Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #285


__ADS_3

Mereka lalu menikmati hidangan yang telah disediakan oleh ibu Gita sembari berbincang - bincang ringan dengan ayah Gita. Pada saat itu ayah Gita juga bertanya mengenai pekerjaan Ricko serta bibit, bebet, bobotnya untuk membuat kesimpulan kembali. Rupanya itu berjalan mulus karena terlihat dari ekspresi ayah Gita yang sudah bisa terlihat senang dan sudah bisa bercanda ria dengan Ricko serta Liam. Ternyata menaklukan ayah Gita yang galak tidaklah sesulit yang dibayangkan sebelumnya karena mungkin saja dia melihat bahwa Ricko memanglah anak baik - baik dan memang bersungguh - sungguh untuk meminang putri sulungnya untuk menjadi istrinya. Setelah perbincangan tersebut selesai, ibu Gita lalu mengajak semuanya untuk makan malam bersama disana dan itung - itung untuk menjalin keakraban antara keluarganya dengan mereka berdua. Di meja makan sudah tersedia banyak sekali hidangan makan malam untuk mereka nikmati bersama.


Sedari sore ibu Gita memang sudah sangat sibuk mempersiapkan ini itu setelah kemarin malam Gita memberitahu bahwa pria yang selama ini menjalin hubungan dengannya akan datang untuk menemui ibu dan ayahnya. Dari dulu Ricko sudah berniat untuk menemui serta berbicara kepada ayah Gita bahwa dia ingin meminang putrinya, akan tetapi niat itu dia urungkan karena Gita bercerita bahwa ayahnya belum setuju jika dirinya pacaran apalagi menikah dan menginginkan Gita untuk fokus bekerja terlebih dahulu. Jadi Ricko memutuskan untuk mengurungkan niat baiknya itu apalagi setelah mengetahui bahwa ayah Gita terkenal sangat galak. Baru sekarang Ricko berani menemui ayah Gita untuk berbicara mengenai niatan baiknya itu setelah Gita mengatakan kepada Ricko, bahwa dia mendengar percakapan dari ayah dan ibunya yang berniat akan menjodohkan dengan anak dari tuan tanah di desa itu.


Tiba - tiba seorang anak laki - laki datang memasuki rumah tersebut.


"Oh ada tamu ternyata," ucap anak laki - laki itu.


"Kenalkan dia anak bungsuku yang bernama Setya."


"Adiknya Gita ya pak?" tanya Liam.


"Benar, ayo nak salim sama mas - masnya dulu."


"Iya yah," ucap Setya lalu dia menyalami Liam dan Ricko.


"Kelas berapa?" tanya Ricko.


"Kelas 2 SMA mas."


"Oh begitu, belajar yang rajin agar dapat unniversitas yang terbaik."


"Baik mas." Setelah itu Setya duduk di samping ayah Gita.


"Kamu anak tunggal bukan?" tanya ayah Gita.


"Benar pak, tapi mungkin sebentar lagi saya juga akan mempunyai seorang adik laki - laki hehe."


"Iya, iya dan kamu juga anak tunggal Liam?"


"Tidak pak, saya punya kakak laki - laki alias kembaran saya dan seorang adik perempuan."


"Oh ternyata kamu ini anak kembar ya?" tanya ibu Gita.


"Iya bu namanya Lian, dan adik saya namanya Rosie."


"Namanya hanya beda satu huruf saja ternyata, dan nama adik perempuanmu juga sangat bagus."


"Iya bu, orang tua saya tidak kreatif membuat nama untuk anak kembarnya."


Semua orang langsung tertawa.

__ADS_1


"Kenapa begitu?" Gita.


"Karena semuanya hanya beda satu huruf saja. Lian Gerald Robinson dan Liam Gerard Robinson, jadi kalau dipanggil Li semuanya pada noleh."


"Bukannya anak kembar justru lebih lucu jika diberi nama yang hampir - hampir mirip?" tanya Ricko.


"Benar itu," ucap Gita.


"Lucu kalau masih kecil, coba kalau sudah besar pasti aneh rasanya. Waktu itu istriku manggil Li waktu ada Lian juga, dan karena dua - duanya langsung noleh jadi sekarang dia menganggilku dengan sebutan lain."


"Dengan panggilan kesayangan ya?" tanya ibu Gita menggoda Liam.


