deeptalk sembari meminum teh hangat bersama, karena mereka berdua jarang sekali melakukan hal seperti ini akibat terlalu sibuk dengan urusannya masing - masing. Setelah Liam selesai mencuci piring, Jane lalu mengajak Liam untuk duduk sebentar di mini bar dan di meja itu sudah tersaji dua gelas teh hangat buatannya tadi.
Mereka berdua mulai mengatakan apa saja yang selama ini mereka pendam masing - masing mengenai keadaan rumah tangganya, dan itu semua dengan harapan agar mereka berdua bisa mengintropeksi dirinya masing - masing agar rumah tangganya semakin baik. Malam semakin larut dan mereka berdua terus mengatakan beberapa hal saran agar keduanya menjadi pribadi yang lebih baik serta orang tua yang baik untuk baby Ace. Beberapa menit kemudian mereka berdua menyudahi perbincangan tersebut dan mereka berdua langsung pergi ke kamar.
Setelah itu Liam menidurkan baby Ace ke kamarnya, dan kemudian dia langsung tidur di samping Jane. Setelah perbincangan tadi mereka merasa bahwa perasaannya menjadi semakin baik, apalagi untuk Liam yang selama ini merasa kurang sreg dengan tingkah Jane selama menjadi istrinya. Liam menjadi merasa lebih lega setelah mengatakan semua hal itu, apalagi setelah melihat bahwa Jane mau menerima sarannya serta meminta maaf atas sikapnya selama ini. Tadi Liam juga meminta maaf kepada Jane bahwa dia belum bisa menjadi suami yang baik untuknya dan dia berjanji akan berusaha menjadi lebih baik lagi.
*1 Minggu kemudian.*
"Ayo Jane, nanti kita keburu telat untuk bertemu dokter anak."
"Iya sayang, sabar aku sedang bersiap - siap."
"Hmm baiklah," ucap Liam sembari menggendong baby Ace.
"Ayo hubby."
"Okay."
Mereka berdua pergi menuju ke rumah sakit untuk konsultasi kepada dokter mengenai perkembangan baby Ace serta ada jadwal imunisasi.
"Hmm mengapa baunya serta aura rumah sakit sangat tidak enak ya?" tanya Liam tiba - tiba.
"Namanya juga rumah sakit."
"Sejujurnya aku sangat tidak suka pergi ke rumah sakit, dan kalau bukan saja karena ingin mengantar baby Ace untuk imunisasi pasti aku lebih memilih untuk kabur."
"Kenapa begitu?"
"Aku sangat takut pergi ke rumah sakit apalagi takut disuntik."
"Aku jadi ingat saat dahulu kita menjalani pemeriksaan kesehatan serta vaksin sebelum menikah, dasar sukanya membuat seisi rumah sakit menjadi heboh saja hahaha."
"Ssttt diamlah dan jangan mengingat - ingat apalagi menceritakannya kepada orang lain mengenai kejadian itu."
"Kenapa begitu?"
"Aku malu jika dicap sebagai pecundang, apalagi mengingat bahwa aku ini ketua geng motor."
"Aku akan langsung membuat pernyataan di instamili, bahwa seorang Liam yang memiliki badan kekar seperti seorang gladiator dan juga seorang ketua geng motor ternyata takut oleh jarum suntik."
__ADS_1
"Hei awas saja jika kamu berani membuat pernyataan seperti itu di instamili, aku akan langsung menghukummu!!"
"Masa bodoh hahaha."
"Jane jangan seperti itu, aku malu jika anak - anak tahu mengenai hal seperti itu."
"Okay, asalkan kamu harus mau menuruti syaratku."
"Baiklah, apa itu?"
"Kamu harus membelikan aku beberapa tas terbaru."
"Okay, aku akan memenuhi syarat tersebut asalkan kamu tidak membocorkan rahasia itu."
"Hmm baiklah."
Tidak lama kemudian giliran mereka berdua yang masuk ke dalam ruangan dokter anak.
"Mari kita lakukan sekarang," ucap dokter itu.
"Biar daddynya saja yang memegang baby Ace," ucap Jane sembari tersenyum licik.
"H-hei bagaimana bisa begitu, bukankah harusnya bersama ibunya ya dok?"
Liam menghela nafasnya kasar.
"Oh begitu, baiklah."
"Hahaha mampus kau Liam," gumam Jane.
"Apa ini tidak terlalu menyakitkan dok?" tanya Liam memastikan.
"Tidak pak, daripada anak anda nanti terkena penyakit. Lebih baik sakit sementara daripada sakit yang berkepanjangan."
"Benar juga, baiklah."
"Saya mulai ya."
Sebelum Liam berteriak hingga membuat seisi rumah sakit dibuat heboh olehnya seperti waktu itu, Jane langsung menutup mulut Liam serta terus membuka matanya secara terpaksa.
"Hmmpp hmmpp."
__ADS_1
"Ck sudah diam, jangan buat aku malu, padahal yang disuntik itu baby Ace dan bukannya kamu."
*Oek oek.*
Jane langsung menggendong baby Ace begitu selesai diimunisasi.
"Cup cup cup sudah ya sayang, kan sudah selesai."
Dokter dan suster itu hanya tersenyum melihat tingkah sepasang suami istri yang sangat konyol itu, apalagi bapaknya yang memiliki badan besar dan kekar seperti tukang pukul namun ternyata dia takut dengan jarum suntik. Setelah itu mereka berdua mendengarkan mengenai perkembangan baby Ace setelah diperiksa dan beberapa saran sekaligus nasehat dalam mengurus seorang anak seusianya. 45 menit kemudian mereka berdua telah keluar dari ruangan tersebut dan langsung pergi untuk mencari makan siang diluar. 1 jam kemudian setelah Liam mengatarkan anak dan istrinya pulang, dia lalu pergi ke cafe untuk berkumpul bersama teman - temannya karena kebetulan pada hari itu adalah tanggal merah.
"Habis darimana Li? kelihatannya sangat pucat sekali," ucap Chicko.
"Mungkin dia habis dimarahi oleh istrinya karena kebanyakan main daripada mengurus anak hahaha," jawab Dio.
Josh lalu menepuk bahu Liam.
"Dia habis mengantar baby Ace ke dokter untuk imunisasi serta konsultasi ke dokter."
Mereka bertiga lalu tertawa menertawakan Liam.
"Hahaha pantas saja dia seperti itu," ucap Ricko yang masih tertawa.
"Memangnya kenapa? apa kalian mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui?"
"Liam ini kan sangat anti dengan rumah sakit apalagi dengan jarum suntik," jawab Chicko.
"Diamlah bodoh, jangan sampai semuanya tahu."
"Liam ini meskipun postur badannya seperti tukang pukul namun dia sangat takut dengan jarum suntik," ucap Ricko menjelaskan.
"Anti rumah sakit namun sering sekali langganan rumah sakit," ucap Dio mengejek Liam.
Josh tertawa.
"Hahaha sudahlah jangan begitu, ini minum dulu atau mau aku berikan lewat jarum suntik?"
"Ah kalian ini sangat suka sekali mengejekku," ucap Liam kesal.
"Iya maaf Li, habisnya kita semua terheran mengapa kamu bisa sebegitu takutnya dengan jarum suntik."
"Benar tuh," ucap beberapa temannya yang lain.
__ADS_1
"Sudahlah jangan dibahas, malas aku."