Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #61


__ADS_3


Mrs Robinson kemudian melangkah pergi dari kamar Liam, sedangkan Liam memutuskan untuk bermain vidio game di komputernya. Liam sangat menikmati bermain vidio game tersebut, Liam bahkan sampai menghiraukan panggilan telepon masuk di handphone miliknya. Setelah satu jam kemudian Liam memutuskan untuk berhenti bermain vidio game dan pergi menonton film di televisinya sampai dia tertidur. Di sisi lain, Jane sangat sibuk di kantornya mengerjakan pekerjaannya. Jane terus memeriksa semua berkas - berkas yang sekretaris berikan kepadanya dan meneliti semua berkas itu karena takut terjadi kesalahan. Jane tidak menginginkan ada kesalahan di setiap yang dia kerjakan atau lakukan karena dia wanita yang sangat perfectionist, bahkan termasuk semua detail - detail kecil.


Karena sebentar lagi sudah memasuki jam makan siang, Jane memutuskan untuk beristirahat sebentar dan bersandar di kursinya sembari mencoba untuk menghubungi Liam. Tetapi Liam tidak kunjung mengangkat telepon darinya ataupun membaca pesannya. Jane merasa sedikit kesal dan akhirnya dia meminta pak Kang untuk mengantarkannya ke cafe terdekat. Sesampainya di cafe tersebut, Jane kemudian memesan american latte. Jane lalu duduk di kursi samping jendela sembari menunggu pesanannya siap. Tiba - tiba ada seorang pria yang tidak dikenal menghampiri meja Jane dan berusaha untuk merayunya.


Seorang pria itu lalu duduk di depan Jane "hai, kamu sedang sendirian ya?"


Jane hanya diam dan tidak ingin menanggapi seorang pria tidak dikenal tersebut. Tetapi pria itu tetap bertanya kepada Jane "wajah kamu sepertinya tidak asing, bukankah kamu model yang terkenal itu?"


"Mungkin kamu salah orang," ucapnya dengan nada dingin.


"Mana mungkin aku salah orang dan aku juga tau jika kamu sudah mengakhiri hubungamu dengan pacarmu, maukah kamu menjadi pacarku?"


Jane terus memainkan handphone miliknya "tidak mau."


"Kenapa begitu?" tanya pria yang tidak dikenal tersebut.


Karyawan cafe lalu menghampiri meja Jane untuk mengantarkan pesanannya "silahkan, ini pesanan anda nona."


"Terima kasih."


Pria itu lalu mengulurkan tangan kanannya "oh ya, perkenalkan nama saya Putra."


"Maaf aku harus pergi," ucapnya sembari berdiri membawa minumannya.


Tetapi pria itu memegang tangan Jane untuk mencegah dia pergi "tunggu dulu, aku belum selesai berbicara."


Jane berusaha untuk melepas tangannya tetapi pria itu memegang tangannya terlalu kuat "tolong lepaskan!"


Tiba - tiba ada seseorang yang menepuk bahu pria tersebut "she's my girlfriend, jadi lepaskan tangannya!"


Pria itu lalu menoleh ke arah pria yang menepuk bahunya tadi "aku tidak peduli, kalau aku tidak mau melepaskannya lalu kamu mau apa?"


"Liam?" ucap Jane terkejut.


Liam lalu menatap pria tersebut dengan tatapan yang sangat menyeramkan sehingga membuat pria itu ketakutan dan langsung melepaskan tangan Jane "maaf. Baiklah aku akan pergi," ucap pria itu lalu berlari keluar cafe.


"Are you okay?" tanya Liam khawatir.


"Yes. Kok kamu bisa sampai sini?"


"Aku langsung ke sini setelah membaca pesan darimu."


"Oh begitu. Ingin pesan apa, nanti aku pesankan?"


"Aku sudah memesan cappucino begitu sampai di sini."

__ADS_1


Jane hanya mengangguk, lalu dia meminum american latte miliknya. Jane masih merasa sedikit ketakutan setelah peristiwa tadi. Liam yang mengetahui jika Jane masih syok, lalu dia mengusap lembut rambut Jane dengan disertai senyuman "don't be scared! i'm here."


Karyawan cafe kembali ke meja Jane untuk mengantarkan pesanan Liam "silahkan, ini pesanan anda."


"Terima kasih."


"Sama - sama."


Liam kemudian meminum cappucino miliknya, lalu dia mengambil tangan Jane yang merah karena ulah pria tadi "apa ini sakit?"


Jane mengangguk "sedikit."


Liam lalu meniup tangan Jane, setelah itu dia melihat kuku Jane yang sudah diwarnai dengan cat yang dia pilihkan semalam "warna cat kukunya terlihat sangat bagus di kukumu."


Jane tersenyum "benarkah?"


Liam membalas senyuman Jane "iya, mana tangan kamu yang satunya aku ingin lihat."


