Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #411


__ADS_3

Setelah itu grandpa dan Liam langsung terdiam saat itu juga karen takut dimarahi oleh grandma. Jane yang melihat hal tersebut hanya bisa tersenyum sembari mengusap pipi Liam yang kepalanya di sandarkan di bahu Jane. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Liam waktu itu saat dia mengatakan bahwa kekuasaan tertinggi di keluarganya adalah grandma dan bukannya grandpa, dan sekarang dia sudah melihat buktinya secara langsung. Memang kekuasaan tertinggi di Keluarga Robinson adalah grandma dan bukan grandpa, meskipun grandpa sebagai kepala rumah tangga ataupun sebagai perintis perusahaan keluarga Robinson.


Hal tersebut terjadi karena grandpa sangat menghormati serta sangat menyayangi grandma, sehingga dia selalu menuruti apa yang dikatakan oleh grandma. Grandpa tahu betul bahwa semua hal yang dikatakan oleh grandma itu bertujuan baik untuknya, jadi grandma langsung menuruti apa yang dikatakan oleh grandma saat itu juga tanpa perlawanan. Keluarga Robinson sangat menghormati seorang wanita dan menempatkan para wanita di keluarga mereka sebagai tahta tertinggi untuk menjadi penasehat pribadinya.


Setiap ingin mengambil keputusan yang lumayan berat, pasti mereka akan menemui istrinya terlebih dahulu untuk meminta saran darinya dan barulah mereka akan memutuskannya. Jadi karena hal tersebut keluarga mereka tambah kaya dan semua bisnisnya lancar, akibat doa dari istrinya juga. Mereka berempat terus berbincang mengenai beberapa hal termasuk bisnis baru yang ingin dibuka dibawah naungan perusahaannya. Namun meskipun begitu, cafe milik Liam sendiri yang baru dibangun itu adalah murni milik Liam dan bukannya dibawah naungan perusahaan keluarganya.


Kalau resort, villa, hotel, restaurant, dan perusahaan property itu masih dibawah naungan perusahaan keluarga Robinson namun untuk cafe Liam itu milik Liam sendiri. Jadi cafe itu bisa dikatakan sebagai bisnis pribadi Liam untuk yang pertama kalinya. Setelah pembicaraan itu selesai, mereka berdua makan malam bersama dan 2 jam kemudian Liam telah kembali ke rumahnya bersama dengan Jane. Liam langsung berbaring di atas ranjangnya setelah dari kamar mandi, sedangkan Jane masih melakukan skincare routine di depan cermin.


"Jadi kamu ini sebenarnya cucu kesayangannya grandpa dan grandma ya?" tanya Jane secara tiba - tiba.


"Tidak tahu juga, masalahnya grandpa dan grandma selalu memperlakukan kita bertiga secara adil. Setiap membeli apapun pasti mereka akan membeli 3 barang yang sama untuk diberikan kepada kita bertiga, akan tetapi aku pernah mendengar hal seperti itu belum lama ini."


"Benarkah begitu? tanya Jane penasaran.


"Benar sayang, aku juga pernah mendengar sebuah desas desus bahwa aku akan mendapatkan pembagian 60% dari semua harta keluargaku jika daddy sudah pensiun namun aku juga tidak tahu kebenarannya seperti apa."


"60% dari semuanya? lalu nanti Lian dan Rosie hanya mendapatkan masing - masing 20% dong?"


"Jika difikir memang iya namun kebenarannya saja aku masih belum tahu, dan mudah - mudahan saja pembagiannya tidak seperti itu agar semuanya adil."


"Benar hubby, lagipula nanti urusannya akan panjang jika ada yang tidak terima dengan keputusan tersebut."


"Benar Jane, palingan juga Lian yang tidak terima dan kalau Rosie dia sudah pasrah karena dia sudah sadar diri jika dia hanyalah anak adopsi."


"Rosie sudah sadar akan hal itu?"


"Benar, dan dia selalu merasa rendah diri karena hal tersebut namun aku juga selalu mengingatkan jika dia sudah seperti adik kandungku sendiri. Aku kasihan dengan Rosie jika dia selalu berfikir seperti itu."


"Benar hubby, aku juga sama."


