
Liam terdiam sembari memandang punggung Jane yang perlahan menghilang dari pandangannya. Dengan perasaan sedih Liam langsung masuk ke dalam mobil dan selama perjalanan pulang Liam hanya diam seribu bahasa, namun di lubuk hatinya dia menyalahkan atas sikap bodohnya yang mengakibatkan hal tersebut terjadi. Seharusnya perdebatan ini tidak akan terjadi jika dia bisa bersikap adil antara Rosie dengan Jane. Rosie lalu memandang wajah Liam yang terlihat sangat sedih dan dia merasa jika dirinya lah yang bertanggung jawab atas semua ini karena sikap kekanakannya. Sesampainya di rumah Liam langsung pergi ke kamarnya dan mengunci pintunya saat Rosie ingin menghampirinya untuk meminta maaf. Liam lalu menghela nafasnya dengan kasar sembari menatap cermin depan wastafel kamar mandinya. Setelah itu dia melepas bajunya dan memakai celana kolor untuk bersiap tidur, namun dia tidak bisa tertidur karena terus memikirkan tentang Jane. Liam kemudian mengambil handphone miliknya dan berusaha menghubungi Jane namun tidak bisa. Akhirnya Liam memutuskan untuk tidur, dan keesokan harinya dia berangkat ke kantor dengan penuh kegalauan di hatinya. Sedangkan disisi lain Jane sedang pergi ke mall bersama dengan Mrs Kim untuk berbelanja kebutuhan mereka masing - masing.
"Itu seperti Liam," ucap Mrs Kim sembari menunjuk ke arah seorang pria yang mempunyai tubuh besar dan tinggi.
Jane langsung melirik ke arah yang ditunjuk oleh Mrs Kim "itu bukan Liam, tubuhnya memang tinggi dan besar namun itu bukan Liam."
"Sepertinya sekarang kamu sudah sangat mengenalnya dengan baik," ucap Mrs Kim menggoda Jane.
"Ti-tidak eomma, Jane hanya menebaknya saja karena mana mungkin Liam pergi ke mall saat jam kantor."
Mrs Kim kembali menggoda Jane "siapa tau dia sedang membeli sesuatu untuk seseorang yang menurutnya spesial, misal kekasihnya."
"Siapa kekasih Liam?"
"Lho, kok kamu malah bertanya pada eomma padahal kamu yang dekat dengannya akhir - akhir ini."
Jane tertawa "eh, iya juga sih."
"Kamu kekasih Liam?"
"Bukan, kita hanya berteman tidak lebih."
"Ternyata sekarang putriku sudah bisa berbohong kepada eomma, walaupun dari dulu kamu sering berbohong sih."
"Eomma bagaimana sih? dasar tidak jelas."
Mereka berdua lalu kembali melanjutkan perbincangan mereka saat berada di sebuah restaurant yang berada di dalam mall tersebut. Tiba - tiba Mrs Kim berkata "kalian berdua sudah berciuman kan malam itu?"
Jane terkejut mendengar ucapan Mrs Kim itu, lalu dia berusaha mengelak "ti-tidak eomma, mana mungkin Jane dan Liam melakukan hal seperti itu apalagi kami tidak mempunyai hubungan apapun."
"jangan bohong Jane, kalau kamu mengakui yang sebenarnya eomma tidak akan marah kepada kamu."
"Tidak eomma," ucap Jane kembali mengelak dari pertanyaan Mrs Kim.
Mrs Kim lalu mengaduk minumannya menggunakan sedotan "kamu itu putri eomma yang eomma rawat dari kecil bahkan eomma yang mengandungmu, jadi eomma tau jika putri eomma ini sedang berbohong kepada eomma."
__ADS_1
Jane menunduk dan menghela nafasnya "iya eomma, Jane mengakuinya."
"Nah, begitu kan enak."
"Ta-tapi jangan salahkan Liam karena ini sepenuhnya salah Jane, eomma."
"Kalian berdua tidak melakukan sesuatu hal yang lebih dari itu kan?"
"Tidak eomma."
"Baiklah," ucap Mrs Kim singkat.
"Eomma marah kepada Jane?"
"Kalau marah sih eomma pastinya marah karena putri eomma seperti itu, tetapi mau bagaimana lagi? itu sudah terjadi dan kalau misalnya Liam berani berbuat yang lebih dari itu pasti eomma akan langsung meminta pertanggungjawaban kepadanya."
