
Jane kemudian mengganti saluran televisinya dan setelah itu dia kembali memakan martabak tadi yang dibawakan oleh Liam. Jane menonton acara televisi kesukaannya sembari duduk di pangkuan Liam dan memakan martabak, sedangkan Liam hanya diam memperhatikan Jane yang sedang asik menonton acara kesukaannya. Liam kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jane dan ikut melihat acara televisi tersebut. Mereka berdua sangat menikmati waktu bersama sebelum Liam pergi ke New York. Jane merasa sangat nyaman di perlakukan seperti itu, dan selalu di manja oleh Liam.
Jane berfikir jika ternyata Liam bukan tipe pria yang seperti di fikirannya dulu, mengingat saat pertemuannya dulu waktu pertama kali dengan Liam. Mereka berdua selalu ribut, tapi sekarang mereka berdua berteman baik bahkan Liam memperlakukannya dengan penuh kasih sayang walaupun terkadang Liam sering mengajaknya ribut dan mengejeknya. Jane tidak pernah mengira jika Liam adalah pria yang menyenangkan, dan penuh perhatian karena dahulu sifatnya sangat dingin dan cuek. Liam berbeda dengan Kyle walaupun sama - sama perhatian, tetapi perhatian yang ditujukan untuk Jane sangat berbeda antara Liam dan Kyle. Menurut Jane, Liam pria yang penuh cinta kasih di setiap tatapannya, sedangkan kepala Kyle selalu berfikir hal - hal erotis saja.
Kyle tidak pernah menunjukkannya atau memintanya secara langsung kepada Jane, tetapi Jane sudah mengetahuinya dari bagaimana cara dia menatapnya dulu dan beberapa perilaku yang ditunjukkannya secara tidak langsung. Sekarang memikirkannya saja sudah sangat jijik apalagi mengingat setiap perilaku Kyle kepadanya, kira - kira seperti itu yang saat ini ada di fikiran Jane. Melihat Jane yang sedang melamun, kemudian Liam menatapnya sembari menyelipkan rambut Jane di telinganya hingga membuat Jane tersadar dari lamunannya dan jantungnya tiba - tiba berdetak dengan sangat kencang. Jane kemudian menatap Liam.
"Sedang memikirkan apa?" tanya Liam masih menatap Jane.
"Tidak ada."
"Lalu kenapa melamun?"
Jane menggelengkan kepalanya "tidak apa - apa, hanya tiba - tiba melamun saja."
"Aneh sekali."
"Apa kamu tidak berfikiran aneh selama kita berduaan seperti ini?" tanya Jane secara tiba - tiba.
Liam merasa bingung dengan pertanyaan itu "berfikir aneh bagaimana?"
"Sekarang coba tatap mata aku!" pinta Jane.
Liam semakin kebingungan "kamu kenapa sih? aneh sekali."
"Cepat lakukan saja perintahku!"
"Baiklah aku akan melakukannya." Liam lalu menatap Jane seperti yang diminta olehnya.
Jane kemudian mengamati tatapan Liam "sudah cukup."
"Kamu ini aneh sekali, tiba - tiba memintaku untuk menatapmu."
"Apa sekarang yang berada di fikiranmu saat ini?" tanya Jane kembali.
"Kamu ini apa - apaan sih, apa sekarang kamu membuka praktik menjadi psikiater?" protes Liam.
"Sudah, jawab saja pertanyaanku itu."
__ADS_1
"Baiklah. Aku sedang memikirkan kamu, New York, skateboard, vidio game, dan pekerjaanku itu saja."
"Kamu tidak bohong, atau kamu tidak memikirkan hal lain selain itu?"
"Tidak, memangnya kenapa?"
"Kamu tidak memikirkan hal - hal erotis kan?"
Liam merasa terkejut "hah, kenapa aku harus memikirkan seperti itu? bahkan hal - hal seperti itu tidak pernah berada di fikiranku."
"Ya siapa tau kamu berfikir seperti itu apalagi mengingat kita sedang berduaan di sini, atau jangan - jangan kamu?"
Liam merasa kesal "mana mungkin aku seperti itu, aku ini masih pria yang normal dan aku tidak memikirkan hal seperti itu karena aku ingin menjaga kamu saja. Aku ini juga memikirkan bagaimana perasaan keluargamu dan keluargaku ketika misalnya aku merusakmu, jika hal itu terjadi pasti Josh merasa sangat terluka karena dia akan menganggap jika dia telah gagal menjadi kakak untuk melindungimu."
"Bagaimana jika dua - duanya yang menginginkan hal seperti itu?"
"Harusnya bisa berfikir dong, biar bagaimanapun pihak wanita yang akan selalu dirugikan. Sudahlah aku pulang, semakin malam kamu semakin aneh - aneh," ucapnya merasa kesal.
