
Sedangkan di New York, Liam sedang berjalan - jalan bersama Nat. Mereka berdua berjalan - jalan menikmati waktu sore hari di kota New York. Nat lalu menunjukkan billboard iklan yang di bicarakannya tadi, yaitu billboard iklan yang memperlihatkan foto model terkenal Jane Kim terpampang besar. Liam mengamati billboard tersebut dengan perasaan kagum sekaligus bangga karena Liam tidak pernah menyangka jika nama Jane sudah se besar ini hingga dia selalu ditunjuk untuk mempromosikan brand - brand mewah dan terkenal. Tidak lama kemudian Nat mengajak Liam untuk pergi ke tujuan selanjutnya namun Liam menolak dan ingin memandangi papan billboard tersebut lebih lama lagi. Liam lalu mengambil handphone miliknya dan memotret papan billboard tersebut untuk ditunjukkan kepada Jane nanti. Liam juga meminta Nat untuk memotret dirinya dengan background papan billboard tersebut.
Liam lalu memberikan handphone miliknya kepada Nat dan setelah itu Nat memotret Liam berdiri di depan billboard tersebut. Hal itu semakin membuat Nat curiga jika Liam benar - benar sedang dekat dengan Jane karena sebelumnya Nat tidak pernah melihat Liam yang seperti ini. Liam dahulu susah sekali di ajak berswa foto bersama apalagi berfoto sendirian seperti sekarang ini, dan sekarang Liam meminta Nat untuk memotret dirinya sendiri itu sangatlah aneh jika memang mereka berdua tidak ada apa - apa. Kemungkinan Liam untuk dekat dengan Jane itu sangatlah besar mengingat Liam adalah putra sulung dari keluarga Robinson yang termasuk dari jajaran pengusaha terkaya dan sudah pernah muncul di sebuah majalah. Liam juga pasti banyak mempunyai kenalan orang - orang terpandang karena statusnya tersebut dan mungkin saja salah satunya adalah Jane Kim. Liam kemudian menghampiri Nat yang sedang melamun tersebut untuk mengambil handphone miliknya.
"Kenapa melamun?" tanya Liam yang mengambil handphone miliknya dari tangan Nat.
Seketika lamunan Nat menjadi buyar "ah tidak apa - apa kok, maaf ya kalau hasilnya jelek karena aku tidak pandai memotret."
Liam lalu melihat hasil fotonya tersebut "tidak buruk kok, terima kasih."
"Sama - sama hon."
Liam kemudian menggandeng tangan Nat "ayo kita pergi ke tempat lain."
Nat lalu menahannya "sebentar, aku ingin bertanya sesuatu hal kepadamu hon."
"Mau bertanya apa?" tanya Liam yang merasa penasaran.
"Kamu tumben sekali mau berfoto dan kenapa kamu memotret billboard itu?"
"Tidak apa - apa, aku rasa itu bagus sekali karena aku merasa jika itu sangat cocok dengan pemandangan sekitar kota ini jadi aku memotretnya sebagai kenang - kenangan."
"Apa tidak untuk hal yang lainnya?"
"Maksud kamu?"
"Maksud aku seperti kamu memotretnya untuk menunjukkannya kepada orang lain atau mungkin untuk kamu tunjukkan kepada orang yang bersangkutan mungkin."
Liam tersenyum "tidak, aku lebih ingin melukisnya di atas kanvas karena sepertinya sangat bagus apalagi aku sedang ingin mencoba melukis hal yang baru."
"Aku ingin kamu melukis wajahku di atas kanvasmu."
"Baiklah, aku akan mencobanya setelah kita pulang dari California."
Nat tersenyum secara terpaksa "baiklah aku tunggu hasil lukisanmu hon."
Liam yang menyadari jika suasana hati Nat berubah kemudian dia mengusap rambut Nat "ada apa Nat, apa ada yang sedang mengganjal di fikiranmu?"
"Tidak ada kok. Mari kita pergi."
__ADS_1
"Baiklah."
"Mau jalan - jalan ke Central Park sebentar?"
"Boleh."
