Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #306


__ADS_3

Mereka berdua lalu makan malam bersama, dan setelah makan malam Jane mengajak Liam untuk bersantai di rooftop rumahnya sembari melihat pemandangan langit malam. Sejak dulu Jane sangat senang sekali memandangi langit malam hanya untuk sekedar menenangkan fikirannya serta mencari sebuah inspirasi, begitupun juga dengan Liam yang sangat senang sekali melamun sembari menatap langit malam beserta bintang - bintang yang bertebaran di atas sana. Sekarang mereka berdua mengajak calon anak mereka untuk melihat betapa indahnya langit malam yang dapat menenangkan jiwa seseorang. Terkadang ada seseorang yang membenci langit malam karena dinilai sangat menyeramkan serta identik dengan kegelapan yang dapat menenggelamkan jiwa mereka ke dalam kegelapan, mungkin saja seseorang yang berkata seperti itu hanya belum menemukan seberkas cahaya abadi yang dapat menerangi jiwanya saat berada di kegelapan.


Intinya belum menemukan seseorang (cahaya) yang dapat menemaninya serta memeluknya saat malam tiba. Seseorang yang dapat memberimu pelukan kehangatan ketika udara malam yang dingin menembus sampai ke tulang. Seseorang yang mengajakmu untuk berbagi cerita hingga kamu tidak tenggelam dalam rasa sepi serta kesendirian saat malam tiba. Dahulu Liam juga seperti itu, dia tenggelam dalam kegelapan hingga suatu ketika dia telah menemukan cahaya nya (Jane) yang sekarang akan selalu meneranginya saat malam hampir menenggelamkan jiwanya lebih dalam lagi. Liam memeluk Jane dengan sangat erat bagaikan perisai pelindung agar kegelapan itu tidak mengambil cahaya yang selama ini selalu meneranginya di kegelapan. Mereka berdua sedang berusaha untuk keluar dari kegelapan yang selama ini hampir merenggut jiwa mereka.


"Semakin lama perutmu semakin membesar Jane," ucap Liam mengusap perut Jane.


"Itu artinya calon anak kita mengalami pertumbuhan yang sangat baik di dalam kandunganku, hubby."


"Benar juga, syukurlah jika dia dapat tumbuh dengan sangat baik."


"Itu semua berkat dirimu yang selalu berusaha menjagaku serta calon anak kita dengan baik dengan segenap jiwamu."


"Bolehkah aku menciumnya?"


Jane tersenyum dan mengangguk.


"Iya hubby, kamu boleh menciuminya dengan sesuka hatimu sampai kamu puas."


Liam lalu berjongkok dan mencium perut Jane secara perlahan.


"Daddy tidak sabar untuk bertemu denganmu, buddy."


Jane mengusap rambut Liam saat memperhatikan Liam berbicara kepada calon anaknya.


"Besok jika dia sudah lahir, tolong luangkan waktu untuk bermain dengannya ya?"


"Pasti, aku berjanji akan selalu meluangkan waktu untuk bermain dengannya serta mengarinya mengenai berbagai hal."


Jane kemudian memegang pipi Liam.


"Iya hubby, aku tahu jika kamu adalah pria yang selalu menepati janjimu layaknya seorang pria sejati."


Liam lalu mencium bibir Jane, dan seketika Jane membalas ciuman Liam hingga terjadilah ciuman panas diantara mereka berdua. Setelah itu Liam langsung melepaskannya saat ada sesuatu yang mulai bangun.

__ADS_1


"Apakah aku telah membangunkan naga mu?" tanya Jane menggoda Liam.


"Ti-tidak aku mmm," ucapnya gugup sembari menggaruk rambutnya.


Jane tertawa.


"Kamu terlihat sangat lucu saat sedang gugup."


"Btw, ingin tidur sekarang atau nanti?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan hubby."


"Aku sedang tidak mengalihkan pembicaraan, akan tetapi aku sedang melindungi diriku sendiri."


"Melindungi dari apa heum?"


"Dari macan betina hahaha."


Jane langsung memukul tangan Liam.


Liam terkekeh.


"Mari kita tidur saja sekarang!"


"Eh kenapa begitu?"


"Agar kamu dapat beristirahat dengan baik karena kamu besok ada jadwal kunjungan ke dokter kandungan bukan?"


