Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #140


__ADS_3

Jane menunggu Liam di apartement sampai sore hari dan berharap jika Liam akan kembali ke apartement namun dia tidak kunjung datang. Jane terus menerus menghubungi Liam berkali - kali tetapi handphone Liam tidak aktif. Akhirnya Jane pulang ke rumah dengan perasaan sedih yang juga bercampur kecewa, dan sesampainya di rumah Jane langsung mempersiapkan semua barang - barang serta pakaiannya yang akan dia bawa ke Korea Selatan. Tidak lupa Jane juga membawa boneka teddy bear yang merupakan pemberian dari Liam. Begitu dia selesai mengemas semua barang - barangnya Jane lalu turun untuk menikmati hidangan makan malam bersama anggota keluarganya. Rencananya Jane akan pulang ke Korea Selatan bersama dengan Pak Kang, sedangkan Mr dan Mrs menyusul 1 minggu kemudian setelah mereka menyelesaikan urusan mereka di sini. Sebenarnya Jane tidak ingin pulang ke Korea namun ada beberapa urusan termasuk sudah mulai banyaknya jadwal pemotretan untuk beberapa brand merk yang sedang dia promosikan.


Dia tidak bisa berbuat apa - apa karena sebelumnya dia sudah terikat oleh kontrak yang sudah dibuat oleh perusahaan dengan agensinya. Jane tidak mungkin menyudahi karier modelingnya karena dia sudah sangat lama berjuang hingga berada di posisi saat ini apalagi sekarang karier nya sedang sangat cemerlang sehingga banyak brand yang tertarik untuk bekerjasama dengan dirinya. Disisi lain Liam sedang berusaha menyelesaikan lukisannya untuk diberikan kepada Jane sebelum dia pergi. Sebenarnya Liam sedang malas untuk melukis tapi mau bagaimana lagi, dia sudah berjanji kepada Jane untuk melukisnya sebagai buah tangan untuk dibawa ke Korea. Seharusnya lebih simple untuk membawakan dia sekardus indimie atau sekarung buah rambutan dan salak daripada lukisan tangan. Lukisannya sudah hampir selesai dan tinggal memberikan cat vernis agar lukisannya terkesan hidup dan mengkilap. Sekitar 10 menit kemudian Liam sudah menyelesaikan lukisannya serta mengeringkan cat nya. Liam kemudian menutup lukisan tersebut dengan menggunakan kain putih, lalu dia bergegas untuk pergi ke rumah Jane.


"Mencari siapa Li?" tanya Josh saat menemui Liam di teras rumahnya.


"Jane."


Josh menggaruk rambutnya "ah kamu terlambat, dia sudah berangkat sejak jam 7 tadi."


Liam lalu menatap lukisan yang dia pegang dengan perasaan sedih "oh begitu rupanya."


"Iya, pulanglah!"


Saat Liam berbalik dengan menunduk tiba - tiba ada yang mengusap rambut Liam dan meletakkan kepalanya ke bahu orang tersebut sembari berkata "jangan sedih, dia hanya sedang mengerjaimu."


Liam langsung mengenali bau parfume tersebut "a-aku tidak sedih, aku hanya bingung saja karena mau aku apakan lukisan ini."


"Dasar gengsi an," ucap Josh mengejek Liam.


"Aku tidak gengsi."


Jane lalu mengambil lukisan tersebut dari tangan Liam dan melihatnya "ini untukku?"


"Bukan, tanganku hanya tidak sengaja membawanya."


"Cih apa susahnya untuk berkata yang sejujurnya? dasar gengsi an," ucap Josh kembali memprotes Liam.


"Diamlah bodoh!"


"Najis punya calon adik ipar sepertimu."


"Aku juga najis punya calon kakak ipar yang pelit sepertimu."


"Lukisan kamu ini untuk aku saja bagaimana?" tanya Jane.


Liam mengangguk "boleh, tapi bayar 5 juta terlebih dahulu dan boleh dicicil sampai kamu berhenti bernafas."


"Kalau dibayarnya dengan aku menjadi istrimu bagaimana?" tawar Jane.


Liam berfikir sejenak "kalau itu kemahalan."

__ADS_1


Jane tertawa "lalu kamu ingin aku membayarnya dengan menggunakan apa?"


"Pelukan."


"Dasar perbincangan kalian berdua ini sangat menggelikan sekali sampai rasanya aku ingin muntah."


Jane lalu memeluk Liam "bagaimana kalau sekarang kita membuatkan oppa seorang keponakan?"


Liam tersenyum licik "ide yang bagus, mari kita berikan dia 100 keponakan."


