
Mrs Robinson lalu mengajak Lian masuk ke dalam rumah begitu mobil suaminya pergi dari halaman rumahnya. Mrs Robinson langsung menyuruh bibi untuk membawa semua barang - barang Lian ke dalam kamarnya, sedangkan dia berbincang dengan putra sulungnya di ruang tengah sembari meminum secangkir teh. Lian merasa bahwa kini rumahnya terasa sangat berbeda karena memiliki tampilan yang berbeda dan terkesan jauh lebih modern dibandingkan dulu, walaupun mommy nya itu masih gemar mengoleksi guci ataupun piring - piring antik yang terbuat dari keramik. Bahkan koleksinya semakin banyak dan terususun rapi di sebuah lemari kaca yang sangat besar, mungkin sekitar 3×4. Lian juga mengamati foto keluarga yang lumayan besar terpajang di dinding ruang tengah itu. Sepertinya itu foto yang belum lama diperbaharui saat hari pernikahan Liam dengan Jane, karena Jane masih menggunakan gaun pernikahannya yang terlihat sangat mewah.
Lian menjadi bertanya - tanya tentang jumlah nominal uang yang dikeluarkan oleh orang tuanya untuk membiayai pernikahan mewah adiknya itu. Namun saat dia memberanikan diri untuk bertanya, Mrs Robinson menjawab bahwa hampir 80% Liam memakai uang tabungannya sendiri untuk membiayai acara pernikahannya termasuk membangun rumah impiannya yang sekarang dia tinggali bersama dengan istrinya. Jika saja dirinya tidak pergi mungkin saja dia yang akan menikah dengan wanita secantik Jane, dan bukan adiknya yang nakal itu. Oh ya Rosie sekarang juga terlihat sangat cantik dengan rambutnya yang bewarna coklat muda alias blonde, dan itu sangat cocok sekali dengan dirinya. Dirinya sekarang merasa asing dengan suasana rumahnya, padahal itu masih tempat yang sama saat dia dilahirkan ke dunia ini sampai tumbuh menjadi seorang remaja. Padahal dahulu semua waktunya dia habiskan di rumah tersebut namun entah kenapa rasanya sekarang sangat berbeda. Tiba - tiba saja ada seseorang yang memeluknya dari samping.
"Liam!!! eonni dimana?" tanya Rosie.
"Eh sayang, dia bukan Liam melainkan Lian kakak sulungmu."
Rosie langsung melepaskan pelukannya.
"Oh Lian, sorry sudah berbuat lancang dengan memelukmu seperti tadi."
"Tidak apa - apa, aku justru merindukan pelukan dari adik kecilku ini."
"Haiss, aku bukan adik kecilmu lagi."
Rosie kemudian mendekati Mrs Robinson.
"Mom, aku rindu dengan Liam."
"Main saja kerumahnya, atau kalau tidak hubungi saja dia untuk kemari."
"Kalau main ke rumahnya pasti jam segini Liam belum bangun."
"Bukankah ada Jane?"
"Iya sih tapi gara - gara ulah Liam yang suka bangun siang, eonni juga menjadi ikut - ikutan bangun siang."
Mrs Robinson tertawa mendengar ucapan Rosie.
"Kenapa begitu?"
"Aku tidak tau."
"Ya sudah, kan sekarang ada Lian bukan? jadi kamu bisa bermain dengan Lian."
"Tidak mau, aku ingin Liam."
"Coba telepon Liam kalau begitu."
Rosie lalu mengambil handphone miliknya dan menelepon Liam.
"Liam cepat ke rumah, aku ingin pizza!!" teriak Rosie melalui sambungan telepon, lalu setelah itu dia mematikannya.
Di sisi lain, setelah mendapat telepon menyebalkan dari adiknya itu dia langsung meletakkan handphone miliknya di meja samping ranjang. Walaupun dia merasa terganggu namun sebenarnya dia sangat suka jika adiknya itu selalu meminta jajan kepadanya sejak dahulu. Lalu dia kembali memeluk Jane dan menenggelamkan wajahnya ke leher Jane untuk mengumpulkan niat pergi ke restaurant cepat saji membelikan adik kesayangannya itu sebuah pizza.
__ADS_1
"Rosie kenapa hubby?" tanya Jane mengusap rambut Liam.
"Biasalah, dia meminta dibelikan pizza."
"Ya sudah sana mandi lalu pergi ke restaurant cepat saji."
"Harus sekarang?"
"Harus dong hubby, nanti adikmu nangis lho kalau tidak kamu belikan pizza."
