
Tidak lama kemudian mereka berdua telah sampai di sebuah restaurant yang telah ditentukan sebelumnya. Sebelum turun dari mobil, Yunna meminta waktu sebentar untuk merapikan riasannya agar lebih enak dipandang dan begitupun juga dengan Liam yang sedang sibuk merapikan dasinya. Biasanya Liam selalu menuju ke hotel terlebih dahulu jika ada meeting di luar kota dan saat berangkat hanya memakai pakaian santai, akan tetapi karena ini sedikit mendadak jadi Liam berdandan dengan setelan jas yang rapi saat berangkat dan juga langsung menuju ke tempat yang telah di tentukan.
Liam memperhatikan sebentar Yunna yang sedang berdandan, dan dia bergumam di dalam hatinya jika ternyata semua wanita sama saja jika sedang berdandan. Rata - rata mereka semua saat berdandan dimulai dari bedak, lalu lipstick, dan setelah itu merapikan rambutnya. Liam merasa terpana saat melihat rambut Yunna yang tergerai dengan sangat indah hingga dia berfikir bahwa Yunna terlihat semakin cantik. Tidak lama kemudian Liam langsung sadar bahwa dia sudah mempunyai seorang istri dan seorang anak, dan setelah itu dia berdoa agar tidak tergoda dengan wanita lain selain istrinya sendiri meskipum sekarang mereka berdua sedang bertengkar.
Pantas saja dia alias Yunna menolaknya secara mentah - mentah karena pasti Yunna memiliki standar yang cukup tinggi apalagi dia seorang wanita yang cerdas, begitu fikir Liam di dalam hati. Tiba - tiba saja Yunna tidak sengaja menjatuhkan lipstick miliknya, dan saat dia ingin mengambilnya ternyata Liam juga berusaha untuk mengambilnya juga hingga membuat kepala mereka berdua terbentur satu sama lain. Liam secara tidak sengaja juga melihat milik Yunna, hingga membuat dia mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tidak melihat milik Yunna yang terekspose secara tidak sengaja.
"Hah dapat," ucap Liam yang kemudian memberikan liptsick milik Yunna kepadanya.
"Terima kasih."
"Iya sama - sama, mmm kancing bajumu yang atas terlepas."
Yunna langsung melihat ke arah kancing baju yang dimaksud oleh Liam.
"Kamu melihatnya? dasar tidak sopan!!" teriak Yunna sembari memukulkan tasnya ke lengan Liam.
"Auchh sakit, lagipula aku tadi tidak sengaja melihatnya secara sekilas dan langsung mengarahkan pandanganku ke arah lain."
"Ckckck sekarang hadap ke kaca jendela sampingmu!!"
Liam langsung menghadap ke arah yang dimaksud oleh Yunna, dan dengan cepat Yunna langsung mengkancingkan bajunya.
"Sudah belum?"
"Sudah," ucap Yunna sembari merapikan rambutnya kembali.
Liam lalu membalikkan tubuhnya dan menatap Yunna kembali. Setelah itu dia kembali merapikan dasinya karena menurutnya masih kurang rapi, dan tiba - tiba saja dengan cepat Yunna langsung merapikan dasi Liam.
"Akan kubantu dirimu untuk merapikan dasinya," ucap Yunna sembari sibuk merapikan dasi Liam serta kerah kemejanya juga.
"Terima kasih."
"Kemejamu terlihat kusut, apa kamu ingin menggantinya dengan yang baru?"
"Tidak perlu, lagipula meeting hari ini hanya sebentar."
Tiba - tiba saja mata mereka berdua saling bertemu satu sama lain hingga membuat Liam menelan ludahnya.
*Glek.*
Mendengar hal tersebut Yunna langsung melepaskannya.
"Mmm maaf," ucap Yunna canggung.
__ADS_1
"Tidak apa - apa," ucap Liam melihat ke arah lain.
"Lebih baik kita berdua langsung masuk ke dalam restaurant saja."
"Nah benar hehe."
Mereka berdua lalu berjalan untuk masuk ke dalam sebuah restaurant, dan langsung duduk di sebuah meja yang sudah di reservasi sebelumnya. Tidak lama kemudian klien Liam telah datang dan menyapanya.
"Hello Mr Robinson," ucapnya sembari menjabat tangan Liam.
