
Saat kue tersebut sudah matang, Mrs Robinson langsung membungkusnya untuk Liam dan memberinya jatah kue yang banyak dibandingkan dengan saudara - saudaranya yang lain karena sekarang dia tinggal lumayan jauh darinya. Mrs Robinson lalu menitipkan kue tersebut kepada Jane, dan setelah itu mereka berdua meminum teh bersama sembari berbincang ringan dengan ditemani oleh kue yang baru saja mereka buat. Karena merasa sedikit khawatir dengan putranya jika tempramentnya kambuh, Mrs Robinson lalu bertanya kepada menantunya apakah putranya tersebut sering bersikap kasar secara fisik dan verbal kepadanya atau tidak. Jane kemudian menjawab bahwa Liam tidak pernah bersikap kasar dan mungkin hanya sering menyidir dirinya hingga menusuk sampai ke ulu hati. Liam juga sering marah kepadanya namun dia tidak sampai melakukan kekerasan, dan dia hanya marah jika Jane sulit untuk diberitahu olehnya.
Mrs Robinson sudah merasa sedikit lega mendengar jawaban dari Jane, akan tetapi dirinya masih merasa khawatir jika putranya itu mulai kambuh lagi. Pembicaraan mereka berdua terhenti sejenak saat keduanya memutuskan untuk menyeruput teh hangat miliknya masing - masing, dan mencicipi kue buatan mereka berdua. Jane melihat sekeliling taman belakang rumah keluarga Robinson sembari sesekali dia menarik nafas secara dalam dan menghembuskannya. Tiba - tiba saja Jane memberitahu Mrs Robinson bahwa enam bulan kemudian dia akan melaksanakan program hamil bersama Liam, dan sontak hal itu membuat Mrs Robinson merasa bahagia karena itu artinya dia tidak harus menunggu waktu yang sangat lama untuk menimang seorang cucu. Mrs Robinson lalu mengusap rambut Jane sembari memberinya beberapa wejangan - wejangan mengenai kehidupan rumah tangganya, dan Jane mendengarkannya secara saksama.
"Saat kamu sedang hamil nanti fikirannya jangan sampai stress agar tidak membawa pengaruh buruk kepada janinmu nanti."
"Baik mom."
"Saat waktunya tiba nanti mommy akan meminta Liam agar tidak selalu mencari masalah denganmu hingga menyebabkan fikiranmu menjadi stress."
"Tidak perlu mom, Liam pasti juga paham kok."
"Dia itu sangat senang sekali mencari ribut dengan siapapun, oleh karena itu mommy akan selalu mengingatkannya untuk tidak mencari masalah denganmu."
"Iya mom."
"Kamu tidak sedang berusaha menutupi sesuatu bukan?"
"Menutupi sesuatu bagaimana mom?"
"Mengenai sikap Liam terhadapmu, jujur mommy masih sangat ngeri saat melihatnya melemparmu ke dalam kolam saat waktu itu."
"Tidak perlu khawatir mom, Jane baik - baik saja kok karena waktu itu Liam melemparnya juga ke dalam air jadi tidak terlalu sakit."
"Tetapi tetap saja masih ngeri jika kepalamu terbentur di tepian kolam renang sayang."
"Iya Jane paham mom, tetapi buktinya sekarang Jane baik - baik saja bukan?"
"Iya sih," ucap Mrs Robinson menghela nafasnya.
"Liam sudah bersikap sangat baik kepada Jane, serta dia juga sangat melindungi Jane dari apapun."
"Oh begitu, tetapi jika dia berbuat sesuatu kepadamu maka jangan takut untuk melaporkannya kepada mommy."
"Siap mom."
"Ayo dimakan lagi kuenya."
__ADS_1
"Baik mom."
Jane kemudian mengambil sebuah cookies dari toples dan langsung memakannya.
"Oh ya, bagaimana liburanmu saat di Dieng kemarin?" tanya Mrs Robinson penasaran.
"Sangat seru mom, kita berjalan - jalan di sekitar danau serta menginap semalam di sebuah tenda yang disewa oleh Liam."
"Wah sangat mengasyikkan. Liam saat masih remaja memang suka liburan di alam terbuka dan juga sering pergi camping di puncak gunung bersama dengan teman - temannya."
