
Liam kemudian menguap dan mulai tertidur di pelukan Jane. Liam tertidur sembari memeluk Jane dan dirinya merasa nyaman saat tertidur dengan posisi tersebut karena berkat hal itu dia bisa tertidur nyenyak, bahkan dia sudah tidak mengalami mimpi buruk lagi. Liam sudah tertidur sembari mendengkur, sedangkan Jane masih sibuk memainkan handphone miliknya. Sesekali Jane mengusap rambut serta pipi Liam sembari memainkan handphone dan berkirim pesan kepada temannya. Jane kemudian pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil, lalu setelah itu dia kembali ke ranjangnya dan bersiap untuk tidur. Namun saat dirinya hendak memejamkan matanya tiba - tiba dia mendengar Kiko anjing kesayangannya itu menggonggong dengan sangat keras hingga terdengar sampai kamarnya yang berada di lantai atas.
Jane kemudian bergegas turun ke lantai bawah untuk memastikan kenapa anjingnya tersebut menggonggong seperti itu. Yang membuat Jane heran karena biasanya Kiko hanya diam saja dan jarang sekali menggonggong sampai sebegitunya. Saat Jane sampai di lantai bawah dirinya menemukan Kiko sudah berdiri melihat ke luar jendela sembari terus menggonggong dengan sangat keras. Jane lalu menghampiri Kiko dan berusaha untuk menenangkannya agar tidak mengganggu lingkungan sekitar, tetapi Kiko terus menggonggong sembari melihat ke luar jendela. Jane lalu memutuskan membuka gorden jendela untuk melihat apa yang membuat anjingnya tersebut terus menggonggong, dan samar - samar Jane melihat ada seseorang yang sedang bersembunyi dari balik semak - semak halaman rumahnya. Lalu dengan cepat Jane berlari ke kamarnya untuk membangunkan Liam.
"Liam, bangun!!" panggil Jane.
"Nggg."
Jane menggoyang - nggoyangkan tubuh Liam untuk membangunkannya "Liam, bangun!!"
"Ada apa," ucap Liam dengan matanya yang masih terpejam.
"Sepertinya ada penyusup yang memasuki halaman rumahku," ucap Jane setengah ketakutan.
Liam langsung terbangun dan beranjak dari tempat tidurnya "mana?"
"Ayo ikut aku!!"
Liam kemudian bergegas turun ke lantai bawah bersama dengan Jane, dan sesampainya di sana Liam kemudian mengambil sebuah tongkat yang gunanya sebagai senjata jika orang tersebut adalah orang jahat. Setelah itu Liam membuka pintu rumah dan langsung menghampiri semak - semak yang dimaksud oleh Jane tadi. Tanpa basa basi Liam langsung memukul orang tersebut sampai pingsan, dan saat Liam memperhatikan orang tersebut dirinya merasa bahwa orang tersebut seperti tidak asing baginya. Liam menyadari ternyata orang yang dia pukul menggunakan tongkat itu adalah Josh kakaknya Jane. Liam langsung berteriak memanggil Jane.
"Jane kemari!!!" panggil Liam.
"Ada apa?" tanya Jane sembari berjalan menghampiri Liam.
"Dia itu kakakmu."
Jane terkejut "oppa?"
"Iya lihatlah," ucap Liam mengarahkan senter di wajahnya.
Jane kemudian berjongkok "oppa, bangunlah!"
"Waduh, bagaimana ini Jane?" tanya Liam panik.
"Tolong bawa ke dalam saja, Li."
"Okay."
Liam kemudian menggendong Josh dan membawanya masuk ke dalam rumahnya. Jane kemudian memeriksa apakah Josh sudah meninggal atau hanya pingsan saja.
"Bagaimana?" tanya Liam cemas.
"Dia masih bernafas."
"Ah syukurlah, lalu apa kita panggilkan dokter saja untuk memeriksanya?"
"Ini sudah larut malam."
"Lalu? apa kita tunggu besok pagi saja?"
"Baiklah, mari kita tidur saja."
"Yakin tidak apa - apa?"
__ADS_1
"Iya yakin, lagipula salah sendiri kenapa oppa melakukan hal seperti ini."
"Ya sudah deh, aku juga sudah sangat mengantuk."
"Ayo tidur!!" ucap Jane menggandeng tangan Liam.
"Bagaimana kalau Josh sampai meninggal gara - gara aku?" tanya Liam membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Tidak mungkin, kan tadi sudah jelas bahwa dia hanya pingsan saja."
"Aku takut."
"Tenang saja, besok pagi dia mungkin sudah siuman."
"Yang benar?"
"Iya sayang, sudah tidurlah!!"
