Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #73


__ADS_3


Mereka berdua menjadi terdiam sejenak. Tidak lama kemudian, waiters datang sembari membawa pesanan mereka berdua dan langsung meletakannya di atas meja mereka berdua. Selesai menyajikan hidangan tersebut, waiters kemudian permisi untuk pergi. Mereka berdua lalu menyantap hidangan tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun setelah sedikit perdebatan tadi antara Nat dan Liam. Hanya terdengar suara dari pengunjung lain yang terdengar di cafe tersebut, sedangkan mereka berdua masih terdiam. Nat juga tidak mau memperburuk suasana karena dia tau jika suasana hati Liam sudah mulai buruk, jadi Nat memilih untuk diam saja. Nat berfikir jika Liam memang sudah mempunyai seorang kekasih tetapi dia berusaha menyembunyikan hubunganya di depan dirinya entah apa itu alasannya. Sebenarnya bukan hanya penampilannya saja yang berubah, tetapi sikap Liam kepada dirinya juga mulai sedikit berubah. Dahulu dia selalu bersikap manja kepada dirinya, tetapi sekarang dia seperti sedang menjaga jarak kepadanya karena mungkin saja dia sedang menjaga hatinya untuk seseorang seperti dugaannya tadi.


Liam bisa saja berbohong kepada Nat, tetapi Nat mengetahuinya karena dia sudah mengenal Liam cukup lama sehingga mengenalnya dengan sangat baik bahkan saat sedang berbohong sekalipun. Nat hanya bisa berpura - pura bodoh saja saat Liam berbohong kepadanya dan seolah - olah Nat tidak mengetahui jika Liam sedang berbohong kepadanya agar tidak memperburuk hubungannya. Nat kemudian memandangi wajah Liam yang sedang menyantap hidangannya tersebut sembari bertanya di dalam hatinya siapa orang yang sedang menempati hati Liam sekarang dan bisa meluluhkan hatinya yang sekeras es batu tersebut. Apakah mungkin orang itu adalah Jane Kim karena semenjak dia membahas Jane dengan Liam, dia terlihat antusias sekali dan bahkan ketika dia bilang jika dirinya ingin menyaingi popularitas Jane sebagai model tiba - tiba ekspresi Liam menjadi berubah.


Liam yang melihat Nat melamun, kemudian dia bertanya kepada Nat "sedang memikirkan apa hingga melamun seperti itu?"


Lamunan Nat menjadi buyar seketika "ah tidak ada hanya sedang memikirkanmu saja," ucapnya sembari menyantap hidangannya.


"Memikirkan aku?"


"Iya."


"Memangnya apa yang kamu fikirkan tentang aku?"


"Hanya saja," ucapan Nat terhenti.


"Hanya saja apa?" tanya Liam semakin merasa penasaran dengan apa yang difikirkan oleh Nat tentangnya.


Nat menjadi bingung, dia ingin bertanya langsung kepada Liam yang mengganggu fikirannya semenjak tadi tetapi dia mengurungkannya "i love you, honey."


Liam tersenyum mendengar ucapan Nat, dan dia kemudian mengusap lembut rambutnya "i love you too."


Nat tersenyum "dahulu kamu sering membawakan aku hadiah, lalu mana hadiahku sekarang?"


"Ada di saku aku."


"Dahulu kamu memberikan aku sebuah kalung lalu sekarang kamu memberikan aku apa, apakah sebuah cincin untuk melamarku?" tanya Nat sedikit bercanda.


Liam tertawa "aku sepertinya belum siap untuk melamarmu dan membangun rumah tangga karena harus mengurus perusahaan keluarga terlebih dahulu."


"Lalu apa dong?"


"Rahasia. Eh mana sekarang kalung yang aku berikan kepadamu dahulu, apakah kamu masih menyimpannya?"


Nat lalu memegang kalung yang sedang dia pakai dan menunjukkannya kepada Liam "aku bukan hanya menyimpannya, tetapi aku selalu memakainya."


Liam lalu duduk beralih duduk di sebelah Nat untuk mengamati kalung pemberiannya dahulu "masih tetap indah saat kamu mamakainya."

__ADS_1


Nat lalu bersandar di tubuh Liam dan memeluknya dari samping "aku sangat merindukanmu dan aku juga selalu menunggumu untuk mengunjungiku di New York."


Liam mengusap lembut lengan Nat "maaf aku baru bisa mengunjungimu sekarang karena aku selalu saja sibuk bekerja."


