
Sebenarnya Jane merasa sedikit ngeri jika dipeluk oleh Liam apalagi mengingat tangan Liam yang sangat besar dan kekar tersebut mungkin bisa dengan mudah mencekik atau melilit tubuh Jane yang mungil seperti ular python yang melilit mangsanya. Namun Jane merasa senang karena dia bisa sekalian cuci mata melihat perut roti sobek Liam karena jarang sekali Liam tidak memakai baju, dan biasanya dia selalu memakai pakaian saat dimanapun dia berada bahkan saat berada di kamarnya sendiri. Menurut Jane tubuh kekar Liam sangat memanjakan matanya karena terlihat bersih tanpa tatto dengan warna kulitnya yang sawo matang itu. Beda dengan bentuk tubuh Kyle yang sebenarnya juga mempunyai perut sixpack namun kurang sempurna jadi tubuhnya itu masih seperti terlihat kurus.
Jane juga sebenarnya tidak suka dengan tato namun karena dulu Kyle sangat menyukai tatto jadi Jane hanya diam saja dan tidak ingin berkomentar mengenai tatto yang selalu dibuat oleh Kyle. Tubuh Liam seperti memiliki aroma yang khas walaupun Liam juga terkadang memakai parfume tetapi wanginya soft atau tidak menyengat di hidung dan itu membuat Jane semakin betah jika dipeluk oleh Liam, tidak seperti Kyle yang selalu menggunakan parfume dengan wangi menyengat hingga membuat hidungnya terasa sakit. Jane waktu itu pernah bertanya kepada Liam mengenai alasan mengapa Liam tidak membuat tatto di anggota tubuhnya dan dia hanya menjawab jika dia tidak suka dicoret - coret, yah walaupun Liam sebenarnya ingin membuatnya tetapi dia kemudian mengurungkan niatnya tersebut karena sedikit risih melihat ada coretan di anggota tubuhnya.
Pernah sesekali Liam membuat tatto di tangannya untuk coba - coba namun beberapa jam kemudian dia menghapusnya, dan untung saja tatto yang dimilikinya tersebut adalah tatto semi permanent. Jane kemudian membalikkan tubuhnya dan mencubit - cubit pipi Liam karena dia merasa sangat gemas sekali terhadap Liam yang terkadang seperti anak kecil. Pandangan Jane beralih ke rambut Liam yang sudah mulai memanjang, dan dia kemudian memegang rambut Liam untuk mengukurnya menggunakan tangannya seperti tukang potong rambut. Melihat tingkah laku Jane tersebut Liam kemudian memeluknya dan membawa tubuh Jane ke dekapannya. Jane kemudian memukul perut Liam agar dia mau melepaskan pelukannya karena Liam memeluknya dengan sangat erat sehingga Jane merasa sesak.
"Aduh sakit," ucap Liam melepaskan pelukannya.
"Siapa suruh memelukku seperti itu, membuatku merasa sesak saja."
"Memangnya aku memelukmu terlalu erat heum?"
Jane mengangguk "iya, apa kamu tidak menyadarinya?"
"Tidak, aku fikir itu tidak terlalu erat."
"Kamu tidak menyadarinya karena memang tubuhmu itu besar."
Liam tertawa "apakah kamu tidak suka dengan tubuhku yang kekar ini heum?"
"Suka sih, tetapi jangan sampai seperti tadi jika kamu ingin memelukku."
"Memangnya kenapa?"
"Karena lama - kelamaan nanti tubuhku bisa gepeng."
"Siapa suruh tubuhmu sangat mungil dan menggemaskan, kan aku jadinya ingin memelukmu terus."
"Ihh menyebalkan sekali," ucap Jane dengan bibir yang cemberut.
Liam langsung kembali memeluk Jane dan mencium bibirnya, lalu setelah itu dia membalikkan posisinya yang sekarang menjadi berada di atas Jane "awas saja, aku akan memelukmu setiap hari jika kita sudah menikah nanti."
Mendengar hal tersebut pipi Jane seketika menjadi memerah seperti kepiting rebus "a-apaan sih?"
Liam tersenyum licik "sekarang aku menjadi suka dengan rasa strawberry karena kamu."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Iya tetapi hanya dari ini saja," ucap Liam sembari menyentuh bibir Jane dengan jempolnya.
Jane menjadi gugup karena jantungnya berdetak dengan kencang "a-aku."
