Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #142


__ADS_3

Jane terus melanjutkan pembicaraan bersama Mrs Kim mengenai Liam, dan setelah itu Jane bersiap untuk pergi ke bandara karena dia memilih jadwal penerbangan saat siang hari agar dia mempunyai waktu untuk mengucapkan selamat tinggal kepada semua kenangan manis dan buruk selama masa liburannya di Indonesia terutama kepada si ayam Australia. Setelah dirasa semua lengkap tanpa ada satu barang pun yang tertinggal Jane langsung berpamitan kepada Mrs Kim dan pergi ke bandara bersama dengan Pak Kang. Jane terus menenteng lukisan buatan Liam yang dibungkus menggunakan sebuah kain selama di bandara dan saat Pak Kang menawarkan dirinya untuk membawakan lukisan tersebut Jane langsung menolaknya. Saat duduk di ruang tunggu Jane terus menoleh kesana kemari serta memeriksa handphone miliknya berkali - kali dan berharap Liam datang menemuinya untuk yang terakhir kalinya sebelum dia benar - benar meninggalkan Indonesia. (Tring) handphone Jane berdering dan dia langsung membukanya, tapi saat membaca pesan tersebut Jane merasa sedih karena Liam ada meeting mendadak jadi dia tidak bisa pergi ke bandara untuk menemuinya. Jane menjadi murung dan selalu melihat ke kaca jendela saat berada di dalam pesawat.


Disisi lain Liam yang masih berada di kantor dan sedang meeting, mendadak fikirannya tidak fokus karena terus memikirkan Jane. Baru pertama kali ini Liam tidak fokus saat bekerja karena terus memikirkan Jane. Selesai meeting Liam langsung terduduk lesu di kursi kerjanya sembari menatap ke arah sebuah gelas kosong yang berada di atas mejanya. Dia ingin mengejar Jane namun sepertinya sudah sangat terlambat sekali karena sudah lewat satu jam. Hatinya sangat aneh sekali karena di sisi lain dia mencintai Yunna, namun di sisi lain dia tertarik dengan Jane dan ingin menjadikannya sebagai istrinya. Perasaan bimbang itu mulai menghantui fikirannya, dia juga bingung entah siapa yang sebenarnya dia inginkan. Kalau bisa Liam ingin menikahi keduanya namun mereka berdua pasti tidak akan menyukainya dan memilih untuk berpisah, apalagi jika Mr Robinson mengetahuinya pasti Liam akan dijadikan daging guling seperti babi guling (memang babi sih yang suka selingkuh). Yunna yang melihat Liam sedang melamun saat dirinya memasuki ruangan Liam kemudian dia menepuk bahu Liam.


"Pak?" panggil Yunna.


Liam langsung tersadar dari lamunannya "ya, ada apa?"


"Apakah anda menginginkan saya mengisi gelas kosong anda atau membuatkan anda minuman yang lain?"


"Boleh, saya sedang ingin meminum kopi manis."


"Baik pak, oh ya saya ingin memberikan berkas dokumen untuk anda periksa."


"Letakkan saja di sini nanti saya akan memeriksanya terima kasih."


Yunna mengangguk "baik, saya permisi sebentar."


Liam kemudian bertanya kepada Yunna saat dia meletakkan secangkir kopi di atas meja Liam "apakah perkiraan minggu - minggu ini saya sangat sibuk?"


"Sebentar saya lihat jadwal anda terlebih dahulu," ucap Yunna memeriksa ipad miliknya.


Liam meminum kopinya lalu bergumam "aku harap tidak banyak jadwal meeting minggu - minggu ini."


"Minggu ini dan minggu selanjutnya diperkirakan anda sangat sibuk karena ada beberapa meeting yang akan anda hadiri apalagi anda juga sedang menghandle beberapa proyek penting."


"Benarkah?"


"Benar pak, Mr Robinson meminta anda untuk menghandle beberapa proyek besar karena beliau sangat percaya jika anda yang memegang proyek ini pasti akan sukses seperti proyek lainnya."


"Ah begitu rupanya."


"Jadi anda harus menjaga stamina anda dengan istirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi."


"Tumben perhatian sekali kamu," ucap Liam sembari tersenyum.


