
Dua hari kemudian Liam yang pada siang hari itu sedang bermain game di ruangan tengah tiba - tiba dikejutkan oleh kepulangan Jane dari lokasi syuting. Biasanya Jane pulang ke rumah pada saat sore atau malam hari, tapi kenapa tiba - tiba dia pulang pada siang hari? begitu yang terlintas di fikiran Liam saat ini. Jane langsung menghampiri Liam, lalu dia bersandar di bahu Liam dan bergelendotan manja untuk menarik perhatian Liam karena dia sedang fokus bermain vidio game. Karena caranya tidak berhasil, Jane lalu naik ke pangkuan Liam dan menciumi pipi Liam hingga pipi Liam yang sebelah kiri dipenuhi oleh lipstick bewarna merah karena ulah Jane tersebut. Namun tetap saja caranya itu tidak berhasil dan justru membuat Liam semakin fokus bermain vidio game. Jane saat ini sedang ingin dimanja oleh Liam apalagi saat ini dia sedang sangat lelah dan membutuhkan belaian kasih sayang dari Liam, tetapi justru yang dia dapatkan hanya sikap cuek Liam karena Liam lebih mementingkan vidio game miliknya daripada dirinya.
Karena merasa kesal akhirnya Jane pergi ke kamarnya untuk mandi, dan selesai mandi dia kemudian bersantai di kamarnya sembari mengecat kuku - kuku indahnya yang terlihat sangat terawat sekali. Jane mengecat kukunya dengan warna merah menyala agar terlihat semakin menarik pandangan orang lain terutama Liam hehehe. Disisi lain Liam sedang melihat keadaan pipinya tersebut dengan menggunakan kamera handphone miliknya, dan betapa terkejutnya ketika pipi sucinya tersebut sudah ternodai dengan cap bibir yang bewarna merah menyala yang memenuhi pipi kirinya. Liam langsung berlari menuju kamarnya untuk menghilangkan semua bekas lipstick tersebut dengan menggunakan air mengalir. Bekas lipstick tersebut ternyata susah dihilangkan, alhasil Liam berjalan ke kamar Jane dan memintanya untuk membersihkan hasil perbuatannya tersebut. Liam kemudian duduk di tepi ranjang Jane dan langsung memaksanya untuk membersihkan bekas lipstick bewarna merah tersebut.
"Tanggung jawab!" bantak Liam.
"Tanggung jawab apa sayang?" tanya Jane yang masih fokus mengecat kukunya.
"Lihatlah perbuatanmu ini," ucap Liam sembari menunjuk pipi kirinya.
Jane kemudian melihat ke arah Liam "oh itu."
"Kenapa tanggapanmu hanya seperti itu?"
"Ya aku harus bagaimana, Liam?"
"Kamu harus membersihkannya sampai bersih!"
"Baiklah."
"Cepat lakukan!"
"Iya sabar."
Jane kemudian naik ke pangkuan Liam hendak membersihkan pipi Liam tersebut namun tiba - tiba menurunkan Jane dan berkata, "duduk dengan normal bisa kan?"
"Maksudnya?"
"Maksudku kamu tidak perlu sampai naik ke pangkuanku apalagi kamu tadi menekan bagian privasiku saat kamu duduk di pangkuanku."
"Oh, benarkah? maaf aku tidak mengetahuinya."
"Iya, tidak apa - apa."
"Apakah terasa sakit?" tanya Jane sedikit khawatir.
"Sudah tidak terasa sakitnya."
"Oh baiklah."
"Ayo bersihkan pipiku!"
Jane kemudian mengambil sebuah kapas dan micellar water untuk membersihkan bekas lipstick di pipi Liam.
"Turnamennya dimulai besok pagi ya?" tanya Jane sembari membersihkan pipi Liam.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Liam ketus.
__ADS_1
"Kamu kenapa menjadi ketus seperti ini kepadaku?"
Liam cemberut "aku tidak suka jika kamu seperti ini, nanti kalau aku dimarahi bagaimana?"
"Tidak akan ada yang memarahimu, Liam."
"Benarkah?"
"Iya, karena kan kita berdua sudah sama - sama dewasa."
"Tetapi tetap saja aku tidak suka jika kamu seperti ini karena aku merasa tidak enak kepada orang tuamu, nanti mereka akan berfikir jika aku yang memintamu untuk melakukan ini semua."
"Jika itu terjadi maka aku akan berkata jika aku melakukannya karena memang aku yang menginginkannya."
"Jika kita berdua sudah menikah tidak apa - apa kamu bebas melakukan ini, tetapi untuk saat ini tolong jangan lakukan hal semacam ini lagi."
