
Jane memegang tangan Liam untuk mencegahnya pergi, tetapi Liam melepasnya dan melangkah keluar cafe secara terburu - buru. Jane hanya menatap punggung Liam yang semakin hilang dari pandangannya. Jane kemudian bergegas masuk ke dalam mobilnya dan meminta pak Kang untuk mengikuti motor Liam tadi tetapi mereka kehilangan jejak Liam karena dia mengendarai motornya dengan sangat cepat. Akhirnya Jane meminta pak Kang untuk kembali ke kantor saja. Pak Kang lalu mengemudikan mobilnya menuju kantor sesuai dengan permintaan dari Jane. Sesampainya di kantor, Jane langsung kembali ke ruangannya dan mengerjakan pekerjaannya.
Di sisi lain, Liam yang telah sampai di rumahnya lalu berlari menuju kamarnya. Mrs Robinson dan Rosie yang melihat Liam berlari, lalu menyapanya tetapi Liam tidak menghiraukannya. Sesampainya di kamarnya, Liam langsung mengunci pintu kamarnya agar orang lain tidak bisa masuk. Mrs Robinson lalu berjalan menuju kamar Liam untuk menemuinya. Mrs Robinson lalu mengetuk pintu kamar Liam dan memanggil namanya tetapi Liam hanya diam saja berada di dalam kamarnya. Tiba - tiba Liam membuka pintunya dan keluar dari kamarnya.
"Ada apa Liam?" tanya Mrs Robinson penuh perhatian.
"Tidak ada apa - apa mom."
Mrs Robinson lalu memegang pipi Liam "apa kamu sedang sakit?"
"Tidak mom, Liam baik - baik saja."
"Lalu kenapa badanmu terasa sangat panas?"
"Mungkin karena cuaca hari ini saja mom, kalau begitu Liam pergi sebentar ya?"
"Mau pergi ke mana?"
"Ke tempat biasanya mom."
"Apa kamu sedang ada masalah heum?"
"Tidak kok mom, hanya ingin mengunjunginya saja setelah sekian lama aku tidak mengunjunginya."
"Baiklah hati - hati."
Liam kemudian berjalan menuruni tangga, lalu Liam bertemu dengan Rosie yang sedang menatapnya "apa lihat - lihat, naksir mbak?" ucap Liam sinis.
"Ihh siapa yang menaksirmu, dasar aneh."
"Lalu kenapa menatapku seperti itu?"
"Memangnya kenapa? jadi pria kok sensian."
"Siapa yang sensi, minggir saja sana menghalangi jalan saja."
Mrs Robinson yang berjalan di belakang Liam dan mengetahui pertengkaran tersebut, lalu dia menatap Rosie sembari meletakkan satu jarinya di depan bibirnya untuk mengisyaratkan Rosie agar diam saja. Rosie yang mengetahui isyarat dari Mrs Robinson, lalu dia diam dan menyingkir dari hadapan Liam. Setelah itu Liam melangkah pergi keluar dari rumahnya menaiki motornya. Beberapa jam kemudian Jane mengetuk pintu rumah keluarga Robinson, Bibi yang bekerja di rumah tersebut lalu membuka pintunya dan mempersilahkan Jane masuk. Jane lalu Mrs Robinson dan Rosie yang sedang berbincang di ruang keluarga.
Jane tersenyum "hai tante, hai Rosie."
"Hai Jane," ucap Mrs Robinson sembari tersenyum melihat kedatangan Jane.
"Hai eonni."
__ADS_1
Mrs Robinson langsung memeluk Jane "lama tidak main ke sini, apa kabar?"
Jane membalas pelukan Mrs Robinson "baik tante, kalau tante sendiri bagaimana?"
"Tante sehat kok, mau minum apa cantik?"
"Tidak perlu repot - repot tan."
"Eh tidak apa - apa kok, kamu tidak merepotkan sama sekali."
"Oh ya tante, om kemana?"
"Daddy nya Liam pulang ke Australia."
Jane mengangguk "oh begitu."
"Eonni, pasti datang ke sini mencari Liam ya?" tanya Rosie menyela pembicaraan mereka.
"Eh iya Rosie, Liam kemana?"
"Tidak tau pergi kemana, dia sedang marah - marah tidak jelas."