"Baiklah."
Liam kemudian menatap Jane "maaf ya aku terus mendesakmu untuk menikah denganku."
"Justru aku yang seharusnya meminta maaf kepadamu karena sejujurnya aku merasa belum siap untuk menjadi seorang istri apalagi menjadi milikmu seutuhnya."
"Aku bisa memakluminya karena menjadi seorang istri itu tidaklah mudah, apalagi saat sampai berada di tahap menjadi seorang ibu."
"Ya, kamu benar."
"Eh aku perhatikan kamu itu mirip dengan seseorang yang aku kenal dahulu."
"Tidak tau, aku lupa namanya namun saat aku kecil dia selalu membuatku menangis karena mencuri strawberry milikku."
Liam tertawa "kamu sudah bertemu dengannya sekarang?"
"Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi saat aku mulai masuk sekolah."
"Oh begitu rupanya."
*Drama Liam sebelum berangkat ke Korea Selatan part 2
Di sore yang damai itu Mrs Robinson sedang bersantai melihat bunga - bunga kesayangannya tersebut yang sedang bermekaran di halaman rumahnya. Mrs Robinson memotong daun - daun kering di tangkai bunganya tersebut sembari bersenandung ria. Saat sedang sibuk dengan bunga - bunga miliknya tersebut tiba - tiba ada se gerombolan ibu - ibu yang datang dan mengajak Mrs Robinson berbicara dari balik pagar rumahnya. Karena merasa tidak enak dengan ibu - ibu tersebut akhirnya Mrs Robinson meminta security rumahnya untuk membuka pintu pagarnya dan mengajak ibu - ibu tersebut berbincang ringan ala ibu - ibu kompleks pada umumnya di dalam halaman rumahnya. Topik pembicaraan mereka semua mengenai bunga sampai tentang anak - anak mereka. Tiba - tiba Rosie menghampiri Mrs Robinson dan menyapanya sepulang dari kampus. Setelah itu dia pergi ke dalam rumahnya untuk mandi dan beristirahat. Berselang 1 jam kemudian Liam pulang dari kantor dan langsung menghampiri Mrs Robinson untuk meminta izin pergi ke Korea Selatan mengikuti turnamen skateboard.
"Mom, Liam besok lusa akan pergi ke Korea Selatan."
"Untuk menemui Jane?"
Liam menggeleng "tidak, tetapi untuk mengikuti turnamen skateboard."
"Oh begitu rupanya."
"Boleh kan mom?"
"Iya sayang boleh," ucap Mrs Robinson sembari mengusap punggungnya.
__ADS_1
"Dia putra anda, bu?" tanya salah satu wanita itu.
"Iya dia putra saya, namanya Liam."
"Wah tampan dan tinggi sekali putranya, pasti seperti ayahnya ya?"
Mrs Robinson tersenyum "iya bu benar, daddy nya sangat tinggi sepertinya."
"Kalau belum punya kekasih mau tante jodohkan dengan anak tante?"
Liam tersenyum canggung "maaf tante saya sudah mempunyai seorang kekasih."
"Oh begitu, sayang sekali."
"Iya tente."
"Anak - anak anda sangat tampan dan cantik sekali bu, seperti model karena wajahnya yang bule - bule."
"Semuanya dapat gen dari daddy nya yang merupakan orang asli Australia bu."
"Oh begitu rupanya, pantas sekali bule semua wajahnya."
Setelah menyelesaikan perbincangan tersebut ibu - ibu tersebut pulang ke rumahnya masing - masing, sedangkan Liam dan Mrs Robinson masuk ke dalam rumahnya.
"Kamu benar ingin ikut turnamen itu?" tanya Mrs Robinson sembari memberikan secangkir teh untuk Liam.
Liam kemudian meminum teh tersebut "benar mom, ingin mendapat pengalaman saja sih."
"Baiklah jika itu keinginan Liam maka mommy izinkan."
"Terima kasih mom."
"Sama - sama sayang."
"Rosie belum pulang mom?"
"Sudah pulang kok, mungkin dia sedang beristirahat di kamarnya."
"Oh begitu, mommy ingin ikut Liam pergi ke Korea?"
"Maaf sayang, mommy belum bisa ikut Liam mungkin lain kali mommy akan ikut dan melihat Liam mengikuti turnamen tersebut."
"Baiklah mom."
"Hai hon," sapa Mr Robinson sembari mencium pipi istrinya tersebut.
"Ini tehnya hon."
"Terima kasih hon."
"Dad aku jadi pergi."
"Iya, nanti aku juga akan menghubungi Andrew untuk menitipkan kamu."
__ADS_1
"Okay dad."