
Liam menimang - nimang anaknya itu sembari memperlihatkan senyumannya yang sangat tulus kepada buah hatinya. Melihat hal tersebut Josh juga ikut turut merasa bahagia karena sepertinya adiknya itu sudah menemukan seorang pendamping hidup yang sangat baik. Seorang pria yang selalu memberikan kebebasan untuk melakukan apapun apalagi mengenai pekerjaannya, pria yang tidak pernah merasa keberatan untuk selalu membantunya melakukan pekerjaan rumah termasuk menjaga anak, seorang pria yang pekerja keras mencari uang untuk memenuhi semua kebutuhan rumah tangganya, dan dia juga merupakan seseorang yang penyayang. Dengan ini Josh sudah merasa bahwa tugasnya sebagai seorang kakak yang membantunya untuk menemukan seorang pendamping hidup yang terbaik bagi adiknya sudah selesai, karena Jane telah menemukan seorang pria yang tepat untuknya.
Josh kemudian berkeliling di sekitar rumah Liam untuk melihat - lihat semua lukisan yang dipajang di rumah itu. Mungkin ada sekitar 20 lukisan yang dipajang di rumah tersebut yang terdapat di lantai bawah maupun di lantai atas. Di rumah tersebut juga ada beberapa dekorasi atau pajangan yang sangat unik sekali apalagi action figure Portgas D Ace yang mempunyai tinggi seukuran tinggi manusia sungguhan dan berdiri kokoh di pojok dekat pintu utama. Belum lama ini Liam membelinya sebagai hadiah atas kelahiran baby Ace karena Liam dahulu mendapatkan ide nama anaknya dari karakter tersebut. Entah apa alasan Liam menamai anaknya dengan nama Ace, akan tetapi Josh percaya bahwa nama tersebut memiliki arti yang baik.
Harga action figure itu mungkin setara dengan seharga satu mobil baru apalagi ukurannya yang seukuran manusia sungguhan dan juga dikirim dari luar negeri. Katanya Liam juga sedang berfikir untuk membuatkannya sebuah lemari kaca agar action figure miliknya itu tidak rusak ataupun terkena debu, akan tetapi Josh menyarankan bahwa sebenarnya lebih bagus tanpa lemari kaca karena terlihat lebih keren saja. Setelah itu Josh berbaring di sofa sembari melihat ke langit - langit rumah Liam dan berfikir bahwa sepertinya tabungannya sudah cukup untuk meminang seorang wanita, sedangkan Liam masih menimang baby Ace sembari berfikir bagaimana caranya mengurus anak dengan baik dan benar agar kelak tidak seperti dirinya.
"Aku ingin menikah," ucap Josh secara tiba - tiba.
"Baguslah apalagi umurmu juga sudah matang, jadi tunggu apa lagi? tunggu kamu sampai jadi kakek - kakek baru menikah?"
"Lah bukankah itu bisa terjadi?"
"Iya sih, tetapi nanti kasihan anakmu jika kamu menikah di umur yang sudah tua."
"Kenapa begitu?"
"Nanti teman - teman anakmu akan mengira bahwa kamu ini kakeknya dan bukan ayahnya."
"Benar juga. Namun sekarang aku belum mempunyai calon, bagaimana dong?"
"Kalau begitu cepatlah mencari calon, melalui tinder ataupun datang ke biro jodoh. Mmm namun kamu juga harus berhati - hati jika berkenalan dengan seseorang melalui hal seperti itu."
"Takut ketipu foto profil kah?" tanya Josh tertawa.
"Bukan hanya itu saja sih, nanti kalau tiba - tiba dia membunuhmu karena dia seorang psikopat bagaimana? nah makanya itu harus waspada sih."
"Sepertinya kamu sangat berpengalaman sekali mengenai dunia seperti itu apalagi mengenai seorang wanita."
Liam tertawa.
"Tidak juga, aku hanya belajar dari pengalaman saja sih meskipun hanya sekali atau dua kali."
"Nanti kalau waktu malam pertama tiba - tiba aku gugup ataupun tidak mengetahui caranya mengenai hal itu bagaimana?"
"Dih punya pasangan saja belum kok sudah memikirkan malam pertama, dasar gila."