"Saya hanya tidak ingin mengubah kembali jadwal meeting anda yang sudah saya jadwalkan dengan beberapa klien hanya karena anda sakit dan tidak menjaga stamina anda."

__ADS_1


"Benarkah begitu alasannya?"


"Maksud anda?"


"Kamu berbicara seperti tadi bukan karena perasaan sayang atau cinta?"


"Iya saya menyayangi anda tetapi hanya menyayangi sebagai atasan saya saja tidak lebih seperti yang anda fikirkan."


"Oh begitu." Liam lalu menutup semua jendela ruangannya dengan menggunakan remote agar pembicaraannya tidak bisa didengar oleh orang lain.


"Apa yang anda inginkan?" tanya Yunna.


Liam lalu duduk di atas meja "kamu tidak ingin memanfaatkan kesempatan untuk dekat denganku apalagi Jane sudah kembali ke Korea Selatan?"


"Tidak! saya sudah tegaskan kepada anda jika hubungan kita hanya sekedar adik dan kakak saja, tidak lebih."


"Banarkah? nanti kamu menyesal."


"Saya yakin tidak akan menyesalinya karena mama saya pernah berkata jika carilah pasangan yang perbedaannya tidak terlalu jauh seperti anda dengan saya."


"Lalu?"


Liam lalu berdiri "ya aku sangat senang mendengarkan jawabanmu, baiklah jika itu yang kamu inginkan maka bisakah kita menjadi sahabat?"


"Baiklah."


"Anyway, berarti selama dua minggu kedepan aku akan sangat sibuk?"


"Benar sekali."


"Kalau begitu minggu ketiga bulan ini kosongkan semua jadwal karena aku berencana akan terbang ke Korea Selatan."


"Baik pak, ada lagi?"


"Tidak ada, kamu tidak bertanya untuk apa aku ke Korea?"


"Kenapa saya bertanya tentang sesuatu hal yang jawabannya sendiri sudah saya ketahui?"

__ADS_1


"Cerdas, ternyata saya tidak sia - sia memilihmu sebagai sekretaris pribadiku."


Setelah pembicaraan tersebut Yunna kemudian meminta izin kembali ke ruangan kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Liam mulai membuka berkas dokumen yang diserahkan oleh Yunna untuk dia baca dan periksa. Tidak terasa sudah hampir jam pulang kerja, Liam kemudian membereskan semua barang - barang miliknya serta menutup laptopnya. Saat keluar dari ruangannya dan melihat Yunna yang juga sedang membereskan barang - barang miliknya, lalu Liam terfikirkan sebuah ide. Liam kemudian menghampiri meja Yunna dan bersandar di mejanya untuk mengajaknya pergi makan diluar sore ini. Yunna sebenarnya menolak ajakan Liam, namun Liam terus bersikukuh untuk mengajaknya pergi makan diluar hingga akhirnya Yunna menyerah dan menerima ajakan Liam. Liam lalu membawa Yunna ke sebuah restaurant mewah dan meminta meja private untuk mereka berdua makan serta berbincang.


"Kamu seharusnya tidak perlu sampai memesan restaurant mewah untuk kita makan berdua."


"Tidak apa - apa, aku hanya sedang menginginkan saja agar kita berdua lebih leluasa berbincang."


"Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku?"


"Hanya perbincangan ringan saja."


"Katakan!"


"Aku sebenarnya mengajak untuk makan disini karena ingin merayakan persahabatan kita."


"Kamu ini seperti anak kecil saja."


Liam tertawa "jangan cemberut begitu, tersenyumlah!"


"Memangnya kenapa?" tanya Yunna sinis.


Liam lalu tertunduk lesu "ah baiklah, kalau begitu kita pulang saja jika kamu tidak menginginkannya.


"Bukan maksudku begitu Liam, hah kamu sudah membayar mahal untuk ini jadi baiklah kita nikmati saja."


"Tidak, kita pulang saja."


Yunna lalu menyuapi Liam "ayo makanlah! kamu harus banyak makan agar tubuhmu sehat dan kuat."


"Baiklah," ucap Liam menerima suapan dari Yunna.


"Tersenyumlah! aku ingin melihat lesung pipimu yang manis itu."


Liam langsung tersenyum "kamu ini membuatku malu."


"Kenapa malu? aku berkata yang sejujurnya."

__ADS_1


"Terima kasih."


__ADS_2