
Liam dan Nat pergi ke lobby bersama - sama, lalu setelah itu Liam pergi untuk mengurus check out dirinya di kamar yang dia tempati. Alexander lalu datang dan memasukkan semua barang bawaan Liam ke dalam bagasi mobil, sedangkan Liam sedang mengurus check out. Setelah itu Liam pergi ke bandara bersama dengan Nat yang ingin mengantar kepulangannya. Sesampainya di bandara Liam menunggu pesawatnya untuk berangkat dengan di temani oleh Nat yang sepertinya masih belum menginginkan Liam untuk pulang ke negaranya. Alexander juga ikut menunggu di sana karena Liam memintanya untuk mengantar Nat pulang sampai ke apartement miliknya saat Liam sudah berangkat. Nat terus saja memeluk lengan Liam sembari berbincang bersama. Liam lalu berdiri dan memeluk Nat saat mendapat pengumuman bahwa pesawatnya akan berangkat. Nat membalas pelukan Liam dengan sangat erat dan setelah itu melepaskannya untuk membiarkan Liam pergi.
Sedangkan Jane yang berada di Indonesia, sekarang dia sedang berada di unit apartement milik Liam dan sedang membereskan apartement itu karena sudah lama tidak ada yang mengunjunginya. Karena kebetulan hari itu dia sedang libur, jadi dia menyempatkan dirinya untuk membereskan apartement dan memeriksa kulkas di sana apakah bahan makanannya sudah kadaluarsa atau belum. Setelah di buka ternyata banyak bahan makanan yang sudah layu dan ada yang sudah mepet tanggal kadaluarsa. Jane lalu membuang itu semua dan meminta pak Kang untuk menemaninya pergi ke supermarket. Sesampainya di supermarket Jane membeli kebutuhan pokok lainnya termasuk susu less sugar kesukaannya maupun yang biasa karena Liam tidak suka susu yang tidak manis. Setelah selesai membeli semuanya Jane lalu pulang ke apartement Liam dan menata semua bahan makanan yang dia beli ke dalam kulkas. Jane kemudian memberi makan Kiko dan menonton acara televisi di ruang tengah. Jane merasa sangat bosan sekali karena tidak ada Liam di sana, dan dia juga merasa jika apartement tersebut sangat sepi sekali.
Akhirnya Jane mematikan televisi tersebut lalu pergi ke kamarnya untuk memakai masker kecantikannya. Jane terus bertanya - tanya kapan Liam akan pulang ke sini karena di sini terasa sangat sepi sekali tanpanya. Liam selalu membuat suasana di sini sangat ramai dengan tingkahnya, namun sekarang sangat sunyi sekali dan hanya ada suara gemercik air dari aquarium yang Liam miliki di dalam apartement. Pria itu memang sangat aneh sekali, dia sangat sayang dengan semua ikan di dalam aquarium tersebut sampai menamai mereka satu persatu dan lebih anehnya lagi dia terkadang mengajak mereka berbicara bahkan memanggil namanya satu persatu. Tiba - tiba ada yang memencet bel unit apartement dan Jane langsung berjalan untuk melihat siapa yang datang. Saat Jane melihat dari peephole atau lubang di pintu tidak ada siapa - siapa yang berdiri di depan pintu unit apartementnya. Jane lalu memberanikan diri untuk membuka pintu itu walaupun sudah di peringatkan oleh Liam jika ada yang mencurigakan pintunya jangan dibuka apalagi saat larut malam.
Tiba - tiba ada seseorang yang mengagetkannya "baa."
Seketika Jane merasa terkejut dan langsung memukulnya sekuat tenaga "pergi kamu perampok."
"Hei hentikan, sakit tau."
Jane lalu menghentikannya begitu mengetahui siapa orang tersebut dan Jane langsung memeluknya "kapan kamu pulang, kok tidak bilang padaku heum?"
"Surprise, i'm home babe." Dia lalu menggendong Jane sembari masih memeluknya dengan sangat erat.
Jane tersenyum lebar dan menyandarkan kepalanya di bahu Liam "kamu kan tau passwordnya, lalu kenapa tidak langsung masuk saja?"
"Ya kan biar surprise," ucap Liam yang masih menggendong Jane sembari membawa barang bawaannya untuk masuk ke dalam apartement.
"Lalu bagaimana kamu tau jika aku berada di apartement sekarang?"
"Pak Kang yang memberitahunya dan menjemputku di bandara."