"Kalaupun nanti suatu saat itu menjadi perdebatan yang panjang, tidak apa - apa ya kalau aku mengikhlaskan semua hal itu agar tidak ribet?" tanya Liam merasa ragu.


Jane menghampiri Liam dan tersenyum.


"Tidak apa - apa hubby, kita akan memulai semuanya dari 0 pun juga tidak masalah jika itu yang menjadi keputusanmu. Aku akan selalu mendukung semua keputusanmu itu, yang menurutmu itu merupakan hal yang terbaik untuk kita."


"Iya, lagipula nantinya aku juga sudah memiliki cafe sendiri yang merupakan murni milikku sendiri bukan dibawah naungan perusahaan keluarga. Nanti kalau cafe itu sangat sukses dan aku mempunyai rezeki lagi, mungkin aku akan membangun beberapa cabang berbagai daerah."

__ADS_1


"Iya mudah - mudahan hubby selalu dilimpahkan rezeki yang lebih oleh Tuhan agar bisa membuka cabang cafe seperti yang diinginkan oleh hubby."


"Aminn."


"Kenapa tiba - tiba hubby ingin membuka cafe?" tanya Jane penasaran.


"Karena aku ingin membantu teman - temanku yang sedang sulit mendapatkan pekerjaan, dan aku ingin jika Dio yang mengelolanya. Yah mungkin awal - awal aku akan membantunya mengelola cafe namun setelah dia paham, barulah aku menyerahkan hampir sepenuhnya kepadanya."


"Iya hubby, bagus itu mudah - mudahan saja kinerja Dio bagus sehingga dapat mengelola cafe milikmu."


"Iya amin."


Jane lalu memeluk tubuh kekar Liam.


"Hubby semakin ku perhatikan, kamu ini justru malah semakin tampan seiring bertambahnya usia."


"Benarlah? memangnya aku setampan itu sampai - sampai kamu selalu mengatakan bahwa aku ini sangat tampan."


"Iya kamu sangatlah tampan serta sangat berkharisma sekali hubby."


"Kamu sedang memujiku atau sedang mengejekku?" tanya Liam memastikan.


"Ya siapa tahu begitu."


"Tidak hubby, aku memang benar - benar sedang memujimu."


"Kalau begitu terima kasih atas pujiannya, jarang sekali kamu memujiku seperti itu."


"Haiss aku sering memujimu, kamunya saja yang tidak peka."


"Benarkah begitu?"


"Iya, kamu ini pria yang tidak peka sama sekali serta seperti kulkas 100 pintu."


Liam tertawa.


"Hahaha masa aku seperti kulkas 100 pintu?"

__ADS_1


"Iya kamu seperti itu karena kamu terlalu dingin, akan tetapi saat ini kamu sudah mulai mendingan dan kulkasnya hanya jadi mempunyai 50 pintu."


Liam kemudian memegang wajah Jane dan menciumi wajah Jane.


"Hmmm kamu ini sangat menggemaskan sekali, dan aku sangat menyukaimu."


"Hehe geli hubby."


"Nah sudah ayo tidur, sudah larut malam."


"Okay hubby."


Mereka berdua lalu tidur bersama, dan keesokan harinya saat Jane terbangun dari tidurnya dia mendapati bahwa Liam ternyata tertidur di dadanya. Kepala Liam diletakkan di dada Jane sehingga menjadikannya sebagai bantal Liam sembari memeluknya. Entah sejak kapan Liam tidur dengan posisi seperti itu, dan setelah itu Jane kembali meletakkan kepala Liam di atas bantal sungguhan agar Liam merasa nyaman.


"Jane."


"Ssttt kok malah bangun?"


"Ayo nanti jajan mie ayam, aku ingin mie ayam."


"Eh pagi - pagi kok minta mie ayam, baru ngidam mie ayam ya?"


"Iya sayang."


"Sudah tidur lagi saja, nanti kita beli mie ayamnya siang saja."


"Okay, pakai bakso ya?"


"Iya hubby sayang," ucap Jane mengusap pipi Liam.


"Tumben kamu belum ke kamar baby Ace, biasanya pagi - pagi sekali sudah ke kamarnya."


"Dia masih tertidur nyenyak."


"Darimana kamu mengetahuinya?"


"Dari baby monitor."

__ADS_1


"Oh kamu punya?"


"Punya dong."


__ADS_2