Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #330


__ADS_3

Beberapa kali Mrs Kim mengusap perut putrinya tersebut saat sedang berbincang dengannya. Mrs Kim memberikan sedikit wejangan kepada putrinya tersebut walaupun dirinya tahu bahwa dia pasti sudah mengetahui apa saja yang harus dilakukan setelah mempunyai seorang anak. 30 menit kemudian team Liam yang berusaha menahan team lawan untuk kembali mencetak goal, akhirnya berbuah manis karena seperti keinginannya. Saat peluit panjang telah ditiup dengan posisi score 2-1, team Liam langsung bersorak gembira karena itu artinya teamnya telah memenangkan pertandingan. Mereka semua bersalaman sebagai tanda penghormatan kepada lawan karena mereka semua menjunjung sportifitas di dalam pertandingan tersebut, meskipun cara bermainnya dengan cara kasar.


Liam bernafas dengan lega karena tidak ada yang mengalami cidera serius baik anggota teamnya maupun anggota team lawan, yah mungkin hanya kesleo sedikit tidak apa - apa masih wajar karena bermain bola dan kalau tidak ingin mengalami hal seperti itu lebih baik bermain barbie saja. Mereka berenam lalu merayakannya ke sebuah cafe langganannya karena harga menunya terjangkau. Mereka semua memesan beberapa menu makanan untuk dinikmati bersama sebagai perayaan kemenangan mereka setelah mengalami pertandingan yang sangat sengit. Saat jam menunjukkan pukul 1 siang, mereka semua lalu bubar ke rumahnya masing - masing. Liam lalu melepas sepatunya dan langsung menemui Jane yang sedang berbincang dengan Mrs Kim. Tidak lupa Liam juga menjabat serta mencium tangan ibu mertuanya itu sebagai tanda hormat. Setelah itu Liam membereskan tas yang dia bawa serta mencuci botol air minum yang tadi dia gunakan.


1 bulan kemudian Liam yang sedang berada di ruang tengah bermain PS pada malam hari, tiba - tiba saja telepon rumahnya berdering. Saat dijawab oleh Liam ternyata itu merupakan panggilan telepon dari Jane yang sedang berada di kamarnya. Jane meminta tolong kepada Liam bahwa perutnya terasa sakit sekali, dan dengan cepat Liam langsung berlari menuju ke kamarnya untuk menolong Jane. Sesampainya di kamar Liam langsung menggendong Jane ala bridal untuk pergi ke rumah sakit terdekat karena sepertinya istrinya itu akan melahirkan. Liam menggendong Jane ke basement rumahnya, tetapi saat pintu lift terbuka justru secara tidak sengaja Liam malah membenturkan kepala Jane ke dinding lift karena dia merasa panik apalagi Jane terus saja berteriak.


"Dasar suami bodoh, perutku sudah sakit dan kamu sekarang malah membuat kepalaku sakit!!"


"Sorry, habisnya kamu juga sih membuatku merasa semakin panik."


"Hih cepat bawa aku ke rumah sakit!!"


"Iya sabar ini juga baru jalan ke mobil, kalau tidak sabar terbang sendiri sana ke rumah sakit!"


"Yee ya sudah turunkan aku!!"


"Y-ya jangan dong, ini juga sudah mau sampai ke mobilnya."


"Aku kira kamu tega membiarkan aku jalan sendiri ke rumah sakit," ucap Jane mencibir Liam.


*Bip bip."


"Ya tidak mungkin aku tega berbuat seperti itu hehe."


Liam langsung mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit agar Jane segera mendapat pertolongan dan juga agar mulut Jane berhenti berteriak - teriak.


"Dok istri saya mau melahirkan, cepat tolong dia agar mulutnya berhenti berteriak - teriak."


"Baik pak."


"Terserah anda mau bagaimana melakukannya, yang penting dia berhenti berteriak di telingaku."


"Oh ya baik pak."


Dokter tersebut lalu bergegas ke ruangan bersalin untuk membantu Jane melakukan proses persalinan, sedangkan Liam pergi ke ruang administrasi sembari menghubungi keluarganya dan juga keluarga Jane. Setelah itu Liam kembali ke ruangan Jane dan menunggu kabar dari dokter yang menangani Jane.


"Dok bagaimana keadaan istri saya?" tanya Liam cemas.


Dokter lalu menghela nafasnya kasar.


"Anda ingin menyelamatkan anak anda atau istri anda?"