Jane memanyunkan bibirnya "huuu kalian berdua sudah bisa bersekongkol sekarang ya?"
Liam tertawa "tentu saja. Eh aku membawakan banyak oleh - oleh untukmu."
"Apa?" tanyanya masih di gendongan Liam.
"Lihat saja sendiri, itu ada di ransel milikku."
__ADS_1
Jane lalu turun dan melepas ransel dari punggung Liam, dia kemudian membuka ransel milik Liam "wah ini semua sangat lucu dan karakter favorite ku, bagaimana kamu bisa mengetahuinya?"
"Rahasia, dan yang mickey mouse itu milikku."
"Iya iya babe. Oh ya, kamu mau minum apa atau mau makan sekarang?"
"Aku rindu dengan masakanmu."
"Baiklah, kamu ingin makan apa biar aku memasaknya untukmu sekarang?" tanyanya sembari mengusap pipi Liam.
"Terserah kamu saja, aku akan pergi ke kamar untuk meletakkan barang - barangku dan pergi mandi."
"Baiklah, nanti kalau sudah selesai aku akan memanggilmu."
Liam lalu memegang pergelangan tangan Jane "tunggu sebentar!"
"Ada apa Chicken?"
"Tas?"
"Iya, itu aku yang memilihnya sendiri."
"Kamu sudah membawakan aku banyak oleh - oleh dan itu sudah cukup untukku, lalu kamu malah memberiku tas mahal ini apakah itu tidak berlebihan?"
"Tidak berlebihan sama sekali."
Jane lalu duduk di pangkuan Liam "aku sangat tidak enak denganmu karena selama ini kamu memberiku banyak hadiah lalu di tambah dengan tas mahal ini padahal aku hanya meminta kepadamu untuk cepat kembali."
Liam menyelipkan rambut Jane di telinganya, lalu memeluk perutnya "tidak apa - apa kitten, entah kenapa aku ingin memberimu banyak hadiah untuk membuatmu bahagia."
"Kenapa begitu?"
"Sepertinya aku mulai menyayangimu dan akan menjadi kesayanganku."
__ADS_1
Jane tertawa "bagaimana jika aku tidak menyayangimu?"
"Kamu tetap akan menjadi kesayanganku meski kamu tidak menyayangiku."
Jane lalu memukul bahu Liam "baiklah, sekarang ceritakan kepadaku tentang dengan Nat."
Raut wajah Liam seketika berubah "ya begitulah."
"Itu tidak akan menjelaskan semuanya Liam, ceritakan yang sejujurnya kepadaku!"
"Dia masih baik seperti dulu namun sedikit berubah, tetapi...." Liam tidak melanjutkan ucapannya.
"Tetapi sikap kamu kepadanya yang berubah bukan?"
"Bagaimana kamu mengetahuinya?"
"Aku sudah bisa menduganya dari awal jika sikap kamu akan seperti itu kepada Nat, apa semua ini karena aku heum?" tanya Jane menatap Liam.
Liam langsung menyangkalnya "ini semua murni bukan karena kamu Jane, tetapi ini semua karena kesalahanku saja jadi jangan berfikir seperti itu."
"Sepertinya memang sifat pria seperti itu, jika bertemu dengan seseorang yang baru pasti dia akan melupakan orang yang lama meskipun orang itu yang dulu sering menemaninya di kala sedih maupun senang. Bukan maksud aku untuk menyamaratakan semua pria tetapi kebanyakan pria seperti itu."
"Jane." Panggil Liam lirih.
"Maafkan aku karena menjadi orang ketiga di antara kalian berdua, mungkin aku juga akan menemui Nat dan meminta maaf kepadanya karena membuat hatimu berpaling darinya."
"Mungkin ini juga karena Tuhan yang bisa membolak balikkan hati seseorang termasuk hatiku Jane."
Jane lalu berdiri "jangan menyalahkan Tuhan untuk ini meskipun memang Tuhan bisa membolak balikkan hati seseorang, tetapi salahkan saja orang itu mengapa dia tidak bisa setia terhadap seseorang."
Liam menghela nafasnya "maaf."
"Kenapa kamu meminta maaf kepadaku? seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu karena membuatmu menjadi pria yang tidak setia dan menjadi orang ketiga di dalam hubungan kalian. Sudahlah, lebih baik kamu mandi saja dan aku akan mulai memasak untukmu."
__ADS_1