Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #423


__ADS_3

Jane mengusap punggung suaminya itu karena menyadari bahwa dia terlihat sangat kesal. Setelah itu Jane memeluknya dari samping sembari mengusap dadanya untuk menenangkannya. Dia sangat paham jika suaminya itu seringkali tidak bisa mengontrol emosinya, jadi saat ini dia berusaha untuk menenangkannya agar emosinya tidak terlepas begitu saja. Jane lalu menyodorkan secangkir teh hangat yang sudah mulai dingin kepada suaminya dan memintanya untuk selalu bersabar serta rileks. Liam meminum teh itu dan perlahan - lahan sudah semakin membaik.


Dia merasa heran mengapa Jane bisa dengan mudah mengontrol emosinya itu, padahal dahulu tidak ada seorangpun yang berhasil melakukannya dan mungkin hanya pistol bius saja yang berhasil mengontrol emosinya. Namun pistol itu hanya digunakan dua kali saja karena dokter atau psikiater pribadi Liam melarang penggunaan senjata itu, dan meminta Mr Robinson untuk melakukan hal lain selain menggunakan bius. Waktu itu dokter Ben, alias psikiater pribadi Liam menjelaskan kepada kedua orang tua Liam mengenai bahaya menggunakan hal seperti itu untuk mengontrol emosi Liam serta beberapa akibat yang ditimbulkan jika sering menggunakan hal tersebut.


Setelah penyuluhan tersebut Mr Robinson menjadi tidak berani untuk berbuat hal seperti itu lagi kepada Liam karena dia sangat menyayangi Liam, putranya. Setelah emosi Liam dapat padam secara perlahan, Jane langsung meminta Liam untuk mandi air hangat saja agar tubuhnya bisa rileks. Jane lalu pergi ke kamarnya untuk menyiapkan handuk dan mengisi bathtub dengan air hangat. Begitu sesampainya di kamar Liam langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang serta memijat dahinya yang terasa sangat pusing.


"Hubby ayo mandi dulu sayang," ucap Jane menghampiri Liam yang sedang berbaring di atas ranjang.


"Iya sebentar sayang, 5 menit lagi."


"Heh 5 menit apa? ayo cepat mandi, nanti kalau kamu seperti itu pasti akan ketiduran."


"Baiklah," ucap Liam beranjak dari tempat tidurnya.


Setelah itu Liam pergi ke kamar mandi dengan didampingi oleh Jane untuk membawa handuknya. Namun begitu sesampainya di depan pintu kamar mandi, Liam malah menarik tangan Jane untuk ikut masuk ke dalam kamar mandi.


"Ayo ikut aku sayang," ucap Liam menarik tangan Jane.


"Tidak mau hubby, aku sudah mandi!!" teriak Jane.


"Ya sudah kalau begitu mandikan aku saja dan tidak perlu ikut mandi."


"Baiklah," ucap Jane pasrah.


Begitu di dalam Jane menyaksikan Liam yang melepas pakaiannya satu persatu hingga tanpa sehelai benar apapun.


"Hmm bayi besarku ternyata ingin dimandikan juga ya?" tanya Jane mengejek Liam.


"Iyalah, masa baby Ace terus yang dimandikan olehmu kan sekali - kali aku ingin dimandikan olehmu juga."


"Iya, cepat masuk ke dalam bathtub dan aku akan mulai memijat bahumu sebentar agar kamu bisa lebih rileks."


"Okay Jane."


"Aku penasaran sejak kapan kamu menjadi sangat suka bermain game seperti sekarang, mmm maksudnya awal mula kamu menjadi suka game seperti saat ini."


"Awal mula aku menjadi suka bermain game saat aku duduk di bangku SMP, waktu itu aku yang hanya hobi membaca buku tiba - tiba diajak pergi ke rental PS dan juga warnet oleh salah satu temanku."


"Oh begitu, lalu?"

__ADS_1


"Lalu aku menjadi mahir bermain game dan setiap pulang sekolah aku selalu pergi ke rental PS bersama teman - temanku."


"Bayarnya pasti sangat mahal ya?"


"Tidak, dahulu aku dan teman - temanku hanya membayar 2 ribu rupiah untuk bermain selama satu jam."