Jane kemudian menahan Liam "nanti saja pulangnya, temani aku dulu."
"Tidak."
"Aku bilang tidak, ya tidak."
Jane lalu mengeluarkan senjatanya dan dia berpura - pura menangis, biasalah Jane kalau tidak dituruti permintaannya pasti akan menangis seperti anak kecil. Liam lalu mengehela nafasnya dengan kasar dan akhirnya tidak jadi pulang ke rumah. Liam kemudian menyeka air mata Jane dan kembali melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jane. Kemudian mereka berdua kembali menonton acara televisi kesukaan Jane. Liam meminta untuk menghidupkan subtitle acara tersebut karena berbicara menggunakan bahasa Korea dan Liam tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Jane menuruti permintaan Liam dan langsung mengambil remote yang berada di atas meja untuk menghidupkan subtitle. Akhirnya Liam mengerti apa yang sedang mereka bicarakan karena sejak tadi otak Liam berfikir keras untuk mengerti.
Jane hanya menertawakan Liam di dalam hati yang terlihat kebingungan karena tidak bisa mengerti bahasa Korea. Semakin malam Jane menjadi mengantuk, dia lalu menyandarkan kepalanya di dada Liam dan mulai tertidur. Liam yang menyadari jika Jane mulai tertidur lalu menatap wajahnya yang sudah tertidur dengan sangat pulas, dia menggendong Jane dengan sangat hati - hati agar Jane tidak terbangun dan menidurkannya di atas ranjang miliknya. Setelah itu Liam menyelimuti Jane dan membereskan sampahnya yang berada di atas meja beserta gelas yang dia pakai untuk di bawa turun. Liam membuang sampahnya di tempat sampah dapur dan mencuci gelasnya tadi. Setelah itu Liam keluar rumah dan berpamitan kepada pak Kang.
Liam mengambil kunci motornya di pos satpam "pak Kang saya pulang dulu ya?"
"Iya tuan muda, hati - hati di jalan."
"Oh iya pak nitip Jane, dia tadi sudah tertidur di kamarnya."
"Baik."
"Jangan lupa pintunya di kunci semua, karena dia hanya sendirian di dalam rumahnya."
"Pasti tuan muda, setelah ini saya kunci semua pintunya dan saya periksa di sekitar rumah ini agar lebih aman."
__ADS_1
"Baguslah, saya permisi."
"Baik tuan muda." Pak Kang lalu membukakan pintu gerbang untuk Liam, sedangkan Liam memakai helm nya dan bersiap untuk pulang.
Liam kemudian mengendarai motornya menuju rumahnya. Setelah Liam pergi, pak Kang lalu menutup gerbang dan menguncinya agar aman. Satpam tadi lalu bertanya kepada pak Kang "itu tadi kerabatnya Mr Kim?"
"Iya, karena dia putra dari sahabatnya Mr Kim dan calon menantunya keluarga Kim."
"Maksudnya calon menantu itu, pacarnya nona Jane?"
"Bukan pacar, tapi mereka berdua di jodohkan sebelumnya dan sekarang sepertinya sedang menjadi sahabat."
Pak satpam itu mengangguk paham "oh begitu, dia anaknya siapa?"
"Tau Mr Robinson?"
"Tau, yang orang terkaya nomor 1 se Asia bukan, yang asalnya dari Australia tapi menikah dengan wanita Indonesia?"
"Iya, itu putra sulungnya."
Pak satpam itu merasa terkejut mendengar ucapan pak Kang, sampai menumpahkan kopi yang dia minum "apa, jadi dia pewaris utama keluarga Robinson?"
"Iya," ucap pak Kang singkat.
"Aku tidak menyangkanya jika tadi yang aku seret secara paksa adalah anaknya Mr Robinson, pantas saja sudah tercium aroma uang di badannya. Tapi anehnya kenapa Mr Robinson menjadi orang terkaya nomor 1 se Asia, padahal beliau dari Australia?"
"Aku juga tidak tau, mungkin Mr Robinson sudah menjadi warga negara Indonesia tapi aku tidak tau bagaimana sebenarnya. Kalau sampai Mr Kim tau jika kamu menyeret calon menantunya secara paksa, pasti Mr Kim akan sangat marah kepadamu."
"Aku kan tidak tau jika dia anaknya Mr Robibson, habisnya dia sangat nakal sekali."
Pak Kang tertawa "sudahlah lebih baik kamu berkeliling sekitar rumah dan mengunci pintu utama, ini kuncinya." Perintah Pak Kang sembari memberikan kunci rumah.
"Siap pak bos, aku bersihkan tumpahan kopi ini terlebih dahulu."
"Baiklah, aku akan berjaga di sini kalau ada apa - apa hubungi aku."
"Baik."
Notes: Jangan kupa like episode ini ya, terima kasih
__ADS_1