"Eh Jane aku ingin bertanya kepadamu."
"Apa itu hubby?"
"Memangnya selama ini kamu tidak pernah merasa terganggu saat aku memberinya jatah uang jajan setiap bulan serta selalu menuruti keinginannya?"
"Tidak hubby sayang, aku justru merasa senang saat kamu bersikap seperti itu dengan adikmu apalagi adikmu itu juga sudah aku anggap seperti adikku sendiri."
"Benarkah?" tanya Liam menatap Jane.
"Iya sayang, oleh sebab itu aku memilihmu untuk menjadi suamiku karena sikapmu itu."
"Kenapa begitu?"
"Karena kamu bisa memperlakukan adik serta mommy mu dengan baik, otomatis kamu pasti juga akan memperlakukanku dengan baik juga."
"Mmmm tidak tau."
Liam langsung menggelitiki perut Jane serta menciumi lehernya.
"Kamu ini ya, sangat menyebalkan sekali."
Jane tertawa dengan keras.
"Hubby geli."
"Terkadang kamu ini sangat menyebalkan, terkadang kamu juga sangat menggemaskan."
"Sudah hubby geli, sudah sana mandi lalu belikan Rosie pizza."
"Iya sebentar, aku masih ingin bersamamu."
"Kemarilah dan peluk aku hubby."
"My baby girl."
__ADS_1
Karena cuaca sedang cerah ceria maka Liam lebih semangat untuk bangun walaupun harus mengganggu Jane terlebih dahulu, dan karena cuaca yang sangat mendukung itu Mr Robinson juga lebih bersemangat untuk bertanding bermain golf bersama Mr Kim. Mereka berdua sering sekali menghabiskan waktu untuk bermain golf bersama hingga membuat para istri mereka merasa resah, karena mereka berdua sering sekali bermain golf hingga lupa waktu. Setelah bertanding satu babak Mr Robinson lalu beristirahat sebentar untuk minum serta berbincang dengan Mr Kim. Kebetulan ada hal penting yang ingin Mr Robinson bicarakan bersama Mr Kim, suatu hal yang membuat Mr Robinson merasa sangat bimbang hingga memenuhi otaknya.
"Ada hal yang akhir - akhir ini sangat mengganggu otakku."
"Apa itu Jo? tumben sekali kamu seperti ini."
"Kamu pasti ingat kan jika aku ini sebenarnya memiliki 3 orang anak?"
"Tentu saja aku ingat, putra kembarmu itu yang dulu membuat perut istrimu terlihat sangat besar dan berat."
"Jika kamu berbicara seperti itu di depan Margareth, pasti bokongmu itu akan langsung ditendang olehnya."
Mr Kim tertawa terbahak - bahak.
"Hei aku berbicara sesuai fakta, dahulu saat istrimu sedang mengandung putra kembarmu itu membuat Anne merasa terkejut karena perutnya terlihat lebih besar daripada umumnya."
"Iya sih, aku saja juga sampai khawatir dengannya hingga beberapa kali bolos kerja."
"Iya, eh kenapa tiba - tiba kamu membicarakan hal tersebut?" tanya Mr Kim merasa curiga.
"Dia telah kembali dan aku bingung harus berbuat apa."
"Ya sudah berbuat seperti biasanya saja."
"Aku bingung harus membagi jatah perusahaan."
"Makanya jangan buat anak banyak - banyak."
"Habisnya sekali keluar langsung dua dan laki - laki semua, masa aku protes ke Tuhan."
"Benar juga, dan karena itu kamu adopsi anak perempuan kan?"
"Dulu karena aku kasihan melihatnya dibuang di panti asuhan, makanya aku bawa pulang."
"Oh."
"Aku harus bagaimana agar adil, Andrew?"
"Lebih baik kamu beri Liam jatah yang lebih banyak soal warisan karena Liam yang membantu mengembangkan perusahaanmu sejak dulu, dan yang kedua Rosie karena dia juga terkadang membantumu mengurus restaurant serta hotelmu, nah yang terakhir Lian sebagai formalitas."
"Benar juga ucapanmu."
"Aku berkata seperti itu karena aku berfikir rasional saja sih dan bukannya membela Liam karena dia adalah menantuku, nanti kalau kamu masih membaginya dengan sistem urutan anak pasti tidak akan adil karena Liam telah bekerja keras namun yang mendapatkan segalanya malah Lian yang tidak bekerja apa - apa."
"Iya juga ya, terima kasih sarannya."
__ADS_1
"Santai saja."