
Lee lalu merangkul Liam dan mengajaknya untuk bergabung bersama dengan yang lain. Lee anaknya memang seperti itu karena dia memang tipe orang yang selalu berusaha untuk dekat dengan orang lain saat pertama kali bertemu dengan seseorang, ya mungkin bisa dikatakan sebagai seseorang yang humble. Teman - temannya menertawakan Lee saat sedang merangkul bahu Liam karena perbedaan tinggi badannya yang sangat jauh, sehingga Lee harus berjinjit agar bisa merangkul bahu Liam dengan sempurna. Liam hanya bisa tersenyum tipis saat mereka menertawakan Lee, lalu Liam menepuk - nepuk punggung Lee dan mengangkatnya sedikit hanya dengan memakai satu tangan.
Semua langsung merasa terkejut melihat kekuatan Liam yang seperti seorang manusia botak di karakter film anime karena dapat mengangkat tubuh Lee hanya dengan satu tangannya. Menurut Liam berat badan Lee sama seperti milik Rosie, adiknya karena sama - sama kurus. Setelah itu Liam menurunkannya dan wajah Lee masih terlihat sangat shock karena merasa tidak percaya jika suami temannya itu bisa mengangkat tubuhnya hanya dengan satu tangan saja. Setelah itu Jane memberikan minuman dingin untuknya sembari melihat teman - temannya yang sedang memanggang beberapa daging dan sosis dengan sangat heboh, seperti sebuah grup atau geng pertemanan pada umumnya.
Liam mengamati bahwa Lee ini sifatnya seperti Dio yang selalu saja bertingkah konyol serta heboh seperti seorang badut tongkrongan, hahaha Liam menjadi rindu berkumpul dengan teman - temannya dan selalu membahas banyak hal saat mereka semua berkumpul. Eugene lalu berbisik kepada Jane untuk memintanya berbicara kepada Liam agar mereka diizinkan oleh Liam untuk memakai peralatan karaoke miliknya. Jane lalu menghampiri Liam yang tengah berbincang dengan Lee dan teman - temannya yang lain.
"Hubby," panggil Jane.
"Hmm ada apa?" tanya Liam menundukkan badannya agar Jane bisa berbisik di telinganya.
"Teman - temanku ingin memakai peralatan karaoke milikmu," ucap Jane berbisik.
"Oh baiklah, sebentar aku akan menyalakannya terlebih dahulu."
"Okay, terima kasih hubby."
"Iya sama - sama."
Liam kemudian pergi untuk menyalakan televisi serta mencoba semuanya apakah sudah berfungsi atau belum, dan setelah semuanya bisa dipastikan dapat berfungsi dengan baik Liam lalu memanggil Jane.
"Sudah hubby?" tanya Jane meminta kepastian.
Liam mengacungkan jari jempolnya.
"Sudah, silahkan jika ingin menggunakannya."
"Eugene, kamu dan Yuji sudah bisa menggunakannya."
"Oh benarkah?"
"Iya."
Eugene lalu membungkuk kepada Liam.
"Terima kasih."
Liam ikut membungkuk untuk menghormatinya, karena dia pernah diajari oleh Jane saat sedang berada di Korea Selatan.
"Sama - sama."
__ADS_1
Setelah itu Eugene mengajak Yuji pergi menghampiri di area karaoke.
"Kamu ingin aku ambilkan makanan apa?" tanya Jane.
"Kue dan minuman bersoda saja."
"Baiklah sebentar.
*Nom nom nom*
"Hei Liam terima kasih sudah memfasilitasi kami dengan semua ini," ucap Lee membungkuk.
"Iya."
"Mmm mulai sekarang kamu adalah temanku juga, maukah kamu menjadi temanku?" tanya Lee saat mengulurkan tangannya.
"Boleh," jawab Liam menjabat tangan Lee.
"Ternyata Jane tidak salah memilih suami hahaha," ucap teman Lee.
"Hahaha anda bisa saja," jawab Liam.
"Okay."
"Oh iya aku lupa bertanya, dimana tempat kamu kerja dan bagian apa?"
"Di perusahaan A dan hanya sebagai karyawan saja."
"Oh begitu, kenapa kamu tidak menjadi model saja? padahal postur tubuhmu serta wajahmu sangat mendukung untuk menjadi model."