"Apa kamu tidak merindukan aku hon?"


"Aku merindukanmu, tetapi aku juga tidak bisa meninggalkan tanggung jawabku kepada perusahaan nanti daddy akan marah jika aku lalai dengan tugasku."


"Aku sempat mengira jika kamu sudah melupakan aku, tetapi ternyata tidak."


"Mana mungkin aku melupakan kamu."


"Oh ya, kamu tinggal di hotel mana?"


"Di hotel P, milik keluargaku."


"Setelah ini kita ke sana ya, aku ingin melihatnya."


"Apa kamu tidak ingin berjalan - jalan denganku?"


"Nanti sore saja, untuk saat ini aku ingin dekat denganmu dan memelukmu."


Liam tertawa "baiklah, apa kamu tidak ada jadwal syuting hari ini?"


"Baiklah. Oh ya, aku melupakan sesuatu."


"Melupakan apa?" tanya Nat merasa penasaran.


Liam lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jacketnya, lalu dia membukanya "ini hadiah untukmu."


Nat merasa terkejut "wah gelang ini indah sekali."


Liam lalu mengambil tangan kanan Nat "sini aku pakaikan untukmu. Bagaimana, bagus bukan?"


Nat lalu memandangi gelang pemberian Liam itu "wah bagus sekali terima kasih honey," ucap Nat sembari tersenyum.


Liam membalas senyuman Nat "sama - sama Nat."


"Ayo sekarang kita pergi ke apartement aku."

__ADS_1


"Katanya ingin pergi ke hotel keluargaku?"


"Aku ingin pulang ke apartement karena ingin menunjukkan hasil kerja kerasku selama ini."


"Baiklah ayo kita pergi."


Nat lalu mengambil tas miliknya, sedangkan Liam memanggil waiters untuk meminta bill. Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka berdua pergi menuju apartement Nat dengan menggunakan mobil milik Liam. Selama di perjalanan, Nat selalu menempel kepada Liam hingga membuat Liam sedikit merasa risih kepadanya. Ya mau bagaimana lagi, Nat sangat rindu kepada Liam jadi dia selalu berusaha untuk dekat dengannya saat Liam mengunjunginya ke New York. Sesampainya di apartement milik Nat, dia lalu membuka pintunya dan mempersilahkan Liam untuk masuk melihat - lihat setiap ruangan yang berada di apartement miliknya. Liam kemudian duduk di sofa ruang tengah dan berfikir jika apartement milik Nat tidak sebersih dan serapi miliknya walaupun Liam tidak pernah menggunakan jasa asisten rumah tangga di apartementnya apalagi saat ada Jane, apartementnya sangat bersih dan rapi karena Jane yang membersihkannya sendiri bahkan mengatur ulang semua perabotan di sana.


"Oh ya honey, kalau mau istirahat di kamarku saja."


"Aku haus, tolong buatkan aku minuman yang menyegarkan dan aku akan pergi ke kamarmu untuk berbaring sejenak."


"Baiklah hon. Bibi, tolong buatkan minuman yang menyegarkan untuk Liam."


"Kamu dong yang membuatkannya untukku. Masa membuat minuman saja harus sampai meminta bibi untuk membuatkannya," ucap Liam menegur Nat.


"Tidak apa - apa, lagipula aku juga biasa begitu."


"Terserah kamu saja." Liam lalu berjalan menuju kamar Nat dan langsung berbaring di atas ranjangnya.


"Nanti aku akan menyusulmu." Nat berteriak kepada Liam.


"Masa perkara membuat minuman saja harus minta tolong kepada bibi, dasar wanita manja." Guman Liam sembari berbaring di atas ranjang Nat.


Tidak lama kemudian, Nat menghampiri Liam yang sedang berbaring di atas ranjangnya sembari membawakan minuman segar untuknya "honey ini minuman kamu."


"Terima kasih." Liam lalu menengguk es sirup tersebut, lalu melanjutkan menonton televisi.


"Hon." Panggil Nat sembari membaringkan tubuhnya di samping Liam.


"Apa?"


"Kok tiba - tiba kamu begitu sih, ada apa?"


"Tidak ada apa - apa aku hanya lelah saja," ucapnya dengan mata yang masih tertuju ke televisi.


"Mau aku panggilkan tukang pijat?"


"Tidak perlu, terima kasih."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu biar aku saja yang memijatmu, bagaimana?"


"Baiklah."


__ADS_2