Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #220


__ADS_3

Liam mencoba mendinginkan fikirannya serta melerai kedua wanita yang berada di sisi kanan dan kirinya agar tidak terjadi sesuatu hal yang lebih buruk. Liam berfikir sangat keras untuk memberi penjelasan kepada Nat agar dia lebih mengerti bagaimana posisinya sekarang, dan sebenarnya memang sedari dulu Liam hanya menganggap Nat sebagai sahabat dekatnya sendiri. Jane menatap Nat dengan tatapan mautnya seolah dia menginginkan Nat pergi dari rumahnya sekarang juga dan jangan lagi mengusik rumah tangganya yang sedang bahagia, sedangkan Nat yang masih menangis itu menatap Liam dengan sendu. Nat masih tidak percaya jika pria idamannya itu sekarang sudah menjadi milik orang lain, seorang pria yang selalu dia impikan untuk menjadi teman sehidup semati namun semuanya telah kandas karena dia lebih memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan wanita lain yang merupakan pilihan orang tuanya. Saat Nat sudah siap untuk bertemu dengan keluarga Liam, mengapa Liam telah menikah dan rasanya perjuangannya yang jauh - jauh terbang dari New York ke Indonesia juga menjadi sia - sia.


Tiba - tiba saja secara tidak terduga Jane mendekati Nat dan mengusap punggungnya, sehingga membuat Nat semakin menangis dengan kencang. Walaupun Jane perasaan Jane menjadi sedikit tidak suka dengan Nat karena dia merupakan seseorang yang spesial di masa lalu suaminya, akan tetapi Jane juga masih mempunyai hati dan merasa tidak tega jika sesamanya sedang menangis sampai seperti itu. Jane tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Nat karena dalam posisi ini Liam juga bersalah. Liam bersalah karena dia tidak bisa berterus terang mengenai status hubungannya dengan Nat serta Liam juga tidak memberitahu jika dia akan menikah sebelumnya, dalam posisi itu Liam sama saja telah memberikan harapan yang lebih kepada Nat. Kesalahan Nat adalah terlalu berharap kepada Liam serta tidak menanyakan kejelasan mengenai statusnya kepada Liam. Nat waktu itu juga selalu menolak jika Liam ingin memperkenalkannya kepada keluarga Liam dan selalu beralasan bahwa dia belum siap untuk dikenalkan oleh keluarganya.


"Maaf karena aku telah masuk ke dalam hubungan kalian berdua," ucap Jane tiba - tiba.


"Tidak Jane ini bukan salahmu karena disini aku lah yang bersalah dan aku tidak bisa berterus terang kepada Nat tentang hubungan kami, aku juga tidak memberitahunya bahwa aku akan menikah denganmu."


"Kalian berdua berhentilah saling menyalahkan, karena disini aku lah yang benar - benar bersalah karena sudah terlalu berharap dengannya!!!" teriak Nat.


"Nat," ucap Liam menatap Nat sangat dalam.


"Ini bukan salahmu Li, memang aku yang patut disalahkan atas semua ini dan maaf jika aku hampir merusak rumah tangga kalian semoga kalian berbahagia." Nat lalu berdiri dan mengambil kopernya.


"Nat, kamu ingin pergi kemana?" tanya Liam memegang tangannya.


"Pulang, aku memang seharusnya tidak menginjakkan kakiku disini."


"Tapi kamu sudah jauh - jauh kemari, bagaimana kalau kamu menginap dihotelku saja dan aku akan mengurusnya."


Nat melepaskan tangan Liam "tidak perlu Li, aku tidak apa - apa kok."


"Kamu tinggal saja disini selama beberapa hari Nat," ucap Jane menawarkan.


"Jane," ucap Liam berbisik.


"Sssttt."


"Tidak perlu Jane, sepertinya Liam merasa keberatan."


"Aku tidak merasa keberatan selama Jane tidak apa - apa, jadi jika Jane sudah berbicara seperti itu maka tinggallah disini selama beberapa hari kedepan."


"Apa boleh?" tanya Nat ragu.


Liam tersenyum "iya Nat, tentu saja."


"Bi, tolong bersihkan kamar bawah untuk Nat ya?" pinta Jane saat menghampiri bibi di dapur.

__ADS_1


"Baik nyonya."


Jane lalu menghampiri Liam dan mengambil tas kerjanya "hubby, mandi dulu."


"Oh iya Jane." Liam lalu pergi ke kamarnya.