"Hello, panggil saja Liam."
"Oh baik Mr Liam hahaha bagaimana kabarnya?"
"Baik, bagaimana dengan anda?"
"Seperti yang anda lihat sekarang, tentunya aku sangat baik sekali hahaha."
"Hahaha."
"Oh ya selamat atas kelahiran putramu, dan sampaikan salamku untuk istrimu juga Mr Liam."
"Baik nanti saya akan menyampaikan salam anda kepada istri saya."
"Oh ya kenalkan dia Yunna, sekretaris pribadi saya."
"Salam kenal, saya Robert."
Yunna tersenyum.
"Salam kenal juga Mr Robert."
"Mr Liam sangat pandai sekali memilih sekretaris hahaha," ucapnya menepuk bahu Liam.
"Hahaha anda bisa saja."
"Sekretarismu sangat cantik dan tak kalah cantiknya dari istrimu," bisik Robert di telinga Liam.
"Mari silahkan duduk," ucap Liam mengalihkan pembicaraan.
Liam lalu memulai rapatnya selama 1 setengah jam, dan setelah selesai mereka berdua lalu makan siang bersama. Liam lalu mengajak Yunna untuk pergi ke hotel untuk beristirahat dan untung saja 1 hari sebelumnya Yunna sudah mereservasi dua kamar, jadi mereka berdua langsung pergi ke hotel tersebut tanpa bingung memikirkan hotel mana yang akan menjadi tempat singgah mereka berdua. Begitu sesampainya di hotel, mereka berdua langsung masuk ke dalam kamarnya masing - masing untuk beristirahat sebentar. Liam lalu melepas pakaiannya begitu dia berada di dalam kamarnya karena merasa sedikit gerah.
"Huffttt Liam hampir saja kamu tergoda dengan kecantikan Yunna, ingat bahwa kamu sudah memiliki seorang istri dan anak. Yah sepertinya Yunna juga tidak tertarik kepadamu secara dia adalah wanita yang cerdas jadi dia pasti mempunyai standar pasangan yang cukup tinggi. Kamu sangat tampan namun tidak mampu membuat Yunna bisa bertekuk lutut kepadamu ck dasar payah," gumam Liam sembari berkaca di cermin serta menatap perut kotak - kotaknya yang sangat sexy.
__ADS_1
*Tok!! tok!! tok!!*
Liam lalu berjalan dan membuka pintunya.
"Oh ya ada apa ya? sepertinya aku tidak membutuhkan layanan kamar."
"Tadi ada yang menghubungi FO bahwa coffe makernya rusak tidak dapat digunakan."
"Saya tidak menghubungi FO, dan lagipula coffe maker saya baik - baik saja."
"Baik tuan, maaf."
"Iya tidak masalah."
Setelah staff itu pergi Liam kemudian menutup pintunya dan berbaring di atas ranjangnya. Tidak lama kemudian dia kembali mendengar suara ketukan pintu, dan Liam kembali membuka pintu kamarnya.
"Ck apa lagi?"
Yunna langsung menutup matanya ketika melihat perut roti sobek Liam secara tidak sengaja.
"Apakah kamu bisa membantuku memperbaiki coffe makerku yang rusak? tadi aku sudah mencoba menghubungi bagian depan namun kenapa tidak ada orang yang datang ke kamarku."
"Ah baiklah."
Liam berjalan mengikuti Yunna untuk memperbaiki coffe makernya yang rusak. Liam lalu mengamati mesin tersebut dan mencobanya, eh setelah diamati selama 5 menit ternyata kabelnya belum dicolokkan ke stop kontak.
"Ckckck aku baru tahu jika kamu orangnya sedikit bodoh."
"Hehe, maaf aku tidak menyadarinya."
Liam lalu mendekati Yunna dan menatapnya.
"Apa jangan - jangan kamu sengaja melakukan hal seperti ini hanya untuk menarik perhatianku heum?"
"Ti-tidak mana mungkin aku berbuat hal seperti itu apalagi kamu sudah mempunyai seorang istri dan juga anak, lagipula suami orang itu bukan termasuk ke dalam list tipe idamanku."
"Benarkah?"
"Iya benar, hih keluar sana dari kamarku."
"Kenapa begitu?"
"Tidak enak saja."
__ADS_1
"Hmm baiklah."