Mrs Robinson lalu memberitahu Jane "dia sedang berada di taman pribadi yang tak jauh dari sini."
"Taman pribadi?"
"Iya benar yang dikatakan oleh Rosie, entah apa yang di fikirkannya hingga terdiam berjam - jam di tempat tersebut."
"Ah ini sudah sore dan aku akan pergi ke kamarku untuk mandi," ucap Rosie berjalan menuju kamarnya.
"Maaf tan, bisa minta alamatnya?"
"Tentu saja."
Mrs Robinson lalu menuliskan alamatnya di handphone Jane, lalu dia berkata kepada Jane "tante minta tolong kepadamu ya."
Jane tersenyum "baik tante, terima kasih alamatnya."
"Sama - sama sayang."
"Kalau begitu Jane pamit ya tan?"
"Iya hati - hati di jalan."
"Baik tante."
__ADS_1
Jane langsung pergi menuju alamat yang diberikan oleh Mrs Robinson tadi, sesampainya di taman pribadi tersebut Jane lalu meminta pak Kang untuk menunggunya yang tidak terlalu jauh darinya. Jane takut jika terjadi apa - apa karena taman tersebut sangat luas namun sepi, dan hanya suara percikan dari air mancur saja yang terdengar dengan jelas. Jane lalu mencari keberadaan dimana Liam berada, dia berkeliling ke semua penjuru taman untuk mencari keberadaan Liam. Setelah berkeliling, akhirnya Jane menemukannya yang sedang duduk termenung di tepi danau buatan.
Jane kemudian menghampiri Liam yang sedang duduk termenung itu "hai Liam."
Liam terkejut melihat Jane yang sudah berada di depannya "darimana kamu mengetahui tempat ini?"
Jane lalu duduk di samping Liam "tante dan Rosie yang memberitahukannya kepadaku."
Liam merasa kesal "sialan, kenapa mommy dan Rosie harus memberitahu tempat ini." Gumamnya.
"Jika kamu marah kepadaku, jangan meluapkannya kepada mereka."
"Aku tidak marah kepada mereka berdua ataupun kepada dirimu," ucap Liam sinis.
"Lalu kenapa kamu bersikap seperti ini kepadaku?"
"Bersikap seperti apa?"
"Sudahlah jangan mengalihakan pembicaraan kembali, lebih baik sekarang katakan kepadaku kenapa kamu marah kepadaku!"
Liam lalu membelakangi Jane "aku tidak marah kepadamu, aku hanya sedang ingin sendiri saja."
Jane lalu memegang bahu Liam untuk berusaha membalikkan tubuh Liam menghadapnya "lalu kenapa kamu seperti ini heum?"
"Ihh lepaskan."
"Liam, jangan seperti anak kecil! jika di ajak berbicara itu harus melihat ke arah lawan bicara."
"Aku tidak mau, lebih baik pergi saja sana."
"Padahal aku sudah datang jauh - jauh ke sini hanya untuk menemuimu tapi kamu malah mengusirku."
"Terserah aku dong, kan ini taman juga milik aku."
"Lebih tepatnya milik keluargamu kan?"
"Tidak ini memang milikku, daddy yang dulu memberikannya kepadaku agar mempercepat masa pemulihanku dari trauma."
"Benarkah?" tanya Jane baik - baik.
"Diamlah, aku tidak mau berbicara denganmu."
Jane berdiri dari tempat duduknya "baik aku pergi."
"Baguslah, sana pergi yang jauh!"
__ADS_1
Jane lalu pergi dari tempat itu dan menjauh dari Liam. Jane kemudian menghampiri pak Kang yang sedang duduk di kursi taman. Kursi yang di duduki oleh pak Kang tak jauh dari kursi tempat Liam duduk, hanya berjarak sekitar 10 meter dari tempatnya. Di taman tersebut juga terdapat rumah yang hampir full menggunakan bahan kaca untuk berjaga - jaga jika Liam sedang ingin menginap. Dahulu Liam sering menggunakannya sebelum dia membeli apartement mewahnya yang sekarang. Menurut Liam fungsi apartement dan taman itu sama, yaitu untuk merenung dan menenangkan dirinya. Karena letaknya yang sedikit jauh dari kantor, jadi Liam jarang mengunjunginya dan memilih membeli apartement yang dekat dengan kantornya.