"Iya bu hehe."


"Sekarang Liam sudah mulai akur dengan Jane, lho Git."


"Benarkah? bagus dong jika seperti itu hahaha."


"Kadang - kadang saja, coba kalau lagi kambuh gilanya hmm."


Gita tertawa.


"Terkadang hehe."


"Kok tidak diajak kemari istrinya?"


"Hehe tidak bu, takut ngerusuh nanti kalau diajak kemari."


"Yang ada malah kamu yang ngerusuh Li, bukan Jane."


"Oh iya juga sih."


"Dahulu aku belum mengizinkan Gita untuk pacaran atau menikah karena aku ingin dia fokus untuk bekerja terlebih dahulu, dan dia juga ikut bantu - bantu untuk membiayai sekolah Setya. Aku ini bukanlah dari keluarga yang kaya raya sehingga dari dulu aku berusaha bekerja keras banting tulang agar semua anak - anakku bisa meraih gelar sarjana."


"Saya janji akan membantu membiayai uang sekolah Setya jika Gita bisa menjadi istri saya, pak."


"Jangan, aku tidak ingin memberatkan kamu dengan hal yang seperti itu nak Ricko. Aku hanya ingin meminta kepadamu untuk menjaga


serta menyayangi putri aku saja itu sudah cukup."


"Baik pak, saya berjanji."

__ADS_1


"Jangan dipikirkan tentang yang muluk - muluk, yang penting besok tepati dulu permintaanku untuk membawa semua anggota keluargamu ke rumahku jika kamu memang bersungguh - sungguh dengan niatanmu itu."


Ricko mengangguk.


"Baik pak. Mmm jika sudah selesai maka saya dan teman saya akan berpamitan untuk pulang."


"Iya hati - hati ya."


"Siap pak," ucap Liam dan Ricko.


Liam lalu mulai mengendarai mobilnya untuk kembali ke Jogja. Selama diperjalanan Ricko terus berbincang dengan Liam terutama bertanya mengenai apa saja yang harus dipersiapkan sebelum melamar Gita secara resmi. Liam langsung memberitahu mengenai apa saja yang harus dipersiapkan oleh Ricko untuk membuat acara lamaran serta sampai ke acara pernikahan secara lengkap dan jelas. Karena jam masih menunjukkan pukul setengah 8 malam dan kebetulan melewati alun - alun Klaten, Liam lalu mengajak Ricko untuk singgah di alun - alun tersebut sembari bersantai sebentar.


Liam lalu memakirkan mobilnya dan berjalan - jalan bersama Ricko di alun - alun tersebut sembari menikmati suasana alun - akun pada malam hari. Setelah lelah berkeliling mereka berdua lalu memutuskan untuk pulang agar tidak terlalu larut malam saat sampai di rumah. Namun Liam mengantarkan Ricko pulang ke rumahnya terlebih dahulu, dan begitu sampai di rumah Liam langsung mencari Jane di kamarnya. Namun saat sesampainya di kamar ternyata Jane tidak ada, lalu dia memutuskan untuk melepas semua pakaiannya serta sepatunya di dalam ruang ganti alias walk in closet miliknya. Jane yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah buang air kecil, dia lalu menghampiri Liam yang sedang berganti pakaian.


"Hubby, bagaimana acaranya?"


"Lancar, dan ayah Gita meminta Ricko untuk kembali ke rumahnya besok saat hari Minggu dengan membawa keluarganya."


"Syukurlah jika seperti itu, mudah - mudahan semuanya lancar."


"Aminn. Tadi kamu ditanyain Gita kok tidak ikut? terus aku jawab, nanti kalau dia ikut pasti bakalan ngerusuh."


Jane mencubit perut Liam.


"Dih bukannya kamu yang selalu ngerusuh?"


Liam meringis kesakitan.


"Sakit sayang, kok nyubit sih."


"Habisnya kamu menyebalkan."


Liam langsung menghendong Jane sembari menciumi pipi serta lehernya.


"Ututu sayang, aku kangen denganmu."


"Aku juga hubby, dan aku kira kamu akan pulang larut malam sekitar jam 12 an namun ternyata tidak."


"Iya karena aku sudah merindukanmu, jadi cepat pulang."


"Oh begitu."

__ADS_1


__ADS_2