
Setelah pertemuan tersebut mereka berdua lalu pulang ke rumah masing - masing. Sesampainya di rumah Liam langsung pergi ke kamarnya untuk mandi, lalu setelah itu Liam mengunjungi kamar adik kesayangannya itu untuk mengganggunya. Ternyata Rosie sedang tertidur saat Liam masuk ke dalam kamarnya. Liam kemudian memeluk Rosie yang sedang tertidur tersebut hingga dia terbangun karena merasa sesak. Postur tubuh Liam sangat kekar sehingga membuat orang yang dipeluknya merasa sangat sesak sekali, apalagi Liam juga sengaja memeluk Rosie dengan sangat erat hingga membuat Rosie hampir kesulitan bernafas. Rosie lalu mencubit anggota tubuh Liam agar dia melepaskan pelukannya itu. Setelah Liam melepaskan pelukannya Rosie lalu menatap tajam wajah Liam karena dia sudah mengganggu tidur cantiknya, sedangkan Liam hanya tersenyum cengegesan ketika Rosie memperlihatkan wajah marahnya tersebut. Rosie lalu mengambil handphone miliknya yang berada di atas meja dan memainkannya, sedangkan Liam kembali memeluk Rosie hingga tertidur. Melihat Liam tertidur di sampingnya, Rosie lalu menarik selimut miliknya untuk menyelimuti Liam.
Dia sedikit merasa kasihan kepada kakaknya tersebut karena harus bekerja keras mengelola perusahan keluarga hingga terkadang membuatnya harus begadang untuk mempelajari tentang cara mengelola perusahaan, bahkan tidak jarang dia juga menjadi sasaran kemarahan daddy nya yang tidak puas dengan hasil jerih payah kakaknya tersebut. Mr Robinson bisa sangat keras kepada anak - anaknya apalagi Liam yang selalu menjadi bulan - bulanan Mr Robinson hingga terkadang terdapat memar di anggota tubuhnya. Jika saja tidak ada Mrs Robinson mungkin Liam akan selalu di pukuli oleh Mr Robinson karena menurutnya Liam adalah anak yang paling nakal diantara anak - anaknya yang lain walaupun sebenarnya Liam itu memiliki otak yang sangat jenius, apalagi jika itu tentang melukis ataupun sesuatu yang berhubungan dengan seni. Rosie menatap wajah kakaknya tersebut dengan iba, dan di wajahnya terlihat sangat lelah bahkan depresi yang bercampur menjadi satu. Rosie lalu tersenyum dan menoel - noel hidung Liam yang mancung seperti milik Mr Robinson. Tidak lama kemudian Mrs Robinson memasuki kamar Rosie karena sedang mencari Liam.
"Kakakmu sedang tidur?" tanya Mrs Robinson saat duduk di tepi ranjang.
"Iya mom, sepertinya dia sangat lelah karena banyak pekerjaan di kantor."
"Sepertinya begitu apalagi sekarang hari Senin."
"Kasihan Liam ya mom?"
"Iya sayang."
"Liam sudah berusaha begitu keras untuk membantu mengembangkan perusahaan, tetapi kenapa daddy selalu memarahinya hanya karena hal sepele?"
"Kamu pasti tau kan jika daddy sangat tegas? mungkin ada sesuatu hal yang menurutnya masih kurang dari kakak kamu, makanya dia berusaha untuk menegurnya agar tidak semakin parah apalagi kakakmu yang akan mengambil alih dan melanjutkan hampir semua bisnis keluarga kita jadi daddy ingin kakakmu sudah sangat siap menjalankan tugas dengan sepenuhnya saat waktunya tiba."
"Jika seperti itu tujuannya daddy kan bisa menegurnya dengan cara yang halus tanpa kekerasan, mungkin Liam akan langsung menurutinya dan bisa saja sekarang Liam tidak membenci daddy."
"Mommy juga ingin seperti itu, namun daddy kamu sangat keras kepala sekali jadi rasanya akan sama saja jika mommy memberitahu daddy kamu karena dia tidak akan mendengarkannya."
"Iya sih mommy benar, kepala daddy terbuat dari bongkahan batu yang baru keluar dari erupsi gunung berapi."
Mrs Robinson tertawa "oh iya tadi mommy mencari kakakmu karena teman - temannya sekarang datang ke rumah."
"Kalau begitu bangunkan saja dia, lagipula dia juga sudah lama tidurnya."
"Sayang, bangun!"
"Ada apa mom?" tanya Liam sembari mengucek kedua matanya.
"Teman - teman kamu datang ke rumah."