__ADS_1


"Ha, maksudnya? kenapa saya harus memilih satu diantara mereka berdua sedangkan saya ingin memilih keduanya?"


"Ada sesuatu hal yang terjadi kepada istri anda sehingga anda mengharuskan memilih satu diantara mereka berdua."


Liam langsung memggenggam erat kerah kemeja dokter itu.


"Saya tidak suka diberi pilihan, saya ingin dua - duanya selamat!! anda ini bagaimana? menjadi dokter saja tidak becus ha!!"


Mr Robinson yang baru saja datang ke rumah sakit lalu melerai Liam.


"Liam apa yang kamu lakukan? jangan seperti itu."


"Masa dokter ini memintaku untuk memilih Jane atau anakku, kan aneh karena aku menginginkan keduanya."


Mrs Robinson lalu menenangkan Liam, sedangkan Mr Robinson berbicara kepada dokter. Mr Robinson kemudian berbicara 4 mata kepada dokter, dan dokter tersebut lalu menjelaskan apa yang mengakibatkan Liam diharuskan memilih satu diantara mereka berdua yang akan diselamatkan.


"dok tolong usahakan untuk dapat menyelamatkan mereka berdua," ucap Mr Robinson memohon kepada dokter itu.


"Baiklah pak, saya akan berusaha untuk menyelamatkan mereka berdua." Setelah itu dokter kembali masuk ke dalam.


"Bagaimana keadaan putriku?" tanya Mr Kim dan juga istrinya.


"Kami belum bisa memastikannya karena dokter belum keluar dari ruangannya," ucap Mr Robinson berbohong.


*Oek oek oek.*


"Li suara itu...." Mrs Robinson belum selesai berbicara dan langsung dipotong oleh Liam.


"Tidak mungkin mom, tadi dokter saja mengatakan bahwa anakku tidak akan selamat."


"Huss jangan berbicara seperti itu, siapa tahu dua - duanya selamat."


Dokter yang menangani Jane langsung keluar dari ruangannya. Semua langsung menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan kondisi Jane, terkecuali Liam yang masih duduk di lantai karena sudah pasrah jika misalnya anaknya tidak dapat diselamatkan.


"Syukurlah Tuhan telah memberikan mukjizatnya untuk Jane sehingga anaknya bisa kami selamatkan," ucap dokter tersebut.


"Jadi dua - duanya berhasil selamat dok?" tanya Mrs Robinson.


"Iya."


"Ah syukurlah," ucap mereka semua merasa lega.

__ADS_1


"Hei kenapa kamu terlihat lemas sekali?" tanya Josh menghampiri Liam.


"Pasti dokter itu berbohong dengan mengatakan hal seperti itu."


"Mana mungkin dokter berbohong, Jane dan anakmu benar - benar selamat Liam."


"Ayo masuk ke dalam dan temui Jane."


Liam lalu menggelengkan kepalanya. Liam merasa takut sekali masuk ke dalam ruangan tersebut karena bingung harus mengatakan apa kepada Jane jika anaknya tidak diselamatkan. Liam tahu jika sebenarnya dokter tersebut hanya sedang menghiburnya ataupun membohongi dirinya sehingga dia tidak akan mendapatkan bogem mentah dari Liam. Orang tua Liam maupun orang tua Jane yang sudah memasuki ruangan tersebut lalu mengucapkan selamat kepada Jane karena telah berhasil melahirkan anaknya, dan mereka juga melihat cucu mereka yang sedang tertidur di samping Jane.


"Liam mana?" tanya Jane lirih.


"Sebentar ya mommy akan memanggilkan Liam."


"Iya mom."


"Liam," panggil Mrs Robinson.


"Ya mom?"


"Jane mencarimu, ayo masuk ke dalam!"


"Tapi mom..."


Josh lalu mengangkat Liam dan mendorongnya masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Weh ini benar anakku?" tanya Liam merasa tidak percaya.


"Benar hubby ini anakmu, memangnya kamu tidak ingin menyapanya heum?"


"Kan sudah kubilang mana mungkin seorang dokter berbohong," ucap Josh menyenggol lengan Liam.


"Iya ya hehe."


"Makanya jangan bernegative thinking."


"Ck iya. Dia sangat mungil sekali."


"Gendonglah!" ucap Jane.


"Memangnya boleh?"

__ADS_1


"Boleh saja, kamu kan daddy nya."


__ADS_2