Liam kembali mencium bibir Jane namun ciuman itu berlangsung lama dan setelah dia puas lalu dia beranjak dari ranjang Jane "aku ingin mandi karena tubuhku terasa lengket, lalu setelah itu aku akan memasakkan kamu sarapan yang lezat."
Jane merasa sedikit kesal karena dia baru saja mulai namun Liam sudah meninggalkannya "huh menyebalkan, kenapa harus sekarang mandinya?"
"Memangnya kenapa?" tanya Liam melihat layar handphone miliknya.
"Aku baru saja mulai."
"Mulai apa?" tanya Liam sembari terus mengetik sebuah pesan di handphonenya.
"Lupakanlah!"
Liam kemudian menatap Jane dan tertawa "hahaha lain kali saja kita melakukannya setelah pulang ke Indonesia, aku akan memanjakanmu."
Liam lalu masuk ke dalam kamar mandi namun tiba - tiba dia keluar kembali "ah aku lupa jika semua pakaianku berada di rumah utama kamu."
Jane kemudian beranjak dari ranjangnya "tenang saja, aku akan menyiapkan pakaianmu."
"Oh okay." Liam lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Jane kemudian pergi ke walk in closet miliknya untuk mengambil pakaian Liam. Jane waktu itu membeli beberapa pakaian pria karena menurutnya itu sangat bagus untuk dipakai oleh Liam, dan sebenarnya dia juga iseng - iseng membelinya karena merasa rindu saat dia memilihkan pakaian untuk Liam. Bisa dibilang sekarang selera gaya berpakaian Liam semakin membaik ya karena ada campur tangan dari Jane. Begitu Liam selesai mandi Jane kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk mencukur kumis serta jenggot Liam yang sudah mulai tumbuh lebat, lalu setelah itu Jane pergi mandi sedangkan Liam membuat sarapan. Disisi lain keluarga Robinson yang telah sampai di Korea Selatan langsung pergi ke villa yang sudah mereka beli. Saat siang hari mereka semua datang ke kediaman keluarga Kim untuk membicarakan masalah pertunangan antara Liam dengan Jane yang akan dilakukan secara resmi. Mr Kim langsung menyambut keluarga Liam dengan ramah dan mempersilahkan untuk masuk ke dalam.
"Dad, bagaimana cara mengatakannya?" tanya Mr Robinson berbisik kepada daddy nya alias grandpa Liam.
"Dasar memalukan, masa berbicara seperti itu saja tidak bisa."
"Ya sudah kalau begitu daddy saja yang mengatakannya."
"Kan kamu daddy nya Liam."
__ADS_1
Mr Robinson menarik nafasnya "saya berserta keluarga saya datang kemari dengan niatan untuk melamarkan putra saya Liam Gerard untuk..."
"Iya saya tau," ucap Mr Kim sembari tersenyum.
"Sstt aku belum selesai berbicara."
"Sudah tidak perlu terlalu formal, seperti dengan siapa saja Jo," ucap Mr Kim menahan tawa.
"Ya sudah, pasti kamu sudah tau kan? ayo cepat bicarakan saja biar cepat dan tidak perlu menunda - nunda lagi."
"Lah? niat melamarkan putramu atau mengajak berantem sih Jo?"
"Dua - duanya sih," ucap Mr Robinson bercanda.
"Liam saja bisa berbicara dengan baik dan sopan, kok kamu malah ngegas begitu sih Jo?" tanya Mr Kim sembari tertawa.
"Ha? Liam bisa berbicara dengan baik dan sopan?"
"Iya benar."
Tampak dari wajah grandpa Robinson seperti menahan malu atas sikap anaknya tersebut. Lalu grandpa Robinson berbicara "maafkan atas kelakuan putra saya tersebut."
"Tidak apa - apa om, lagipula Jonathan kan memang seperti itu orangnya."
"Oh ya mana Liam? katanya Liam menginap disini, lalu kemana dia sekarang?" tanya grandma Robinson.
"Oh iya, dimana Liam dan Jane sekarang?" tanya Mr Kim kepada istrinya.
Tiba - tiba Liam datang bersama dengan Jane, dan menyapa grandma kesayangannya "hai grandma, ini Jane."
"Hai juga mmmm."
"Grandma, panggil saja grandma. Wah cantiknya calon cucu menantu grandma."
"Terima kasih grandma."
__ADS_1