
Saat Mr Robinson sampai ke rumah, Dia langsung disambut oleh senyuman istrinya saat sedang membawakan teh hangat untuknya dan juga untuk putranya. Mr Robinson lalu menghampiri istrinya tersebut dan merangkul pinggulnya dan mencium pipinya. Setelah itu Mr Robinson duduk di sofa dan istrinya langsung menyajikan teh hangat di atas meja, sedangkan Lian hanya duduk sebentar meminum tehnya lalu setelah itu dia pergi ke kamarnya untuk mandi. Mr Robinson berbincang dengan istrinya itu sembari menikmati teh hangat di sore hari sepulang kerja. Setiap suaminya pulang dari kantor Mrs Robinson selalu menyempatkan dirinya untuk bertanya kepada suaminya mengenai kegiatannya serta bagaimana hari - harinya saat sedang berada di kantor, apakah ada sesuatu yang menyenangkan atau justru ada sesuatu hal yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Sesekali Mrs Robinson juga memijat bahu suaminya sembari mendengarkan cerita darinya, hal itu yang membuat keharmonisan mereka berdua selalu awet walaupun terkadang mereka berdua selalu berselisih paham. Biasanya setelah itu Mr Robinson malah bersikap manja kepada istrinya dan memeluk - memeluknya hingga membuat Mrs Robinson merasa risih. Lalu Mrs Robinson menyuruh suaminya itu untuk mandi dan dengan cepat Mr Robinson langsung pergi ke kamar agar tidak terkena amukan dari istrinya itu. Sekitar 1 jam kemudian Mr Robinson menghampiri istrinya yang sedang berada di taman depan rumah. Mr Robinson memeluk istrinya itu dari belakang dan kemudian mencium lehernya. Saat itu semua bodyguard yang berada di sekitar area tersebut langsung membalikkan tubuhnya menghadap keluar alias melihat keluar rumah.
"Kenapa hon?" tanya Mrs Robinson sembari masih sibuk menggunting daun - daun kering di tanamannya.
"Ini sudah hampir malam dan kamu masih saja terus sibuk dengan tanamanmu."
"Sebentar masih nanggung hon, kurang sedikit lagi."
"Oh okay."
"Oh iya aku lupa bertanya, putramu Lian bagaimana perkembangannya saat dikantor?"
Mr Robinson lalu tidak berani menatap istrinya itu dan malah menatap bunga serta memengangnya.
"Ya begitulah."
"Tumben sekali kamu menjawabnya seperti itu, pasti ada sesuatu hal yang tidak ingin kamu katakan kepadaku bukan?" tanya Mrs Robinson menatap suaminya.
Dengan sedikit rasa takut Mr Robinson lalu mengangguk.
"Iya hon, ck bagaimana ya aku mengatakannya?"
"Katakan saja hon, aku ingin mendengarnya darimu yang sejujur - jujurnya."
Mr Robinson menghela nafasnya kasar.
"Mmm putramu yang satu itu sangat sulit untuk diajari sejak dulu, tidak kompeten dalam pekerjaannya serta sulit untuk berkembang."
"Benarkah begitu?"
"I-iya hon, maaf aku telah mengatakan hal seperti itu tentang anakmu eh maksudnya anak kita."
"Tidak apa - apa hon mungkin lama - lama dia juga akan semakin berkembang dan bahkan sangat kompeten seperti putra kita Liam, asalkan kamu bisa membimbingnya secara telaten pasti Lian juga akan bisa seperti yang kamu inginkan."
"Iya hon, terkadang Liam juga sering marah - marah serta mengadu kepadaku."
"Mengadu bagaimana?"
__ADS_1
"Dia sering mengatakan jika dia sudah sangat lelah membimbing Lian apalagi sekarang tanggungjawabnya diperusahaan juga semakin banyak, oleh sebab itu kemarin dia izin tidak masuk kerja karena sakit."
"Liam sakit?" tanya Mrs Robinson merasa terkejut.
"Iya kemarin Liam sakit namun saat siang hari aku bertemu dengannya di cafe sedang berkumpul bersama teman - temannya karena bosan dirumah sendirian."
"Memangnya Jane kemana?"
"Jane sedang ada jadwal syuting dadakan waktu itu, jadi Liam hanya di rumah bersama bibi saja dan setelah itu dia pergi ke cafe."
"Oh begitu."