Jane kemudian menunjukkan tangan yang satunya kepada Liam "ini."


"Wah, ternyata kamu pandai juga menghias kuku - kukumu."


"Tidak terlalu."


"Kalau begitu kapan - kapan aku akan membelikanmu cat kuku lagi, bagaimana?"


"Tidak apa - apa, aku ingin membelikan warna - warna yang lain."


Jane kembali meminum, minumannya "kenapa begitu?" tanya Jane penasaran.


Liam lalu menopang dagunya "sepertinya karena aku suka melihat kuku - kukumu yang bewarna - warni."


"Hanya itu?"


"Tidak, masih ada lagi."


"Apa?" tanya Jane sembari tersenyum.


"Aku juga suka melihatmu ketika kamu mewarnai kuku - kukumu itu," ucapnya sembari masih memegang tangan Jane.


"Kenapa begitu?"


"Aku juga tidak tau."


"Aneh sekali," ucap Jane mengejek Liam.


Beberapa menit kemudian waiters datang menghampiri meja mereka lalu meletakkan cappucino pesanan Liam di atas meja. Setelah itu Liam langsung meminumnya dan terdiam selama beberapa saat, begitupun juga dengan Jane yang kembali memainkan handphone miliknya. Liam terdiam menatap pemandangan ke luar dari jendela cafe tersebut. Fikirannya sangat bimbang sekali, dia bimbang memilih antara orang dari masa lalunya atau orang yang selama ini menjadi alasan dia untuk berubah menjadi seseorang yang lebih baik.

__ADS_1


Jane sesekali memperhatikan Liam yang sedang merenung melihat ke arah kaca jendela cafe. Jane merasa heran karena setiap kali Liam bersamanya selalu saja banyak bicara dan bercanda, tetapi kali ini dia hanya diam merenung seperti Liam yang dulu pertama kali dia temui. Apakah dia sedang ada masalah atau hal lain yang membebani fikirannya saat ini? seperti itulah kira - kira yang Jane tanyakan di dalam hatinya saat menatap wajah Liam yang melihat ke jendela tersebut. Jane lalu memutuskan untuk bertanya kepada Liam, siapa tau dia bisa membantunya.


Jane mengusap lembut rambut Liam sembari tersenyum, lalu tanganya menyentuh pipi Liam "ada apa, apa sedang ada masalah?" tanya Jane penuh perhatian.


"Tidak ada apa - apa kok," ucapnya sedikit berbohong.


"Ceritakan saja, aku tau dari matamu jika kamu sedang berbohong padaku," ucap Jane dengan tangannya yang masih berada di pipi Liam.


Liam kemudian memegang tangan Jane "aku bilang, aku tidak apa - apa Jane."


Jane lalu melepas tanganya dari pipi Liam "kalau tidak ada masalah, kenapa kamu merenung seperti tadi?"


"Memangnya aku tidak boleh merenung?" tanya Liam untuk mengalihkan pembicaraan.


"Ya boleh sih, tapi," ucapannya terpotong oleh Liam.


"Nah kan, aku ini juga manusia biasa jadi aku suatu saat juga bisa saja mempunyai masalah atau hal - hal lain yang membuatku termenung."


"Nah, sifat menyebalkannya sudah muncul kembali."


Liam tersenyum tipis "sudahlah berhenti mengintrogasiku."


"Siapa juga yang mengintrogasimu dasar Chicken," ucapnya sembari memutar bola matanya.


"Walapun aku menceritakannya kepadamu, tetap saja kamu pasti tidak akan bisa memahaminya." Liam lalu kembali melihat ke arah Jendela dan kembali termenung.


"Kamu saja belum menceritakannya kepadaku, lalu bagaimana bisa aku memahaminya dasar aneh."


Liam hanya diam merenung sembari mendengar Jane berbicara. Beberapa menit kemudian Liam masih diam termenung saja, yang membuat Jane merasa sedikit khawatir denganya. "kamu ini kenapa sih?"


"Sudah aku bilang, aku tidak kenapa - kenapa berhentilah bertanya."


"Aku hanya ingin mencoba membantumu saja, kenapa kamu marah kepadaku."


Liam yang menyadari jika dia hampir lepas kendali, lalu dia mengatur nafasnya dan mulai berbicara baik - baik kepada Jane "aku tidak apa - apa Jane."


"Lalu kenapa kamu bersikap aneh seperti ini?"


"Aku akan pulang, kamu pasti akan kembali ke kantor bukan?"


"Tapi kita belum selesai berbicara Liam."


"Sudahlah, kita lanjutkan nanti atau setelah aku pulang dari New York saja."


"Tapi Li?"


Liam bangkit dari tempat duduknya "aku lelah Jane, tolong beri aku waktu untuk sendiri."

__ADS_1


"Tunggu! Liam!"


__ADS_2