"Eh murah sekali, kalau sekarang mungkin sudah sangat mahal ya harga sewanya?"


"Tidak Jane, sekarang masih murah kok. 5-10 ribu satu jam untuk PS 3 dan 15 ribu satu jam untuk PS 4."


"Eh ternyata masih murah, lalu darimana kamu mengetahuinya?" tanya Jane penasaran.


"Aku belum lama ini main kesana bersama teman - temanku setelah pulang kerja untuk melepas penat."


"Padahal kamu sudah punya PS 1-5, kenapa kamu memilih menyewa diluar?" tanya Jane terheran.


"Tidak apa - apa, di rentalan sangat seru karena banyak orang berteriak - teriak saat main bola."


Jane tertawa.


"Benarkah? masa sampai berteriak - teriak seperti itu?"


"Iyalah namanya juga greget, apalagi kalau kebobolan gawangnya atau mencetak gol pasti lebih keras teriaknya."


"Iya, lebih seru dan semakin bersemangat."


"Oh begitu ternyata pola fikir para pria," gumam Jane.


"Pijatanmu selalu saja sangat enak sehingga rasa lelah ditubuhku menjadi hilang seketika."


"Terima kasih. Sekarang gantian aku menggosok tubuhmu."


"Oh silahkan."


"Nanti sekalian keramas juga ya, soalnya rambutmu sudah bau dan lepek."


"Iya terserah kamu saja ingin berbuat apa dengan tubuhku."


"Benarkah begitu?"

__ADS_1


"Iya sayang, aku sudah menyerahkan semua tubuhku untukmu."


"Akupun juga begitu, makanya aku selalu diam saat tangannya mulai nakal."


"Hehe, maaf."


"Tidak apa - apa."


"Aku penasaran apa rahasia agar wajahmu tetap awet muda serta babyface di usiamu yang sekarang? sudah 2 tahun aku menikah denganmu namun aku tidak pernah mengetahui rahasianya."


"Aku kan rajin perawatan dengan menggunakan skincare, masa tidak paham?"


"Iya aku paham namun rasanya aneh saja gitu, apa jangan - jangan kamu ini seorang vampire?"


Jane justru tertawa mendengar ucapan suaminya itu.


"Hahaha aku bukan vampire hubby, aku ini orang sungguhan masa kamu tidak bisa merasakannya padahal setiap malam sering sekali meminta jatah."


"Ya siapa tahu seperti itu, masalahnya jika hanya dengan menggunakan skincare saja rasanya tidak cukup untuk mendapatkan hasil yang sebagus itu."


"Tergantung memilih jenis produk skincarenya, kalau tidak cocok ya pasti wajahmu bisa rusak dan kalau cocok ya nanti kamu akan mendapatkan hasil seperti wajahku."


"Benar juga, apalagi jenis kulit manusia itu berbeda - beda."


"Iya makanya harus pintar - pintar memilih skincare."


"Oh begitu."


Jane sudah menggosok tubuh Liam, dan sekarang dia beralih mencuci rambut Liam agar bersih serta wangi. Liam hanya diam saja saat Jane melakukan semua hal itu layaknya seorang anak kecil yang sedang dimandikan oleh ibunya. Sesekali mereka berdua juga berbincang sekaligus bercanda juga. Setelah selesai mencuci rambut Liam sembari menggosok giginya, kini saatnya Jane untuk membasuh wajah Liam serta membersihkannya dengan menggunakan sabun khusus agar wajah Liam semakin terlihat tampan. Awalnya Jane sangat sulit mencari sabun wajah yang cocok untuk Liam karena ternyata kulitnya sangat sensitif, dan untungnya Jane bisa menemukannya setelah mencoba beberap produk.


"Nah sudah selesai, sekarang ganti baju."


"Baiklah."


"Aku sudah menyiapkannya di atas sofa dekat rak tas milikku, dan aku akan pergi ke kamar baby Ace sebentar untuk menjenguknya."


"Okay sayang, nanti setelah ini kita makan malam ya?"


"Iya, memangnya kamu sudah lapar heum?"

__ADS_1


"Sudah."


"Oh. baiklah."


__ADS_2