"Jangan aneh - aneh kalian!" teriak Josh.


"Baiklah mari kita pergi ke unit apartement kamu," ucap Jane sembari menggandeng tangan Liam dan melangkah pergi.


"Hei hentikanlah! aku tidak akan merestui kalian berdua."


"Bye oppa sampai berjumpa 9 bulan lagi," ucap Jane sembari melambaikan tangannya.


Josh berlari mengejar Jane sembari berteriak "Jane berhenti! aku belum siap mempunyai seorang keponakan."


"Masa bodoh," ucap Liam sembari tertawa.


Liam lalu mengejek Josh "dasar memalukan, begitu saja sampai menangis padahal kita berdua hanya bercanda."


Jane tertawa "sudahlah oppa."


"Aku panik karena aku sayang kepadamu, Jane."


"Tenanglah Josh, aku bukan pria yang seperti itu."


"Benar oppa, Liam ini pria yang baik dan sopan walaupun otaknya agak sedikit kurang satu ons."


"Hei! otakku masih normal," ucap Liam protes.


"Aku hanya bercanda, Liam."


"Jika kita berdua ingin memberimu keponakan maka kita berdua harus menikah terlebih dahulu, baru setelah itu kita bisa memberimu keponakan."


"Benarkah? aku kira kalian berdua sudah melakukan hal yang lebih jauh selama ini."


"Tidak oppa, kita tidak melakukan hal tersebut karena Liam tidak ingin melakukan hal tersebut sebelum kami resmi menikah."

__ADS_1


"Ah syukurlah," ucap Josh merasa lega.


Mereka bertiga melanjutkan perbincangan di teras rumah sembari meminum teh hangat buatan ahjumma yang bekerja di rumah Jane. Josh terus menerus menatap Liam dengan sinis dengan perasaan yang bercampur iri dan dengki karena Jane lebih menempel dengan Liam dibandingkan dengan dirinya yang merupakan kakak kandungnya. Josh kemudian berpindah menggeser Liam sehingga dia duduk di tengah - tengah antara Jane dan Liam. Hal itu membuat keduanya merasa heran dengan sikap Josh yang terlihat seperti kekanak - kanakan. Sebenarnya Josh masih tidak bisa menerima jika adiknya itu sudah kembali dekat dengan seorang pria dan Josh merasa bahwa mereka berdua sudah seperti akan merencanakan pernikahan. Josh tidak tau bagaimana yang sebenarnya namun feelingnya mengatakan begitu.


"Tidakk!!" teriak Josh hingga membuat Liam dan Jane merasa kebingungan.


"Oppa kenapa?"


"Kenapa kalian berdua menikah dan sekarang mempunyai seorang anak?"


"Kamu ini sebenarnya kenapa sih Josh? menikah dan mempunyai anak? kami berdua belum berada di tahap tersebut."


"Benar yang dikatakan oleh Liam, sebenarnya ini ada apa?"


"Aku sedang tidak bermimpi kan?" tanya Josh bingung.


Liam lalu mencubit lengan josh dengan sekuat tenaga "bagaimana? apa kamu sekarang dapat menyimpulkan bahwa kamu sedang bermimpi atau tidak?"


"Lalu anak kecil dengan wajah yang mirip sekali dengan kalian berdua tadi siapa?"


Jane semakin merasa bingung "anak kecil yang mana? daritadi tidak ada anak kecil di sekitar sini."


Liam memukul bahu Josh "makanya jangan bengong malam - malam, untung tidak kesurupan badarawuhi."


"Kalau begitu sekarang oppa jelaskan apa yang sedang oppa lamunkan hingga menjadi aneh seperti ini."


"Aku merasa jika kalian berdua mendatangiku dengan seorang anak kecil lalu anak kecil tersebut memanggilku dengan sebutan uncle Josh. Anak laki - laki itu sangat mirip sekali dengan wajah kalian, wajahnya memiliki lesung pipi seperti Liam namun memiliki mata dan pipi seperti Jane."


Liam lalu tertawa dengan keras "dasar mengada - ngada, bilang saja jika kamu ingin segera mempunyai keponakan."


"Aku tidak mengada - ngada!" teriak Josh.


Jane tersenyum "jika misalnya suatu hari nanti anak kami berdua memang seperti itu bagaimana?"


"Ya aku merasa bersyukur karena anak itu lebih tampan daripada Liam."


"Dasar."


"Kalau begitu aku harus sering - sering menatap Liam seperti ini saat hamil nanti," ucap Jane sembari memperagakan.


"Sepertinya begitu," ucap Josh setuju.

__ADS_1


__ADS_2