"Liam itu pria yang baik dan pasti tidak akan melakukan hal yang seperti eomma fikirkan."
"Jangan terlalu percaya kepada seseorang karena terkadang orang terdekat kita justru yang malah menusuk kita dari belakang."
Di sore hari sepulang dari kantor Liam langsung bergegas mandi dan bermain game. Lalu saat malam hari dia pergi ke alun - alun kota karena ada janji bertemu dengan Ricko. Liam lalu membeli es kopi badday di angkringan sembari menghirup vape miliknya. Liam lalu membawa segelas kopi badday ke pinggir jalan untuk meminumnya sembari menikmati suasana alun - alun kota di malam hari. Liam menghirup vape miliknya sembari melihat orang - orang berlalu lalang di sekitar alun - alun kota itu. Malam itu Liam membutuhkan refreshing karena akhir - akhir ini banyak sekali pekerjaan di kantor apalagi di tambah oleh masalah Jane yang sedang marah kepadanya. Sebenarnya Jane tidak marah kepada Liam namun dia menginginkan untuk menjaga jarak terlebih dahulu kepada Liam karena dia merasa tidak enak kepada Rosie. Berulang kali Liam mencoba menghubungi Jane dan mengiriminya pesan namun tidak mendapat jawaban dari Jane, apalagi minggu depan dia sudah berangkat ke Korea Selatan untuk menyelesaikan beberapa jadwal pemotretan sebuah iklan dan majalah. Waktu Liam untuk bisa menghabiskan waktu bersama Jane sangatlah sedikit, jadi Liam hanya bisa berharap Jane mau memaafkannya agar hatinya merasa sedikit lega saat melepaskan Jane pergi kembali ke negara asalnya. Saat sedang melamunkan itu semua tiba - tiba Ricko menepuk pundak Liam dan seketika membuyarkan lamunannya.
"Hei Li, sudah lama menungguku? maaf ya aku ada urusan terlebih dahulu dengan kesayanganku."
"Dih najis," ucap Liam dengan tatapan sinis.
"Terserah aku dong, sirik amat bang."
"Aku sudah sangat lama menunggumu sampai aku membaca habis satu buku kitab tatang sutarma."
Ricko tertawa "kamu pasti dulu kebanyakan nonton awas ada Sule kan?"
"Begitulah, setiap siang aku selalu menontonnya."
"Tidak menonton Spongebob?"
__ADS_1
"Setelah itu baru menonton Spongebob."
"Kok malah topiknya jadi begini sih? tadi kamu minta ketemu denganku hanya untuk membahas ini?"
Liam lalu menepuk dahinya "oh iya lupa, kamu juga sih memancingku."
"Kan kamu duluan yang membahasnya," ucap Ricko merasa gemas.
Liam lalu meminum es kopinya "aku sedang bingung dan galau nih."
"Kenapa memangnya? masalah Jane ya pasti?" tanya Ricko sembari meminum es kopi milik Liam.
"Eh itu kopiku lah, kenapa kamu meminumnya?"
"Oh iya maaf hehe," ucap Ricko cengengesan.
"Bajigur, kebiasaan."
"Oke lanjut."
Liam lalu menceritakan asal muasal mengapa masalah itu terjadi "begitu ceritanya, aku sekarang ingin menikah tetapi hanya dengan Jane saja."
Ricko lalu menepuk pelan kepala Liam (puk - puk) "tenang saja, pasti suatu saat kamu akan menikah dengannya jika kamu tidak pantang menyerah untuk mendapatkan hatinya dan menyakinkannya jika kamu ini memang pantas untuknya."
"Aku tidak akan pantang menyerah untuk mendapatkan hatinya," ucap Liam dengan lantang dan menggebu - nggebu hingga menjadi tontonan orang - orang yang tidak sengaja sedang lewat di sekitar mereka.
Ricko yang sadar ketika mereka berdua menjadi pusat perhatian orang sekitar lalu dia menutup wajahnya sembari berkata, "saya tidak mengenal orang gila ini dan dia bukan teman saya," ucap Ricko kepada orang - orang sekitar.
Orang - orang tersebut lalu kembali melakukan aktivitas mereka masing - masing, sedangkan Liam kembali duduk dan berbincang dengan Ricko. "Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Liam merasa bingung.
"Temui dia dan katakanlah jika kamu benar - benar mencintainya dengan tulus."
"Baiklah, aku akan mencoba mengikuti saran darimu."
"Good job," ucap Ricko mengacungkan kedua jari jempolnya.
__ADS_1