"Ya ampun aku melupakannya hubby."


"Untung saja aku memberitahumu coba kalau tidak, ckckck mari kita tidur sekarang!"


"Okay hubby."

__ADS_1


Liam lalu berjalan dengan memegangi pinggul Jane untuk menjaganya agar tidak terjatuh saat jalan menuju ke kamar. Perut Jane yang mulai membesar serta berat pasti membuatnya susah berjalan apalagi sebelumnya perut Jane sangat rata, sehingga dia memeganginya agar tidak tersandung saat sedang berjalan. Liam yang sejak dulu selalu berjalan dengan cepat karena langkahnya yang besar. Sekarang saat Liam sedang berjalan dengan Jane, dia memilih untuk berjalan secara perlahan agar langkahnya bisa mengimbangi langkah Jane. Sesampainya di kamar Liam membantu Jane naik ke atas ranjangnya dan setelah itu mengambilkan sebotol air minum untuknya ketika dia terbangun di malam hari.


Keesokan harinya saat sedang memakaikan dasi di leher Liam, tiba - tiba saja ada handphone miliknya berbunyi. Dengan cepat Liam langsung mengambilkan handphone Jane di atas meja dekat ranjang dan mengarahkannya ke telinga Jane agar Jane bisa berbincang di telepon sembari memakaikan dasi untuknya. Setelah itu mereka berdua pergi sarapan bersama dan setelah itu pergi ke dokter kandungan. Saat ada jadwal kunjungan ke dokter, Liam pasti selalu meluangkan waktu untuk menemani Jane agar dia bisa mengetahui mengenai perkembangan janin yang berada di dalam kandungan Jane. Sesekali Liam menanyakan kepada dokter seputar kehamilan dan juga apa saja yang harus dilakukan oleh Liam sebagai seorang suami. Setelah itu Liam mengantarkan Jane pergi ke rumah orang tua Liam sebelum dia berangkat ke kantor.


"Kamu habis pergi ke dokter menemani Jane check kandungannya?" tanya Mr Robinson menghampiri Liam ke ruangannya.


"Iya dad, memangnya ada apa? apa daddy ingin menegurku karena sering telat ke kantor?" tanya Liam sembari membaca beberapa berkas dokumen yang sudah menumpuk di atas meja.


"Ah tidak, mana mungkin daddy melarang putra daddy untuk memeriksakan kandungan istrinya yang sedang mengandung calon cucu daddy hehe."


"Oh aku kira akan seperti itu."


"Tidak Liam, daddy kemari hanya ingin menanyakan mengenai perkembangan Jane serta janin yang sedang dikandungnya."


"Semuanya baik, tidak ada permasalahan apapun."


"Hah syukurlah," ucap Mr Robinson merasa lega.


Liam masih sibuk membaca berkas dokumen tersebut.


"Tumben sekali bertanya, ada apa dad?"


"Tidak ada apa - apa, memangnya daddy tidak boleh bertanya mengenai perkembangan calon cucu daddy?"


Liam lalu menatap mata Mr Robinson dengan tajam.


"Entah mengapa aku merasa bahwa daddy semakin peduli denganku serta mulai bersikap baik kepadaku sejak aku berhasil menikahi Jane. Apakah sikap daddy yang seperti itu kepadaku adalah sebagai upah atas kerja kerasku menuruti semua perintah daddy? atau mungkin semua ini hanya perasaanku saja, aku tidak tahu."


"Jangan berfikir seperti itu Liam dahulu daddy selalu keras kepadamu agar kamu bisa benar - benar menjadi seseorang yang selalu bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang kamu lakukan, dan sekarang kamu sudah bisa menjadi seseorang yang daddy harapkan."


"Benarkah begitu tujuannya?"


Mr Robinson lalu memegang kedua bahu Liam serta pandangannya lurus menatap Liam.

__ADS_1


"Tentu saja, dan jika kamu merasa tidak terima dengan perlakuan daddy selama ini maka kamu boleh memukul daddy dengan sangat keras seperti saat daddy memukulmu dulu."


"Tidak dad, aku tidak bisa memukul daddy seperti itu karena itu akan terasa sangat menyakitkan."


__ADS_2