"Ya kan siapa tahu belajar terlebih dahulu mengenai teori - teorinya agar tidak terlihat bodoh, dan ketika sudah ada calonnya langsung gass."
__ADS_1
"Aku yakin bahwa saat ini kamu hanya berpura - pura bodoh saja, padahal sebenarnya kamu juga sudah sangat ahli kan?" tanya Liam menggoda Josh.
"Mmm bagaimana ya aku menjawabnya?"
"Dasar sialan," ucap Liam.
"Hei sekarang aku tanya, dahulu bagaimana melakukannya saat bersama adikku?"
Liam berdecak.
"Ck sudah kubilang bahwa itu rahasia pribadi antara aku dan dia saja, lagipula nanti juga akan mengalir sendiri seperti sebuah arus."
"Oh begitu."
"Kamu ini selalu itu saja yang dibahas, sekali - kali membahas hal yang lebih bermanfaat dong."
"Misalnya?"
"Bisnis ataupun hal lain selain tadi."
"Kenapa memangnya?"
"Oh aku fikir kamu tidak merasa risih hehe."
"Hei bodoh dengar ya, walaupun aku seorang pria namun aku juga merasa risih jika terus - menerus dicecar oleh pertanyaan seperti itu kepadamu."
"Oh iya juga sih. Eh aku dari dulu ingin bertanya mengenai sesuatu hal kepadamu namun selalu saja lupa saat sudah bertemu denganmu."
"Kamu ingin bertanya mengenai apa? awas saja kalau pertanyaannya mengenai hal yang aneh - aneh."
"Tidak, aku hanya ingin bertanya apakah semua lukisan yang dipajang di rumahmu ini adalah hasil karyamu sendiri?" tanya Josh sembari mengamati lukisan Liam dari kejauhan.
"Ya begitulah, kenapa memangnya?"
"Sangat bagus, mengapa kamu tidak mengajukannya ke gallery seni?"
Liam berfikir sejenak.
__ADS_1
"Aku malas saja karena aku hanya ingin menikmati sendiri hasil karya seniku."
"Oh."
Josh terus saja mengajak Liam berbincang mengenai banyak hal hingga Liam merasa lelah menanggapi semua yang Josh katakan apalagi mengenai pertanyaan - pertanyaan aneh Josh. Beberapa jam kemudian saat sore hari gantian Liam yang memasak untuk makan malam, sedangkan Jane menjaga baby Ace sembari beristirahat di kamarnya. Jane merasa lelah karena seharian ini dia full membersihkan rumahnya agar semua anggota keluarganya selalu sehat dan terhindar dari penyakit. Saat Jane ketiduran sembari memberi baby Ace susu, tiba - tiba saja Liam membangunkannya secara perlahan untuk makan malam. Jane kemudian pergi ke ruang makan bersama Liam meskipun dia merasa sangat mengantuk sekali. Selesai makan malam Jane lalu menidurkan baby Ace di box ranjangnya dan setelah itu dia pergi ke kamarnya untuk kembali beristirahat, sedangkan Liam mencuci piring kotor.
"Sini aku pijat tubuhmu," ucap Liam mendekati Jane yang tengah berbaring di atas ranjang.
"Oh okay," ucap Jane membalikkan tubuhnya menjadi tengkurap.
"Kelihatannya kamu sangat lelah sekali sayang."
"Iya hubby namun tidak apa - apa karena aku merasa senang bisa melakukan hal seperti ini sesekali."
"Oh begitu."
"Eh tadi kamu berbincang apa saja dengan oppa, sepertinya kalian berdua sangat asyik sekali berbincang?"
"Ya begitulah, hanya membicarakan masalah pria saja kok."
"Oh. Aduh sakit."
"Maaf aku tidak sengaja."
"Iya hubby, tidak apa - apa."
"Oh iya aku tadi ingin meminta pendapatmu."
"pendapat mengenai apa? mengenai cafe?"
"Bukan, aku ingin meminta pendapatmu mengenai action figure yang berada di samping pintu utama itu. Menurutmu lebih bagus diberi lemari kaca atau dibiarkan seperti itu saja?"
"Menurutku dibiarkan seperti itu saja sih."
"Iya juga sih."
"Mmm tetapi terserah kamu saja sih."
__ADS_1
"Okay, terima kasih."
"Iya hubby."