
Liam terus memeluk Jane karena dia tidak ingin lepas dari Jane apalagi sampai harus kehilangannya. Liam benar - benar mencintainya serta menyayanginya dengan tulus, oleh sebab itu Liam selalu menuruti keinginan Jane selama hal tersebut masih masuk akal untuk dikabulkan. Kalau misalnya minta ufo, dinosaurus, gajah terbang nah itu baru Liam akan menolaknya karena bingung harus mencari kemana. Liam kemudian menggendong Jane ke pangkuannya dan menonton film bersama, melanjutkan film yang ditonton oleh Jane tadi. Jane bersandar di dada Liam yang bidang karena dia merasa sangat nyaman apalagi Liam juga memeluk bagian bawah dadanya. Sesekali Liam memainkan rambut Jane dan menciuminya karena baunya yang harum karena Jane tadi baru saja keramas. Tiba - tiba saja Josh mengetuk pintu kamar adiknya itu sembari memanggil nama adik iparnya untuk mengajaknya bermain game bersama.
Mendengar panggilan tersebut Liam lalu meminta izin kepada Jane untuk bermain game, dan Jane langsung mengizinkannya dengan syarat dia harus ikut bersama Liam. Karena merasa gemas dengan Jane, Liam langsung menggendongnya ke ruang tengah untuk bermain game bersama Josh. Saat digendong oleh Liam, Jane menyembunyikan wajahnya di leher Liam sembari memeluk leher Liam. Hal tersebut sampai membuat Josh merasa keheranan dengan tingkah adiknya itu karena dia baru pertama kali melihatnya bersikap manja kepada Liam, padahal dahulu adiknya itu sangat benci sekali terhadap Liam bahkan menyebutkan namanya saja rasanya seperti ingin gumoh. Josh lalu memberikan stick PS kepada Liam saat dia baru saja duduk di sofa, dan langsung memulai permainannya. Karena kebetulan Liam sedang berada di rumahnya, jadi Josh mengajak Liam untuk mencoba DVD PS yang tadi baru saja dia beli walaupun sepertinya Liam sudah pernah memainkannya dan bisa mencuri taktik permainan Liam.
"Jane sedang tidur?" tanya Josh menatap ke arah Jane.
"Tidak, dia memang sedang ingin seperti ini saja dan sedang manja sekali."
"Oh begitu, apa kamu tidak berat menggendongnya terus seperti itu?"
"Badan Liam kan besar dan kuat jadi dia tidak merasa keberatan sama sekali, iya kan hubby?" tanya Jane dengan nada manjalita.
Liam tersenyum "iya Jane," ucapnya sembari mengusap rambut Jane.
"Postur tubuh oppa kurus, tidak sama seperti Liam yang besar dan kuat jadi oppa tidak kuat menggendongku."
"Aku memang kurus namun aku juga kuat sama seperti Liam, kamunya saja yang tidak ingin digendong olehku."
"Oppa bohong wlee," ucap Jane menjulurkan lidahnya.
"Kalau tidak percaya kemarilah dan aku akan menggendongmu sama seperti saat Liam menggendongmu."
Jane lalu beralih duduk di pangkuan Josh dan duduk dengan posisi saat dia digendong oleh Liam "nah udah, awas saja kalau kamu melemparku."
"Mana mungkin aku melempar adik kesayanganku ini uluhuluh," ucap Josh mengusap pipi Jane.
*Setelah 15 menit kemudian*
"Ah oppa membuatku tidak nyaman."
"Tidak nyaman bagaimana?"
"Terlalu keras," ucapnya lalu dia beranjak duduk kembali di pangkuan Liam."
"Dih kamu durhaka sekali denganku, Jane."
"Aku tidak durhaka namun aku mencari sandaran yang nyaman."
Liam hanya tertawa kecil memperhatikan perdebatan kecil diantara kakak beradik itu. Lalu dia mengusap punggung Jane dengan lembut "sudah kalau ingin tidur, maka tidurlah dan jangan berdebat lagi dengan kakakmu."
"Nah benar yang dikatakan oleh Liam, kamu kalau sedang mengantuk sukanya mengajak ribut orang terus."
"Hubby, oppa nakal."
__ADS_1
"Sudah tidak apa - apa sayang hahaha," ucapnya terus mengusap punggung Jane.
"Kadang hubby yang nakal karena aku sering ditinggal kerja dari pagi sampai sore."