"Oh iya mom."
__ADS_1
"Cuci muka terlebih dahulu karena ada air liur di wajahmu," ucap Rosie mengejek Liam.
Liam kemudian menggosokkan wajahnya ke baju Rosie "sudah."
Rosie berteriak "ihhh jorok sekali, bajuku jadi bau."
"Liam, cuci wajahmu di kamar mandi terlebih dahulu!" perintah Mrs Robinson.
"Baik mom."
Mrs Robinson kemudian turun dan menemui teman - teman Liam yang berada di ruang tamu "sebentar ya, Liam baru saja bangun tidur."
"Oh iya tan," ucap Dio.
"Kalian ingin minum apa?"
"Tidak perlu repot - repot tan."
Liam kemudian datang menghampiri mereka "kita ke rooftop saja, bagaimana?"
"Mom, kita pergi ke rooftop ya?"
"Iya sayang, nanti mommy minta bibi untuk mengantarkan minumannya ke rooftop."
Mereka bertiga lalu berjalan menuju ke rooftop dengan menggunakan lift pribadi, lagipula siapa juga yang ingin pergi ke lantai 3 dengan hanya menaiki tangga apalagi mereka bertiga sangat malas. Sesampainya di rooftop Liam lalu memencet tombol untuk melipat atap rooftop karena cuacanya sangat cerah pada malam itu, tidak lupa Liam juga menyalakan perapian agar sedikit lebih hangat saat mereka bertiga berbincang bersama. Liam kemudian berdiri di dekat pagar pembatas dan menatap pemandangan kota dari rooftop, sedangkan Ricko duduk di sofa bersama dengan Dio. Tidak lama kemudian bibi datang dengan membawa nampan yang berisikan minuman dan makanan ringan atas permintaan Mrs Robinson untuk mereka nikmati saat sedang berbincang bersama. Mereka lalu mengucapkan terima kasih setelah bibi selesai meletakkan minuman dan makanan tersebut di atas meja, dan mereka langsung meminumnya.
"Kenapa wajah anda sangat muram tuan muda?" tanya Dio menggoda Liam.
"Kenapa kamu jadi ikut memanggilku dengan sebutan tuan muda?" tanya Liam membalikkan tubuhnya menghadap Dio.
"Bukankah kamu itu memang seorang tuan muda? kamu pantas mendapat julukan itu karena kharisma yang berada di dalam dirimu tidak bisa membohongi siapapun."
"Benar yang dikatakan oleh Dio, kamu memang sudah ditakdirkan lahir sebagai serbuk berlian."
"Serbuk berlian matamu."
__ADS_1
Dio kemudian mendekati Liam dan merangkul bahunya "lihatlah yang berada di sekelilingmu! ini semua akan menjadi milikmu dan semua kemewahan ini sudah ditakdirkan untuk menyelimuti hidupmu."
"Terserah apa katamu."
"Semua wanita pasti sudah mengantri untuk dijadikan seorang permaisuri yang mendampingimu duduk di kursi tahta kerajaan," ucap Dio sembari menari - nari kecil di dekat Liam.
"Berhentilah menari bodoh! tingkah lakumu itu sangat memalukan sekali dan entah bagaimana bisa aku berteman dengan orang aneh sepertimu," ucap Liam menatap Ricko.
Ricko tertawa "aku pun juga bingung bagaimana bisa aku berteman dengan dia."
"Kalian ini sangat tidak mengasyikkan, kalian pasti akan suka jika yang menari - nari adalah seorang wanita bukan?"
"Ya itu tergantung," ucap Liam meminum es sirup.
"Kalau begitu mari kita berpesta dengan mengundang para wanita?"
"Aku tidak setuju," ucap Ricko dengan tegas.
"Kenapa begitu?"
"Nanti Gita akan memarahiku."
"Ya benar, nanti J juga akan memarahiku jika dia tau aku berpesta dengan para wanita saat dia kembali ke Korea Selatan."
"Kekasihmu itu berasal dari Korea Selatan?" tanya Dio.
"Benar."
"Kekasih Liam sangat cantik dan sexy karena dia seorang model terkenal."
Dio menengguk minumannya "huh aku tidak heran sama sekali karena orang sepertimu pasti memiliki tipe yang berprofesi sebagai model ataupun aktris terkenal."
Liam tertawa "sebenarnya aku punya dua - duanya, seorang model dan seorang aktris namun sepertinya aku lebih cocok dengan dia yang merupakan seorang model."
"Pernah melakukan apa saja dengan mereka?"
__ADS_1
"Rahasia," ucap Liam sembari tersenyum.