Selesai membersihkan pipi Liam, kemudian Jane kembali naik ke pangkuan Liam dan tangannya berbuat nakal dengan membuka kancing baju Liam satu persatu. Jane kemudian memandangi perut sixpack milik Liam setelah semua kancingnya terbuka. Jane menyentuh perut Liam dan menyentuh perut Liam dengan menggunakan kukunya yang baru saja dicat warna merah, sedangkan Liam tiba - tiba merasa gerah karena tingkah Jane tersebut apalagi saat ini Jane hanya menggunakan pakaian minim. Liam berulang kali menelan ludahnya karena tingkah Jane tersebut. Jane kemudian menguncir rambutnya dan memperlihatkan lehernya yang jenjang. Melihat hal tersebut Liam semakin sulit mengontrol hawa nafsunya, dan tiba - tiba saja dia kembali terbayang - bayang oleh ancaman dari Mr Robinson jika berani macam - macam dengan Jane.
"Kamu kenapa diam saja heum?" tanya Jane saat mengusap pipi Liam.
"A-aku sepertinya sudah tidak tahan lagi."
"Aku bisa merasakan ada yang bangun dari tidur panjangnya," ucap Jane menggoda Liam.
"Memang, tetapi aku tidak bisa melakukannya."
Jane tersenyum licik "kamu takut atau kamu minta diajari terlebih dahulu heum?"
"Mmm itu," ucap Liam merasa gugup.
"Itu apa?"
"Bagaimana kalau ada orang yang melihat?"
"Tenang saja, tidak ada orang yang melihat kita karena pintunya tadi sudah aku kunci."
"Sepertinya aku harus pergi untuk latihan," ucap Liam mengalihkan pembicaraan.
Jane semakin erat mengunci Liam dengan menggunakan kedua kakinya "urusan kita belum selesai, sayang."
"Ta-tapi aku harus pergi sekarang."
Jane kemudian menutup mulut Liam dengan menggunakan jari telunjuknya "nanti saja, kita bermain 10 menit terlebih dahulu lalu aku baru bisa melepaskanmu."
"Tidak bisa Jane, aku tidak ingin melakukannya."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Ya tidak apa - apa."
Karena mendapat penolakan dari Liam, Jane kemudian semakin berani melancarkan aksinya untuk menggoyahkan iman Liam. Jane langsung menyambar bibir Liam secara brutal, namun tetap saja Liam tidak membalas ciuman Jane tersebut. Kembali mendapat penolakan dari Liam, kemudian Jane melepas baju Liam dan melemparkannya ke atas sofa. Liam tidak bisa berkutik karena ibarat sebuah pintu Jane telah menggemboknya sekaligus merantainya agar Liam tidak bisa kemana - mana.
"Sudah cukup," ucap Liam saat melepas ciumannya.
"Aku ingin lagi."
"Sudah Jane, aku tidak mau lagi seperti ini."
"Tetapi sepertinya sudah terlambat, karena milikmu sudah terbangun dan aku merasa bahwa milikmu itu sangat menakjubkan."
"Jangan, kumohon!"
"Kenapa memangnya? bukankah kamu juga menyukainya?"
"Iya benar, tetapi aku lebih takut jika kepalaku benar - benar akan dipenggal oleh daddy."
Jane tertawa "tenang saja, aku berani jamin daddy kamu tidak akan mengetahuinya."
"Aku tetap tidak mau, Jane."
"Sudah terlambat! aku sudah membuka sebagian resleting celanamu, dan dugaanku sepertinya benar."
"Lepaskan tanganmu!" bentak Liam sembari menampar tangan Jane dari celananya."
"Wahh terlihat jantan sekali," ucap Jane merasa takjub.
"Jane! Liam!" panggil seseorang dari arah tangga."
Dengan cepat Liam lalu mendorong tubuh Jane dan langsung berlari tanpa baju sembari menaikkan resleting celananya. Liam kemudian menghampiri Josh dan langsung berlindung di belakangnya hingga membuat Josh merasa terheran dengan tingkah Liam tersebut.
"To-tolong aku."
"Kamu kenapa, dan apa yang terjadi kepadamu hingga kamu berlari tanpa menggunakan baju seperti ini?"
"Jane nakal."
"Ya ampun."
Jane lalu menghampiri mereka berdua sembari membawakan baju Liam "ini bajumu."
"Kamu apakan dia sampai ketakutan seperti ini, Jane?"
"Aku hanya menggodanya saja."
"Jangan begitu Jane, kasihan dia sampai pucat begitu."
__ADS_1
"Iya oppa, maaf."