"Yah aku tahu dia hanya sedang berusaha untuk menjernihkan fikirannya selama sementara serta butuh healing, jadi aku membiarkannya dan bahkan aku sempat memberinya uang jajan."
"Berapa uang yang kamu berikan kepadanya?"
"3 juta dan kedua temannya aku berikan masing - masing 500 ribu, kenapa memangnya?"
"Tidak apa - apa, aku hanya merasa senang saat kamu bisa bersikap loyal kepada Liam."
"Yeee aku dari dulu juga selalu loyal kepada anak - anakku terutama kepada istriku yang paling cantik, setiap mereka ingin beli apapun aku pasti akan selalu memberikannya selama uangku cukup."
"Ya aku menabung, tidak apa - apa aku hanya makan tahu dan tempe saja asalkan kalian makan yang enak - enak."
"Dih kamu saja tidak suka dengan tahu dan tempe, eh sok - sokan mau makan keduanya hahaha."
"Ya siapa tau aku jadi menyukainya."
"Ya sudah nanti aku akan memasak tahu dan tempe saja untuk makan malam."
"Eh ja-jangan dong, aku sekarang sedang ingin makan ikan tuna hehe."
"Iya, nanti aku cetak tempenya berbentuk ikan tuna."
Mr Robinson lalu semakin mendekat ke arah Mrs Robinson.
"Jangan hon, aku ingin makan ikam tuna yang sesungguhnya."
Mrs Robinson tertawa.
__ADS_1
"Aku tidak punya uang hon, jadi makan tahu dan tempe yang berbentuk ikan tuna saja ya?"
"Nanti aku akan memberimu uang, seperti tidak tau saja suamimu siapa sehingga tidak mampu membeli bahan makanan yang lain."
"Memangnya siapa suamiku?"
"Tebak saja sendiri," ucap Mr Robinson yang mulai mengambek.
Mrs Robinson berfikir sejenak sembari melanjutkan memotong daun - daun kering.
"Yang aku tahu suamiku adalah Jonathan Robinson, seorang pria yang sifatnya keras kepala, egois, serta selalu bersikap kekanak - kanakan."
Mr Robinson lalu menggendong istrinya dan mengambil sebuah gunting tanaman dari tangannya. Lalu setelah itu Mr Robinson membawanya masuk ke dalam rumahnya dan langsung membawanya menuju ke kamar mereka berdua. Mrs Robinson terus menatap wajah suaminya yang sedang menggendongnya itu karena tidak menyangka jika suaminya masih tetap saja kuat menggendongnya, padahal akhir - akhir ini berat badannya sedikit naik serta usia suaminya juga sudah mulai menua. Walaupun usianya sudah mulai menua namun wajah Mr Robinson masih saja terlihat tampan serta awet muda. Tidak hanya itu saja, ternyata tubuh Mr Robinson juga masih sangat ideal seperti saat dirinya masih muda dan dia juga masih mempunyai perut sixpack. Mrs Robinson mengira jika semua itu karena suaminya yang masih saja gemar meluangkan waktu untuk berolahraga serta menjaga pola makannya. 1 jam kemudian Mrs Robinson telah selesai masak dan langsung menyajikan tahu serta tempe yang berbentuk ikan tuna di atas meja.
"Selamat makan suamiku," ucap Mrs Robinson dengan nada mengejek.
"Hon kok begini sih menu makananku, sedangkan meny makanan anak - anak kita terlihat sangat lezat."
"Eh tahu dan tempe juga sangat lezat, makanya dicoba dulu."
"Tidak mau."
"Dahulu waktu aku masih muda, dapat makan tahu dan tempe saja setiap hari rasanya sudah sangat bersyukur apalagi itu juga tidak kalah lezat dari tuna."
Menyadari jika Mr Robinson sedang dikerjai oleh Mrs Robinson, Lian dan Rosie hanya bisa tertawa saja melihat wajah Mr Robinson yang sudah mulai bete. Kemudian Mr Robinson mengambil piring milik Lian.
"Sekali - kali kamu mengalah dengan daddy."
"Apaan sih dad, kembalikan milikku!"
"Hon jangan ganggu Lian, katanya tadi rela makan tahu dan tempe saja agar anak - anak kita bisa makan makanan yang lezat."
"Tetapi..."
Melihat wajah suaminya itu Mrs Robinson lalu menukar piringnya dengan piring suaminya.
"Aku hanya bercanda, ini makanlah yang banyak."
"Makasih hon."
__ADS_1
"Iya."