"Nat, nanti bibi yang akan mengantarmu ke kamar dan kamu langsung istirahat saja karena pasti kamu sangat lelah sekali."


"Iya Jane, terima kasih."


Jane kemudian mengikuti Liam pergi ke kamarnya sembari menenteng tas kerja Liam serta jas milik Liam. Sesampainya di dalam kamar Jane lalu meletakkan tas Liam di dalam ruangan kerjanya, lalu dia meletakkan jas Liam di keranjang laundry. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi dan menghampiri Liam yang sedang berendam di bathtub. Melihat istrinya yanh duduk di depannya itu, Liam lalu memijat bahunya serta kepalanya untuk menenangkan fikiran istrinya.


Tak lama setelah itu Liam memeluk Jane "maafkan aku, semua kekacauan ini adalah salahku."


Jane menghela nafasnya "tidak masalah, aku bisa memahaminya."


"Jangan berpura - pura tegar dengan berkata seperti itu."


Jane membalikkan tubuhnya menatap Liam "aku sedang tidak berpura - pura merasa tegar namun aku sudah mempersiapkannya sedari awal, aku tau jika suatu saat ini pasti akan terjadi dan ternyata dugaanku tidak salah."


"Jane," ucapnya sembari menatap Jane dengan sendu.


"Pertanggungjawaban atas apa?" tanya Liam bingung.


"Jika dia mengandung anakmu seperti di sinetron - sinetron," ucap Jane sembari tertawa.


"Tidak mungkin aku melakukan hal tersebut sebelum aku menikah, kalaupun memang aku suka berbuat seperti itu pasti sekarang kamu sedang mengandung anakku."


"Benar juga hahaha, sudah jangan terus menerus merasa bersalah seperti itu."


"Tetapi aku merasa tidak enak kepadamu."


"Tidak apa - apa sayang." Jane kemudian mencium bibir Liam.


Liam membalas ciuman Jane dan mereka berdua melakukannya selama 5 menit, lalu setelah itu Liam melepaskan ciumannya "aku merindukanmu saat masih berada di kantor.


"Merindukanku atau merindukan bibirku heum?"

__ADS_1


"Dua - duannya hehe," ucap Liam sembari memegang bibir Jane dengan jari jempolnya.


"Mmmhhh."


Liam tersenyum "bibirmu ini juga sangat sexy."


"Terima kasih," ucapnya tersipu malu.


Jane lalu keluar dari bathtub dan membilas tubuhnya, dan setelah berpakaian dia pergi ke dapur untuk memasak makan malam untuk suaminya itu dengan dibantu oleh bibi. Tidak lupa dia juga membuat jus alpukat kesuakaan suami tercintanya. Tidak lama kemudian Jane telah selesai memasak dan menyajikannya di atas meja. Liam yang keluar dari kamar langsung menemui Jane dan memeluknya dari belakang saat dia menyajikan makan malam. Liam juga mencium leher Jane serta mencium aroma parfume yang dia pakai. Nat yang keluar dari kamarnya langsung melihat pemandangan hal seperti itu dari kejauhan, dan Jane lalu melepaskan tangan Liam ketika dia menyadari bahwa Nat sedang memperhatikan mereka berdua. Jane lalu memanggil Nat untuk mengajaknya makan malam bersama, dan Nat langsung menghampiri Jane.


"Makanlah yang banyak Nat!"


"Iya Nat, masakan Jane sangatlah lezat maka dari itu aku dulu menyuruhnya untuk membuka restaurant."


"Aku tidak bisa karena jadwal pemotretanku serta stuting iklan sudah sangatlah padat."


Nat mencicipi masakan Jane "iya benar, sangat lezat."


"Terima kasih, kalau begitu makanlah yang banyak karena aku tadi memasak sangat banyak."


"Iya, terima kasih."


"Sama - sama."


Selesai makan malam mereka bertiga berbincang bersama dan saat malam sudah semakin larut mereka kembali ke kamarnya masing - masing.


Liam melompat ke atas ranjang dan memeluk Jane "tadi kenapa kamu seperti seseorang yang ketahuan selingkuh?"


"Aku hanya merasa tidak enak dengan Nat saat kita bermesraan didepannya."


"Tetapi dia sudah tau jika kita sudah resmi menikah."


"Tetap saja aku merasa tidak enak kepadanya."


"Hhmmp kamu ini."


"Sudah, sekarang kan kamu bisa bermesraan denganku."

__ADS_1


"Iya sayang."


__ADS_2