Liam menggeleng.
"Aku orangnya pemalu, apalagi saat di depan kamera jadi lebih baik aku menjadi karyawan saja."
"Kamu terlihat sangat kuat sekali, apa kamu rutin berolahraga?" tanya Lee.
"Tidak juga, terkadang aku hanya berolahraga seminggu sekali atau seminggu dua kali."
"Tapi bagaimana tubuhmu bisa sangat kekar seperti seorang gladiator?"
__ADS_1
"Durasi latihannya yang ditambah jika aku hanya bisa berolahraga seminggu dua kali."
Lee dan temannya itu mengangguk paham.
"Oh begitu rupanya."
Setelah itu mereka bertiga menghampiri para wanita yang sedang asyik bernyanyi bersama di area sofa. Liam lalu duduk di sebelah Jane yang sangat bahagia mendengarkan teman - temannya bernyanyi bersama sembari tepuk tangan. Liam lalu merangkul pinggul Jane dan ikut mendengarkan teman - teman Jane bernyanyi serta bergembira bersama pada malam itu. Malam semakin larut dan mereka semua asyik berpesta kebun di rooftop rumah Liam. Sesekali ada sebagian orang yang memanggang sisa daging agar tidak terbuang sia - sia. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam namun mereka semua masih saja asyik berpesta serta bernyanyi bersama.
Tiba - tiba saja Lee mengajak semua orang untuk melakukan TOD truth or dare menggunakan sisa botol alkohol. Satu persatu mendapat giliran ada yang memilih untuk menjawab pertanyaan yang diajukan, dan ada juga yang memilih untuk melakukan hal - hal yang diminta oleh mereka. Kemudian tibalah saatnya botol tersebut berhenti berputar dan mengarah ke arah Liam. Lee kemudian mengajukan pertanyaan apakah dia memilih truth or dare, dan Liam langsung memilih dare karena mencari aman. Liam takut jika dia memilih truth maka akan ada pertanyaan aneh - aneh yang diajukan oleh mereka. Liam tak apa jika harus melakukan sesuatu yang aneh - aneh daripada harus menjawab hal yang membuatnya merasa canggung.
"Baiklah karena Liam memilih dare maka aku ingin kamu mencium Jane dihadapan kami semua," ucap Lee setengah mabuk.
"Apa tidak ada tantangan lain seperti menari atau apa gitu?" protes Liam.
"Tidak ada. Bagaimana semuanya, apakah kalian setuju jika Liam mencium Jane dihadapan kita semua?" tanya Lee.
"Setuju," ucap mereka semua dengan sangat antusias.
Liam menghela nafasnya kasar.
"Baiklah jika itu keinginan kalian maka aku akan mulai mencium Jane sekarang juga!!" teriak Liam yang masih setengah mabuk.
"A-aku tidak setuju," ucap Jane tiba - tiba.
"Hei kenapa begitu?" tanya Eugene.
"Sudah Jane tidak apa - apa, mari kita berciuman agar mereka semua merasa puas."
"Tapi Li..."
Belum selesai berbicara tiba - tiba saja Liam langsung mencium bibir Jane hingga membuat semuanya berteriak histeris. Jane justru malah menikmati ciuman Liam hingga ciuman mereka semakin panas dan setelah menyadari bahwa masih ada teman - temannya, Jane melepaskan ciuman tersebut lalu dia memakan kue yang tadi belum dia habiskan. Saat jam 1 malam mereka semua lalu berpamitan untuk pulang namun. sebelum pulang mereka menyempatkan untuk beberes sebentar serta mengumpulkan sampah. Beberapa menit kemudian Liam langsung terbaring di atas ranjangnya sembari menunggu Jane selesai berganti pakaian.
"Bukankah kamu menginginkan aku melakukan hal seperti itu namun kenapa kamu malah seperti tidak menyukainya?" tanya Liam.
"Bukannya aku tidak suka, tetapi tadi hampir saja kita akan melewati batas."
"Oh," jawab Liam singkat.
"Jika kita sedang berduaan di dalam kamar aku rasa tidak masalah, bahkan kamu boleh melakukan apapun yang kamu suka namun jika seperti tadi suasananya aku tidak suka."
__ADS_1
"Baiklah."