Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #174


__ADS_3

Saat pukul 2 dini hari Liam terbangun dari tidurnya karena mengalami mimpi buruk, sesuatu yang tidak dia harapkan untuk hadir menyapanya di malam hari namun seringkali dia terus - menerus hadir menyapanya saat malam mulai menutup matanya. Liam langsung terduduk di atas ranjangnya sembari mengatur nafasnya yang terengah - engah itu. Dada Liam mulai sesak saat fikirannya terus terbayang - bayang akan kejadian di mimpi buruknya itu hingga membuat kepalanya terasa pusing. Liam lalu mencoba untuk menjernihkan fikirannya dan setelah itu dia kembali memilih untuk tidur karena masih banyak urusan yang akan dia selesaikan besok. Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari namun tiba - tiba Jane mendengar suara tangisan secara samar - samar, dan itu membuat Jane terbangun dari tidurnya.


Jane kemudian menemukan bahwa Liam sedang menangis di dalam tidurnya. Tubuhnya berkeringat sangat banyak dan nafasnya tersenggal - senggal. Melihat hal tersebut Jane kemudian membangunkan Liam sembari mengusap dadanya, dan berharap bahwa dia bisa sedikit lebih tenang. Liam langsung memeluk Jane saat dia terbangun kembali dari tidurnya sembari menangis. Jane masih berusaha untuk menenangkan Liam karena mimpi buruk yang dia alami. Jane kemudian mengambil tissue serta air putih untuk Liam minum. Jane mengelap semua keringat yang bercucuran di wajah Liam saat Liam sedang minum sembari menenangkan diri. Wajah Liam berubah sangat pucat sehingga membuat Jane merasa perihatin kepadanya. Bagaimana tidak, sering sekali Jane mendapati bahwa calon suaminya itu mengalami mimpi buruk bahkan terkadang Jane merasa sedih melihat dia yang seperti merasa tidak percaya diri dengan dirinya sendiri dan memilih untuk mengurung diri di kamarnya.


Menurut teman - teman dekatnya Liam menjadi seperti itu karena perlakuan yang dia dapatkan dari daddy nya yang terkadang bersikap kasar kepadanya secara fisik maupun ucapan sehingga membuat Liam berubah 180 derajat. Namun sekarang daddy Liam sudah mulai berubah dan bersikap baik kepadanya semenjak dia hampir kehilangan putranya itu. Pelarian Liam saat merasa stress hanyalah mengurung diri di kamar dan bermain game, oleh sebab itu dia mampu menghabiskan berjuta - juta hanya untuk membeli perlengkapan PC gaming miliknya dan lagipula Mr Robinson juga jarang sekali bertanya kepada Liam mengapa dia meminta uang sangat banyak kepadanya. Di pagi harinya saat sedang sarapan di restaurant secara bersama - sama, Liam duduk di sebelah Mr Robinson.


"Dad minta uang," ucap Liam sembari mengunyah makanannya.


"Berapa?" tanya Mr Robinson.


"10 juta saja untuk membeli CD game serta membeli perlengkapan komputerku."


"Okay, nanti daddy transfer ke rekeningmu."


"Thank you."


Mr Robinson mengusap rambut Liam "besok jika sudah menikah jangan terlalu sering bermain game."


"Iya. Eh dad uangnya tidak jadi."


"Kenapa?"


"Tidak apa - apa, aku hanya sedang malas saja."


"Yang benar?" tanya Mr Robinson memastikan.


"Iya, aku mau mengangkat telepon dulu."


"Sarapan kamu belum habis."


"Biarkan saja," ucap Liam bergegas pergi meninggalkan meja makan.


Setelah menyelesaikan sarapannya Mr Robinson kemudian mencari keberadaan Liam karena dia sudah ditunggu oleh Jane. Mr Robinson kemudian menemukan Liam sedang duduk termenung di pinggir jalan depan hotel.


"Kenapa merenung?" tanya Mr Robinson saat duduk di samping Liam.


"Tidak apa - apa."

__ADS_1


"Tadi telepon dari siapa? dari pacarmu?"


"Maksud daddy Jane?"


"Bukan, pacarmu yang lain."


Liam tertawa canggung "tidak mungkin aku menyelingkuhi Jane, ini hanya sahabat dekat saja."


"Wanita atau pria?"


"Wanita, dia pemain film yang bernama Nathalie."


"Ternyata putraku ini sangat populer juga, aku kira kamu hanya sibuk bermain game saja."