"Benarkah mom? pantas saja dia terlihat begitu bersemangat saat mengajakku untuk menginap di tenda, karena dia sangat menginginkan pergi camping bersama dengan seseorang yang dia cintai."
"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?"
"Dia menceritakan semuanya kepadaku saat dia sedang menatap langit malam dari dalam tenda. Walaupun dia selalu dihujani dengan kemewahan sejak kecil namun keinginannya itu selalu sederhana hingga sangat sayang jika tidak diwujudkan mom."
"Apa saja keinginannya"
"Waktu itu dia menginginkan untuk melukis bersama di hamparan padang rumput yang hijau, dia juga sangat menginginkan untuk pergi camping bersama dengan seseorang yang dicintainya. Aku menjadi tidak sabar mendengar keinginan Liam yang lainnya."
"Suatu saat kamu pasti juga akan mendengarkannya lagi Jane, asalkan kamu tetap selalu bersamanya."
"Iya, mommy titip Liam kepadamu ya Jane?"
"Baik mom. Kita berdua akan saling menjaga satu sama lain agar tetap selalu bersama dalam suka maupun duka."
"Terima kasih sayang."
"Mommy tidak perlu berterima kasih kepadaku, justru aku lah yang harusnya berterima kasih kepada mommy karena mommy sudah melahirkan seorang putra yang baik hati seperti Liam."
"Iya Jane."
"Eh sudah mulai sore mom, Jane pamit pulang dulu karena takut jika nanti Liam akan mencari Jane sepulang dari kantor."
"Iya hati - hati dijalan."
"Okay mom."
__ADS_1
Jane lalu cipika - cipiki dengan Mrs Robinson sebelum dia pulang, dan setelah Jane masuk ke mobil Pak Kang lalu mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah. Jalanan yang Jane lalui sudah mulai padat karena sudah menjelang sore serta jam pulang kerja. Sekitar 50 menit kemudian Jane telah sampai di rumah, dan Pak Kang langsung mengeluarkan beberapa paper bag dari dalam bagasi mobil. Jane langsung pergi ke dapurnya untuk meminum segelas jus buah yang dia letakkan di dalam kulkas, dan dia juga memasukkan cookies pemberian Mrs Robinson ke dalam toples. Setelah itu Jane pergi ke kamarnya untuk mandi sore sembari menunggu suaminya pulang kerja. Namun tiba - tiba saja handphone Jane berbunyi, yang ternyata panggilan tersebut dari Liam. Jane lalu menjawab panggilan telepon tersebut dan Liam langsung mengatakan jika dia akan pulang terlambat karena harus bekerja lembur. Jane kemudian meminta bibi untuk menemaninya makan malam karena Liam belum juga pulang ke rumah.
"Tuan kemana nyonya, kok belum pulang?" tanya Bi Ijah.
"Liam pulang terlambat bi, karena katanya dia harus bekerja lembur malam ini."
"Oh begitu nyonya, maklum sekarang adalah hari Senin jadi mungkin sedang banyak kerjaan."
"Iya bi, mari makan."
"Baik nyonya."
"Ayo Bi Melati makan juga."
"Baik."
Setelah menyelesaikan makan malam mereka, bibi lalu membereskan cucian piring terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Begitu semuanya sudah beres, bibi kemudian berpamitan untuk pulang karena awalnya dia menawarkan diri agar menemani Jane sampai Liam pulang ke rumah namun Jane menolaknya. Beberapa jam kemudian saat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tiba - tiba saja lift rumah tersebut berjalan naik yang artinya Liam telah pulang. Sesampainya di ruang tengah Liam melihat bahwa Jane sedang ketiduran di sofa, dan dia kemudian menggendong Jane ke kamarnya.
"Eh hubby sudah pulang?"
"Sudah, kenapa kamu ketiduran di sofa ruang tengah?"
"Aku ketiduran saat menunggumu pulang."
"Lain kali jika sudah mengantuk tidak perlu menungguku sayang, lebih baik langsung tidur saja."
"Aku tidak merasa tenang saat kamu belum pulang."
Liam langsung mencium bibir Jane sekilas.
"Tidak perlu khawatir kepadaku Jane."
"Kenapa begitu?"
"Aku bisa menjaga diriku sendiri kok."
"Tetapi tetap saja hubby, aku..."
__ADS_1
"Sssttt sudah ya, mari kita tidur setelah aku mandi."
"Okay."