Mereka berdua lalu masuk ke dalam mobil Liam dan pergi menuju Central Park dengan di dampingi oleh Alexander pengawal pribadi Liam. Selama di perjalanan Nat hanya terdiam saja sembari menyandarkan kepalanya di bahu Liam. Fikiran yang mengganjal ini sangat membuat Nat semakin menjadi tidak nyaman dan rasa takut akan kehilangan Liam berubah menjadi sangat besar seiring dengan fikiran - fikiran itu muncul di dalam otaknya. Nat kemudian memeluk pergelangan tangan Liam dengan sangat erat sekali, Liam yang menyadari jika Nat sedang merasa tidak tenang kemudian dia mengusap lembut rambut Nat untuk membuatnya sedikit tenang. Sesampainya di Central Park, mereka berdua berjalan - jalan santai sembari menikmati waktu bersama di sore hari. Nat masih tetap memeluk pergelangan tangan Liam saat mereka berdua menyusuri taman tersebut.
"Honey." Panggil Nat.
Liam lalu menoleh ke arah Nat "ya, ada apa?"
"Kamu mengenal Jane Kim?"
"Iya, aku pernah bertemu dengannya saat para pengusaha mempunyai acara berkumpul bersama di yacht dan kebetulan Mr Kim adalah sahabat daddy."
Nat mengangguk "oh begitu."
"Ya kalau di fikir - fikir sih, aku tidak ada apa - apanya dengan Jane," ucap Nat secara tiba - tiba.
"Maksud kamu?"
"Ah lupakan saja ucapanku tadi."
"Iya, aku tau hon. Kamu mempunyai trauma kepada sebuah benda dan jika kamu melihatnya pasti akan langsung pingsan."
"Benar, tetapi lebih tepatnya jika aku melihat benda itu kepalaku rasanya pusing sekali karena teringat akan kejadian buruk di masa lalu yang aku alami dan kepalaku rasanya tidak kuat menerima ingatan itu lagi hingga membuatku pingsan."
"Makanya aku selalu memeriksa apartementku jika ada benda itu pasti aku langsung membuangnya agar kamu tidak melihatnya saat berada di apartementku."
"Terima kasih," ucap Liam tersenyum.
"Sama - sama hon. Oh iya, apakah kamu masih meminum vitamin yang seperti dulu?"
"Aku masih rutin meminumnya setiap hari, karena pernah waktu itu aku mencoba untuk tidak meminumnya dan sakit aku malah kambuh."
"Kamu ini harusnya mengikuti saran dokter hon, jangan nakal."
Liam tertawa "baiklah Nat."
Nat lalu menatap wajah Liam dalam dan dia kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Liam "bisakah aku mendapatkannya?"
__ADS_1
Liam lalu mengalihkan pandangannya "tidak untuk sekarang Nat, ini di tempat umum dan bisa repot jika tiba - tiba ada paparazi yang mengetahuinya."
"Baiklah, tetapi kapan aku akan mendapatkannya?"
"Aku tidak tau kapan dan aku tidak akan berjanji."
"Aku sangat mencintaimu bahkan melebihi hidupku sendiri hon."
"Jangan berbicara hal bodoh seperti itu Nat. Cintailah dirimu sendiri terlebih dahulu, baru kamu boleh mencintai orang lain."
"Sorry."
"Why are you sorry?"
"Karena mengucapkan kalimat bodoh yang tidak kamu sukai."
Liam tersenyum "it's okay, terkadang kita memang mengucapkan sebuah kalimat bodoh tanpa kita sadari."
"Apakah kamu mencintaiku hon?"
Liam berfikir sejenak "maybe."
"Kok mungkin sih?"
"Ya inginnya bagaimana?" tanya Liam sembari menggaruk rambutnya.
"Inginnya kamu mencintai aku sepenuhnya."
"Tidak bisa Nat karena aku juga mencintai orang tua aku, mencintai Rosie, dan mencintai yang lainnya."
"Siapa yang lainnya itu?"
"Teman."
"Baiklah terserah kamu saja."
Liam lalu merangkul punggung Nat "are you mad at me heum?"
"I don't know hon."
"Ya sudah, setelah ini bagaimana kalau kita pergi ke rumah orang tua kamu?"
__ADS_1
"Okay."