"Tidak juga."


"Kenapa kamu tidak jadi meminta uang kepada daddy?"


"Takut menjadi kebiasaan," ucap Liam menundukkan kepalanya.


"Kebiasaan bagaimana?"


"Hei kenapa berfikir seperti itu? kamu itu putra daddy dan daddy tidak merasa keberatan sama sekali jika kamu terus meminta uang dari daddy. Pasti ada yang bilang sesuatu kepadamu sampai kamu berfikir seperti ini bukan?"


Liam mengangguk "iya, dan aku juga tidak ingin dikira tidak bisa apa - apa tanpa nama daddy dibelakang namaku."


"Kamu itu putra daddy yang sangat hebat bahkan tanpa ada campur tangan dari daddy sekalipun. Ayo katakan siapa yang berkata seperti itu kepadamu!"


"Daddy harus berjanji dulu kepada Liam jangan membuat keributan setelah daddy mengetahui siapa orangnya."


"Iya, daddy berjanji."


"Orangnya adalah om Kim."


Mr Robinson kemudian merangkul Liam "dia berkata apa kepadamu?"


"Dia menginginkan setelah aku menikah dengan putrinya nanti aku harus bisa mandiri dan tidak mengandalkan daddy."

__ADS_1


"Sudah tidak apa - apa yang penting kamu belajar mandiri terlebih dahulu dan jika kamu sangat membutuhkan pertolongan daddy, kamu bisa datang kepada daddy kapanpun semaumu asalkan kamu tidak memperlihatkannya kepada Andrew."


"Apakah boleh begitu?"


"Iya lagipula sampai sekarang daddy juga masih sering membutuhkan pertolongan grandpa kamu, dan daddy juga masih mendapat uang jajan pribadi dari grandpa tanpa diketahui oleh mommy kamu."


"Benarkah dad?"


"Benar, itu hanya daddy dan grandpa kamu saja yang mengetahuinya karena ayah mana yang membiarkan anaknya kesulitan? jadi sekarang kita berdua harus membuat kesepakatan seperti kesepakatan antara daddy dengan grandpa, bagaimana?"


Liam mengangguk "baiklah."


"Sudah jangan merenung lagi, dan nikmati masa - masa melajangmu sebelum kamu menjalani kehidupan rumah tangga."


Liam tersenyum "baik dad," ucap Liam memeluk Mr Robinson.


"Ah putra kecil daddy sekarang sudah besar ternyata, karena sebentar lagi dia akan menikah dengan pujaan hatinya."


Mrs Robinson, grandma, dan grandpa yang melihatnya dari kejauhan ikut merasa terharu karena akhirnya hubungan ayah dan anak itu sudah berhasil membaik sebelum Liam menikah, seperti yang diharapkan oleh Mrs Robinson selama ini. Setelah melepas pelukannya Liam langsung pergi mencari Jane karena mereka berdua sudah ada janji dengan WO untuk mendiskusikan mengenai acara pernikahan mereka berdua, sedangkan Mr Robinson masih duduk di tempat yang sama dan dia sedang menangis terharu karena putranya yang sangat nakal itu akhirnya akan menikah juga. Setelah Liam menemukan Jane, mereka berdua langsung pergi ke tempat WO dengan diantar oleh Pak Kang. Mereka berdiskusi dengan WO selama beberapa jam setelah jam makan siang mereka berdua pergi ke sebuah restaurant untuk makan siang.


"Kamu tidak ada pemotretan hari ini?" tanya Liam sembari mengunyah daging steak.


"Tidak, aku mulai mengurangi kegiatanku karena ingin mempersiapkan acara pernikahan kita."


"Oh begitu rupanya."


"Biasanya kamu bermain game sehari beberapa kali?"


"Biasanya aku bermain sehari selama 5 sampai 6 jam, memangnya kenapa?"


"Tidak apa - apa." Jane kemudian kembali melanjutkan menyantap hidangan makan siangnya.


"Aku akan menguranginya jika kamu merasa keberatan," ucap Liam tiba - tiba.


"Ah itu sebenarnya aku..."


"Aku tahu jika kita sudah menikah nanti pasti kamu ingin diperhatikan dengan belaian - belaian lembut dariku, maka aku akan mengurangi jam ku bermain game agar bisa memanjakanmu."

__ADS_1


"Ssttt kamu ini terlalu to the point sekali saat berbicara."


"Agar jelas saja."


__ADS_2