"Ck kalau Liam tidak bekerja nanti kamu akan makan apa? makan batu dan pasir ha?" ucap Josh sedikit geram.
"Oppa ini kenapa sih selalu saja mencari ribut denganku?"
"Habisnya kamu yang memulainya terlebih dahulu, oppa nakal."
"Sudah Josh, nanti dia nangis lho."
"Cengeng sekali," ucap Josh mengejek Jane.
"Diam Josh!!" teriak Jane.
"Ssttt," ucap Liam saat membungkam mulut Jane.
Jane lalu mengeluarkan handphone miliknya "hubby aku boleh beli ini tidak?" tanya Jane saat menunjukkan layar handphone ke Liam.
"Boleh."
"Beliin ya?" tanya Jane penuh harap.
"Iya."
"Iya sayang, berapa harganya?" tanya Liam yang masih sibuk bermain game.
"40 juta sekian."
"Baiklah."
Josh lalu menyenggol Liam lalu berbisik di telinganya "woyy Li jangan dikasih."
"Sudah tidak apa - apa," ucap Liam berbisik.
"Sudah tau jajannya banyak eh malah suaminya tidak boleh bekerja, dasar."
Jane memanyunkan bibirnya "tidak boleh ya?"
"Boleh kok sayang, beli saja apa yang kamu mau."
Mata Jane langsung berbinar - binar "benarkah?"
__ADS_1
"Iya."
Beberapa jam kemudian Liam sudah berada di rumahnya bersama dengan Jane karena Liam sudah berhasil membujuk Jane untuk pulang ke rumah. Awalnya Jane masih tetap tidak mau pulang karena masih malas namun berkat kegigihan Liam akhirnya Jane bersedia pulang ke rumah. Jane langsung mengganti pakaiannya dan bersiap untuk tidur. 5 hari kemudian saat Liam sudah berangkat kerja, Jane sedang bersantai duduk di dapur sembari meminum jus mangga yang juga menjadi jus favoritenya. Tiba - tiba saja Nat menghampiri Jane untuk mengajaknya berbincang sebentar, dan Jane langsung mengajak Nat ke rooftop agar lebih leluasa.
"Baiklah katakan apa yang ingin kamu bicarakan denganku," ucap Jane sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Sudahlah jangan terus menerus marah kepada Liam karena bukan dia yang bersalah namun aku yang bersalah. Waktu kejadian di cafe tersebut kami hanya berbincang ringan saja karena sudah lama kami berdua tidak berbincang bersama, dan dia mengatakan bahwa dia sangat tulus mencintai serta menyayangimu."
"Benarkah?" tanya Jane sedikit ragu.
"Iya Jane, aku bisa melihat dari matanya saat dia mengatakan hal tersebut dan dia bukan tipe pria yang bisa berbohong mengenai perasaannya. Jadi kamulah wanita yang memang dia pilih untuk menjadi teman hidupnya, dan aku hanya ingin rumah tangga kalian agar selalu bahagia."
"Terima kasih Nat," ucapnya sembari tersenyum.
"Sama - sama Jane."
"Jadi bisakah kamu memberitahuku apa yang disukai dan tidak disukai oleh Liam?"
"Bukankah kamu istrinya?" tanya Nat bercanda.
"Tetapi kamu yang lebih lama mengenalnya dibandingkan diriku hahaha."
"Baiklah."
Nat lalu memberitahu semuanya kepada Jane sembari mereka berdua bercanda ria. Sekarang perasaan Jane sudah merasa lega karena permasalahan ini sudah selesai dan mereka berdua memutuskan untuk berteman. Tidak hanya itu saja, mereka berdua juga membuat kue bersama dengan bibi karena Nat meminta Jane untuk mengajarinya membuat kue. Saat sore hari Liam yang baru saja pulang dari kantor tiba - tiba dihampiri oleh Jane.
"Hubby sudah pulang."
Liam lalu menggendong Jane serta menciumnya "sudah mandi?"
Jane mengangguk "sudah dong."
"Pantas saja sudah wangi."
"Hubby, ayo nanti kita pergi jalan - jalan dan ajak Nat sekalian."
"Hemm ternyata kalian berdua sudah berteman ya rupanya?"
"Sudah, bagaimana?"
Liam tersenyum "baiklah kita nanti jalan - jalan."
"Oh ya hubby ingin minum apa?"
__ADS_1
"teh hangat saja."
"Okay."